Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DAUN YANG TERPUTUS DARI CABANG
Kampus yang dulu seperti hutan besar kini terasa seperti hutan yang mulai kehilangan jalannya. Murni duduk di sudut ruang kuliah yang biasa mereka tempati, matanya menatap lembaran tagihan yang seperti ular hitam yang melilit lehernya – angka-angkanya berdiri tegak seperti prajurit yang siap menyerang, menghapus semua warna dari dunia yang dulu penuh harapan. Biaya kuliah, uang makan, biaya asrama – semuanya seperti air yang terus menyusut dari ember yang berlubang, tidak ada cara untuk menghentikannya.
Suara teman-temannya yang sedang berdiskusi tentang tugas akhir terdengar seperti musik dari kamar lain – indah tapi tidak lagi bisa dinikmati. Siti sedang menjelaskan konsep hukum dengan tangan yang bergerak seperti burung yang terbang bebas, Rio sedang menggambar desain perabot dengan pensil yang meluncur seperti air yang mengalir di sungai, Dina sedang mengetik di laptopnya dengan jari yang cepat seperti serangga yang sibuk bekerja. Mereka adalah bunga-bunga yang masih tumbuh subur di bedengan, sementara Murni merasa seperti tanaman yang mulai mengering di sudut yang terlupakan.
"Aku tidak bisa melanjutkan lagi," kata Murni dengan suara yang seperti daun kering yang pecah di bawah kaki. Tiga orang teman itu berhenti apa yang mereka lakukan, mata mereka penuh dengan kejutan yang seperti petir yang tiba-tiba menerangi langit mendung. Siti mendekat, tangannya menyentuh bahu Murni seperti sinar matahari yang mencoba menghangatkan es batu. Rio mengeluarkan dompetnya, uang di dalamnya seperti butir beras yang sedikit dan tidak cukup untuk makan banyak orang. Dina menawarkan untuk membantu mencari beasiswa, suaranya seperti omong kosong yang tidak bisa mengubah kenyataan yang keras.
"Ini bukan pilihan yang mudah," lanjut Murni, menekan bibirnya agar tidak bergetar seperti daun yang terkena hembusan angin kencang. "Kuliah itu seperti perahu yang butuh banyak air untuk berlayar, tapi aku sudah tidak punya lagi lautan yang bisa ditempuh." Ayahnya sakit, tanah jagungnya gagal panen karena musim kemarau yang panjang seperti waktu yang berhenti berjalan, dan Ibunya sudah menjual hampir semua perhiasan seperti bintang yang diambil dari langit untuk menerangi malam yang gelap.
Hari terakhir di kampus datang seperti hari hujan yang sudah lama diramalkan. Murni membersihkan barang-barangnya di kamar asrama – baju-bajunya digulung rapi seperti kenangan yang harus disimpan rapi, buku-bukunya diberikan kepada teman-teman seperti benih yang diberikan agar bisa tumbuh di tempat lain, dan tas ransel yang dulu terasa seperti bukit kecil kini terasa seperti kantong yang kosong tanpa tujuan. Dinding kamar yang dulu seperti temannya yang selalu mendengar cerita, kini hanya berisi jejak-jejak cat yang seperti bekas air mata yang sudah kering.
Ketika dia berjalan melalui lorong kampus yang sudah begitu akrab, setiap sudutnya berbicara seperti teman lama yang menyampaikan pesan selamat tinggal. Pohon bunga kamboja di depan gedung utama melepaskan kelopaknya seperti ucapan selamat jalan yang lembut, lorong yang pernah mereka lari-lari saat terlambat kuliah terasa seperti jalan yang sudah tidak bisa dilalui lagi, dan ruang kuliah yang dulu seperti kebun bunga baru kini terasa seperti tempat yang sudah tidak punya tempat lagi untuk dirinya.
