Karena pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasihnya, Bumi terlempar ke dunia penyihir, tempat dimana kekuatan sangat di perlukan untuk bertahan hidup.
Bumi diangkat menjadi anak seorang penyihir wanita paling berbakat era itu. Hidupnya mulai mengalami perubahan, berpetualang menantang maut dan berperang.
Meski semuanya tak lagi sama, Bumi masih menyimpan nama kekasihnya dalam hatinya, dia bertekad suatu hari nanti akan kembali dan meminta penjelasan.
Namun, gejolak besar yang terjadi di dunia penyihir membuat semuanya menjadi rumit. Masih banyak rahasia yang di simpan rapat, kabut misteri yang menyelimuti Bumi enggan menghilang. Lantas saat semuanya benar-benar tidak terkendali, masih adakah setitik harapan yang bisa diraih?
*
cerita ini murni ide author, jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu hanyalah fiktif belaka.
ig: @aca_0325
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Analika mengerutkan dahinya bingung.
"Aku masih hidup?" Bumi balik bertanya.
Analika mengangguk lantas duduk diatas kursi di samping tempat tidur. Rambut panjang sepinggangnya nampak sangat indah dalam ruangan temaram bercahaya biru pudar itu, alis bulan sabitnya melengkung indah dan bergerak sedikit saat memperhatikan Bumi penuh minat.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku adalah salah satu Dewi Caeruleus. Saat kau keluar dari rumah ini, kau akan mendengar segala berita buruk tentangku,"
"Orang-orang menyebutku sebagai Dewi paling ganas dan paling kejam." Analika menatap tajam tepat di kedua bola mata Bumi, dia berkata dengan serius, "Menjadi anakku kau akan di segani, dihormati, ditakuti dan di musuhi. Tapi, jika kau tidak mau menjadi anakku, katakan sekarang juga, biar ku bunuh kau langsung malam ini."
Merinding sekujur tubuh Bumi mendengar kata-kata itu, tubuhnya mengejang dan untuk waktu yang lama hanya bisa diam tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.
Wanita cantik yang mengeluarkan kata-kata mengerikan itu nampak sangat santai, seolah yang dia katakan adalah sesuatu yang biasa.
"Jangan jadi laki-laki lembek! Seorang laki-laki harus tegas dan meyakini kata hati lalu menyinkronkan dengan logika." Analika meraih wajah pucat Biru, mata birunya berkilap tajam.
"Berikan jawabanmu sekarang!"Titahnya dingin.
Biru mengepalkan tangannya kuat hingga urat-uratnya menonjol, terbayang olehnya wajah lugu dan cantik Delima. Wanita yang dia percayai, wanita yang dia cintai dan wanita yang berhasil membodohi nya.
Delima mengkhianatinya ketika ia telah menjatuhkan pilihan padanya. Bumi menyayanginya dengan tulus dan memperlakukannya dengan baik. Setelah semua yang Bumi lakukan, gadis itu ingin membunuhnya tanpa menjelaskan apapun.
Mati di dalam jurang ini adalah keinginan Delima. Tidak! Bumi tidak akan mati disini. Dia akan bertahan dan suatu hari nanti akan kembali ke desa Laskar merah dan menuntut penjelasan pada gadis itu.
"Aku bersedia."Jawab Biru mantap. Dia berusaha untuk terlihat tegar, cahaya redup di mata hazelnya tidak mampu menyembunyikan gejolak hatinya.
Nampaknya anak ini baru saja mengalami peristiwa yang menyakitkan. Batin Analika yang berhasil menebak tepat sasaran.
"Siapa namamu?"Tanya Analika mulai melembut.
"Naraka Bumi Angkara...."
"Panggil aku ibu!"perintah Analika, nada suaranya mulai naik lagi.
"Ibu,"Rasanya aneh memanggil seseorang dengan sebutan ibu lagi setelah sekian tahun. Lidahnya kelu, tidak terbiasa.
