Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—03
Hari-hari seperti biasa nya, Arumi berdatang ke sekolah untuk mengajar, dan pagi ini adalah mengajari murid kelas XII-2 ruangan milik Bumantara yang ingin ia hindari. Namun, apa boleh buat, ia adalah seorang guru, urusan pribadi yang membuat ia jengkel kepada Bumantara tidak bisa ia aduk-campurkan — karena bukan hanya ada Bumantara disana, banyak murid lain nya juga yang harus ia ajarkan.
"Pagi ibu guru yang sangat cantik!"
Arumi mendengus, saat tau siapa yang menyapa nya berlebihan seperti itu. "Pagi ... Dan ... Rangga, apa pagi ini kamu memakan obat mu dengan benar?" tanya Arumi, tersenyum, sembari menarik tangannya yang di cium Rangga. Dia bilang itu adalah cara kesopanan kepada guru, bersalaman, lalu meletakan di depan bibir.
Tapi, itu salah. Rangga bahkan mengecup tangan nya dengan lama. Arumi baru ingat yang dia hindari bukannya cuma Bumantara, tapi Rangga juga, laki-laki yang selalu menganggu nya.
Rangga tergelak. "Obat? Bu guru cantik, yang benar aja! Seharusnya gue meminum susu di pagi hari ini," sahut Rangga, mengerling nakal, sembari melihat area dada Arumi yang tertutup baju batik kebesaran.
Arumi mengepalkan kedua tangan nya, amarah yang tersimpan di hati, tersulut kepermukaan, apalagi karena murid nya yang melakukan pelecehan kepadanya. Haruskah ia menampar wajah pria brengsek itu juga?
Tapi, bagaimana jika ia di laporkan? Menjadi guru itu tidak gampang, apa pun kesalahannya, dia pasti terkena imbas nya, padahal mereka tidak tau apa yang terjadi di lapangan.
"Kamu ...."
Perkataan Arumi mengambang, karena kejadian yang tidak terduga. Bumantara tiba-tiba menyingkirkan Arumi kesamping. Dan ... Dia memukul wajah Rangga, sehingga Rangga terpental kesamping.
"Aaa ... Bumantara!" seru Arumi teriak, ia terkejut saat kejadian itu begitu cepat, bahkan orang-orang di parkiran motor juga langsung berebutan untuk melihat perkelahian itu.
Rangga bangun, terkekeh menatap Bumantara. "Wah ...." Perubahan wajah Rangga berubah begitu cepat, dia berlari hendak membalas pukulan Bumantara, namun dia meleset.
Bumantara menyeringai. "Hanya segitu kemampuan si ketua geng kapak. Lemah ...." Bumantara menatap datar, juga mengejek sewaktu-waktu.
"Sudah. Sudah. Ayo Bumantara, Rangga, kalian harus ...," kata Arumi.
Belum selesai ucapan nya, Bumantara dan Rangga justru saling memukul bahkan saling menendang, perkelahian itu tidak terelakkan lagi.
"Pisahkan. Pisahkan. Tolong bantu ibu." Arumi teriak meminta bantuan murid lainnya, untuk memisahkan Bumantara dan Rangga yang saling memukul. Mereka berhasil memisahkan kedua orang itu, bahkan Arumi memeluk perut Bumantara dengan dibantu murid pria lainnya memegang lengan Bumantara dan Rangga.
"Anjing lo ... Lo tunggu aja pembalasan geng kapak, gue enggak biarin lo menang Bumantara, anjing." Rangga berteriak marah, wajah nya babak belur, bahkan mungkin perut nya kesakitan setelah sempat di tendang Bumantara.
Sedangkan Bumantara, wajahnya juga terkena pukulan, namun ia tidak seberapa, terlihat dari pukulan di wajah nya yang masih terlihat bersih — tidak terlalu babak-belur.
"Gue tunggu ...," sahut Bumantara, menyeringai mengejek, meludah, sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian berkelahi seperti ini?" tanya guru olahraga dengan nada marah. "Kalian berdua ikut bapak ke kantor. Sekarang!"
Rangga menepis orang-orang-orang yang menahan lengan nya. "Lepas! Dan ... Lo anjing, tunggu pembalasan gue." Rangga menunjuk wajah Bumantara yang menyeringai.
"Rangga! Cepat jalan ke kantor. Sekarang!" seru pak Heru.
