Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Ancaman Pertama
#
Amplop cokelat itu tergeletak di kap mobil Mahira.
Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat. Hanya amplop polos dengan lipatan rapi yang mencurigakan.
"Ki, tunggu di sini," ujar Mahira sambil keluar dari mobil Kiara. Mereka sudah sampai di parkiran kantor setelah insiden mengerikan dengan Khaerul di mall.
"Lu gila? Sendirian? Setelah yang baru aja terjadi?" Kiara ikut turun. "Gue ikut."
Mahira meraih amplop itu dengan hati-hati—seperti memegang bom yang bisa meledak kapan saja. Tangannya gemetar saat membuka lipatannya.
Di dalamnya, selembar kertas dengan tulisan tangan menggunakan tinta hitam pekat:
*"Berhenti menggali. Berhenti mencari. Beberapa rahasia lebih baik tetap terkubur. Kalau kamu terus nekad, yang kamu sayangi akan menjadi korban. Ini peringatan pertama dan terakhir."*
Di bawah tulisan itu, ada foto. Foto Raesha sedang keluar dari rumah pagi ini. Dan di foto itu, ada tanda silang merah tepat di wajah kakaknya.
"Ya Allah..." Kiara menutup mulutnya dengan tangan.
Mahira meremas kertas itu. Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu di dadanya. "Mereka ngancam Raesha."
"Mahira, kita harus lapor polisi—"
"Lapor apa?" Mahira menatap sahabatnya dengan mata berair. "Lapor kalau ada yang ngancam gue gara-gara gue lagi cari tahu soal reinkarnasi? Polisi bakal pikir gue gila, Ki!"
"Tapi ini ancaman nyata! Ada foto Raesha—"
"Yang artinya mereka udah ngawasin. Mereka tahu kemana aja kita pergi. Apa aja yang kita lakuin." Mahira bersandar di mobilnya, napasnya pendek-pendek. "Dan gue nggak tahu siapa 'mereka' itu. Khaerul? Atau ada orang lain?"
Kiara merangkul bahunya. "Kita ke Ustadz Hariz sekarang. Sekarang juga. Lu nggak bisa nunggu sampe besok."
"Tapi—"
"No buts." Kiara menarik lengannya. "Lu mau tunggu sampe Raesha beneran kenapa-kenapa? Ayo."
***
Rumah Ustadz Hariz berada di kawasan Kemang—bangunan minimalis dua lantai dengan taman kecil di depan. Aroma kemenyan dan bunga melati menyambut mereka saat pintu terbuka.
"Assalamualaikum," sapa seorang wanita paruh baya dengan hijab putih. "Dengan Mbak Kiara?"
"Iya, Bu. Ini teman saya, Mahira." Kiara menunjuk ke arah Mahira yang berdiri di belakangnya.
"Silakan masuk. Ustadz sudah menunggu."
Mereka dibawa ke sebuah ruangan di lantai satu—ruangan dengan dinding berwarna krem dan rak buku penuh kitab-kitab agama. Di tengah ruangan ada meja rendah dengan bantal-bantal untuk duduk lesehan. Ustadz Hariz—pria berusia sekitar empat puluhan dengan jenggot tipis dan mata yang teduh—duduk di sana sambil membaca Al-Quran.
"Assalamualaikum, Ustadz," Kiara memberi salam.
"Waalaikumsalam." Ustadz Hariz menutup Al-Quran-nya dan tersenyum hangat. "Silakan duduk. Kiara bilang ada yang perlu dibicarakan dengan mendesak."
Mahira duduk dengan canggung. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Cerita saja, nak," kata Ustadz Hariz dengan lembut. "Di sini tempat yang aman."
Mahira menarik napas dalam. "Ustadz... saya ngalamin hal-hal aneh. Mimpi yang terlalu nyata. Ingatan yang bukan punya saya. Dan... dan saya rasa saya adalah reinkarnasi dari orang yang hidup 300 tahun lalu."
Ustadz Hariz tidak terlihat terkejut. Ia hanya mengangguk perlahan. "Teruskan."
Dengan suara bergetar, Mahira menceritakan semuanya. Mimpi-mimpinya. Visi tentang Putri Aisyara. Surat dari nenek. Khaerul yang mengaku juga punya ingatan yang sama. Dan ancaman yang baru saja ia terima.