" Mulai hari ini namamu adalah Bumi filius Caeruleus." Kata Analika pelan, dia mengeluarkan sebilah pisau dari balik baju longgarnya. Pisau itu dia gunakan untuk menyayat telapak tangannya, lalu juga menggunakannya untuk menyayat telapak tangan Bumi. Dengan cepat Analika menempelkan telapak tangan berdarahnya pada telapak tangan Bumi.
"Aaaaaaarrrgh....!" Bumi berteriak kesakitan, nafasnya terengah-engah. Rasa sakit yang belum pernah dia rasakan menyerang sekujur tubuhnya. Keringat dingin bercucuran di dahi dan punggungnya.
Seeessss...seeesssss...seeeesss...
Suara mendesis memenuhi kamar itu, darah Analika dan Bumi bercampur acak hingga menimbulkan getaran yang sangat kuat. Ada asap biru tebal keluar dari celah-celah penyatuan telapak tangan itu. Bumi meringis, darahnya bergejolak panas, dan seluruh persediaannya seakan rontok, tulangnya seolah dicabut dan dipisahkan dari dagingnya.
Peristiwa yang amat menyiksa itu berlangsung selama tiga puluh menit. Keringat bercucuran di kening keduanya.
Setelah tiga puluh menit getaran berhenti dan suasana kembali hening. Wajah Bumi semakin pucat, dan tenaganya terkuras habis.
"Tidurlah. Besok pagi aku akan mengenalkan mu kepada seluruh anggota keluarga."kata Analika. Setelah itu dia keluar dari kamar Bumi dan pergi ke pondok kecil yang ada di belakang rumah utama.
Kini hanya tinggal Bumi sendirian dalam kamar serba biru dengan cahaya biru temaram. Dia menolehkan kepala kearah kanan, matanya tertuju pada jendela yang agak aneh. Bumi berdiri menahan pusing di kepala, dia berjalan ke dekat jendela.
Bumi mengulurkan tangan untuk menyentuh kunci jendela, membukanya dan melihat keluar. Rupanya kamar yang dia tempati ada di lantai dua, dia bisa melihat halaman luas yang dikelilingi bunga-bunga yang telah bermekaran.
Lalu, di kejauhan Bumi melihat rumah-rumah bertingkat dan beratap lonjong dengan warna yang berbeda-beda. Biru, hijau, hitam,merah, putih dan masih banyak lagi.
Tempat yang aneh.
Bumi menutup kembali jendela dan kembali berbaring. Dimana dia sebenarnya sekarang? Tempat ini aneh dan tidak umum.
Karena kelelahan Bumi mulai mengantuk dan terlelap dalam waktu singkat.
...°°...
Keesokan paginya, Bumi bangun lebih awal. Jadi saat Analika datang mengunjunginya, dia sudah duduk dengan tenang diatas kursi dekat jendela sembari menatap keluar, memperhatikan bunga serba biru di halaman.
"Kau sudah mandi?"Tanya Analika muncul di pintu, dia membawa sesuatu di tangannya. Wanita cantik itu mendekati Bumi dan meletakkan yang dibawa itu diatas pangkuan Bumi, "Mulai hari ini pakailah pakaian ini. Nanti pelayan akan membawakan sisanya kemari. Cepat mandi dan ganti bajumu."
"Dimana kamar mandinya?"Tanya Bumi karena sejujurnya dia sudah mencarinya sejak tadi.
"Di dalam lemari sebelah kiri,"
Dalam kamar itu ada dua lemari dengan ukuran yang sama dan warna yang sama. Diletakkan menempel pada dinding. Sedikit ragu Biru membuka lemari sebelah kiri.
Aneh sekali.
Dalam lemari itu ternyata ada mata air berwana biru yang mengalir deras. Biru masuk kedalam dan mulai membersihkan dirinya.
Tidak lama kemudian Bumi selesai mandi dan memakai pakaian yang diberikan Analika. Jubah berwarna biru gelap dengan desain burung elang di kerahnya. Barangkali karena pertama kali memakai pakaian seperti itu, Bumi merasa aneh saat mengenakannya.
"Bagus, kau terlihat tampan."puji Analika saat Bumi keluar dari dalam lemari mandi.
