NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cahaya di tengah gelap

Setelah hari-hari yang penuh kesulitan, akhirnya hari Minggu tiba. Dewi memutuskan untuk ke rumah orang tuanya – tempat yang selalu membuatnya merasa tenang dan diterima. Dia melihat motor Supra terparkir di depan rumah, Arif belum bangun dari tidur siang. Dia memberanikan diri untuk mengambilnya.

"Arif, saya mau ke rumah Ayah Ibu ya, pake motor Supra boleh?" tanya Dewi pelan sambil menggoyangkan bahunya.

Arif menggeram dan membuka mata setengah. "Yaudah, cepet-cepet aja. Jangan lupa isi bensin kalau kurang, pake uangmu sendiri ya."

Dewi mengangguk dengan lega. Akhirnya bisa pakai motor, tidak usah berjalan kaki. Dia menyalakan motor dan melaju ke arah rumah orang tuanya, rasa lega menyelimuti badannya yang terasa capek dan nyeri.

Saat tiba di rumah orang tuanya, dia melihat ayahnya sedang duduk di teras, mengupas bawang. Ibunya sedang di dapur, kemungkinan membuat obat herbal seperti biasa.

"Ayah! Bu!" panggil Dewi sambil meletakkan motor di halaman.

Ayahnya menoleh, senyum tersenyum. "Wah, Dewi dateng! Pake motor Supra ya? Arif anter?"

Dewi tersenyum pahit. "Tidak, Ayah. Saya ambil sendiri. Dia masih tidur siang."

"Silakan masuk, nak. Ibu ada di dapur loh, lagi bikin ramuan. Dia pasti senang lihatmu," kata ayahnya sambil memanggil ibunya.

Segera saja, ibunya keluar dari dapur dengan cawan keramik di tangannya. Wajahnya ceria ketika melihat Dewi. "Wah, anakku datang! Apa kabar? Badan masih sakit tidak? Eh, pake motor baru ya?"

Dewi mengangguk perlahan. "Masih sedikit, Bu. Tapi gak masalah, kan ada ramuan Ibu yang ampuh. Motor ini yang saya dan Arif beli dulu, saya yang bayar cicilannya selama 10 bulan sebelum berhenti kerja."

Ibu Dewi menarik tangannya, menyentuh pipinya. "Iya, nanti Bu kasih ramuan baru ya. Ibu baru bikin yang bisa buat capek, sakit kepala, dan juga buat mengendalikannya yang turunan dari nenekmu. Kamu tahu kan, obat ini banyak manfaatnya – buat sakit sendi, perut, bahkan tumornya juga bisa diatur."

"Terima kasih, Bu. Kalau tidak ada ramuan Bu, saya pasti sudah tidak tahan," ujar Dewi dengan haru.

"Sudah, masuk dulu. Makan apa hari ini? Ayah baru panen bayam di sawah, Bu bikin sayur bayam ya. Ada juga telur yang dari ayam kita sendiri," kata ibunya dengan hangat.

Selama makan, Dewi menceritakan semua yang dialaminya – uang belanja yang sedikit, Arif yang tidak peduli, Bu Siti yang selalu membela anaknya. Orang tuanya hanya mendengar dengan tenang, kadang menggeleng-geleng kepala.

"Kamu harus kuat, Dewi. Tapi juga jangan terlalu menekan diri sendiri ya," kata ayahnya. "Kamu tahu kan, sebelum menikah kamu sehat banget – karena kita jaga makanmu, batasi apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Itu sebabnya tumornya tidak pernah sakit atau membesar."

Dewi mengangguk, air mata mulai menggenang. "Saya tahu, Ayah. Tapi semenjak menikah, saya tidak bisa jaga makan lagi. Semua sapu rata. Di awalnya saya tinggal sama mertua dan dua ipar yang belum menikah, harus bantu berjualan dari pagi sampe malam – mulai dari bikin barang sampe jualnya – dan juga semua pekerjaan rumah. Adik ipar perempuan sedikit bantu, tapi dia punya jam istirahat. Saya tidak ada waktu istirahat sama sekali."

Ibu Dewi menyeka air mata Dewi. "Ya Tuhan, kasihan anakku. Tapi tenang, kita selalu ada buat kamu. Nanti Ibu kasih sedikit beras dan sayur buat dibawa pulang. Kalau ada uang lebih, kita juga kasih sedikit ya. Kita tidak kaya, tapi cukup berkecukupan – pasti ada yang bisa dibagikan."

