Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Aroma Asing
Perjalanan menuju basemen apartemen terasa seperti sebuah prosesi menuju tiang gantungan, bedanya, kali ini Nadinta yang memegang tali jeratnya. Tangan Arga yang menaut jemarinya terasa lembap dan hangat, sebuah sensasi yang dulu ia artikan sebagai perlindungan, namun kini terasa seperti kulit ular yang melilit mangsa.
"Hati-hati, sayang," ucap Arga seraya membukakan pintu penumpang Honda City silver miliknya. Senyumnya terpasang sempurna, tipe senyum yang dilatih di depan cermin untuk meyakinkan siapa pun bahwa dia adalah pria baik-baik.
Nadinta memaksakan sudut bibirnya naik. "Makasih, Mas."
Begitu pintu mobil tertutup dan memisahkan mereka dari kebisingan basemen, atmosfer di dalam kabin seketika berubah. Oksigen terasa menipis, tergantikan oleh partikel-partikel asing yang menyerbu indra penciuman Nadinta tanpa ampun.
Aroma itu.
Bukan aroma jeruk nipis sintetis dari pengharum mobil yang biasa menggantung di spion tengah. Bukan pula musk maskulin yang biasa Arga semprotkan ke kemejanya. Ini adalah aroma yang manis, pekat, dan menjijikkan. Perpaduan vanilla murahan dengan undertone melati yang menyengat.
Nadinta tidak perlu menebak. Ingatannya langsung memutar gulungan film masa lalu. Itu parfum favorit Maya. Sahabatnya itu pernah berkoar bahwa wangi vanilla membuatnya terkesan 'manis dan tidak berbahaya', padahal nyatanya, racun paling mematikan sering kali dibungkus rasa manis.
Jadi ini definisinya? Mobil ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan kamar motel berjalan bagi mereka.
Arga masuk ke kursi pengemudi, bersiul kecil sambil memutar kunci kontak. Mesin menderu halus, menyamarkan detak jantung Nadinta yang berpacu menahan amarah. Pria itu tampak santai, seolah jejak perselingkuhannya tidak sedang menguar hebat di udara yang mereka hirup bersama.
"Kenapa, Yang? Kok hidungnya kembang kempis gitu?" Arga menoleh sekilas saat mobil mulai merayap keluar area parkir, alisnya bertaut heran.
Nadinta menoleh, memasang topeng terbaiknya: wajah polos dengan binar mata ingin tahu yang naif.
"Mas, kamu ganti parfum mobil, ya?" tanyanya dengan nada riang yang dibuat-buat. "Wanginya beda. Kayak toko kue berjalan. Manis banget."
Tubuh Arga menegang. Sangat samar. Hanya kedutan kecil di otot rahang dan cengkeraman pada setir yang mengerat selama sepersekian detik. Jika Nadinta adalah wanita yang dulu, dia pasti mempercayai arga dan menganggapnya angin lalu.
Tapi Nadinta yang sekarang adalah predator yang mengamati mangsa.
"Oh, itu..." Arga tertawa, suaranya naik satu oktaf—tanda klasik kegugupan. "Kemarin ada klien yang nebeng. Mobilnya mogok pas kita lagi site visit, jadi aku antar sampai pangkalan taksi. Mungkin parfumnya nempel. Emangnya ganggu banget, ya?"
Klien. Tameng paling klise dalam sejarah perselingkuhan pria korporat yang merasa dirinya penting.
"Enggak kok, enak," dusta Nadinta lembut. Dia menyandarkan punggungnya, sengaja mencari posisi nyaman, namun punggungnya justru tenggelam terlalu dalam.
Sandaran kursinya terlalu rebah. Jauh lebih miring dari setelan tegak yang biasa ia pakai. Seseorang telah duduk di sini—atau mungkin berbaring—sebelumnya.
Nadinta menarik tuas di samping kursi dengan gerakan tegas, menegakkan sandaran itu kembali ke posisi bermartabat. Bunyi mekanik kursi yang bergeser terdengar kasar di keheningan mobil.
"Klien kamu pasti capek banget ya, Mas, sampai kursinya direbahin banget begini," komentar Nadinta ringan, matanya menatap lurus ke jalanan Jakarta yang mulai padat.
Arga berdeham, matanya melirik gelisah ke spion tengah. "Iya, namanya juga kerja lapangan. Dia sempat ketiduran sebentar."
Kebohongan demi kebohongan meluncur semulus mobil ini membelah aspal. Nadinta membiarkannya. Matanya kini bergerilya, menyapu area dashboard dan konsol tengah.
Dan di sanalah ia menemukannya.
Di celah sempit antara tuas rem tangan dan jok penumpang, ada kilatan kecil yang memantulkan sinar matahari pagi. Benda itu terselip rapi, luput dari mata telanjang jika tidak dicari dengan teliti.
Sebuah jepit rambut hitam polos. Plastik murahan.