"Ikut aku!"Analika memimpin jalan. Keduanya menuruni tangga lalu berbelok ke lorong sebelah kiri. Analika membawanya masuk kedalam sebuah ruangan luas yang di dalamnya terdapat meja panjang dan kursi berjejer di sekeliling meja.
Sudah ada dua orang memakai jubah yang sama duduk disana. Analika membawa Bumi duduk di salah satu kursi.
"Siapa dia?"Seorang wanita yang memiliki wajah mirip dengan Analika bertanya.
"Dia Bumi, anakku, Bu."Kata Analika, "Bumi perkenalkan dirimu."
"Lika!"Wanita itu berteriak, "Aku memintamu menikah dan melahirkan anak, bukan membawa anak orang lain kesini."Marahnya.
"Apa bedanya? Dia anakku dan tidak ada yang bisa melarangnya."jawab Analika acuh, dia tidak takut dengan kemarahan ibunya.
"Lika-"
"Sudahlah."Pria tua yang duduk di kursi utama yang sejak tadi diam mengeluarkan suara, Analika dan ibunya terdiam dan duduk dengan kesal di kursi masing-masing.
" Sudah berapa lama kalian hidup? Kenapa masih berteriak di meja makan? Seperti anak kecil saja."Kata pria itu, lalu matanya menatap Bumi tanpa berkedip.
"Paman, maksudku baik, Lika sudah menjadi gunjingan orang. Bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa dia belum bisa melupakan pria brengsek itu. Dia harus segera menikah dan membungkam mulut mereka,"Kata wanita itu lagi.
"Sudahlah, Nina, ini sudah menjadi keputusan Lika. Anakmu sudah dewasa, jangan ikut campur urusannya. Dia sudah bisa menimbang baik dan buruknya."
"Aku Severus Caeruleus, pemimpin di rumah ini. Dia-"Severus menunjuk pada perempuan berambut pendek dengan wajah garang itu, "Anina, ibu dari Analika yang berarti dia adalah nenekmu."
Bumi hampir saja tersedak saliva sendiri, Anina memang memiliki wajah lebih dewasa daripada Analika tapi tetap saja belum pantas dipanggil sebagai nenek.
"Siapa namamu?"Tanya Nina ketus, mata biru gelapnya bak pedang tajam yang menghujam ulu hati Bumi.
Untuk beberapa saat Bumi tidak bisa berkata-kata, dia merasa bahwa perempuan itu sedang berusaha membuatnya takut lalu mengusirnya.
"Namaku Bumi-"
"Baiklah, kau harus mengikuti semua aturan di rumah ini. Jika berani melanggar, kau tidak akan bisa lagi melihat matahari terbit."Kata Nina dingin dan melemparkan ancaman kematian.
"Ak-aku akan mengikutinya,"Ucap Bumi pelan, dia melirik Lika yang santai saja. Bukankah ibu normal akan membela anaknya?
Ah, bumi lupa dia hanya anak angkat yang digunakan sebagai alat dan tentu saja tidak akan terlalu berarti bagi Analika.
Setelah pertengkaran singkat itu, makan pagi dimulai dalam diam, hanya ada suara dentingan sendok dengan piring porselen.
Makanan disini sama dengan makanan pada umumnya, tapi tempat ini bukanlah dunia manusia seperti Desa Laskar merah. Perlahan dan diam-diam Bumi akan mencari tahu dimana dia berada sekarang.
"Setelah ini kamu bisa belajar di ruang belajarku. Hanya tersisa tiga bulan lagi sebelum pendaftaran akademi dibuka, kamu harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Paham Bumi?"Tanya Analika setelah menghabiskan satu porsi bubur putih.
"Iya, Bu."Lidah Bumi masih kelu memanggil wanita semuda Analika ibu.
Bumi belum terbiasa dengan ketegasan Analika, setiap kali dia berbicara entah kenapa tidak bisa ditolak. Wanita itu tidak membiarkannya memilih pilihan lain.
***
Like, komen dan vote.