Mencintai dan dicintai, memang menjadi harapan bagi setiap orang. Namun, bagi seorang Alexander Matthew harus selalu bisa dengan bijak untuk menyikapinya.
Hal yang paling sulit bagi Alex dalam mencintai yaitu memulainya. Terutama untuk membuka kembali hatinya setelah membereskan yang lama.
Pada akhirnya, hanya tiga hal yang berarti dalam hidup Alex yaitu seberapa banyak dia mencintai, seberapa lembut dia menjalani hidup, dan seberapa ikhlas dia melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untuknya.
Kini hati Alex pun berakhir pada satu wanita yang mampu membuat dia hanya ingin hidup bersamanya untuk selamanya.
"Meski banyak wanita di luar sana yang lebih baik, lebih cantik mungkin, atau lebih sexy, aku tidak peduli! Bagiku, hanya kamu wanita satu-satunya yang terbaik dari semua wanita di luar sana, dan hanya denganmu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku!"
"Dasar gombal! Sejak kapan Tuan Muda sepertimu bisa berkata semanis ini?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBW #20
"Aku nggak nyangka ternyata dia laki-laki bejat! Aku benci dia!" Amanda menggerutu sambil terus berjalan hingga ia sampai didekat danau yang tampak sepi karena hari semakin sore.
Pikirannya sedang kalut saat ini. Ia merasa penderitaan hidupnya sangat berat hingga tidak sanggup lagi untuk bertahan. Ia juga merasa sangat jijik pada dirinya sendiri atas apa yang telah dilakukan Alex kepadanya.
Amanda menatap lurus kearah danau dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir. "Ayah..ibu..aku mau ikut kalian saja..hiks!" Amanda merasa dirinya sudah tidak sanggup lagi dengan penderitaan yang ia alami ini. Ia merasa putus asa dan terlintas dalam pikirannya ingin mengakhiri hidupnya saat ini juga.
Ia sudah tidak lagi memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya. Kehormatannya yang selama ini ia jaga telah direnggut oleh laki-laki bejat seperti Alex. Amanda tidak sanggup untuk menerima semua ini. Ia sudah tidak punya harapan lagi untuk melanjutkan hidup. Impian dan harapannya telah musnah.
Ia juga punya impian untuk menikah, ingin mencintai dan dicintai lalu hidup bahagia. Namun kini ia merasa semuanya telah hancur.
Amanda terus melangkah dengan pelan menuju danau. Langkahnya berhenti tepat ditepi danau. Ditepi danau tersebut ada besi pembatas yang mengelilingi danau.
Amanda berpegangan pada besi pembatas dan ia memanjat untuk melewatinya. Ia berdiri menghadap danau dengan kedua tangannya berpegangan pada besi pembatas. Ia sudah benar-benar hilang harapan untuk hidup dan jalan satu-satunya untuk mengakhiri penderitaannya adalah kematian.
"Ayah..ibu..aku akan menyusul kalian!" Ucapnya lirih sambil memejamkan matanya dan derai air mata yang terus mengalir.
Perlahan Amanda melepaskan pegangan tangannya pada besi pembatas danau dan ia telah siap untuk menjatuhkan dirinya kedalam danau tersebut.
"Aahk!" Pekik Amanda.
"Apa kamu sudah gila??" Bentak seseorang dengan emosi sambil meraih tubuh mungil Amanda dan segera mengangkatnya menjauh dari danau.
"Lepaskan aku!" Pekik Amanda sambil memberontak dan memukuli seorang laki-laki yang telah membuatnya seperti ini.
"Dasar bodoh!" Bentak Alex sambil melepaskan Amanda dan menatapnya tajam.
"Apa yang kamu pikirkan hah?" Lanjut Alex dengan penuh emosi.
Amanda terdiam dan seketika air matanya mengalir. Ia menatap laki-laki bejat yang telah membuatnya seperti ini dengan penuh kebencian.
"Apa yang aku pikirkan? Aku ingin menyusul ayah dan ibuku! Kamu dengar itu? Kamu yang udah membuatku seperti ini! Aku benci kamu!" Ucap Amanda dengan keras sambil memukuli dada bidang Alex penuh amarah.
"Aku juga benci diriku sendiri yang bodoh ini! Aku merasa jijik dengan diriku ini! Aku merasa kotor!" Lanjut Amanda penuh emosianal sambil mengusap-usap dengan kasar tubuhnya sendiri seolah banyak kotoran yang menempel pada tubuhnya.
"Sudah cukup!" Alex masih membentaknya.
"Dengarkan aku!" Lanjut Alex sambil meraih kedua tangan Amanda dan menggenggamnya. Ia menatap dalam Amanda dan Amanda juga menatapnya.
"Kamu masih bersih dan aku tidak melakukan itu kepadamu!" Lanjut Alex dengan menatap Amanda.
Amanda mengerjapkan matanya dan air matanya menetes ke pipi saat ia mengerjap.
"Jangan pernah lagi bertindak bodoh seperti ini!" Ucap Alex penuh penekanan.
"A-apa?"
"Aku memang telah menyentuhmu tapi aku sama sekali tidak melakukan apa yang telah kamu pikirkan!" Sahut Alex sambil mendekatkan wajahnya pada Amanda kemudian ia memeluk Amanda.
"Aku tidak melakukannya! Percayalah!" Lanjut Alex sambil memeluk Amanda.
Amanda memejamkan matanya. Jantungnya kembali berdegup kencang. Setelah mendengar penjelasan dari Alex, ia bisa langsung percaya dan hatinya merasa lega.
"Terimakasih. Terimakasih banyak Tuan!" Ucap Amanda sambil membalas pelukan Alex dan kembali menangis menumpahkan semua yang telah ia rasakan.
