NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan Paling Kotor

Pukul delapan malam. Mansion itu terasa lebih gelap dari biasanya. Rina, sang ibu mertua, belum juga pulang, mungkin sengaja dibuat sibuk oleh jadwal yang disusun Baskoro. Laila berdiri di depan cermin, menatap dirinya yang mengenakan gaun malam berwarna merah gelap yang dikirimkan pelayan ke kamarnya satu jam yang lalu. Gaun itu sangat indah, namun bagi Laila, itu terasa seperti pakaian narapidana.

​Dengan langkah berat, ia menuju ruang bawah tanah. Ruangan itu biasanya digunakan untuk menyimpan koleksi wine dan cerutu milik Baskoro. Suasananya lebih mirip seperti ruangan mewah di hotel berbintang, dengan pencahayaan remang-remang dan musik jazz klasik yang mengalun pelan.

​Di sana, di meja makan bundar kecil, Baskoro sudah menunggu. Dua gelas wine sudah terisi.

​"Kau tampak sangat mempesona, Laila. Merah adalah warnamu," puji Baskoro sambil berdiri menyambutnya.

​Laila duduk dengan kaku. "Mari kita selesaikan ini, Pa. Apa yang Papa inginkan sebenarnya?"

​Baskoro duduk kembali, menyesap winenya perlahan. "Sabar, Sayang. Kita punya waktu semalaman. Agil tidak akan pulang sampai jam dua pagi. Aku sudah memastikan sekretarisnya memberinya tugas tambahan, yang mustahil diselesaikan cepat."

​Laila mengepalkan tangannya, di bawah meja. "Papa sangat kejam pada anak sendiri."

​"Kejam? Tidak. Aku sedang mendidiknya. Aku memberinya apa yang dia inginkan: kesuksesan. Dan sebagai gantinya, aku mengambil apa yang aku inginkan," Baskoro mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau tahu, sejak pertama kali Agil membawamu ke rumah ini, aku sudah tahu kalau kau bukan milik pria selemah dia. Kau adalah milik pria yang bisa mengendalikan dunia. Pria sepertiku."

​Baskoro berdiri dan berjalan ke belakang kursi Laila. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Laila, lalu mulai memijatnya perlahan. Laila membeku, air mata mulai mengalir di pipinya tanpa suara.

​"Jangan menangis. Anggap saja ini sebagai bentuk pengabdianmu untuk menyelamatkan ayahmu dan masa depan suamimu," bisik Baskoro.

​Malam itu, di bawah kemewahan mansion yang megah, pengkhianatan paling kotor sedang dimulai. Agil, yang sedang berjuang keras di kantor demi masa depan mereka, tidak pernah membayangkan bahwa di rumah yang ia anggap sebagai tempat teraman, istrinya sedang direnggut secara paksa oleh pria yang paling ia hormati.

​Satu per satu, kancing gaun Laila terbuka. Dan di dalam hatinya, Laila bersumpah bahwa suatu saat nanti, jika ia memiliki kesempatan, ia akan menghancurkan pria ini, meskipun ia harus menghancurkan dirinya sendiri dalam prosesnya.

****

​Lantai marmer yang dingin terasa seperti es di bawah kaki Laila saat ia merayap kembali ke kamarnya di lantai dua. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Mansion itu sunyi, hanya suara detak jam dinding besar di lorong yang terdengar seperti palu hakim yang menghantam jiwanya. Laila menggenggam erat jubah tidurnya, menutupi bekas kemerahan di pundak dan lehernya, tanda permanen dari pertemuan terkutuk di ruang bawah tanah bersama Baskoro.

​Ia segera masuk ke kamar mandi, mengunci pintu, dan menyalakan pancuran air panas. Di bawah guyuran air, Laila terisak tanpa suara. Ia menggosok kulitnya dengan kasar, seolah-olah sabun paling mahal di dunia pun bisa menghapus jejak tangan mertuanya yang menjijikkan. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, wajah Baskoro yang penuh kemenangan dan ancamannya tentang ayahnya di desa terus menghantui.

​"Maafkan aku, Mas Agil... maafkan aku," bisiknya di sela tangis.

​Setengah jam kemudian, pintu kamar depan terbuka. Agil masuk dengan langkah gontai, wajahnya kuyu namun ada senyum tipis di bibirnya. Ia melihat Laila baru saja keluar dari kamar mandi, dengan rambut basah dan mata yang sedikit sembap.

​"Sayang? Kamu belum tidur?" Agil mendekat, hendak memeluk istrinya.

​Laila secara refleks sedikit menghindar, berpura-pura mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya. Gerakan kecil itu luput dari perhatian Agil, yang terlalu lelah untuk berpikir jernih.

​"Aku... aku tadi terbangun dan merasa gerah, jadi aku mandi," jawab Laila dengan suara parau.

​Agil menghela nafas panjang dan merebahkan tubuhnya di ranjang, tanpa melepas jasnya. "Maafkan aku ya, Sayang. Hari pertama sudah harus lembur sampai jam begini. Tapi kamu tahu tidak? Papa benar-benar luar biasa. Dia memberiku akses ke data vendor besar. Jika aku bisa merapikan sistem logistik ini dalam sebulan, Papa berjanji akan memberikan bonus yang cukup, untuk kita membeli rumah sendiri di BSD."

