Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-020
Tingkah William yang kasar membuat Khafi iba. Elis terus menundukkan kepalanya, ia pasti malu diperlakukan kasar dihadapan orang asing.
“Sudikah bapak menyerahkan putri bapak Elis kepadaku? Aku akan bertanggung jawab menjaga dan melindunginya seumur hidupnya,” tukas Khafi.
Elis sedikit terbelalak. Benarkah kata itu keluar dari mulut Khafi? Saodah dan Umar bahkan tak membayangkan Khafi akan berucap seperti itu.
Ucapan Khafi pun akhirnya ditanggapi serius oleh William papa Elisabeth.
Ada baiknya juga Elisabeth tak disini maka hatiku sedikit tenang, aku bisa menjalani hari hariku lebih lega. Terlebih jika ia bahagia maka rasa bersalahku padanya akan sedikit berkurang. Batin William.
“Sekarang Elisabeth adalah tanggung jawab kamu. Nikahilah dia yang benar. Jangan sampai terulang lagi, begitu tiba di hari H dan kau batalkan pernikahan,” ucap William.
“Insya Allah aku nggak akan pernah meninggalkannya,” ucap Khafi sambil menatap gadis yang masih berdiri dan tertunduk saat itu.
“Ya ya sekarang kalian pergilah, bawalah Elis bersama kalian. Hari ini kami ada urusan keluarga, kami tak bisa lama lama melayani kalian di sini,” ucap William ketus.
“Apa bapak sudah memberikan restu bapak kepada Elis?” tanya Umar agar lebih yakin.
Beberapa saat Indira keluar dari dapur bersama bi Minah dengan hidangan berupa minuman dan makanan ringan.
“Silahkan dimakan dan diminum,” ucap Indira ramah.
“Bu ini ada sedikit oleh oleh dari kami. Tidak seberapa banyak, kami membelinya sangat buru buru, semoga keluarga Elis akan suka,” ucap Saodah sembari menyerahkan sebuah kotak yang terbungkus rapih.
“Ahh, merepotkan sekali. Terimakasih,” sahut Indira dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Indira pun mengambil kursi tak jauh dari suaminya. Wajah William masih tak menunjukkan keramahan sedikitpun.
“Elis dan Khafi akan menikah dalam waktu dekat agar tak menimbulkan fitnah. Apa kedua orang tua Elis bersedia hadir..?” ucap Umar terpotong.
“Tidak tidak, jangan berharap kami akan hadir di sana. Saya sudah memberikan restu kepada mereka, saya tak perlu hadir lagi,” jawab William.
“Dan Elis akan kami Islam kan,” ucap Umar dengan nada yang mudah dipahami.
“Dilihat dari pakaian kalian, aku tau kalian itu Islam, kalian jagalah Elis itu baik baik maka saya sudah senang,” ucap William.
Memang seperti itulah. Papa nggak pernah merasa nyaman tinggal bersama Elis. Saat SD papa sangat jarang berada dirumah. Begitu SMP dan SMA, Elis tinggal diasrama. Kuliah Elis di Bandung. Sepertinya Elis adalah anak yang tidak diharapkan papa berada di dunia ini. Ia akan tenang jika tidak pernah melihat Elis lagi.
Air mata berlinangan dipelupuk mata Elis. Ia ingin segera pergi keluar dari rumah itu.
“Baiklah kami permisi, kami harus segera kembali ke Jakarta secepatnya,” ucap Umar singkat. Ia memberi isyarat pada Saodah agar membawa Elis keluar dari rumah itu.
“Elis, ayuk sayang,” ajak Saodah.
Elis mengangkat kepalanya. Pipinya telah basah akan linangan air mata yang tak mampu lagi dibendungnya.
Khafi ikut menarik lengan Elis, membawanya cepat keluar dari ruangan itu.
Sopir pak Abdullah segera membukakan pintu untuk mereka masuk ke mobil.
“Elis nggak usah sedih, sekarang Elis akan tinggal bersama kami. Kami adalah keluarga baru mu,” ucap Saodah.
Khafi menyerahkan sehelai tissue ke tangan Elis yang masih menampakkan raut kesedihan pada wajahnya.
Umar menarik nafas kemudian membuangnya sekaligus, adegan lamaran yang sangat jauh dari bayangannya. Awalnya Umar sudah memikirkan cara jika seandainya lamarannya ditolak. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Sang ayah malahan ingin agar mereka segera membawa anaknya pergi dari rumahnya. Sang ayah yang tak pernah perhatian pada putrinya.
Mobil berlalu perlahan meninggalkan perumahan tersebut. Tak ada satupun yang bicara, semua pandangan tertuju keluar jendela. Mereka sibuk dalam pikiran mereka masing masing.
