NovelToon NovelToon
Omega Sí, Débil Jamás.

Omega Sí, Débil Jamás.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Manusia Serigala
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Marines bacadare

Berbeda dari adiknya, Mariana, yang dicintai klan, Gianna Garza dipandang rendah sebagai omega lemah karena belum menemukan serigalanya di usia 17 tahun. Tak hanya dibenci, ia juga difitnah sebagai sosok tak tahu malu yang menyakiti Mariana. Namun, Gianna tak gentar—ia diam-diam berlatih dengan kakek-neneknya, menempa diri dalam bayang-bayang hinaan.

Pada ulang tahunnya yang ke-18, segalanya berubah. Ia akhirnya bertemu roh serigalanya dan pasangan jiwanya, Jackson Makris, Alpha dari Big Silver Moon. Namun, alih-alih menerima takdir, Jackson justru menolaknya mentah-mentah dan mempermalukannya di depan semua orang.

Terbuang dan terhina, akankah Gianna tunduk pada nasib atau bangkit untuk membuktikan bahwa ia lebih kuat dari yang mereka kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marines bacadare, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Hari-hari berlalu, dan seperti biasa, pelecehan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gianna. Setiap hari terasa seperti pengulangan tanpa akhir.

Pertemuannya dengan pria yang ditaksirnya semakin sering terjadi, terutama karena dia sering pergi untuk menonton sesi latihan. Namun, setiap kali matanya menangkap sosoknya, Gianna akan segera meninggalkan barisan dan berjalan menuju lapangan lain—setidaknya sampai sang Alpha pergi.

Saat itu, langkahnya melambat. Dia menatap langit, terpukau oleh pemandangan di kejauhan. Naga-naga besar terbang melintasi cakrawala, siluet mereka bergerak anggun di antara awan. Sudah pasti ada konfrontasi yang terjadi lagi. Kini, kehadiran Alpha yang konstan mulai masuk akal.

Mata Gianna tak lepas dari para naga itu. Binatang buas yang mengerikan, milik Kerajaan Api. Penguasa mereka terkenal karena kekuatan dan ketegasannya.

Naga-naga itu terlatih dengan sempurna, patuh sepenuhnya kepada pemiliknya. Kadang-kadang dia melihat mereka bersama penunggangnya, kadang mereka terbang bebas, penuh kewibawaan.

Dia bertanya-tanya seperti apa sosok raja dan para prajuritnya—betapa luar biasanya mereka hingga mampu menjinakkan makhluk sekuat itu.

Namun lamunannya buyar ketika sebuah suara dingin menyela.

"Wah, wah... rupanya sekarang kau bermalas-malasan."

Gianna menoleh dan langsung merasa jantungnya berdegup lebih cepat.

Jackson.

Alpha kelompoknya berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan menghina. Dia luar biasa tampan—rambut hitam pekat, mata hijau tajam, rahang tegas, dan tubuh kuat yang memancarkan kekuatan serta dominasi. Kehadirannya saja cukup membuatnya gemetar.

“Alpha… ini jauh dari tempat latihan yang kau larang untuk kudatangi,” katanya hati-hati. Namun, dia hanya mendapat tatapan mencemooh sebagai balasan.

"Kenapa kau repot-repot datang ke sekolah? Dan nanti kuliah? Di sana akan lebih intens lagi. Kau hanya seorang Omega. Tinggallah di rumah dan tunggu seseorang untuk... memuaskanmu."

Kata-katanya menghantam seperti pukulan di dada.

Gianna menelan rasa sakitnya dan mengangkat dagu, meski tangannya gemetar. “Dengan segala hormat, Alpha, menjadi seorang Omega tidak menghalangiku untuk belajar. Kecuali jika itu adalah hukum baru yang belum aku sadari.”

Jackson menggelengkan kepalanya, sinis. “Satu-satunya alasan aku belum mengusirmu adalah karena menghormati Beta-ku—ayahmu, yang juga temanku. Tapi jangan pernah mencoba melewati batas, Omega.”

