Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 – Harga Sebuah Kesalahan
Teriakan panik memecah keheningan hutan.
Serigala Batu menerjang tanpa ragu, tubuhnya besar dan berlapis kulit keras seperti batu kasar. Mu Chen mundur setengah langkah, wajahnya pucat.
“Formasi! Cepat!” bentaknya.
Dua murid lain buru-buru mengangkat senjata, tapi kepanikan membuat gerakan mereka kacau. Serigala Batu bukan iblis tingkat tinggi, namun cukup berbahaya bagi murid luar yang tak siap.
Ren Tao berdiri di balik semak, menyaksikan semuanya dengan napas tertahan.
Tenang. Jangan terlalu dekat. Jangan terlalu jauh.
Ia tidak berniat membunuh Mu Chen. Belum. Kematian terlalu murah dan terlalu mencurigakan.
Serigala Batu menerkam salah satu murid, mencakar lengannya hingga berdarah. Murid itu berteriak dan jatuh terduduk. Mu Chen menggertakkan gigi, lalu maju menyerang dengan tombaknya.
“Pergi kau, binatang sialan!”
Serangannya cukup kuat, tapi terburu-buru. Serigala Batu menghindar dan menghantam sisi tubuh Mu Chen dengan bahunya. Suara retakan tulang terdengar jelas.
“UGH!”
Mu Chen terpental dan menghantam batang pohon. Tombaknya terlepas dari tangan.
Ren Tao menyipitkan mata.
Cukup.
Ia berlari keluar dari persembunyian, wajahnya dibuat panik. “Kak Mu! Tahan sedikit!”
Tanpa menunggu jawaban, Ren Tao mengambil batu tajam dan melemparkannya bukan ke Serigala Batu, melainkan ke semak di sisi lain. Suara berisik itu membuat iblis tersebut menoleh.
“Ke sini!” teriak Ren Tao sambil berlari memutar.
Serigala Batu mengejar.
Ren Tao membawa binatang itu ke area berbatu licin. Ia menginjak titik yang sudah ia perhitungkan sebelumnya. Kakinya terpeleset sedikit cukup terlihat nyata lalu ia melompat ke samping.
Serigala Batu tidak seberuntung itu.
Kakinya kehilangan pijakan, tubuh besar itu tergelincir dan jatuh menghantam batu tajam di bawah. Gerakannya melambat, darah mengalir dari perutnya.
Murid lain segera menyusul dan menyerang bersama-sama. Beberapa saat kemudian, Serigala Batu roboh tak bernyawa.
Hutan kembali sunyi.
Mu Chen terengah-engah di bawah pohon. Lengan kirinya menggantung lemas, jelas patah. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir.
Ren Tao mendekat, ekspresinya penuh kekhawatiran.
“Kak Mu, kamu nggak apa-apa?” tanyanya tulus setidaknya terdengar tulus.
Mu Chen menatapnya dengan mata bergetar antara marah dan takut. Ia ingin berteriak, ingin menuduh. Tapi tidak ada bukti. Semua yang terjadi terlihat seperti kecelakaan.
“Diam…” desis Mu Chen.
Ren Tao mengangguk cepat. “Kita harus cepat kembali ke sekte. Lukamu parah.”
Perjalanan pulang berlangsung berat. Mu Chen harus ditopang dua orang. Ren Tao berjalan di belakang, menjaga jarak, wajahnya kembali datar.
Satu kesalahan, pikirnya tenang. Dan harga yang dibayar langsung terasa.
Begitu sampai di Sekte Awan Hitam, keributan kecil tak terhindarkan. Tabib dipanggil. Elder Han Qiu muncul tak lama kemudian.
“Apa yang terjadi?” tanyanya dingin.
Mu Chen membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tatapannya beralih ke Ren Tao yang berdiri tenang dengan pakaian kotor dan sedikit luka goresan di lengan.
“Serigala Batu,” jawab salah satu murid. “Kami disergap.”
Elder Han Qiu menatap Ren Tao. “Kamu.”
Ren Tao menunduk. “Aku yang memancingnya menjauh, Tetua.”
Tatapan Elder Han Qiu semakin tajam. “Kenapa?”
Ren Tao mengangkat bahu sedikit. “Kalau tidak, mungkin lebih banyak yang terluka.”
Jawaban sederhana. Tidak berlebihan. Tidak heroik.
Elder Han Qiu diam beberapa detik. Lalu ia mengangguk pelan. “Kamu bertindak cukup tenang.”
Itu bukan pujian. Tapi di Sekte Awan Hitam, pengakuan sekecil apa pun bernilai besar.
Mu Chen memejamkan mata, rahangnya mengeras.
Malamnya, Ren Tao kembali ke barak. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya jernih. Ia duduk bersila dan mengaktifkan Cincin Retak.
Aliran energi menguat sedikit dibanding kemarin.
Ren Tao tersenyum tipis.
Namun sebelum ia sempat menikmati momen itu, pintu barak terbuka.
Luo Feng masuk dengan wajah canggung. “Ren Tao… Wei Kang mau ketemu kamu.”
Ren Tao membuka mata perlahan.
Akhirnya.
“Apa urusannya?” tanyanya datar.
Luo Feng menelan ludah. “Katanya… tentang Mu Chen.”
Ren Tao berdiri, merapikan bajunya. Wajahnya tenang, hampir malas.
“Baik,” katanya singkat.
“Bilang ke dia, aku datang.”
Di luar, angin malam berhembus dingin.
Ren Tao melangkah maju dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Bidak berikutnya mulai bergerak.
semangat terus ya...