NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1 Merelakan yang menyakitkan

Rangga menyesap es teh manisnya perlahan, matanya tidak lepas dari sosok wanita di depannya. Ayu hanya mengaduk-aduk nasi gorengnya tanpa benar-benar menyuapnya. Wajahnya yang biasa cerah kini tampak mendung, seperti ada beban berat yang tertahan di balik helaan napasnya.

Sebagai pria berusia 24 tahun yang sudah cukup lama mengenal Ayu, Rangga tahu ada yang tidak beres. Biasanya, Ayu adalah orang pertama yang antusias menceritakan harinya, mulai dari urusan kantor hingga hal sepele yang ia lihat di jalan. Namun malam ini, dia sangat tertutup.

Rangga meletakkan gelasnya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

"Yu," panggilnya lembut, berusaha menembus lamunan kekasihnya itu. "Nasi gorengnya ngga dimakan"

Ayu menghela napas panjang. Sendok di tangannya berhenti bergerak, lalu perlahan ia letakkan di tepi piring. Jarinya saling bertaut di atas meja, terlihat sedikit gemetar. Rangga semakin yakin, ada sesuatu yang besar yang hendak disampaikan.

Ayu menghela napas panjang. Sendok di tangannya berhenti bergerak, lalu perlahan ia letakkan di tepi piring. Jarinya saling bertaut di atas meja, terlihat sedikit gemetar. Rangga semakin yakin, ada sesuatu yang besar yang hendak disampaikan.

“Ga lapar,” jawab Ayu singkat, tanpa menatap Rangga.

Rangga mengernyit. “Kamu kenapa, Yu? Dari tadi kelihatan mikirin sesuatu. Cerita sama aku.”

“Rangga…” suaranya bergetar. “Kita… kita udahan aja, ya.”

Kalimat itu jatuh seperti petir di telinga Rangga. Dadanya terasa sesak seketika.

“Apa?” Rangga menegakkan tubuhnya. “Kamu bercanda, kan?”

Ayu menggeleng pelan. Air mata akhirnya luruh di pipinya. “Aku serius.”

“Kenapa tiba-tiba begini? Aku salah apa?” suara Rangga meninggi, bukan marah, tapi panik. “Kalau aku ada kurang, bilang. Kita bicarain baik-baik.”

Ayu menunduk semakin dalam, pundaknya bergetar hebat. Isakan kecil mulai terdengar di antara kebisingan kedai yang tiba-tiba terasa sangat sunyi bagi Rangga.

“Bukan, Ga. Ini bukan soal salahmu,” bisik Ayu parau. Ia akhirnya memberanikan diri menatap mata Rangga, meski matanya sudah sembap. “Aku... aku sudah dijodohkan.”

Rangga mematung. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada sekadar diputuskan karena rasa bosan. Dunia seolah berhenti berputar.

“Dijodohkan?” ulang Rangga dengan suara yang hampir hilang. “Zaman sekarang? Siapa, Yu? Kenapa baru bilang sekarang?”

Ayu menyeka air matanya dengan punggung tangan, namun air mata baru terus mengalir. “Sudah setahun yang lalu, Ga. Sebenarnya orang tuaku sudah mengenalkanku dengan anak teman mama dari lama.”

“Setahun?” Rangga tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan luka. “Jadi selama setahun ini, kita menjalani hubungan di atas rencana pernikahanmu dengan orang lain? Kenapa kamu tutup-tutupi sejauh ini?”

“Karena aku takut kehilangan kamu!” Ayu memegang tangan Rangga dengan jari-jarinya yang dingin dan gemetar. “Aku mencoba mencari cara, mencoba meyakinkan mereka, tapi aku gagal. Kamu tahu sendiri kan, Ga... Papa selalu memandang sebelah mata pekerjaanmu. Mereka bilang... mereka bilang kamu belum punya apa-apa. Mereka takut aku susah karena kamu dianggap belum mapan.”

Rangga menarik tangannya perlahan. Ucapan itu menghantam harga dirinya tepat di ulu hati. “Jadi karena itu? Karena aku masih miskin? Karena aku cuma kerjaannya ngga nentu"

Ayu tidak menjawab, namun tangisnya semakin pecah. Keheningan di antara mereka menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

“Kasih aku waktu, Yu. Aku lagi berjuang,” pinta Rangga lirih, matanya kini ikut berkaca-kaca. “Tolong, kasih aku kesempatan buat buktiin ke orang tuamu.”

Ayu menggeleng lemah, wajahnya penuh keputusasaan. “Nggak bisa, Ga. Lamaran resminya bulan depan. Aku nggak bisa lawan orang tuaku. Kamu tahu betapa kerasnya Papa. Aku nggak mau jadi anak durhaka, tapi aku juga hancur harus ninggalin kamu.”

Rangga menghela napas panjang, matanya kini memerah sepenuhnya namun ia menolak untuk membiarkan air mata itu jatuh di depan publik.

