Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesialan yang hakiki
Arina melakukan peregangan setelah menyelesaikan meeting kali ini, ia melirik arlojinya lalu melangkah keluar dari restoran itu dengan semangat yang membara.
Ia masih memiliki waktu dua jam untuk sampai ke hotel, Sarah berjanji akan menelponnya saat menjenguk ayah nya di jam itu.
Namun, nasib sial justru menimpa nya, cuaca yang cukup ekstrem membuat keadaan tidak kondusif, hujan lebat di sertai angin membuat jalanan terasa mencekam. Namun, kabar baik nya jalanan menjadi lengang karena cuaca buruk ini membuat orang seribu kali berpikir untuk beraktivitas di luar.
Di luar dugaan, sebuah pohon tumbang dan nyaris menimpa taksi yang di naiki nya. " maaf mbak, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan." Arina menghela napas berat, ia tidak bisa memaksa supir taksi online itu untuk mengantar nya karena keadaan yang tidak memungkinkan.
" baiklah pak!" Arina mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas nya.
" tidak usah mbak, lagian lokasi kita pada titik tujuan anda masih lumayan jauh."
Arina tersenyum lembut " tidak apa-apa pak, anggap saja rejeki anak istri di rumah."
" waduh saya jadi nggak enak, apalagi saya harus menurunkan mbak di tengah jalan dengan situasi seperti ini."
Arina mengedarkan pandangannya menyapu sekitar, ia tersenyum lebar saat matanya menemukan sebuah bangunan terbengkalai yang tak jauh dari posisinya, seperti nya ia bisa menunggu di sana hingga kondisi cuaca dan medan kembali stabil, sekalian ia bisa menelepon mbak sarah di sana.
" nggak apa-apa pak, mohon di terima pak. Tapi bapak ada payung nggak pak? Saya pinjam nanti saya kembalikan."
" ada mbak" setelah bertukar nomor dengan tujuan mengembalikan payung di lain waktu, Arina berjalan menuju bangunan itu dengan payung di tangan nya.
Ia mengumpat berkali-kali saat mengetahui ponselnya kehabisan daya, bisa-bisanya ia lupa mencharger ponselnya, begitu juga dengan powerbank nya, entah kemana benda itu padahal ia tak pernah lupa membawanya kemana-mana.
Apa jangan-jangan ketinggalan di dalam taksi tadi ya? Pikir nya
berkali-kali Arina mengeluhkan kondisi cuaca yang tak kunjung membaik, hari sudah mulai gelap. Tak terhitung berapa kali ia duduk lalu berdiri saking bosan nya, ujung pantofel nya mengetuk-ngetuk ubin dengan gelisah.
Bagaimana ini, ia sangat ingin melihat keadaan Ayah nya. Namun, lebih dari itu, ia merasa ketakutan saat ini. Hawa dingin karena hujan angin, bahkan sesekali terdengar bunyi guntur yang mengagetkan nya. Ia hanya sendirian di teras bangunan tua ini. Bagaimana
kalau ia tetap terjebak di sini hingga hari semakin gelap.
Ia bukannya tipe orang yang takut dengan hantu, baginya hantu itu tidak ada, itu tahayyul! Yang ia takut kan adalah jika ia bertemu orang jahat di sana.
Kawasan ini memang lebih banyak hutan nya, setelah mengecek kondisi lapangan yang akan di jadikan tempat wisata air panas oleh perusahaan nya, ia masih harus meeting di restoran yang tidak jauh dari tempat itu.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, seseorang dengan setelan jas dan celana panjang campuran polyester-katun berwarna senada berlari mendekatinya untuk menghindari hujan.
Kalau di lihat dari penampilannya, pria ini jelas bukan orang jahat, kaca mata yang di pakainya mempertegas kewibawaan nya. pria itu mengibaskan jas nya yang terkena air hujan, begitupun dengan tas laptop yang tadi di peluk nya.
" hai, boleh saya ikut berteduh di sini juga?" sapanya dengan senyum tipis.
" boleh, silahkan!" meski canggung tapi ia bersyukur, kehadiran pria itu meminimalisir ketakutannya.
" kamu sudah lama di sini? Huh, pohon itu benar-benar merepotkan! Kenapa tidak ada petugas yang menyingkirkan nya!" keluh nya lalu mengutak-atik ponsel nya, ia menerka jika pria itu menghubungi seseorang yang bisa membersihkan jalan dari pohon tumbang itu.
" hampir satu jam."
Pria itu membulatkan matanya, pandangan nya yang semula berada pada ponselnya kini seratus persen beralih pada nya, pandangan menelisik nya membuat Arina tidak nyaman, apalagi baju nya setengah basah karena tempat berteduh nya yang bocor di beberapa titik serta hujan angin yang membuat air hujan mampu menjamah setiap sudut dari teras bangunan tua ini. Membuat baju putih nya mencetak warna biru yang berasal dari bra nya.
