NovelToon NovelToon
You Can Run, But You'Re Still Mine

You Can Run, But You'Re Still Mine

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kehidupan Tentara / Nikahmuda / Karir / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:228.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.

Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.

Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.

Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Jalan yang Dipilih

Pertanyaan itu tidak mengejutkan sang dokter. Justru terasa… akhirnya keluar.

Dokter Wira menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya saling bertaut di atas meja. Tatapannya tenang, tapi mengamati.

“Kamu sudah hidup dengan disiplin sejak lama, Raska,” katanya. “Bahkan tanpa seragam.”

Raska menunduk. Jarinya mengepal di atas lutut.

“Menjadi tentara berarti menghadapi bahaya. Kekerasan. Kematian,” lanjut dokter itu. “Kamu sadar?”

“Sadar,” jawab Raska singkat.

Dokter Wira memiringkan kepala. “Dan kamu tahu trauma tidak otomatis hilang hanya karena disiplin dan aturan ketat?”

Raska mengangguk sekali. Gerakannya kaku.

“Saya tahu.”

Hening sejenak. Dokter itu menghela napas pelan, lalu maju sedikit.

“Kalau begitu,” tanyanya, “kenapa kamu ingin menjadi tentara?”

Raska diam lebih lama dari sebelumnya. Rahangnya mengeras, lalu mengendur.

“Agar saya berhenti merasa rusak,” katanya akhirnya. Suaranya rendah. “Agar saya punya alasan untuk bangga pada diri sendiri.”

Dokter Wira tidak langsung menjawab. “Dan?” dorongnya lembut.

“Agar saya layak,” lanjut Raska. Ia menelan ludah. “Untuk istri saya.”

Alis dokter itu berkerut tipis. “Istri?”

“Menikah siri,” jawab Raska jujur. Bahunya sedikit jatuh. “Tapi… saya sudah menyakiti dia.”

Dokter Wira tetap diam, memberinya ruang.

“Ibu mertua,” lanjut Raska, “mengidamkan menantu tentara. Pria yang bisa dibanggakan.”

Ia tersenyum getir. “Bukan lelaki kaya yang menjadikan anaknya taruhan.”

Suaranya bergetar di kalimat terakhir. Ia cepat-cepat menarik napas, seolah malu pada dirinya sendiri.

“Saya ingin suatu hari berdiri di depan beliau,” katanya pelan, “tanpa merasa kecil. Tanpa malu.”

Dokter itu menatap Raska lama. Bukan sebagai pasien—melainkan sebagai anak yang terlalu cepat dewasa.

“Kalau alasanmu hanya untuk lari dari trauma,” katanya akhirnya, jujur, “saya akan melarangmu.”

Raska menegang. Bahunya kaku.

“Tapi kamu tidak sedang lari,” lanjut dokter itu. “Kamu ingin menghadapi hidup dengan arah.”

Ia menyandarkan tubuh ke kursi. Suaranya tetap tegas, tapi hangat.

“Dengar baik-baik, Raska. Menjadi tentara tidak akan menghapus trauma kamu. Tapi bisa memberimu struktur untuk hidup berdampingan dengannya.”

Raska mengangguk. Tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah.

“Dan kamu harus siap,” tambahnya, “bahwa jalan ini akan jauh lebih berat dari yang kamu bayangkan.”

“Saya siap,” jawab Raska. Kali ini tanpa ragu.

Dokter Wira tersenyum tipis. Ia mengambil pena.

“Kamu baru tujuh belas,” katanya. “Terlalu muda untuk memikul semua ini sendirian.”

Pena itu berhenti sesaat di udara.

“Dan kamu tidak akan sendirian.”

Raska menghembuskan napas panjang. Bukan lega, melainkan mantap.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sekadar bertahan.

Ia memilih arah.

***

Raska, Asep, Vicky, dan Gayus duduk di ruang tengah apartemen Raska. Suasananya tenang. Terlalu tenang, seperti ada sesuatu yang akan jatuh.

“Ada apa lo manggil kami semua ke sini?” Asep membuka suara.

“Muka lo serius banget,” sambung Vicky. “Masalah apa lagi?”

Gayus menatap Raska lurus. “Bilang aja. Kita dengerin.”

Raska menghela napas panjang. “Gue mau ngasih tahu kalian sesuatu.”

“Apaan sih, Ras?” Asep menyandarkan punggung. “Jangan muter-muter.”

“Gue daftar tentara.”

Sunyi.

Asep melongo. Vicky meluruskan duduknya. Gayus mengerutkan alis.

“Lo… serius?” Asep setengah berdiri. “Tentara yang hidupnya keras itu?”

Raska mengangguk.