Di gerbang kampus, teman-temannya sudah menunggu seperti penjaga yang tidak mau meninggalkan teman yang pergi. Siti memberikan bungkusan kue lapis yang dibuat oleh ibunya – warnanya berwarna-warni seperti mimpi yang mereka impikan bersama. Rio memberikan sebuah ukiran kayu kecil berbentuk burung – sayapnya terbuka lebar seperti pesan agar Murni bisa terbang lagi nantinya. Dina memberikan flashdisk berisi catatan kuliah lengkap – isinya seperti peta yang bisa digunakan jika Murni ingin melanjutkan perjalanannya nanti.
"Kita bukan hanya teman karena kuliah," ujar Siti dengan suara yang seperti air mata yang mengalir lembut. "Kita seperti berempat bagian dari satu pohon – meskipun satu daun terputus dan jatuh ke tanah, kita masih terhubung di akar yang sama." Murni mengangguk, matanya sudah penuh dengan air mata yang seperti hujan yang menghujani tanah kering. Dia memeluk mereka satu per satu, pelukan itu seperti ikat tali yang tidak akan pernah putus meskipun jarak memisahkan.
Ketika bis yang akan membawanya pergi datang seperti raksasa besi yang tidak bisa ditunda, Murni naik dengan langkah yang seperti orang yang sedang pergi meninggalkan rumahnya sendiri. Dia melihat ke belakang, teman-temannya berdiri seperti tugu yang akan selalu ada di sana, kampus yang dulu menjadi tempat baru kini menjadi kenangan yang seperti luka yang menyakitkan tapi juga membuatnya kuat.
Perjalanan pulang terasa seperti perjalanan mundur ke masa lalu, tapi Murni tahu bahwa dirinya sudah tidak sama lagi. Dia membawa dalam dirinya ilmu yang seperti biji-biji yang tersimpan di dalam tanah, teman-teman yang seperti bintang-bintang yang selalu ada di langit meskipun tidak terlihat, dan tekad yang seperti akar yang masih kuat meskipun pohonnya harus pindah tempat. Saat kota semakin jauh dan pemandangan mulai berubah menjadi hamparan sawah dan pepohonan, Murni menutup matanya – merasakan bahwa dirinya adalah daun yang jatuh bukan untuk mati, tapi untuk menjadi pupuk yang akan membantu tumbuhnya sesuatu yang baru.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Murni tidak pulang ke kampung seperti yang direncanakan. Ketika bis berhenti sebentar di persimpangan jalan yang membelah dua arah – satu menuju dusunnya yang jauh seperti ingatan yang terlupakan, satu lagi menuju pusat kota yang ramai seperti jantung yang berdebar kencang – dia berdiri tegak, tangannya menggenggam tas ransel yang kini terasa seperti tempat perlindungan terakhir. "Daun yang jatuh tidak harus kembali ke akarnya," bisik dia dalam hati, "dia bisa memilih tanah mana yang akan dia jadikan tempat untuk menyuburkan hidup baru."
Dia turun dari bis seperti orang yang melangkah ke dunia yang benar-benar asing, meskipun sudah beberapa kali melihat kota ini dari jendela bis ketika datang kuliah. Kali ini berbeda – dia tidak lagi punya label sebagai mahasiswa, tidak punya tempat untuk kembali di malam hari, tidak punya teman yang menunggu. Kota itu adalah raksasa besi yang bernapas dengan asap dan kebisingan, setiap jalan raya adalah urat nadi yang mengalir dengan darah kendaraan, setiap gedung pencakar langit adalah tulang rusuk yang menjulang tinggi.
Mencari kerja adalah seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Murni datang ke berbagai tempat – dari warung makan kecil yang baunya seperti perpaduan harum dan bau yang tidak bisa dipisahkan, hingga kantor-kantor yang lantainya mengkilap seperti danau yang tidak bisa ditembus. Di setiap tempat, dia memberikan surat lamaran yang ditulis dengan tangan rapi seperti doa yang dia panjatkan setiap pagi, tapi jawaban yang datang kebanyakan adalah seperti angin yang hanya berlalu tanpa meninggalkan apa-apa.
