NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kesepakatan Mustahil

​Kabar di SMA Pelita Bangsa menyebar lebih cepat daripada virus flu di musim hujan.

​Pagi itu, saat Alea baru saja melangkahkan kaki masuk ke gerbang sekolah (kali ini tepat waktu, 06.50, rekor baru dalam sejarah hidupnya), ia sudah merasakan atmosfer yang berbeda. Beberapa adik kelas berbisik-bisik sambil meliriknya. Sekelompok siswi dari kelas unggulan menatapnya dengan pandangan antara jijik dan takjub.

​"Itu ceweknya?"

​"Yang katanya bikin Julian berantem sama Kepsek?"

​"Gila, bad girl banget auranya."

​Alea memutar bola matanya. Gosip murahan, batinnya. Ia terus berjalan menuju kelas, mengabaikan bisik-bisik tetangga itu. Namun, begitu ia masuk ke kelas XI IPS 3, sambutannya jauh lebih heboh.

​"WOI, TUMBAL PENSI DATANG!" teriak Bobby, ketua kelas yang mulutnya memang tidak ada remnya.

​Seisi kelas bersorak. Raka, yang sedang duduk di atas meja sambil memegang stik drum, langsung melompat turun dan menghampiri Alea. Wajahnya terlihat cemas bercampur geli.

​"Le, serius lo?" tanya Raka setengah berbisik. "Gue denger dari anak OSIS, lo beneran bakal diprivate sama si Robot Julian? Lo nggak lagi dihipnotis kan kemarin sore?"

​Alea melempar tasnya ke kursi dengan kasar. "Gue sadar seratus persen, Ka. Sayangnya."

​"Gila lo," Raka menggeleng takjub. "Lo tau kan Julian itu kalau ngomong pedesnya ngalahin seblak level 5? Mental lo aman?"

​"Demi Pensi, Ka. Demi band kita," jawab Alea mantap, meski dalam hati ia juga merinding membayangkan harus menghabiskan waktu berjam-jam dengan makhluk paling kaku sedunia itu. "Lagian, cuma belajar doang, kan? Paling dia nyerah setelah dua hari ngeliat otak gue yang isinya cuma lirik lagu."

​Tiba-tiba, suara speaker di pojok kelas berbunyi.

​"Panggilan ditujukan kepada Saudara Julian Pradana kelas XI IPA 1 dan Saudari Aleandra Kamila kelas XI IPS 3. Ditunggu di ruangan Kepala Sekolah sekarang juga. Sekali lagi..."

​Kelas hening seketika.

​Bobby bersiul panjang. "Ciye, dipanggil menghadap 'KUA'. Mau nikah siri, Le?"

​"Bacot lo, Bob!" Alea melempar penghapus papan tulis ke arah Bobby (yang meleset dan mengenai vas bunga), lalu melangkah keluar kelas dengan langkah gontai.

​Ini dia. Saat penghakiman.

​Ruang Kepala Sekolah terasa jauh lebih dingin dari ruang OSIS. Aroma pengharum ruangan berbau jeruk nipis terasa menusuk hidung. Di balik meja mahoni besar, Pak Burhan—Kepala Sekolah yang terkenal dengan senyum ramahnya yang mematikan—sedang membolak-balik berkas nilai.

​Di kursi tamu, Julian sudah duduk tegak. Punggungnya lurus sempurna, tidak menyandar ke kursi. Seragamnya rapi tanpa cela. Ia bahkan tidak menoleh saat Alea masuk dan menghempaskan diri di kursi sebelahnya dengan gaya duduk warteg.

​"Selamat pagi, Aleandra. Duduknya bisa lebih sopan sedikit?" sapa Pak Burhan lembut.

​Alea buru-buru menegakkan punggungnya, meniru postur Julian meski terasa kaku. "Pagi, Pak."

​"Baik," Pak Burhan menutup berkas di tangannya. "Saya sudah dengar dari Julian tentang kesepakatan kalian. Saya cukup terkejut Julian mau mengambil risiko ini, dan saya lebih terkejut kamu mau belajar, Aleandra."

​"Saya terpaksa, Pak," gumam Alea jujur.

​"Motivasi bisa datang dari mana saja, Nak. Termasuk dari keterpaksaan," Pak Burhan tersenyum geli. Ia lalu mengambil dua lembar kertas HVS yang sudah diprint rapi. "Karena ini menyangkut nasib kegiatan sekolah yang anggarannya ratusan juta, saya tidak mau ini cuma jadi wacana. Kita butuh kontrak hitam di atas putih."