“Ras,” Vicky menggeleng pelan, “hidup lo udah enak. Usaha jalan. Masa depan kebuka. Kenapa malah nyemplung ke hidup ekstrem begitu?”

Gayus langsung menembak, datar tapi menekan. “Ini soal Elvara?”

Raska diam.

“Karena ibunya?” lanjut Gayus. “Karena lo pengin diterima?”

Asep menghembuskan napas kasar. “Cinta boleh, Ras. Tapi jangan hancurin diri sendiri.”

Raska mengangkat wajah. “Bukan cuma itu.”

Ia menarik napas. “Gue capek hidup dikejar bayangan. Kepala gue nggak pernah bener-bener diem. Gue butuh struktur. Tujuan.”

“Militer bukan terapi,” potong Gayus. “Trauma lo nggak hilang cuma karena seragam.”

“Gue tahu,” jawab Raska cepat. “Makanya gue tetap lanjut terapi.”

Ia menatap mereka satu per satu. “Tapi gue juga pengin hidup gue ada artinya. Pengin nyokap gue bangga. Dan kalau suatu hari gue berdiri di depan ibu Elvara—”

Ia berhenti sejenak.

“—gue nggak berdiri sebagai cowok yang lari.”

Hening.

“Lo yakin?” tanya Asep akhirnya.

“Yakin.”

Asep mengangguk pelan. “Berarti udah final.”

“Udah,” sahut Vicky singkat.

Gayus menghela napas. “Kalau begitu, kami nggak bisa ngelarang.”

Asep menepuk bahu Raska. “Keras kepala tetap keras kepala.”

“Tapi,” lanjut Gayus, suaranya lebih lembut, “kalau ini keputusan sadar, kami dukung sebisanya.”

Raska tersenyum tipis. “Makanya gue minta tolong.”

Ketiganya menoleh bersamaan.

“Usaha nyokap gue,” kata Raska. “Gue nggak bakal bisa bolak-balik. Gue mau kalian yang ngurus.”

“Hah?” Asep refleks.

“Kita baru lulus,” tambah Vicky. “Ini bukan urusan kecil.”

Gayus menimbang cepat. “Risikonya besar.”

“Gue tahu,” jawab Raska. “Makanya orang-orang kepercayaan nyokap gue bakal dampingi. Kalau ada masalah besar, kalian hubungi bokap gue.”

Sunyi lagi.

Asep mengangguk lebih dulu. Vicky menyusul. Gayus yang terakhir.

“Hidup kita bakal berubah,” gumam Vicky.

“Iya,” sahut Asep.

Gayus menutupnya tenang. “Berat, tapi bisa jadi pijakan.”

Raska menghembuskan napas lega. “Thanks.”

Dan untuk pertama kalinya, meski jalan di depannya terasa sunyi dan keras, Raska tahu satu hal,

ia tidak berjalan sendirian.

***

Apartemen itu sunyi seperti biasa.

Jam dinding berdetak pelan. Terlalu pelan.

Wijanata berdiri di depan pintu dengan dua kantong belanjaan di tangan. Ia menekan bel, lalu menunggu. Bahunya sedikit turun, seperti sudah menyiapkan diri untuk apa pun yang akan ia temui di balik pintu.

Hingga hari ini, ia tak pernah tahu password apartemen putranya sendiri. Padahal tiap minggu ia datang, membawa sayur, buah, daging, dan bahan masak. Hal-hal kecil yang tak pernah diminta, tapi selalu ia antar.

Pintu terbuka.

Raska menatap ayahnya sekilas. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. Ia langsung berbalik dan berjalan ke dinding kaca ruang tamu, menatap kota di bawah sana. Lampu, klakson, dan kehidupan yang terasa lebih ramai daripada ruangan ini.

Nata menghela napas pelan. Ia sudah hafal jarak itu. Jarak yang tak pernah benar-benar bisa ia sentuh.

"Papa harap suatu hari jarak tak kasat mata ini hilang," batinnya.

Ia tersenyum kecut. Harapan itu terasa terlalu tinggi untuk pagi biasa seperti ini.

Tanpa bicara, Nata menuju dapur.

Ia memindahkan sayur ke wadah kaca. Menyusun daging di kulkas. Membuang yang layu dan busuk. Tangannya bergerak rapi, teratur. Terlalu tenang untuk seorang ayah yang tahu anaknya hampir tak pernah meminta apa pun darinya.

Selesai.

Ia menghampiri Raska. Jarak mereka hanya beberapa langkah, tapi rasanya seperti dua dunia.

“Kau belum bilang ke Papa,” ujarnya lembut, hampir berhati-hati, “mau lanjut kuliah di mana. Jurusannya apa.”

Tak ada jawaban.

Raska berbalik. Ia mengambil sebuah map cokelat dari meja samping dan meletakkannya di atas meja utama. Bunyi map itu jatuh terdengar lebih keras dari seharusnya.