"Kamu tidak punya pengalaman kerja," kata majikan warung makan dengan wajah yang seperti kertas kasar yang tidak bisa ditulis dengan pena halus. "Kamu tidak menyelesaikan kuliah," ucap bagian kepegawaian kantor dengan suara yang seperti palu yang menghancurkan harapan. Murni merasa seperti tanaman yang ditanam di dalam pot yang terlalu kecil, akarnya tidak bisa berkembang, daunnya tidak bisa tumbuh lebar. Tapi dia tidak menyerah – setiap penolakan adalah seperti hujan yang menyirami tanah agar lebih subur, setiap hari yang berlalu adalah seperti matahari yang mengeringkan lumpur agar bisa diinjakkan kaki.
Akhirnya, sebuah pabrik makanan ringan kecil di pinggiran kota menerima dia sebagai pekerja produksi. Tempat itu adalah kandang besi yang penuh dengan mesin yang berdecak-decak, suaranya seperti guntur yang tidak pernah berhenti, dan udaranya penuh dengan aroma bumbu dan minyak yang seperti selimut yang menutupi semua indera. Jam kerja panjang seperti jalan yang tidak ada ujungnya, tangannya cepat terasa lelah seperti kain yang sudah sering dicuci, tapi setiap upah yang dia terima adalah seperti butir beras yang menyelamatkan nyawa.
Di pabrik itu, Murni bertemu dengan orang-orang yang seperti daun-daun lain yang jatuh dari berbagai pohon. Ada Pak Slamet – pria tua yang bekerja sebagai penjaga gudang, cerita hidupnya seperti kertas yang sudah banyak lipatan dan bekas goresan, tapi senyumnya selalu seperti matahari pagi yang menghangatkan. Ada Ibu Yanti – pekerja kemasan yang anak-anaknya juga merantau, suaranya seperti lagu rakyat yang penuh dengan makna, selalu memberikan nasi yang lebih banyak kepada Murni ketika makan siang seperti orang yang membagikan hasil panennya.
Pabrik itu bukan hanya tempat kerja – dia adalah ruang di mana kehidupan menyembuhkan diri sendiri. Setiap kali mesin berjalan, Murni merasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar, setiap produk yang dikemas dengan baik adalah seperti buah yang dihasilkan dari kerja keras. Dia menyimpan sebagian uang gajinya untuk mengirim ke kampung, uang itu seperti air yang mengalir kembali ke sumbernya, membantu ayahnya berobat dan Ibunya membeli bibit tanaman baru. Sisanya dia simpan dengan hati-hati seperti benih yang akan ditanamkan ketika waktu yang tepat tiba.
Di malam hari, setelah pulang kerja, Murni menyewa kamar kecil di rumah kontrakan yang seperti sarang yang sederhana tapi aman. Dindingnya tipis seperti kertas yang bisa melihat kehidupan orang lain, tapi di situ dia bisa duduk diam sambil melihat langit kota yang hanya bisa dilihat sedikit bintangnya seperti mata yang berkedip dari kejauhan. Kadang dia membuka flashdisk yang diberikan Dina, melihat catatan kuliah yang rapi seperti peta yang selalu mengingatkannya akan jalan yang belum selesai ditempuh.
Suatu malam, ketika hujan turun seperti air mata langit yang menyiram kota, Bu Arni datang ke kos Murni membawa secangkir teh hangat yang rasanya seperti kehangatan di tengah kesendirian. "Kamu bukan orang yang hanya bisa berada di satu tempat, nak," katanya dengan suara yang seperti gemericik air hujan yang penuh dengan hikmah. "Kita seperti biji jagung yang tertiup angin – bisa jatuh di tanah tandus atau tanah subur, tapi kita akan selalu berusaha tumbuh."