​Mata Alea membelalak. "Kontrak? Kayak artis aja, Pak?"

​"Kontrak komitmen," koreksi Pak Burhan. "Di sini tertulis target yang harus dicapai. Nilai rata-rata minimal 75 di UTS bulan depan. Tidak ada nilai merah. Dan Julian..." Pak Burhan menatap ketua OSIS itu tajam, "...tanggung jawab kamu bukan cuma mengajar. Kamu harus memastikan Aleandra hadir di setiap sesi. Kalau Aleandra gagal, itu artinya metode kepemimpinan kamu gagal. Kamu mengerti?"

​Julian mengangguk tegas. "Mengerti, Pak."

​"Dan kamu, Aleandra," lanjut Pak Burhan, tatapannya beralih ke Alea. "Kalau kamu bolos satu sesi saja tanpa alasan medis yang valid, atau kalau kamu ketahuan tidur saat sesi bimbingan, kesepakatan batal. Pensi dibubarkan. Paham?"

​Alea menelan ludah. Taruhannya gila-gilaan. "Paham, Pak."

​"Bagus. Silakan tanda tangan."

​Alea mengambil pulpen yang disodorkan. Tangannya sedikit gemetar saat membubuhkan tanda tangan di atas materai 6000. Rasanya seperti menandatangani surat penyerahan nyawa. Di sebelahnya, Julian menandatangani kertas itu dengan gerakan cepat dan efisien, seolah ia sudah terbiasa menandatangani kontrak bisnis miliaran rupiah.

​"Oke, kalian boleh keluar. Saya tunggu laporan progres mingguan dari kamu, Julian," pungkas Pak Burhan.

​Mereka berdua keluar dari ruangan itu dalam diam. Begitu pintu tertutup, Julian langsung berbalik menghadap Alea. Wajahnya yang tadi tenang di depan Pak Burhan kini berubah menjadi mode komandan perang.

​Ia menyodorkan sebuah map plastik bening ke dada Alea.

​"Apaan nih?" tanya Alea bingung.

​"Jadwal hidup kamu selama satu bulan ke depan," jawab Julian datar.

​Alea membuka map itu. Di dalamnya ada tabel warna-warni yang sangat detail.

​06.30 - 07.00: Review materi pagi (Perpustakaan)

07.00 - 15.00: Sekolah (Fokus, dilarang tidur di kelas)

15.00 - 15.30: Istirahat & Makan

15.30 - 17.30: Bimbingan Intensif (Materi Utama)

19.00 - 21.00: Latihan Soal Mandiri (Di rumah)

21.00 - 05.00: Tidur (Wajib 8 jam untuk optimalisasi otak)

​Rahang Alea jatuh.

​"Lo... lo gila ya?" Alea menatap Julian tak percaya. "Jam tujuh sampai jam sembilan malam latihan soal mandiri? Waktu nge-band gue kapan?! Waktu gue napas kapan?!"

​"Sabtu dan Minggu kamu bebas dari jam 12 siang sampai jam 6 sore. Sisanya belajar," jawab Julian enteng.

​"Nggak bisa!" tolak Alea mentah-mentah. "Band gue latihan tiap Selasa sama Kamis sore. Itu harga mati. Kalau gue nggak latihan, skill gue tumpul. Nanti pas Pensi—kalau jadi—gue malah mainnya jelek!"

​Julian menghela napas, terlihat lelah menghadapi perlawanan ini. "Alea, kamu itu ketinggalan materi dua tahun. Kita harus mengejar ketertinggalan itu dalam satu bulan. Kamu butuh keajaiban, dan jadwal ini adalah cara memproduksi keajaiban itu."

​"Gue nggak butuh keajaiban, gue butuh kompromi!" Alea melipat tangan di dada. "Gue mau jadwalnya diubah. Selasa Kamis gue latihan band. Gantinya, gue belajar Sabtu Minggu full dari pagi. Gimana?"

​Julian tampak berpikir, menimbang-nimbang. Keningnya berkerut. "Sabtu saya ada bimbel persiapan Olimpiade Fisika tingkat lanjut sampai jam 12."

​"Ya udah, abis lo bimbel! Jam satu siang sampai malem. Gue jabanin deh!" tantang Alea.