“Kita akan kemana syekh?” tanya si sopir ketika mereka tiba dipersimpangan jalan keluar dari kompleks perumahan itu.
“Kita kembali ke bandara,” ucap Umar.
Suasana kembali menjadi tenang.
Aku mungkin tidak pernah bisa membahagiakan Elis. Tapi aku bisa menjaga dan melindunginya. Aku akan memberikan apapun yang dia inginkan.
Khafi menarik jemari Elis ke dalam genggamannya.
Elis yang merasa jemarinya disentuh, hanya pasrah. Genggaman hangat itu terasa seperti sedang memberikan sebuah dukungan kepadanya.
Keluarga yang sesungguhnya adalah mereka yang merangkul dan mendukungnya melalu masa masa sulit dalam hidup. Bukan keluarga yang terus mendorongnya meninggalkan rumah tempat tinggalnya.
....
Sejak kembali dari Medan syekh tidak mengijinkan Elis kembali ke tempat kosnya. Sebuah kamar disiapkan untuk Elis dilantai dasar asrama putri persis di depan kamar Amel.
Setiap hendak berangkat kerja Khafi akan mengantar Elis. Begitu juga saat pulang kerja, Khafi sudah standby di parkiran bank swasta tempat Elis bekerja.
Hari ini adalah hari ketiga Khafi menjemput Elis.
“Elis, kamu di jemput suami tuh,” teriak seorang rekan kerja.
Elis menoleh ke luar pintu kaca, mobil metalik biru Khafi sudah menunggunya.
Suami? Khafi belum menjadi suamiku.
Elis tak perlu menjelaskan siapa Khafi, karena setiap orang disitu tau jika Elis sudah menikah.
Elis pun menguhubungi Khafi melalui ponselnya.
“Tunggu sebentar, Elis masih harus menyerahkan laporan mingguan Elis,” ucap Elis.
“Oke,” sahut Khafi.
Sambil menunggu, butiran air hujan perlahan menetes membasahi kaca mobil. Beberapa saat hujan menjadi semakin deras. Mata Khafi terus menatap ke arah pintu keluar bank swasta dengan logo berwarna biru itu.
Hujan sederas itu, berjalan beberapa meter saja maka ia akan basah.
Beberapa saat beberapa orang wanita sudah berdiri didepan pintu bank. Derasnya hujan membuat Khafi tak bisa jelas melihat jelas wajah wanita wanita itu.
Ia pun menarik payung yang sudah disiapkannya disamping kursi. Kemudian keluar dari mobil menjemput Elis.
Bena saja, salah satu dari ketiga wanita itu adalah Elis.
“Ciieehhh suami lo baik banget. Aku juga mau dong patungan berdua,” goda seorang teman wanitanya.
“Elis ayo,” ajak Khafi.
Khafi merangkul tubuh mungil Elis agar tak basah. Payung seutuhnya berada dipihak Elis. Khafi membukakan puntu mobil dan mempersilahkan calon istrinya itu masuk terlebih dahulu.
Elis memperhatikan Khafi yang tengah sibuk melipat payung. Sebagian rambut Khafi menjadi basah, baju dan celana bagian kirinya basah.
Bagaimana cara dia memegang payung? Kenapa bisa basah begitu?
Elis kembali menatap ke arah luar jendela, hujan begitu deras disertai petir.
“Maaf tadi agak lama menunggu,” Elis membuka percakapan karena sedikit merasa bersalah.
“Nggak papa, menunggu sampai malam juga boleh,” ucap Khafi.
“Saat akhir bulan kami biasa pulang tengah malam,” ujar Elis.
“Oke, akan Khafi tunggu,” sahut Khafi dengan senyuman.
“Maksud Elis, nggak usah dijemput. Elis bisa pulang naik taxi,”
“Perempuan nggak boleh berjalan sendirian saat tengah malam, apalagi jaraknya jauh,” ujar Khafi sambil sibuk fokus ke jalanan.
“Elis bisa pulang ke kos,” ucap Elis.
Khafi menatap gadis disampingnya.
“Seminggu lagi kita akan menikah. Walaupun pernikahan kita hanyalah sebuah formalitas, ijinkan Khafi menjaga Nur. Itu sudah tanggung jawab Khafi,” jelas Khafi lembut.
Elis menatap wajah lawan bicaranya.
“Saat ngobrol santai aja. Jangan merasa canggung ataupun nggak enak. Jika butuh sesuatu ngomong aja. Kita akan hidup bersama, kita harus akrab. Khafi bersedia menjadi teman ngobrol, teman curhat Nur seumur hidup,” lanjut Khafi.
Ada benarnya juga, jika terlalu sungkan maka hubungan kami tidak akan baik. Kita bisa saja menjadi teman seumur hidup, berbagi suka dan duka. Saling mendukung dan berbagi cerita...
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