Gianna menundukkan pandangannya.

"Orang sepertimu seharusnya tidak meninggalkan rumah mereka. Atau... mungkin aku akan mempertimbangkan untuk membuat sekolah khusus Omega seperti dirimu, agar kau tidak mengganggu yang lain.”

Amarah di matanya menyala.

Gianna menggigit bibir, menekan emosi yang bergolak di dalam dirinya. Dengan suara setenang mungkin, dia berkata, “Jika itu yang kau pikirkan, maka pasti benar. Sekarang, aku akan pergi agar tidak lagi mengganggumu, Yang Mulia.”

Dia berbalik dan pergi tanpa menoleh, berusaha menahan air mata.

Sepanjang sisa sesi latihan, dia menghabiskan waktunya di lapangan tembak lama, melampiaskan amarah dengan setiap bidikan yang dilepaskan.

Saat matahari mulai tenggelam, dia tahu sudah waktunya untuk pulang. Setelah mengumpulkan barang-barangnya, dia berjalan pulang, kembali ke rutinitasnya yang tak berubah.

Namun, kini ada satu perbedaan.

Seorang penguntit baru telah ditambahkan ke dalam kehidupannya—pria yang diam-diam dicintainya.

Setibanya di rumah, dia melihat kesibukan di sekelilingnya, tetapi tidak ingin terlibat. Dia hanya menyapa ayahnya sekilas dan segera pergi, menghindari tatapan dingin yang selalu menyertainya.

Mariana dan Lucrecia tertawa riang saat memilih gaun, sementara Gianna diam-diam pergi ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, kakek-neneknya datang.

"Sayangku, bagaimana kabarmu?" tanya kakeknya dengan lembut.

"Sedih, Kakek," jawabnya pelan. "Setiap hari rasanya semakin sulit menanggung semua hinaan itu."

Sang kakek menariknya ke dalam pelukan hangat, mengelus kepalanya dengan penuh kasih. "Jangan khawatir, kilau kecilku. Suatu hari nanti, semua ini akan berakhir."

Gianna menghela napas pasrah. Dia ingin percaya, tapi jauh di lubuk hatinya, dia tahu itu tidak akan pernah terjadi.

Neneknya tersenyum dan menyerahkan sepotong kue. "Lihat, kau mungkin berpikir tak ada yang mengingatnya, tapi kami selalu ingat."

Mata Gianna melembut. "Terima kasih, Nenek… Aku pikir tak ada yang peduli. Ayahku pasti ingat, tapi justru karena itu dia semakin membenciku. Itu sebabnya aku hanya menyapanya sekilas tadi."

"Jangan biarkan mereka merusak harimu, Sayang," ujar kakeknya. "Hari ini adalah hari yang luar biasa. Delapan belas tahun yang lalu, bayi paling cantik di dunia ini lahir."

Neneknya tersenyum penuh keyakinan. "Selamat ulang tahun, kilau kecilku. Malam ini, kau akan menjadi serigala yang luar biasa. Aku bisa merasakannya."

Gianna tertawa kecil. "Jadi itulah alasan semua keributan di rumah? Pesta untukku?"

Neneknya menggeleng sambil tertawa. "Bukan, Sayang. Besok ada pesta di rumah Alpha, dan semua orang di sini harus hadir."

Tatapan Gianna langsung berubah dingin. "Dia membenciku. Aku tidak akan pergi."

Kakeknya menggelitik pinggangnya dengan lembut. "Kau harus pergi, Nak. Ini penting bagi kelompok kita. Keluarga Beta wajib hadir."

Gianna mendesah, lalu akhirnya mengangguk. Ia meniup lilin bersama kakek-neneknya. "Buatlah permintaan, Cantik," bisik neneknya.

Gianna menutup mata. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa bahagia. Kemudian, ia meniup lilinnya.

Sore itu terasa begitu tenang. Kue yang lezat, kehangatan keluarga, dan tawa ringan yang sudah lama tak ia rasakan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gianna tersenyum.