"Lucu ya," ucap Rangga lirih sambil merapikan dompetnya di meja. "Aku berjuang buat orang yang bahkan nggak berani memperjuangkan aku di depan orang tuanya."

Ayu tersedak isaknya. "Ga, bukan gitu..."

"Terus apa?" potong Rangga cepat. "Kalau cinta, kamu bakal bilang dari setahun lalu. Kita hadapi bareng. Tapi kamu milih simpan ini sendiri sampai waktunya kamu buang aku."

Rangga tidak lagi sanggup berlama-lama di sana. Oksigen di sekitar kedai itu seolah menipis, mencekik setiap sel saraf di kepalanya.

Tanpa sepatah kata lagi, Rangga berdiri. Ia mengambil selembar uang dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja lebih dari cukup untuk membayar dua porsi nasi goreng dan es teh.

Ayu mendongak, matanya yang basah menatap Rangga dengan penuh permohonan. "Ga, mau ke mana? Kita belum selesai..."

Rangga tidak menatapnya balik. Ia justru merapikan jaketnya, berusaha mempertahankan sisa-sisa martabat yang ia miliki sebagai seorang pria.

"Kita udah selesai yu," suara Rangga terdengar sangat tenang, namun ketenangan itu justru jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.

Ia memutar tubuhnya, bersiap melangkah pergi. Namun sebelum kakinya benar-benar menjauh, ia berhenti sejenak dan menoleh sedikit melalui bahunya.

"Semoga lancar ya, Yu. Pernikahannya. Semoga dia bisa kasih semua yang orang tuamu mau, yang aku nggak punya," ucapnya datar.

Ayu terpaku di kursinya. Tubuhnya lemas, seolah seluruh kekuatannya ikut terbawa pergi bersama langkah kaki Rangga. Ia menatap uang yang ditinggalkan Rangga di meja.

Tangis Ayu pecah lebih hebat dari sebelumnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat. Suara isakannya tertelan oleh bising kendaraan di jalan raya, namun rasa sesaknya tak terbendung.

Ia tahu ia telah mematahkan hati orang yang paling tulus mencintainya, dan yang paling menyedihkan adalah ia merasa tidak punya pilihan selain membiarkan luka itu menganga. Nasi goreng di depannya kini benar-benar mendingin, sama seperti hubungan mereka yang berakhir di sebuah kedai pinggir jalan di usia mereka yang ke-24.

Ayu masih terisak, wajahnya disembunyikan di balik kedua telapak tangannya yang gemetar. Dadanya sesak, seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit paru-parunya.

Dalam hatinya, ia menjerit. Ia sangat mencintai Rangga. Sangat mencintainya. Ia mencintai cara Rangga menatapnya, mencintai bagaimana pria itu selalu bekerja keras demi masa depan yang sering mereka khayalkan bersama di sela-sela jam makan siang. Rangga adalah rumahnya, tempatnya pulang dari segala penat dunia. Namun kini, ia sendiri yang baru saja mengunci pintu rumah itu dan membuang kuncinya jauh-jauh.

"Neng... Neng Ayu?"

Sebuah suara serak memecah keheningan yang menyakitkan itu. Ayu tersentak, perlahan ia menurunkan tangannya. Di hadapannya berdiri Bapak penjual nasi goreng, pria tua yang sudah biasa melihat mereka makan di sana setiap akhir pekan.

Bapak itu menatap kursi kosong di depan Ayu, lalu menatap lembaran uang yang tergeletak di meja dengan raut wajah bingung sekaligus prihatin.

"Mas Rangga-nya mana, Neng? Kok... kok buru-buru amat pulangnya? Itu nasi gorengnya baru dicicip sedikit," tanya si Bapak dengan nada lembut, berusaha tidak menyinggung.

Ayu mencoba menjawab, namun tenggorokannya tercekat. Ia hanya bisa menggeleng lemah sambil menyeka air mata yang tidak mau berhenti mengalir.

"Tadi... tadi katanya ada urusan mendadak, Pak," dusta Ayu dengan suara yang pecah.

Bapak penjual itu terdiam sejenak, ia menghela napas panjang seolah mengerti apa yang sedang terjadi. Ia sudah terlalu sering melihat drama kehidupan di atas meja-meja kayunya.

"Berantem ya, Neng? Biasa itu kalau anak muda. Mas Rangga orang baik, tadi dia bayarnya lebih, katanya buat Neng Ayu juga," ujar si Bapak sambil meletakkan segelas air putih hangat di depan Ayu. "Diminum dulu, Neng. Biar tenang. Sayang atuh air matanya dibuang-buang buat yang bukan jodoh."

Kalimat terakhir si Bapak bak sembilu yang menyayat luka baru. Bukan jodoh. Ayu menatap gelas air hangat itu dengan pandangan kosong. Ia ingin berteriak bahwa Rangga adalah jodoh yang ia mau, tapi ia tidak punya cukup keberanian untuk mempertahankan jodoh itu di depan ayahnya.

"Makasih, Pak..." bisik Ayu lirih.

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!