"Terima kasih, Bu, Ayah. Saya tidak tahu apa jadinya kalau tidak ada kalian," kata Dewi sambil menangis.

"Jangan menangis, nak. Hidup ini memang ada lima - likunya. Yang penting kamu tetap jaga kesehatan. Jangan lupa minum ramuan Ibu ya. Dan kalau ada masalah, langsung datang ke sini atau hubungi kakak-kakakmu ya," kata ayahnya.

Setelah selesai makan, ibunya mengambil sebotol ramuan herbal dan membungkusnya rapi. Ayahnya mengambil sekarung beras kecil dan ember penuh sayur. Kemudian, ibunya menarik tangan Dewi dan memberinya uang lima puluh ribuan.

"Ini buat kamu, nak. Jangan dibilang ke Arif ya, kalau tidak dia pasti marah. Gunakan untuk kebutuhanmu sendiri, atau buat beli sesuatu yang kamu butuhkan," bisik ibunya.

Dewi menangis lagi, ini kalinya rasa bahagia yang dia rasakan setelah lama. "Terima kasih, Bu. Saya sangat berterima kasih."

Saat mau pulang, ayahnya menepuk bahunya. "Ingat, Dewi – kamu adalah anak kita yang tangguh. Jangan biarkan orang lain menundukkanmu. Kalau situasinya terlalu sulit, pikirkan lagi ya. Hidupmu masih panjang."

Dewi mengangguk dan memasukkan semua barang ke bagasi motor Supra. Dia melaju pulang dengan beban yang sedikit ringan. Di jalan, dia bertemu dengan kakak ketiganya yang lagi mau ke sawah.

"Dewi, dari mana kamu? Dateng ke rumah Ayah Ibu ya? Pake motor Supra sendiri?" tanya kakak ketiganya.

"Iya, Kak. Mereka kasih beras, sayur, dan ramuan. Bahkan sedikit uang lagi," jawab Dewi dengan senyum.

"Bagus deh. Kalau butuh apa-apa lagi, bilang ya ke Kak. Kak juga punya sedikit sayur yang baru panen, mau dibawa pulang? Masukkan ke bagasi motor aja," tanya kakak ketiganya.

"Kalau boleh ya, Kak. Terima kasih banyak," kata Dewi senang.

Setelah sampai di rumah, Arif sudah bangun dan duduk di teras. Dia melihat barang-barang di bagasi motor.

"Darimana itu? Kamu beli dengan uang apa?" tanya Arif dengan tatapan curiga.

"Dari Ayah Ibu saya, Arif. Mereka kasih. Saya tidak beli apa-apa," jawab Dewi dengan hati-hati.

Arif mengangkat bahu. "Oh, yaudah. Semoga tidak selalu minta ke mereka. Malu aja kan, udah menikah masih ngemis ke orang tua. Dan motornya gak ada masalah kan? Jangan sampe rusak, saya butuh buat kerja."

Dewi merasa hati terasa menusuk lagi, sakit. Tapi dia tidak mau bertengkar lagi. Dia hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.

Malam itu, setelah Arif tidur, Dewi minum ramuan yang dibuat ibunya. Rasanya pahit, tapi dia tahu itu bagus untuk badannya. Dia duduk di teras, menatap bintang-bintang. Harapannya pada Arif memang semakin menipis, tapi harapannya pada keluarga sendiri masih ada.

 

...Sampai kapan saya harus hidup seperti ini? pikirnya lagi. Tapi kali ini, ada sedikit keberanian di dalam hatinya – karena dia tahu, dia tidak sendirian.

Dia melihat daster lama di badannya, lalu memegang uang yang diberi ibunya. "Mungkin saya bisa beli daster baru," pikirnya perlahan. "Atau sedikit makanan yang saya suka, yang belum saya makan sejak lama." Dia tersenyum lembut – pertama kalinya dalam minggu-minggu terakhir. Cahaya bulan menyinari wajahnya, seolah menyemangati langkah-langkah kecil yang akan dia ambil. Besok, dia akan coba berbicara lagi dengan Arif – bukan dengan marah, tapi dengan hati yang tenang. Mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang baru.

 

 

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!