Murni menyandarkan kepalanya ke jendela, melihat tetesan air hujan yang meluncur di kaca seperti jalan hidup yang terus bergerak. Dia merasakan bahwa dirinya memang seperti daun yang jatuh – tapi dia tidak hanya menjadi pupuk untuk yang lain. Di dalam dirinya, sudah mulai tumbuh sesuatu yang baru – sesuatu yang kuat seperti akar yang tumbuh melalui celah beton, sesuatu yang penuh harapan seperti bunga yang tumbuh di tengah jalan raya.
"Satu hari nanti," bisik dia sambil meraih foto kecil teman-temannya yang selalu dibawa di dalam dompet – foto itu seperti matahari yang selalu ada di dalam hati, bahkan ketika langit kota penuh dengan awan. "Saya akan kembali ke jalan itu. Tidak sebagai mahasiswa yang harus berhenti, tapi sebagai orang yang sudah tahu bagaimana hidup bekerja dengan keras. Kampus itu akan selalu ada, tapi sekarang saya harus menumbuhkan diri sendiri di tanah kota ini."
Ketika hujan mulai reda dan langit mulai sedikit menerawang, sebuah pelangi muncul di kejauhan seperti lukisan warna yang menggambarkan harapan baru. Murni tersenyum – senyum yang seperti matahari yang muncul setelah badai, kuat dan penuh dengan keyakinan bahwa setiap tempat yang ditempuh, setiap kerja keras yang dilakukan, adalah bagian dari proses menjadi sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Senyum itu tinggal menghiasi wajah Murni seperti pola indah yang terbentuk di kulit kayu setelah dipoles. Seiring bulan-bulan berlalu, dia semakin akrab dengan ritme kota yang seperti denyut jantung yang tidak pernah berhenti – dari suara ayam kampung yang digantikan oleh bunyi klakson kendaraan pagi hari, hingga aroma tanah dan daun yang digantikan oleh bau roti panggang dari warung dekat kontrakan.
Di pabrik, Murni mulai menunjukkan kemampuannya yang seperti permata yang perlahan mengkilap setelah dibersihkan. Dia cepat memahami sistem kerja mesin, bisa menemukan cara untuk mempercepat proses kemasan tanpa mengurangi kualitas – seperti petani yang menemukan cara baru untuk membuat tanaman tumbuh lebih subur. Bosnya, Pak Hadi, melihatnya dengan mata yang seperti penjaga yang menemukan bakat tersembunyi, lalu mengangkatnya menjadi pembantu supervisor bagian produksi.
"Kamu punya pandangan yang berbeda," ujar Pak Hadi dengan senyum yang seperti matahari sore yang penuh dengan penghargaan. "Kamu tidak hanya melihat pekerjaan sebagai tugas yang harus diselesaikan – kamu melihatnya seperti tanah yang bisa diolah untuk menghasilkan hasil terbaik." Dengan kenaikan gaji yang datang seperti hujan yang menyuburkan tanah setelah musim kemarau panjang, Murni bisa mengirim lebih banyak uang ke kampung, bahkan bisa menyisihkan sebagian untuk membeli buku baru tentang manajemen usaha kecil – hal yang dulu dia pelajari sedikit di kuliah, kini dia pelajari dengan sungguh seperti anak yang belajar berjalan lagi dengan kaki yang lebih kuat.
Hubungan dengan teman-teman kuliahnya tidak pernah padam seperti korek api yang tetap menyala meskipun ditiup angin. Mereka sering berkirim pesan – Siti yang kini sedang magang di kantor hukum, cerita nya seperti perjalanan melalui hutan hukum yang penuh dengan tantangan tapi menarik. Rio yang sedang menyelesaikan tugas akhir dengan desain perabot yang seperti perpaduan antara tradisi dan masa depan yang sempurna. Dina yang sedang mengembangkan aplikasi untuk petani, fitur-fiturnya seperti jembatan yang menghubungkan dunia digital dengan dunia tanah.