Kenapa setiap kali dia memelukku seperti ini, aku merasa sangat nyaman?
Ucap Amanda dalam hati.
Ayah, aku rindu ayah! Lanjut Amanda dalam hati sambil mengeratkan pelukannya pada Alex dan membayangkan dirinya sedang memeluk ayahnya.
Pelukan Alex mampu membuatnya merasa tenang dan nyaman. Mungkin dengan ini, Amanda dapat mengobati rasa rindu pada ayahnya dengan memeluk Alex.
Jantung Amanda kembali berdegup dengan cepat. Apakah aku sudah jatuh cinta kepadanya? Ini nggak mungkin! Siapa aku? Mana mungkin Tuan Muda Alex mau denganku yang bodoh dan miskin ini?
Batin Amanda kemudian ia melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya sendiri.
Ia harus bisa menjaga jarak terutama hatinya untuk tidak jatuh cinta kepada seorang Alex Matthew. Ia memang merasa kagum dengan kebaikan Alex. Tapi ia merasa tidak mungkin dan tidak akan pernah bisa menggapai Alex. Perbedaan antara dirinya dengan Alex bagai langit dan bumi. Ia tidak ingin berharap apapun meski tidak ada yang tidak mungkin kalau memang Tuhan menghendaki dan sudah menjadi takdirnya.
Tapi saat ini, Amanda tidak ingin berharap jauh atau nantinya ia akan merasa kecewa dan sakit hati. Ia tau kalau banyak sekali wanita diluar sana yang jauh lebih baik darinya yang menyukai Alex. Dan belum lama ini, Amanda juga mendengar gosip tentang hubungan Alex dengan mantan kekasihnya yang dikabarkan telah dekat kembali.
Tidak mungkin sekali jika dirinya bersaing dengan Veronica Ayner, wanita cantik bahkan sangat cantik dan terlihat begitu sempurna. Pasti akan sanagt bodoh sekali kalau seandainya Alex memilihnya daripada Veronica.
"Sekali lagi terimakasih banyak Tuan, aku juga minta maaf sudah berpikiran yang tidak-tidak kepadamu bahkan aku sempat sangat membencimu. Maafkan aku!" Ucap Amanda dengan menunduk tidak berani menatap wajah Alex.
"Tidak perlu dipikirkan lagi! Aku akan mengantarmu pulang!" Jawab Alex dengan menatap Amanda.
***
Keesokan harinya.
Selesai memimpin rapat bersama para petinggi perusahaan, Alex terlihat terburu-buru pergi.
"Lex, kamu mau kemana? Buru-buru amat?" Tanya Devan yang mengikuti langkah Alex.
"Aku ada urusan!" Jawab Alex tanpa menoleh dan mempercepat langkahnya masuk kedalam lift.
"Apa ada sesuatu yang terjadi lagi? Alex tidak pernah mau memberi tauku." Gumam Devan sambil menghentikan langkahnya menatap bayangan Alex yang sudah menghilang.
"Sandra!" Seru Devan saat melihat sekretaris Alex berjalan melewatinya.
"Ya Tuan Devan? Ada apa?" Tanya Sandra dengan ramah sambil menoleh menghentikan langkahnya.
"Kamu tau kemana Alex pergi?" Tanya Devan dengan menatap Sandra.
"Saya tidak tau, Tuan Alex tidak mengatakan apa-apa, hanya memintaku untuk mengantar dukumen-dokumen ini kerumahnya saat pulang nanti." Jawab Sandra apa adanya.
"Jadi Alex tidak akan kembali keperusahaan lagi hari ini?" Tanya Devan kembali pada Sandra.
"Sepertinya begitu Tuan!" Jawab Sandra tidak yakin.
"Oke, makasih ya." Ucap Devan dengan tersenyum.
"Sama-sama Tuan Devan, kalau begitu saya permisi." Jawab Sandra dengan sopan dan diangguki Devan kemudian Sandra melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
Devan juga segera pergi karena pekerjaannya hari ini sudah selesai dan sebentar lagi sudah waktunya untuk makan siang. Ia ingin keluar untuk makan siang bersama teman wanitanya diKafe karena sudah membuat janji sebelumnya.
Alex baru saja sampai di tempat pemakaman umum dekat kompleks perumahan tempat tinggal Amanda. Ia sengaja buru-buru kesana karena Dion memberi taunya kalau Amanda pingsan.
"Bos, aku membawanya masuk kedalam mobil!" Ucap Dion yang berdiri disamping mobil begitu Alex tiba dan menghampirinya.
"Terimakasih!" Ucap Alex.
Alex membuka pintu mobil Dion bagian penumpang kemudian menggendong tubuh mungil Amanda dan membawanya masuk kedalam mobil miliknya. Lalu Alex segera melajukan mobilnya menuju Villanya.
Sesampainya di Villa, Amanda dibawa masuk oleh Alex dan dibaringkan dikamar tamu yang ada dilantai bawah.
"Taun Muda Alex, apa yang terjadi?" Tanya Bi Salma pada Alex setelah melihat Amanda dibaringkan.
"Dia pingsan saat ziarah ke makam ayahnya!" Jawab Alex dengan menatap Amanda.
"Ya ampun! Kasihan sekali dia Tuan! Jadi, apa dia akan tinggal disini?" Tanya kembali Bi Salma yang merasa prihatin dengan kondisi Amanda dan berharap kalau Amanda bisa tinggal disini bersamanya.
"Hmm, ya Bi! Dia akan tinggal disini sampai kondisinya membaik." Jawab Alex dengan menatap Bi Salma dan Bi Salma tersenyum senang.
...*****...