NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Hukuman yang Ambigu

"Aww, Kanaya! Tidak bisakah kau melakukannya dengan lembut?" pekik Kalendra yang saat ini sedang duduk di pinggiran ranjang.

"Kenapa? Bukankah lebih enak jika dilakukan dengan kasar seperti ini? Adrenalinmu akan terpacu." acuh sang istri yang tetap fokus pada kegiatannya. Tidak mempedulikan Kalendra yang mengerang.

"Tapi-- akhh! Kau ingin menyiksaku ya!? Jangan ditekan terlalu keras, bodoh!"

"Bodoh?" beo Kanaya tidak terima.

"Kau yang bodoh! Dasar menyusahkan!"

Terlampau kesal, Kanaya kembali menekan salah satu bagian tubuh Kalendra sekuat tenaga.

"Lakukan yang benar, Kanaya! Jika kau terlalu kuat menekannya, punyaku bisa pecah! Kau tidak tahu ya!"

Si perempuan tersenyum sinis tampak tak peduli. "Jika memang pecah, aku akan sangat bersyukur. Supaya kau enyah dari dunia ini."

"Dan kau akan menjadi janda."

Cih, apa Kalendra baru saja menakut-nakutinya? Sayangnya, Kanaya tidak terpengaruh.

"Ya memangnya kenapa jika menjadi janda?" perempuan itu menjawab acuh.

"Aku bisa menikah lagi. Oh, dan ya--- jika nanti kau mati, tolong atas namakan semua hartamu dengan namaku." membayangkan hidup dengan bergelimang harta membuat Kanaya senyum-senyum tidak jelas.

Janda kaya raya memang yang terbaik! 

Suasana hati Kalendra berubah suram mendengar penuturan istrinya. Dia tersenyum culas. "Memangnya ada yang mau denganmu? Percaya diri sekali."

Kanaya berdecak. Kalendra ini suka sekali merusak imajinasinya. "Siapa yang tidak akan tertarik dengan perempuan cantik sepertiku? Badan se-xi, kulit putih, wajah cantik, dada---

"Tapi pendek." sela Kalendra yang berhasil membuat Kanaya memasang wajah julid.

"Walaupun pendek tapi dadaku besar! Enak kalau dimainin." balas Kanaya frontal tanpa filter. Bahkan, tanpa perempuan itu ketahui, telinga Kalendra sudah memerah samar.

"Heh, ingat ya, walaupun janda tapi aku masih virgin. Woahhh, sekelas Le min ho saja pasti tertarik." sambung figuran itu dengan bangganya.

Memuji diri sendiri itu tidak salah. Malah wajib, karena jika bukan kita sendiri, siapa lagi yang akan melakukannya.

"Siapa Le min ho?"

Kanaya meremang. Perempuan itu mengusap tengkuknya yang seperti tersengat oleh sesuatu. Ini hanya perasaannya atau memang cuacanya berubah panas?

"Ohh, dia...calon suami baruku jika nanti aku menjadi janda."

"Silahkan saja kalau berani."

"Kenapa tidak?" tantang Kanaya tanpa ada rasa takut.

"Hm, lakukan saja. Tapi sebelum itu aku akan memotong kakimu dengan gergaji mesin. Kita lihat, apakah calon suamimu itu masih mau dengan perempuan cacat atau tidak."

"Ck, diamlah!" Kanaya memukul kepala sang suami yang sedari tadi dipijatnya.

Dalam hatinya perempuan itu menggerutu sebal. Candaan Kalendra berhasil membuat dirinya ciut. Tidak menutup kemungkinan protagonis pria itu akan merealisasikan ucapannya karena terlalu benci dengan Kanaya Wilson, bukan?

Tidak ada perdebatan lagi. Seakan keduanya sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Namun itu tak berlansung lama. Kalendra memekik saat merasakan tarikan pada rambutnya. Memecah keheningan yang sempat tercipta.

"Kau menjambakku!" protes laki-laki itu berdesis lirih, karena merasakan kepalanya yang pedih.

"Oh, maaf. Aku tidak sengaja." ujar Kanaya berpura-pura. Jelas sekali dia sengaja melakukannya. Perempuan itu kesal. Jika berani pun, ingin rasanya Kanaya mence-kik protagonis yang berstatus sebagai suaminya.

Ini semua gara-gara transmigrasi jiwa keparat! 

"Ck, apa kau tidak bekerja? Bukankah tadi kau mengatakan jika ada rapat?" Kanaya berdecak. Kalendra seperti enggan melepaskannya.

"Seharusnya seperti itu. Tapi aku harus menghukum tikus kecil yang nakal terlebih dahulu." balas Kalendra dengan santainya.

"Pijat yang benar, Kanaya..."

"Kau mengibaratkan aku dengan tikus?!" seru Kanaya tak terima.

"Kau yang mengatakannya, bukan aku."

Kalendra sialan!