​Laila terdiam di depan cermin rias. Mendengar nama 'Papa' disebut dengan nada penuh kekaguman oleh suaminya, membuat perutnya mual. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, seorang wanita yang tampak cantik di luar, namun hancur lebur di dalam.

​"Mas... apa kita benar-benar harus mengejar semua itu?" tanya Laila pelan.

​Agil bangkit, duduk di tepi ranjang, dan menatap istrinya dengan heran. "Lho, bukannya ini yang kita impikan? Kamu tidak perlu lagi khawatir soal cicilan, soal pengobatan ibu di desa, atau soal masa depan anak-anak kita nanti. Papa sedang membukakan pintu surga untuk kita, Laila."

​Pintu surga? Ini adalah pintu neraka, Mas, jerit Laila dalam hati. Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Aku hanya lelah, Mas. Tidurlah."

​Keesokan paginya, sarapan berlangsung seperti biasa, namun dengan atmosfer yang berbeda bagi Laila. Agil sudah duduk di meja makan, asyik berdiskusi dengan Baskoro mengenai laporan keuangan. Rina, sang ibu mertua, duduk di ujung meja, matanya yang tajam sesekali melirik ke arah Laila yang tampak pucat.

​"Laila, kau tidak makan?" tanya Baskoro dengan nada ramah yang dibuat-buat. Ia memotong steak-nya dengan anggun.

​"Saya kurang nafsu makan, Pa," jawab Laila, tanpa berani menatap mata pria itu.

​Baskoro meletakkan pisaunya, lalu menatap Agil. "Agil, sepertinya istrimu butuh udara segar. Bagaimana kalau akhir pekan ini kau pergi ke Surabaya untuk meninjau gudang baru, dan biarkan Laila tetap di sini untuk beristirahat? Aku akan meminta sopir mengantarnya ke spa langganan Mama, agar dia merasa lebih baik."

​Agil tampak ragu sejenak. "Surabaya? Tapi Pa, saya baru saja mulai di sini."

​"Justru itu. Ini ujian pertamamu. Aku ingin melihat bagaimana kau menangani lapangan secara langsung. Ini demi kariermu, Agil," ucap Baskoro tegas.

​Agil menatap Laila, mencari persetujuan. Laila ingin sekali berteriak, Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi! Namun, ia melihat tatapan Baskoro yang mendingin, sebuah peringatan bisu bahwa nasib ayahnya di desa bergantung pada kepatuhannya.

​"Pergilah, Mas. Aku tidak apa-apa," ucap Laila akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.

​Agil tersenyum lebar. "Terima kasih, Sayang. Aku berjanji akan pulang membawa kabar baik."

​Setelah Agil berangkat ke kantor lebih awal untuk mempersiapkan perjalanannya, Laila bermaksud kembali ke kamar. Namun, saat ia berada di tangga, Rina memanggilnya.

​"Laila. Ikut aku ke taman belakang," suara ibu mertuanya terdengar dingin dan tanpa kompromi.

​Di taman belakang yang dipenuhi bunga-bunga eksotis, Rina duduk di kursi rotan, menyesap tehnya. Ia menatap Laila dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasihan dan kebencian.

​"Kau pikir kau adalah wanita pertama, yang dia bawa ke rumah ini?" tanya Rina tiba-tiba.

​Laila tersentak. "Maksud Mama?"

​"Jangan naif, Laila. Aku sudah hidup dengan Baskoro selama tiga puluh tahun. Aku tahu setiap gerak-geriknya. Aku tahu apa yang terjadi di ruang bawah tanah semalam," Rina meletakkan cangkirnya, dengan dentingan keras.

​Wajah Laila memucat. Ia merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya, dalam dua puluh empat jam. "Ma... saya... saya tidak..."

​"Diamlah. Aku tidak peduli dengan pembelaanmu," potong Rina. "Aku hanya ingin memperingatkanmu. Jangan pernah berpikir kau bisa merebut posisi, sebagai ratu di rumah ini. Dan jangan pernah berharap, Agil akan menolongmu. Agil terlalu mirip denganku, dia pengecut yang mencintai kenyamanan lebih dari apa pun. Jika dia tahu yang sebenarnya, dia mungkin akan membencimu, karena telah mencoreng reputasi suci ayahnya."

​"Tapi ini bukan kemauan saya, Ma! Dia mengancam keluarga saya!" tangis Laila pecah.

​Rina berdiri, mendekati Laila, dan membisikkan sesuatu yang lebih dingin dari es. "Di rumah ini, kebenaran tidak ada harganya. Yang ada hanya kekuasaan. Jika kau ingin bertahan hidup, belajarlah untuk menjadi sandiwara yang baik. Karena jika Agil tahu, Baskoro tidak akan hancur. Kau yang akan dibuang ke jalanan dalam keadaan hancur, sementara Agil akan tetap menjadi anak emas ayahnya."

​Rina pergi meninggalkan Laila yang termenung di tengah taman yang indah itu. Laila menyadari satu kenyataan pahit: di rumah ini, ia benar-benar sendirian. Ibu mertuanya bukan sekutu, melainkan saksi bisu yang telah mati rasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!