“Aku butuh tanda tangan.”

Nada datar. Tak meminta. Tak menjelaskan.

Nata menatap map itu lama sebelum menyentuhnya. Jarinya ragu, seolah sudah menebak isinya.

“Untuk apa?” tanyanya pelan.

“Administrasi.”

Satu kata. Dinginnya terasa.

Nata membuka map itu. Matanya bergerak cepat. Lalu berhenti.

Persetujuan Orang Tua/Wali

Pendaftaran Calon Prajurit

Napasnya tertahan. Jarinya mengencang di tepi kertas. Untuk sesaat, ruangan itu kembali sunyi, bahkan jam dinding seolah lupa berdetak.

Ia menoleh ke Raska. “Kamu mau jadi tentara?”

“Iya.”

Pendek. Tegas. Tak ada ruang tawar.

Nata menyandarkan punggung ke sofa. Telapak tangannya meremas map itu, lalu melepasnya lagi, seolah kertas tipis itu terlalu berat untuk dipegang lama-lama.

“Sejak kapan?” tanyanya, suara tetap tenang, meski rahangnya mengeras.

“Baru.”

“Kenapa?”

Wijanata tidak lagi menatap map itu.

Ia menatap anaknya. Lama, dalam, seolah mencoba mencari sisa bocah yang dulu pernah menggenggam tangannya tanpa ragu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Nata sadar, jawaban apa pun yang akan keluar dari mulut Raska…

akan mengubah segalanya.

...🔸🔸🔸...

...“Tidak semua orang memilih jalan karena mimpi. Sebagian memilihnya agar tetap hidup.”...

...“Kadang yang kita cari bukan kesembuhan, melainkan cara hidup yang tidak lagi menyakiti diri sendiri.”...

...“Ia tidak memilih jalan yang paling aman. Ia memilih jalan yang membuatnya bertahan.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
love_me🧡
kutebak ya, "Roy"
anonim
Malaikat mengutus Raska untuk menyelamatkan Roy yang sedang bertaruh nyawa.

Itulah Raska - nalurinya bekerja cepat untuk segera menolong. Tidak di sangka orang yang ditolong Roy - orang yang selalu iri dan benci terhadap Raska.

Raska tidak benci terhadap Roy - Raska memaafkan - Raska memberi nasehat pada Roy.

Roy sadar kalau selama ini membenci orang yang salah.

Rava ulang tahun yang hadir keluarga inti komplit - Om trio berisik 😄, ada kakek Nata, Jovi, Priyo, adrian, dan yang baru datang Roy kah ....
rose lilian
semoga Aja baby triplet raska dan elvara
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Puji Hastuti
Siapa yang datang ya? Roy kah, /Bye-Bye/
Sugiharti Rusli
wah ternyata jarak Raska dan calon adiknya cukup jauh yah nanti, berarti setelah Raska dan Elvara kembali bersama setelah tiga tahun baru mereka akan memiliki anak lagi
Sugiharti Rusli
Raska tidak pernah memupuk dendam kepada 'adik'nya itu, karena walau bagaimanapun Roy hanya dimanfaatkan oleh ibunya sendiri
Sugiharti Rusli
memelihara dendam dan kebencian memang pada akhirnya merugikan diri sendiri kan Roy, apalagi saat nyawa kamu terancam ternyata yang menyelamatkan adalah orang yang kamu benci dengan salah,,,
Sugiharti Rusli
siapa yah yang sepertinya menginginkan nyawa si Roy, apa orang" yang dulu bersekutu dengannya saat mau mengambil alih perusahaan Nata,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya memang lebih baik posisi Raska seperti itu, dia tetap memiliki rumah nya dan tetap jadi prajurit meski kiprahnya di belakang yang tidak terlihat, dan sekarang dia akan bertambah tanggung jawabnya dengan kehadiran calon anak k-2
Sugiharti Rusli
ternyata para senior hanya bisa memberikan yang terbaik yang mereka bisa yah ke Raska
Siti Jumiati
kayaknya si roy deh...
Anitha Ramto
sepertinya itu Roy yang datang...
kan si Roy sekarang sudah tobat,sudah menjadi orang yang baik
Cicih Sophiana
yg datang si Roy kah... semoga si Roy berubah jd orang baik biar jd saudara dgn Raska
septiana
Rio bukan ya yg datang???🤔
Sri Hendrayani
apa itu roy..?
Felycia R. Fernandez
perkataan Raska sama dengan perkataan Nata...
Roy gak salah disini,tapi ibu nya yang jalang sejati dan lucknut
irala
sukaaaaaa🥰🥰🥰
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Eka Burjo
aku terharu uuu😭
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lsnjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!