Nadinta mengenali jenisnya. Itu jepit rambut grosiran yang sering dibeli Maya di pasar karena dia hobi menghilangkannya di mana-mana. Nadinta, di sisi lain, selalu memakai jepit bermotif mutiara atau gold clip.
Dia tidak mengambilnya. Mengambil benda itu sama saja meledakkan bom terlalu dini. Dia butuh Arga tetap merasa aman dalam kebohongan ini sampai waktunya Nadinta menarik karpet di bawah kakinya.
"Mas," panggil Nadinta, mengubah topik dengan mulus.
"Hmm?"
"Soal pelunasan katering yang kamu bilang di telepon tadi..." Nadinta memberi jeda dramatis.
Wajah Arga cerah seketika, seolah baru saja mendapat suntikan morfin. "Ah, iya! Kamu udah transfer kan, Yang? Orang kateringnya cerewet banget nih dari pagi."
Nadinta menunduk, memilin ujung kemejanya, berakting menyesal. "Itu dia masalahnya, Mas. M-Banking aku keblokir. Kayaknya kemarin malam aku salah masukin PIN berkali-kali pas lagi ngantuk berat. Tadi aku coba lagi, tetap nggak bisa."
Mobil sedikit oleng ke kiri sebelum Arga meluruskannya kembali dengan sentakan panik. "Hah? Keblokir? Terus gimana? Hari ini hari terakhir pelunasan lho, Din!"
Suara Arga meninggi. Bukan karena khawatir pada acara mereka, tapi karena panik pada kondisi dompetnya sendiri.
"Ya mau gimana lagi? Kan hari Minggu bank tutup," sahut Nadinta dengan nada pasrah yang meyakinkan. "Kamu talangin dulu aja ya, Mas? Ada kan lima puluh juta? Nanti Senin pagi pas bank buka, aku langsung ganti plus traktir kamu kopi."
Hening.
Arga terdiam seribu bahasa. Wajahnya memucat. Nadinta tahu persis isi rekening Arga. Pria itu tidak punya dana darurat. Gaji supervisornya yang tak seberapa itu sudah menguap menjadi tas branded untuk Maya dan uang muka mobil ini demi terlihat 'sukses' di depan rekan-rekannya. Saldo Arga saat ini mungkin tidak cukup untuk membayar bensin sebulan.
"Mas? Kok diam?" desak Nadinta. "Masa Supervisor senior andalan Pak Rudi nggak punya dana standby segitu? Malu dong sama gaya kamu yang high class."
Tembakan tepat sasaran. Arga selalu membanggakan posisinya sebagai senior supervisor yang digadang-gadang akan naik jabatan, meski kenyataannya dia hanya parasit di tim. Gengsi adalah titik terlemahnya.
"B-bukan nggak ada, Sayang," gagap Arga, keringat mulai membasahi pelipisnya meski AC mobil menyala maksimal. "Uangku... semuanya lagi masuk di deposito berjangka. Kalau ditarik sekarang, penaltinya gede banget. Sayang kan?"
Nadinta menahan senyum sinisnya. Deposito. Istilah keren untuk 'aku bokek'.
"Yah ... sayang banget," desah Nadinta. "Terus gimana dong? Apa kita batalin aja katering mewahnya? Ganti nasi kotak aja biar hemat? Biar sesuai sama budget kita yang sebenernya?"
"Jangan gila kamu!" sentak Arga spontan. Dia memukul setir pelan. "Mau ditaruh di mana muka aku di depan anak-anak kantor? Nanti dikira Arga nggak mampu kasih resepsi layak. Pokoknya jangan nasi kotak!"
"Ya emang kita lagi nggak bisa bayar kan sekarang?"
Arga menghela napas kasar, frustrasi. "Oke, oke. Nanti aku coba ngomong sama vendornya. Aku minta dispensasi waktu sampai besok. Kamu ini, ceroboh banget sih soal PIN. Bikin pusing aja."
"Maaf ya, Mas," ucap Nadinta lembut. Maaf karena mulai hari ini, aku akan memiskinkanmu pelan-pelan sampai kamu mengemis.
Mobil berbelok memasuki pelataran sebuah butik pengantin bergaya klasik di kawasan Kemang. Bangunan itu tampak anggun dengan dominasi warna putih gading. Namun, bukan gaun pengantin di etalase yang menarik perhatian Nadinta.
Di depan pintu masuk kaca butik itu, berdiri satu sosok wanita. Dia adalah Sang pemilik.
"Selamat datang, Pak Arga dan Bu Nadinta. Mari, saya tunjukkan beberapa opsi baju pengantin terbaik kami."
Arga mengambil langkah besar dan berjalan lebih dulu. Sementara Nadinta menahan tubuhnya sejenak, menatap punggung Arga lamat-lamat.
Segala petunjuk telah begitu jelas, Nadinta tak perlu lagi menahan diri. Dia akan menuntut balas.
Selamat datang di Neraka, Mas.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/