​Julian menatap Alea lekat-lekat, mencari tanda-tanda keraguan. Tapi mata gadis itu menyala penuh tekad. Julian tahu, berdebat dengan orang keras kepala seperti Alea tidak akan ada habisnya.

​"Baik," putus Julian. Ia mengambil pulpen dari saku kemejanya dan mencoret jadwal di kertas itu. "Selasa Kamis kamu latihan band. Tapi sebagai gantinya, durasi belajar hari Senin, Rabu, dan Jumat ditambah satu jam. Dan Sabtu kita mulai jam 1 siang sampai jam 6 sore. Deal?"

​"Busyet, ditambah..." Alea meringis, tapi ia tahu ia tidak punya pilihan banyak. "Oke. Deal. Tapi gue punya syarat tambahan."

​"Apa lagi?"

​"Jangan perlakukan gue kayak anak TK. Jangan panggil gue 'bodoh', 'lemot', atau sejenisnya. Gue alergi sama orang sombong."

​Sudut bibir Julian terangkat sedikit—sangat sedikit, nyaris tak terlihat—membentuk senyum sinis. "Saya tidak akan memanggil kamu bodoh kalau kamu bisa membuktikan sebaliknya. Kita mulai hari ini. Pulang sekolah, perpustakaan. Jangan telat satu detik pun."

​Setelah mengatakan itu, Julian berbalik dan berjalan pergi, langkahnya tegas dan terukur.

​Alea menatap punggung tegap itu dengan perasaan campur aduk. Kesal, tertekan, tapi juga sedikit... tertantang.

​"Liat aja, Robot," gumam Alea pada dirinya sendiri. "Gue bakal bikin lo nelen omongan lo sendiri."

​Sepulang sekolah, langit mendung menggantung di atas Jakarta. Hawa terasa gerah, pertanda hujan akan segera turun.

​Perpustakaan SMA Pelita Bangsa terletak di lantai tiga. Tempat itu adalah tempat favorit Julian dan tempat paling dihindari Alea. Bagi Alea, perpustakaan itu bau debu dan buku tua yang bikin ngantuk.

​Saat Alea masuk, perpustakaan sepi. Hanya ada Bu Ratmi, pustakawan berkacamata tebal yang sedang merajut di meja depan.

​Julian sudah ada di sana. Dia memilih meja di pojok belakang, dekat jendela besar. Meja itu sudah disulap menjadi benteng pertahanan. Tumpukan buku paket tebal, spidol warna-warni, penggaris, dan stopwatch digital tertata rapi.

​Alea mendekat dengan langkah berat.

​"Telat 30 detik," kata Julian tanpa melihat jam tangannya.

​"Macet di tangga. Ada adek kelas jatuh, gue tolongin dulu. Jiwa sosial gue tinggi, beda sama lo," elak Alea sambil menarik kursi. Bunyi kreeek kursi yang ditarik Alea memecah kesunyian perpustakaan. Bu Ratmi berdehem keras, memberi peringatan.

​"Duduk," perintah Julian. "Keluarkan buku Matematika kamu."

​Alea merogoh tasnya yang berantakan. Ia mengeluarkan buku tulis yang sampulnya sudah lecek, penuh stiker band Nirvana dan Paramore. Saat ia membukanya, lembarannya keriting.

​Julian menatap buku itu dengan tatapan ngeri seolah melihat bangkai tikus. "Itu... buku catatan kamu?"

​"Iya. Kenapa? Estetik kan?"

​"Itu bencana alam," komentar Julian pedas. "Bagaimana kamu bisa belajar kalau catatanmu saja tidak terstruktur? Halaman 3 catatan Trigonometri, halaman 4 lirik lagu, halaman 5 gambar kartun..."

​"Itu seni abstrak, Jul. Otak kanan gue bekerja lebih dominan," bela Alea.

​"Matematika butuh otak kiri, Alea. Logika. Struktur." Julian mengambil sebuah buku tulis baru yang masih disegel plastik dari tumpukan barangnya. Ia menyodorkannya pada Alea. "Pakai ini. Mulai sekarang, catatan materi bimbel kita harus dipisah. Jangan dicampur sama lirik lagu galau kamu."

​Alea mendengus, tapi menerima buku itu. "Lirik gue nggak galau, ya. Itu lirik perlawanan sosial."

​"Terserah. Sekarang buka Bab 1: Logika Matematika. Ini materi kelas 10 yang sepertinya kamu lewatkan karena sibuk 'melawan sosial'."