Saat malam menjelang, ia berpamitan kepada kakek-neneknya dan naik ke kamarnya. Di atas tempat tidur, sebuah tas berisi pakaian bersih telah disiapkan oleh neneknya. Gianna menatapnya, lalu menghela napas.

Malam ini, segalanya akan berubah.

Malam ini, ia akan bertemu dengan serigalanya.

Tapi di balik antisipasi itu, ada ketakutan yang menyelinap. Karena begitu transformasi terjadi, ia tahu bahwa orang lain akan memiliki kekuasaan atas dirinya.

Angin malam bertiup melalui jendela, menusuk kulitnya. Gianna menatap langit. Bulan bersinar terang, sama seperti malam-malam sebelumnya. Ia melirik jamnya—pukul 11:30 malam.

Dalam waktu setengah jam, hidupnya akan berubah selamanya.

Serigala lain biasanya merayakan momen ini dengan pesta besar, tetapi tidak dengannya. Ia masih ingat malam transformasi saudara perempuannya—Mariana.

Betapa indahnya dia dalam wujud serigala: bulu cokelat, mata madu yang hangat. Betapa ayah dan ibu tiri mereka menyambutnya dengan tangan terbuka, mendukungnya dalam setiap detik transformasinya.

Tapi bagi Gianna, tidak akan ada pelukan. Tidak ada kata-kata penyemangat.

Karena sejak lahir, ia selalu berbeda.

Dan menjadi berbeda sering kali berarti dikucilkan.

Gianna mengambil tasnya dan pergi ke hutan. Langkahnya mantap, semakin jauh dari rumah yang tak pernah benar-benar menjadi rumah baginya.

Ia mendongak. Bulan bersinar keperakan, indah dan penuh misteri. Ia memejamkan mata, membayangkan sosok ibunya—tersenyum lembut, penuh kebanggaan, menatapnya dengan kasih sayang yang telah lama hilang dari hidupnya.

Kemudian, rasa sakit itu datang.

Seketika, tubuhnya seperti terbakar dari dalam. Tulang-tulangnya bergeser, meregang, kemudian patah hanya untuk menyatu kembali. Ia jatuh ke tanah, menjerit. Setiap helai otot terasa seperti sobek.

Dan saat ia mencoba berteriak lagi, yang keluar dari tenggorokannya adalah lolongan.

Gianna menunduk. Tangannya… bukan, cakar. Bulu putih bersih menutupi tubuhnya. Saat pikirannya berusaha memahami apa yang terjadi, sebuah suara lembut namun kuat memenuhi benaknya.

“Halo, Gianna.”

Dia tersentak. Itu bukan suaranya.

“Aku serigalamu. Namaku Xena."

Hatinya berdegup kencang. Dengan tubuh barunya, ia berlari ke arah danau. Begitu tiba, ia menunduk untuk minum, lalu melihat pantulannya.

Ia terdiam.

Serigala dalam pantulan air itu bukan hanya cantik—ia luar biasa.

Bulu putih bersih. Mata keemasan yang tampak seperti api.

Xena.

Malam itu, ia berlari tanpa henti, merasakan angin menerpa bulunya, berbicara dengan Xena, mengenal bagian dari dirinya yang selama ini tersembunyi.

Ia tak sendiri lagi.

Kini, mereka memiliki satu sama lain.

Saat malam hampir berakhir, ia kembali ke bentuk manusianya. Dengan hati yang lebih ringan, ia mengenakan pakaiannya dan kembali ke rumah.

Namun, seseorang melihatnya.

Mariana.

Dan besok, Gianna tahu saudara perempuannya akan mengarang sesuatu lagi tentang dirinya. Karena Mariana tidak akan pernah membiarkan Gianna menemukan ketenangan—atau cinta—sebelum dirinya sendiri.

1
Wahyu Suriawati
aku suka dengan ceritanya....sukses selalu buat kk thor🌹🌹🌹🌹🌹
Wahyu Suriawati
ayo gimana kamu pasti lebih kuat dari saudara mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!