Ustadz Hariz mendengarkan tanpa menyela. Sesekali ia mengangguk atau mengerutkan kening. Setelah Mahira selesai, ia terdiam cukup lama—seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Dalam Islam," Ustadz Hariz mulai bicara, "konsep reinkarnasi tidak diakui. Kita percaya pada hari kebangkitan, bukan kelahiran kembali di dunia. Tapi..." ia berhenti sejenak, "...ada fenomena lain yang mungkin menjelaskan apa yang kamu alami."
"Fenomena apa, Ustadz?" tanya Mahira.
"Jin yang membawa ingatan." Ustadz Hariz menatapnya dengan serius. "Ada jenis jin tertentu yang bisa memasuki mimpi seseorang, membawa ingatan masa lalu—entah ingatan orang yang sudah meninggal atau peristiwa yang pernah terjadi. Mereka melakukan ini dengan tujuan tertentu. Bisa untuk menyesatkan, bisa untuk balas dendam, atau... untuk menuntaskan sesuatu yang belum selesai."
Mahira merasa dingin menjalar di punggungnya. "Jadi... yang saya lihat itu bukan ingatan saya sendiri?"
"Bisa jadi bukan. Bisa jadi ada entitas yang menunjukkan itu padamu." Ustadz Hariz mengambil tasbih dari meja, meremas-remasnya. "Tapi ada juga kemungkinan lain. Kamu bisa saja punya... koneksi spiritual dengan orang di masa lalu itu. Bukan dalam artian reinkarnasi, tapi dalam artian... garis keturunan. Darah. Energi yang diturunkan."
"Nenek saya bilang ini warisan spiritual keluarga," Mahira menambahkan. "Dia bilang tidak semua orang di keluarga kami dapat ini."
"Itu masuk akal." Ustadz Hariz mengangguk. "Dalam beberapa keluarga, terutama yang punya sejarah panjang, ada 'beban' spiritual yang diturunkan. Bisa berupa kutukan—akibat dosa nenek moyang yang belum ditebus. Bisa juga berupa 'panggilan'—tugas yang harus diselesaikan oleh keturunan tertentu."
"Jadi... apa yang harus saya lakukan?" Suara Mahira nyaris berbisik.
"Pertama, kamu harus kuatkan iman. Perbanyak dzikir, sholat, baca Al-Quran. Ini akan jadi pelindungmu dari gangguan jin atau energi negatif apapun." Ustadz Hariz menatapnya dengan pandangan penuh empati. "Kedua, kalau memang ada tugas yang harus diselesaikan—dan sepertinya ada—maka kamu harus menyelesaikannya. Tapi dengan cara yang benar. Dengan bimbingan Allah. Bukan dengan emosi atau dendam."
"Tapi Ustadz, ada orang yang ngancam saya. Ngancam keluarga saya." Mahira menunjukkan surat yang tadi ia terima. "Mereka nggak mau saya cari tahu lebih banyak."
Ustadz Hariz membaca surat itu. Wajahnya mengeras. "Ini bukan sekadar ancaman manusia. Ada energi gelap di balik ini. Aku bisa merasakannya." Ia meletakkan surat itu di meja. "Kamu sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dari yang kamu kira. Dan orang-orang—atau makhluk-makhluk—yang tidak ingin rahasia itu terungkap."
"Makhluk?" Kiara menelan ludah.
"Jin memiliki kepentingan terhadap manusia. Terutama manusia yang terlibat dalam peristiwa besar di masa lalu. Mereka bisa memanipulasi, bisa membantu, bisa juga menghancurkan." Ustadz Hariz bangkit berdiri. "Aku akan ruqyah kamu dulu. Pastikan tidak ada gangguan jin yang menempel. Lalu kita akan lihat, apa yang sebenarnya terjadi."
***
Proses ruqyah berlangsung selama satu jam.
Mahira duduk di tengah ruangan dengan mata tertutup sementara Ustadz Hariz membaca ayat-ayat Al-Quran. Kiara duduk di pojok, menonton dengan khawatir.
Pada menit ke-20, Mahira mulai merasa sesak. Dadanya berat. Napasnya pendek. Ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuhnya—sesuatu yang asing, yang ingin keluar.