​Julian membuka buku paketnya. Ia mulai menjelaskan tentang premis, negasi, konjungsi, dan disjungsi. Suara Julian ternyata... enak didengar. Jelas, artikulasinya pas, dan tidak monoton seperti Bu Rina guru Sejarah. Tapi materinya tetap saja membosankan bagi Alea.

​Lima belas menit berlalu. Mata Alea mulai terasa berat. Penjelasan Julian tentang "Jika P maka Q" mulai terdengar seperti mantra pemanggil setan.

​Kepala Alea terangguk-angguk.

​Tuk!

​Sebuah pulpen mengetuk jidatnya pelan tapi cukup untuk membuatnya kaget.

​"Aduh!" Alea terbangun, mengusap jidatnya. "Kasar banget sih!"

​"Kamu tidur," tuduh Julian.

​"Gue merem dikit! Menghayati materi!"

​"Coba kerjakan soal nomor satu," tantang Julian.

​Alea melihat soal itu.

Premis 1: Jika hari ini hujan, maka Alea membawa payung.

Premis 2: Alea tidak membawa payung.

Kesimpulan: ...

​Alea menatap soal itu dengan bingung. Logikanya macet.

​"Jawabannya... Alea basah kuyup?" jawab Alea ragu.

​Julian memejamkan matanya, menarik napas panjang, seolah sedang meminta kesabaran pada Tuhan.

​"Salah," desis Julian. "Jawabannya: Hari ini tidak hujan. Modus Tollens. Rumusnya p maka q, negasi q, maka kesimpulannya negasi p."

​"Ya elah, ribet amat. Kalau nggak bawa payung ya basah lah, atau neduh. Fisika banget idup lo, semuanya harus pake rumus," gerutu Alea.

​"Ini Matematika, bukan Fisika. Dan hidup memang butuh rumus supaya tidak kacau seperti..." Julian menunjuk penampilan Alea, "...seperti ini."

​"Wah, ngajak ribut," Alea tersinggung. Ia baru mau membalas dengan kata-kata pedas ketika tiba-tiba ponsel Julian di atas meja bergetar.

​Layar ponsel itu menyala. Nama kontaknya terpampang jelas: PAPA.

​Wajah Julian yang tadi terlihat kesal dan arogan, mendadak berubah. Warnanya memucat. Bahunya menegang. Aura dominasinya lenyap seketika, digantikan oleh sesuatu yang tampak seperti... ketakutan.

​Alea, yang peka terhadap perubahan emosi orang (efek menjadi penulis lagu), langsung menangkap perubahan itu.

​Julian tidak langsung mengangkat teleponnya. Ia menatap layar itu selama tiga detik, menelan ludah, lalu mengangkatnya dengan tangan sedikit gemetar.

​"Halo, Pa," jawab Julian. Suaranya berubah sangat sopan, sangat rendah. "Iya, Pa. Masih di sekolah... Di perpustakaan... Belajar, Pa. Persiapan materi tambahan... Tidak, Pa, tidak main-main... Baik, Pa. Pulang jam enam tepat. Iya, Pa. Maaf."

​Telepon ditutup.

​Hening.

​Julian meletakkan ponselnya kembali dengan hati-hati, lalu menunduk menatap buku paketnya. Ia tidak bergerak selama beberapa saat.

​Alea, yang biasanya tidak bisa diam, mendadak kehilangan selera untuk mengejek. Ia melihat sisi lain dari Julian yang tidak pernah diperlihatkan di depan umum. Sisi yang rapuh dan terkekang.

​"Bokap lo... galak ya?" tanya Alea pelan, melupakan permusuhan mereka sejenak.

​Julian mendongak. Topeng dinginnya kembali terpasang sempurna, seolah momen tadi tidak pernah terjadi.

​"Bukan urusan kamu," jawab Julian tajam, lebih tajam dari sebelumnya. "Kerjakan soal nomor dua sampai sepuluh. Kalau salah satu saja, kita ulangi dari awal. Saya tidak punya waktu untuk main-main."

​Alea terdiam. Ia menatap Julian, lalu menatap soal-soal logika di depannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah. Ia meraih pulpennya dan mulai mencoba mengerjakan, meski otaknya masih berputar memikirkan ekspresi ketakutan di wajah sang Ketua OSIS yang sempurna tadi.

​Ternyata, "neraka" Julian di rumah mungkin jauh lebih panas daripada "neraka" belajar Matematika ini.

...****************...

BERSAMBUNG....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!