Sekarang Kanaya benar-benar kesal. Suaminya itu memaksa dirinya memijat kepala sebagai hukuman karena telah menumpahkan kopi di kemejanya.

Awalnya Kanaya menolak mentah-mentah. Tapi bajingan itu mengancam menuntut ganti rugi membuat Kanaya tak bisa berkutik.

Ini aneh. Bukankah di novel diceritakan bahwa hubungan rumah tangga kalendra dan Kanaya sangat dingin. Bahkan kalendra jarang berada di rumah sampai kemunculan Zana sebagai pemeran utama wanita.

Tapi yang sekarang Kanaya lihat, Kalendra ini sama sekali tidak ada aura dingin-dinginnya. Maksudnya, Kanaya belum melihat sifat yang satu itu. Sang protagonis pria ini malah bertingkah sangat menyebalkan sampai membuat Kanaya darah tinggi menghadapinya.

"Kalendra, tanganku lelah."

Kanaya menjauhkan tangannya dari kepala suaminya. Tubuhnya ia jatuhkan pada ranjang besar milik laki-laki itu.

Ah, ya. Kalendra dan Kanaya asli memang pisah kamar. Mungkin semalam Kalendra terlalu lelah untuk pindah sehingga ia tidur di kamar milik Kanaya.

Melihat istrinya yang berbaring dengan tatapan lesunya, membuat diam-diam bibir Kalendra berkedut. Awalnya dia ingin mendekat, namun urung saat ponsel di saku celananya bergetar.

Mendengus tak suka karena telah diganggu, protagonis itu merogoh sakunya, lalu mendial ikon hijau di layar benda pipih bersegi panjang miliknya.

"Ada apa?"suara itu terdengar tidak bersahabat.

"Tuan, anda di mana? Saya harap anda tidak lupa jika hari ini ada rapat dengan para investor."

Sebelum menjawab, Kalendra melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit. Ia menghela nafas berat. Kalendra benar-benar lupa. Ini gara-gara si tikus kecil nakal yang saat ini telah berbaring di ranjangnya.

"Aku lupa. Aku akan sampai seperempat jam lagi." enteng sekali Kalendra menjawab.

Sedangkan di seberang sana, sekertaris sekaligus asisten pribadi Kalendra mendumel di dalam hati. Bahkan sekarang rapatnya sudah ia tunda sejak sepuluh menit yang lalu.

"Baik, akan saya handel. Saya harap Tuan Kalendra segera---

"Berisik!" sela Kalendra lalu menutup teleponnya. Sekertarisnya itu sangat menganggu sekali.

"Aku akan ke kantor. Jangan keluar rumah sampai aku kembali." ujar Kalendra yang bangkit dari peraduannya. Ia lirik sang istri yang tengah menampilkan raut meremehkan.

"Memangnya siapa dirimu hingga berani melarangku?"

"Su.a.mi.mu. Dan kau adalah istriku." tekan Kalendra mempertegas status mereka.

"Ya, istri yang tidak dianggap." balas Kanaya malas. Perempuan itu bangun, lalu duduk sembari memperhatikan Kalendra yang sedang berganti pakaian.

Ehh, tunggu--- berganti pakaian?! Menyadari apa yang sedang suaminya lakukan, Kanaya sontak menjerit protes.

"Kalendra!! Kenapa kau membuka bajumu!!" Kanaya menutup matanya menggunakan telapak tangan.

"Terserahku. Ini kamarku kalau kau lupa."

Kanaya mendengus. Perempuan itu berusaha keluar dari kamar tanpa harus melihat Kalendra yang sedang berte-lanjang dada.

"Dasar tidak tahu malu! Seharusnya dia tahu sopan santun untuk tidak membuka bajunya di depan seorang perempuan."

"Dasar protagonis---"

Kanaya memekik. Tubuhnya seperti ditarik, menjauhkan tangan dari matanya, perempuan itu menahan nafasnya saat menyadari betapa dekatnya dia dengan Kalendra. Kedua pipinya bersemu saat tak sengaja melihat tubuh depan sang suami.

"Kancingkan kemejaku."

Kalendra menarik tubuh Kanaya hingga semakin mendekat padanya.

"Ya---ya?"

Astaga, Kanaya! Kenapa kau jadi gagu seperti ini?! 

"Kau bilang, aku tidak menganggapmu sebagai istri? Sekarang, kita buktikan kebenarannya. Kancingkan kemeja suamimu ini, istriku."

Glek. Susah payah Kanaya menelan salivanya. Matanya berkeliaran menatap ke sembarang arah. Jika terus menerus melihat pemandangan di depannya, bisa-bisa dia khilaf----ehhhh.

Sayangnya, respon itu disalah artikan oleh Kalendra. Laki-laki itu tersenyum sinis. "Lihat, bukan aku. Tapi kau yang tidak menganggapku sebagai suami."

"Aa--apa?"

Kenapa Kalendra malah memutar balikkan fakta?!

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!