"Kita masih menunggu kamu kembali," tulis Dina dalam salah satu pesannya, kata-katanya seperti cahaya yang menerangi jalan di malam hari. "Kampus itu tidak akan pernah menutup pintunya untukmu. Kita seperti empat bagian dari satu peta – masing-masing menjelajahi sudut yang berbeda, tapi akhirnya akan bertemu di satu titik tujuan." Murni menyimpan pesan itu seperti surat cinta yang berharga, setiap kata menjadi energi yang membuatnya tetap kuat ketika hari-hari terasa berat seperti batu yang diangkat dengan tangan kosong.
Suatu hari, ketika Murni sedang memeriksa kualitas produk di bagian pengemasan, dia melihat seorang wanita yang datang dengan anak kecil – anak itu sedang menangis karena ingin membeli makanan ringan yang dibuat di pabrik. Wanita itu tampak cemas seperti burung yang khawatir dengan anaknya yang hilang, uang di tangannya hanya cukup untuk membeli satu bungkus kecil. Murni mendekat, memberikan bungkus tambahan dengan senyum yang seperti matahari yang menghangatkan. "Anak-anak perlu sesuatu yang manis untuk membuat hari lebih baik," katanya.
Wanita itu mengucapkan terima kasih dengan mata yang penuh air mata seperti matahari yang menangis karena bahagia. Saat mereka pergi, Murni berpikir – bagaimana jika pabrik bisa membuat produk yang lebih murah tapi tetap berkualitas untuk orang-orang yang tidak mampu? Bagaimana jika bisa memberikan kesempatan kerja kepada orang-orang yang seperti dia dulu – yang punya kemampuan tapi tidak punya kesempatan? Pikiran itu tumbuh di benaknya seperti benih yang tiba-tiba mulai bertunas setelah mendapatkan air dan sinar matahari.
Malam itu, Murni membuka buku manajemen yang dia beli, mencatat ide-idenya seperti petani yang mencatat cara terbaik untuk merawat tanamannya. Dia merencanakan sesuatu yang baru – sebuah usaha kecil yang menjual makanan ringan buatan sendiri, menggunakan resep yang dia pelajari di pabrik tapi dengan bahan-bahan lokal dari kampungnya. Dia akan menyewa tempat kecil di pasar, menyediakan pekerjaan bagi teman-teman dari kontrakan yang juga sedang kesusahan, dan menjalin kerja sama dengan petani lokal untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas.
"Ini bukan hanya tentang uang," bisik Murni sambil melihat ke arah jendela, di mana langit kota mulai menunjukkan lebih banyak bintang seperti harapan yang semakin jelas terlihat. "Ini tentang membuat tanah yang baru saya tempati ini menjadi lebih baik – seperti daun yang jatuh tidak hanya menyuburkan satu pohon, tapi seluruh kebun di sekelilingnya." Dia merasakan bahwa semua perjuangan yang dia lalui – dari kampung ke kampus, dari kampus ke pabrik, dari kehilangan ke menemukan kembali tujuan – adalah seperti alur sungai yang membengkok-bengkok tapi akhirnya menemukan jalannya ke lautan.
Ketika matahari mulai muncul dari balik gedung-gedung kota, menyinari kamar kecilnya dengan cahaya yang seperti janji akan hari yang baru, Murni berdiri dan mengambil tas ranselnya – tas yang dulu membawa harapan kuliah, kini membawa harapan usaha baru. Dia tersenyum lagi, kali ini senyumnya seperti matahari yang sudah benar-benar muncul setelah badai – kuat, hangat, dan penuh dengan keyakinan bahwa setiap langkah yang dia ambil, setiap kerja keras yang dia lakukan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua orang yang seperti dia – mereka yang jatuh bukan untuk tumbang, melainkan untuk bangkit dengan kaki yang lebih kokoh dan membawa manfaat bagi yang lain.
...