Bumantara masih berdiri di tempat nya, sambil mengelus tangan Arumi yang masih berada di perutnya. Seperti nya Arumi melupakan kedua tangan nya yang masih betah bertengger diperut Bumantara, bahkan ia sedari tadi sering menghela napasnya dengan gusar.
"Bu Arumi, sepertinya Bumantara juga harus ke kantor BK, bu," ujar pak Heru, menatap tangan Arumi yang memeluk Bumantara, bahkan murid yang menahan Bumantara sudah melepaskan nya, dan hanya tersisa dia saja yang masih berdiri di belakang Bumantara.
Seruan pak Heru mengejutkan Arumi, yang bergegas langsung melepaskan tangannya, ia menunduk sebentar, lalu berdeham untuk membasahi tenggorokan nya.
"Terimakasih pak Heru, sudah datang membantu saya memisahkan mereka," ucap Arumi, tersenyum, mendekati pak Heru yang membalas senyum nya.
Adegan itu membuat Bumantara mengepalkan kedua tangan nya. "Pak Heru, kita harus ke kantor BK sekarang," sela Bumantara, berdiri di tengah-tengah Arumi dan pak Heru, ia ingin menutupi pemandangan pak Heru dari Arumi nya.
Pak Heru menghembus napas panjang. "Kalo begitu jalan, Bumantara," sahut pak Heru jengkel.
"Bersamaan pak," jawab Bumantara, tidak mau kalah, ia tetap pada tempat nya, berdiri di depan Arumi, sekali pun Arumi bergeser maka ia akan mengikuti. Pak Heru kalah. lalu melangkah duluan.
"Dengar Arumi, pria mana pun akan saya hajar jika sedang menggoda anda. Termasuk pak Heru," bisik Bumantara, tanpa menoleh kebelakang. Dia pergi mengikuti pak Heru yang duluan pergi, meski tadi pak Heru sempat menoleh kearah belakang, tempat Bumantara dan Arumi yang masih berdiri disitu.
Arumi menghela napas berat. "Seperti nya saya tidak cocok bekerja menjadi guru SMA," gumam Arumi, menggeleng pelan. "Kalian, ayo cepat masuk ke kelas," kata Arumi, menengok kearah belakang, memerintahkan murid yang lain nya.
"Siap bu guru ...." jawab mereka serempak.
Arumi mengangguk, sambil tersenyum, lalu bergegas menuju kantor.
*****
Bumantara dan Rangga sedang duduk menghadapi guru BK, ibu Fitria yang terkenal tegas, dan disiplin.
"Apalagi sekarang yang kalian ributkan Bumantara, Rangga? Apa kalian tidak bisa, sejenak saja tidak membuat keributan? Sudah berapa kali kalian duduk di depan ibu seperti ini?" tanya ibu Fitria, menatap Bumantara dan Rangga bergantian. Kedua murid itu hanya diam, tidak ada yang ingin menjawab pertanyaan ibu Fitria.
Ibu Fitria menghembuskan napas dengan berat. "Pak Heru, seperti nya memanggil kan wali mereka sekarang kayak nya lebih bagus. Mereka tidak ada yang berbicara untuk menjelaskan. Jadi, panggil wali mereka saja kesini," ujar ibu Fitria, memerintahkan pak Heru untuk menelepon kedua orang tua Bumantara dan Rangga.
Sedang di tempat Arumi, kelas tetap berlanjut, Arumi yang mengajar di kelas Bumantara, merasa lega, karena tidak ada Bumantara diantara para pria brengsek yang ingin ia hindari. "Bagaimana ada yang tidak mengerti?" tanya Arumi, sambil menatap anak murid nya, setelah ia selesai menjelaskan pelajaran Matematika.
"Jelas bu!" seru mereka kompak.
Arumi terkekeh tanpa suara. "Kompak sekali," ujar Arumi, namun sekarang ia tidak ingin mempersulit kan mereka. Jadi, Arumi hanya berdiam duduk di balik meja nya.
"Kalian catatkan saja, dan jangan lupa soal halaman 44 itu untuk kalian kerja kan di rumah."
"baik, Bu!" sahut mereka kesenangan.
Arumi tersenyum, lalu ia fokus dengan ponselnya, sedari tadi ia mendengar ponselnya yang bergetar. Karena memang ponsel nya sedang dalam mode getar.
Dan... Yang menelepon adalah pria itu lagi — Dipta Artos.
Bersambung....