"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Satu Kali Ini
"Thank you, I hope this collaboration runs smoothly." Devi menjabat tangan seorang pria muda menandakan kerja sama mereka deal dan kontrak sudah ditanda tangan oleh kedua belah pihak. Setelah mengambil foto bersama sebagai dokumentasi, Devi mengantarkan pria tersebut keluar dari ruangan.
Devi meregangkan tubuh yang terasa sedikit sakit, dia juga menepuk pinggang serta bahu yang sedikit sakit, untung saja make up wanita itu berhasil menutup kantong mata dirinya. Saat sampai kost dia bukan beristirahat melainkan langsung mengerjakan proposal mengenai projek yang tengah dia kerjakan. Devi tidur saat angka menunjuk jam dua pagi itupun dia harus bangun jam setengah tujuh karena harus ke kantor membahas kerja sama ini, untung saja semua berjalan lancar.
"Are you ok?" Pertanyaan simpel itu dilontarkan oleh Yaya, teman kantor Devi yang melihat Devi langsung merebahkan kepala di atas meja seraya menutup mata. Wanita itu mengangguk sebagai jawaban.
Dia dan Yaya merupakan teman satu perkuliahan, kenal saat mahasiswa baru lalu lost kontak karena tidak satu jurusan. Tetapi takdir mempertemukan mereka lagi dengan Yaya yang melamar ke perusahan tempatnya bekerja dan mereka akrab kembali.
"Lo belum ngasih tau kenapa di rumah, mendadak banget Lo pulang. Ada masalah?"
Devi menggeleng sebagai balasan, dia memang tipe orang yang oversharing jika sudah dekat dengan orang tetapi dia juga bercerita jika waktunya sudah pas dan sekarang belum pas. Yaya yang mengerti juga tidak memaksa lagi, wanita itu meletakan sebungkus roti dan kopi ke atas meja Devi lalu kembali fokus bekerja.
Satu jam berlalu begitu saja dengan Devi yang bangun karena Yaya mengetuk mejanya. Saat Devi membuka mata, Agnan berdiri di dekatnya dengan senyum kecil atau canggung karena sudah menganggu waktu tidur Devi. Kenapa Devi tidur dan tidak dimarahi? Biasanya peraturan di perusahaannya semua orang bisa beristirahat setelah menandatangani kontrak karena atasan mereka tau jika mereka begadang menyelesaikan projek tersebut, apalagi jika dalam keadaan mendadak seperti ini.
"Maaf udah ganggu, mau makan bareng?" Ucapan lembut dari Agnan dibalas anggukan oleh Devi, wanita itu pergi ke kamar mandi lalu kembali dengan wajah segar walau pikiran kusut wanita itu tidak bisa dipungkiri masih terlihat sangat jelas. Apalagi untuk Agnan yang sudah sangat mengenal Devi.
Kedua orang itu memilih makan di restoran Pagi Sore, sepanjang makan sama sekali tidak ada percakapan yang penting karena Agnan hanya bercerita kejadian pagi saat dia tidak sengaja terlambat dan malah bertemu dengan atasan sehingga diajak ngobrol panjang lebar.
Hanya itu, sampai akhirnya mereka selesai makan dan kembali ke perusahaan masing-masing. Sekarang Devi fokus dengan pekerjaannya sambil sesekali membantu Yaya dan beberapa rekan kerja yang mengalami kesulitan sampai waktu menunjuk jam lima sore menandakan mereka harus pulang tetapi tidak untuk Devi.
"Gue duluan ya, mau nge-date. Dijemput Agnan 'kan?"
Devi mengangguk dan Yaya berlari pergi dari sana karena HTS wanita itu sudah menunggu di depan kantor. Devi sendiri kembali melanjutkan pekerjaannya sampai akhirnya tanpa sadar waktu sudah menunjuk angka delapan dan saat itu juga Agnan meletakan segelas kopi.
"Thanks."
Agnan membawa tas Devi di pundak membuat Devi tersenyum tipis, kedua orang itu duduk di tepi jalan tidak jauh dari kantor karena ada sebuah kursi tempat biasa orang-orang nongkrong. Di sana Devi terdiam dengan mata menatap lalu-lalang kendaraan. Kadang yang dibutuhkan oleh Devi memang tempat seperti ini.
"Ada masalah?"
Angin bertiup dingin membuat Agnan melepaskan jaket dan memasangkannya kepada Devi, dia juga menarik kepala Devi untuk bersandar ke bahunya. Nyaman, aroma woody dari parfum Agnan berhasil menenangkan Devi dari semua permasalahan yang sejak kemarin bertengkar di pikirannya.
"Orang tua gue cerai."
Kata singkat itu berhasil keluar dari mulut Devi dengan air mata yang mengalir membasahi kemeja Agnan, tangan pria itu mengelus kepala Devi dengan lembut, ketika dia pertama kali jatuh cinta dan berhasil melunakan kerasnya hati Devi membuat Agnan menerima semua keluh kesah wanita itu.
"Gue bingung, gue kasihan sama adik gue yang paling kecil. Dia baru kelas tiga SD, kek sumpah kalo gue sama Deri enggak masalah tapi dia ...."
"Gue enggak paham lagi kenapa hidup ini berjalan seperti ini. Dari awal pernikahan itu sudah salah, Nan, gue salah apa? Kenapa di kehidupan satu kali ini gue harus hidup di keluarga seperti itu? Di satu sisi gue pengen nyalahin orang tua gue tapi di satu sisi lagi gue paham rasa sakit mereka. Tapi ...."
Air mata Devi mengalir dengan begitu deras membuat Agnan tidak berkomentar apa-apa, dia mengelus lengan Devi mencoba menguatkan wanita itu. Mengenal Devi dari masa kuliah sampai sekarang membuat Agnan paham dengan penderitaan wanita itu.
"It's ok. Masih ada gue."
Tidak ada lagi suara, Devi tenggelam dengan emosi yang coba dia kendalikan lagi. Untung di kehidupan satu kali ini dia bertemu dengan Agnan yang mengerti dengan dirinya, untung ada Agnan yang baik kepadanya. Untung ....
"Terima kasih udah kenal sama gue," lirih Devi.
Agnan tersenyum tipis dan menggenggam jemari dingin wanita yang dia cintai itu, seratus kali bahkan seribu kali sudah Agnan dengar ucapan itu. Agnan pernah mengatakan jika dia yang beruntung tetapi Devi tetap mengatakan hal itu lagi.
Setelah tidak ada suara tangis ataupun air mata Devi, Devi menyentuh perutnya yang berteriak minta diisi. Akhirnya kedua orang itu pergi dari sana.
"Makan yang banyak!" Agnan menambahkan nasi di piring Devi.
Sekarang mereka tengah makan pecel ayam di pinggir jalan tempat langganan mereka biasanya. Setelah menghabiskan semua makanan baru senyum lebar terbit dari bibir manis wanita itu.
"Dev."
Devi mengangkat kepala menatap Agnan yang baru saja memanggil namanya, Devi diam menunggu ucapan Agnan selanjutnya.
"Ayo menikah."
...***...