"Bertahanlah, nak," suara Ustadz Hariz terdengar jauh. "Ini proses pembersihan."
Mahira meremas tangannya sendiri. Keringat dingin membasahi dahinya. Dan tiba-tiba—
—sebuah visi menghantam.
Ia melihat istana yang sama. Tapi kali ini lebih gelap. Lebih mencekam. Ada kabut hitam menyelimuti setiap sudut. Dan di tengah kabut itu, sosok berpakaian hitam dengan mata merah menyala menatapnya.
"Kamu tidak akan bisa lepas," bisik sosok itu dengan suara yang bergema. "Takdir sudah dituliskan. Darah akan kembali tumpah. Cinta akan kembali hancur. Dan kali ini, tidak ada yang akan menyelamatkanmu."
"TIDAK!" Mahira berteriak—dan visi itu pecah.
Ia terbangun dengan napas terengah-engah. Ustadz Hariz dan Kiara langsung menghampirinya.
"Mahira! Kamu oke?" Kiara memeluknya erat.
"Ada... ada sesuatu." Mahira masih gemetar. "Ada entitas yang nggak mau saya berhasil. Yang mau semuanya terulang."
Ustadz Hariz menghela napas panjang. "Ini lebih serius dari yang kukira. Ada kutukan kuat yang mengikat kamu—dan orang-orang di sekitarmu. Kutukan yang sudah berusia ratusan tahun."
"Bisa diputuskan, Ustadz?" tanya Mahira dengan putus asa.
"Bisa. Tapi tidak mudah." Ustadz Hariz menatapnya dengan pandangan serius. "Kamu harus menemukan sumber kutukan itu. Tempat di mana semuanya dimulai. Dan kamu harus menyelesaikan apa yang belum selesai di masa lalu—dengan cara yang diridhai Allah."
"Kami punya peta," kata Mahira. "Peta yang menunjuk ke sebuah lokasi. Tempat yang disebut Istana Terakhir."
"Pergilah ke sana. Tapi jangan sendirian. Bawa orang-orang yang bisa melindungimu—secara fisik dan spiritual." Ustadz Hariz memberikan sebuah tasbih kepadanya. "Ini tasbih yang sudah dibacakan ayat Kursi ribuan kali. Bawa ini. Dan selalu ingat Allah di mana pun kamu berada."
Mahira menerima tasbih itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Ustadz."
"Satu lagi, nak." Ustadz Hariz memegang bahunya dengan lembut. "Ketika kamu bertemu dengan orang yang disebut Zarvan itu... percayalah pada perasaanmu. Tapi jangan biarkan masa lalu mengendalikan masa depan. Kalian punya kesempatan untuk menulis akhir cerita yang berbeda. Jangan sia-siakan."
***
Perjalanan pulang terasa lebih berat.
Mahira duduk di kursi penumpang mobil Kiara, menatap tasbih di tangannya. Kata-kata Ustadz Hariz terus bergema di kepalanya.
*"Kutukan yang sudah berusia ratusan tahun."*
*"Darah akan kembali tumpah."*
*"Tidak ada yang akan menyelamatkanmu."*
"Lu bakal ke Istana Terakhir itu kapan?" tanya Kiara, memecah keheningan.
"Besok pagi. Sama Raesha." Mahira menghela napas. "Kita nggak punya waktu lagi. Zarvan datang tiga hari lagi."
"Gue ikut."
"Ki—"
"No arguments." Kiara menatapnya dengan tegas. "Lu pikir gue bakal ngebolehin lu pergi ke tempat yang mungkin berbahaya sendirian sama kakak lu? Dream on. Gue ikut. Titik."
Mahira tersenyum tipis—senyum pertamanya sejak sore tadi. "Makasih."
"For what? Lu sahabat gue. Gue nggak akan ninggalin lu sendirian ngadepin ini."
Tapi saat mereka tiba di parkiran rumah Mahira, senyum itu sirna.
Karena di depan pintu rumahnya, berdiri Khaerul.
Pria itu bersandar di dinding dengan tangan dilipat di dada. Tatapannya dingin saat Mahira keluar dari mobil.
"Kita harus ngomong," katanya. "Sekarang."
---
**BERSAMBUNG KE BAB 7**