" tolong kondisikan pandangan anda!" tegur nya tegas, tas laptop yang di pegang nya ia gunakan sebagai penutup titik-titik tubuh nya yang menimbulkan syahwat.
" maaf, jangan salah paham. Saya hanya kasihan melihat kondisi anda seperti itu." di luar dugaan nya, pria itu melepas jas nya lalu memakaikan pada tubuh nya setelah meminta maaf sekali lagi untuk meminta ijin .
" tapi anda juga kedinginan" perasaannya semakin tidak nyaman karena perlakuan dari pria asing ini yang terkesan cukup intim meskipun niat nya baik.
" saya pria, jangan mengkhawatirkan saya." ia sudah bersiap untuk menyahuti nya, tapi urung karena pria itu tengah menerima telepon.
merasa memiliki kesempatan, Arina mengamati pria itu diam-diam, ia seperti mendapatkan angin segar saat melihat benda kotak segenggaman pria itu yang berada di saku kemejanya.
" tuan, boleh saya minta tolong?" tanya nya sungkan setelah pria itu menyelesaikan telepon nya. Sebenarnya ia malu mengingat responnya yang terkesan keberatan pada bantuan pria itu sebelumnya.
" iya ?"
Arina meringis untuk menutupi rasa malunya, sekaligus menguatkan tekad nya untuk mengatakan keperluannya.
" saya mau pinjam powerbank, ponsel saya mati, saya ingin mengabari kerabat saya."
Meski tau pria itu tak mungkin menolaknya, tetap saja ia merasa sangat lega saat pria itu mengangguk lalu mengangsurkan powerbank itu padanya.
Tak menunggu lama, setelah ponselnya berhasil di nyalakan ia langsung menelepon mbak sarah setelah melihat banyak notifikasi telepon maupun pesan dari nya.
Arina lega, karena ternyata mbak sarah masih di luar kantor polisi, dia menunggu Arina bisa dihubungi untuk masuk kedalam.
Air mata Arina kembali mengembung di pelupuk matanya, melihat kondisi Ayahnya semakin memprihatinkan.
"Ayah jaga diri baik-baik disana, setelah pulang dari sini. Arina akan selalu menjenguk Ayah" suaranya serak karena mati-matian menahan tangis.
Setelah selesai melepas rindu, Arina mengembalikan powerbank itu pada pemiliknya, tak peduli jika ponselnya kembali lowbet karena baru terisi beberapa persen.
" terima kasih" lirih nya tulus, dalam hati ia berjanji akan membalas kebaikan pria ini nanti.
" itu Ayah mu?"
Arina mengangguk," dia di penjara karena kecelakaan yang dia sendiri tidak ingin itu terjadi." meski pria itu tidak bertanya, tapi ia tidak keberatan menceritakan nya sebelum pria itu menanyakan nya.
" kecelakaan?" tanya pria itu terkesan memastikan.
" iya, Ayah ku bekerja sebagai supir grab, dan entah kenapa tiba-tiba mobil nya blong lalu masuk ke area sekolah SD di sekitar situ, saat itu sedang ada upacara bendera dan___" Arina tak sanggup melanjutkan ucapannya, seharusnya ia tidak begini. Tapi, ia sudah tidak kuat lagi menahan tangis nya lebih lama.
Arina merasa tidak enak karena merasa sikap pria itu berubah setelah ia menerima telepon, mungkin ia terlalu lama menggunakan power Bank nya, mungkin ponsel pria itu akan lowbet juga. Seketika ia menyesali keputusannya meminjam powerbank pria itu.
Atau mungkin juga ia terlalu banyak bicara, dan pria itu tidak nyaman, bagaimanapun juga mereka adalah dua orang yang saling tidak mengenal.
" maaf karena____" arina terlonjak karena sesuatu terbang lalu menempel pada dadanya, ia histeris melihat kecoa yang hinggap pada baju nya.
Ia lega setelah berhasil menyingkirkan binatang itu setelah berhasil menyentil nya, meski begitu ia sedikit kesal, kenapa pria itu tidak terusik sedikit pun saat melihat nya ketakutan. padahal melihatnya basah kuyup saja pria itu langsung berinisiatif untuk membantu nya.
" kamu ma___" kali ini sebuah petir bersautan di angkasa, membuatnya berteriak dan reflek memeluk pria itu tanpa sadar. Karena gerakannya yang tiba-tiba, ia terjatuh menindih pria itu, mungkin pria itu tidak ada persiapan sama sekali sehingga tubuhnya oleng saat ia menabrak nya.
" heh! Apa yang kalian lakukan!" Tak hanya dirinya, bahkan pria itu sama pucat nya dengan dirinya. Sial!
Entah ia yang salah lihat atau bagaimana, ia melihat seringai pria itu meski sekilas.