Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Ranjang
Setelah puas bermain di pantai, Argan dan Nadin kembali ke hotel untuk beristirahat.
"Aku tidur di kamar ini juga?" tanya Nadin.
"Iya, memangnya kenapa?" Argan balik bertanya.
"Aku suka." Nadin hampir melompat, karena terlalu bersemangat.
Argan tidak terlalu memperhatikan, sampai pada akhirnya menoleh. "Eh, mengapa kamu senang."
"Bukan suka bersamamu, maksudku suka kamarnya bagus." Nadin nyengir.
"Oh gitu, masuk akal." Argan tersenyum, berusaha percaya alibi Nadin.
Argan membuka pintu kamar hotel, lalu mereka masuk ke dalam bersama. Argan segera ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Dia segera mengambil tasnya dan merogoh isi dalam. Mengeluarkan ponsel yang sederhana itu, namun lumayan canggih. Bercengkrama dengan teman lamanya lewat messenger.
"Aku sudah merindukannya, akhirnya sekarang aku bisa lagi mengobrol ringan." Nadin tersenyum.
Argan sudah keluar dari kamar mandi. Dia memperhatikan Nadin yang tersenyum-senyum sendiri, sambil memainkan ponsel. Argan segera merebut ponsel itu dari tangan Nadin, tanpa izin.
"Argan, tolong berikan ponsel aku."
"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" Argan langsung mengotak-atik isi ponsel tanpa izin.
Dia melihat messenger yang penuh pesan masuk. Ntah itu dari pelanggan es jagungnya, atau sekadar teman yang basa-basi.
"Ternyata banyak juga iya temanmu. Sering aktif juga kamu, atau jangan-jangan kamu video call dengan pria juga."
"Tidak Argan."
"Jangan bohong." Argan mulai meninggi.
"Tidak sayang."
"Mulai malam ini, tidurlah satu ranjang denganku. Aku tidak ingin kamu jauh dariku lagi."
"Baik tuan." jawabnya singkat.
'Kenapa mendadak berubah. Apa ada yang direncanakan?' Bergumam dalam hati, penuh tanya pada diri sendiri.
Argan memberikan ponselnya kembali pada Nadin. Dia sudah puas dengan memeriksa semua isi ponselnya.
"Yang membuat aku kesal, kau tidak menyimpan nomorku sama sekali. Aku tadi sudah memasukkannya ke dalam ponselmu, kau bisa mengeceknya sekarang."
Nadin membuka ponselnya dan melihat kontaknya banyak yang hilang. "Argan, kenapa kontak teman-temanku dihapus. Erna, Sisi, Yulis, Ghina kalau menghubungiku aku akan bingung, karena aku tidak hafal nomornya."
"Berani kamu protes padaku?"
"Mereka 'kan teman perempuan bukan laki-laki, aku hanya ingin tahu letak kesalahannya di mana?" Nadin bingung.
"Kesalahan mereka adalah menjadi Mak Comblang kamu, dengan pria yang pernah sekelas denganmu dulu. Apa mereka tidak tahu, kamu sudah punya suami."
"Mereka sibuk kuliah dan ada juga yang kerja Argan, makanya mereka tidak tahu. Pernikahan kita juga secara mendadak, dan tidak ada yang aku undang."
"Aku mau mandi dulu iya Argan, permisi." Nadin melangkahkan kakinya.
Tiba-tiba saja Argan menarik hijab Nadin. Dia merasa kesal mendengar ucapan yang pamit tiba-tiba.
"Argan lepaskan, jangan ditarik." ujar Nadin.
"Kamu itu salah, harus dihukum." Argan mencubit tangan Nadin.
"Apa yang salah?" tanya Nadin.
"Kamu mendadak pergi setelah aku cemburu, itu sangat salah." jawabnya.
"Maaf sayang, sini biar aku elus-elus dulu" Nadin geli akan ucapannya sendiri, namun tetap mengelus pipi Argan.
"Bagus, istri pintar." Argan melepaskan cubitannya.
Nadin segera melangkahkan kakinya mengambil handuk dan baju ganti, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Gemericik air terdengar dari sana. Tak berselang lama, dia keluar dari kamar mandi.
"Nadin, cepat ke sini." Argan menepuk-nepuk ranjang tidur.
Nadin segera mendekat, dan duduk di ranjang tidur. "Ada apa sayang?" tanya Nadin.
Nadin naik ke atas ranjang tidur dan duduk, lalu Argan memegang kepala Nadin dan berbisik. "Aku ingin kamu menunaikan hakku."
"Maaf sayang, aku tidak bisa."
"Kamu berani menolaknya?"
"Bukan seperti itu sayang. Apa kamu tidak tahu kebiasaan wanita setiap bulan?"
Argan berpikir sejenak, akhirnya dia mengerti.
”Ini terlalu cepat, aku belum siap. Aku juga tidak tahu, apa dia cinta atau tidak. Bisa saja ini obsesi sesaat.” batinnya.
"Sekarang, aku ingin merebahkan kepalaku di pangkuanmu." pinta Argan.
Nadin meluruskan kakinya, Argan segera rebahan. Tanpa terasa air matanya menetes, dia rindu pada sosok seorang ibu.
"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Nadin.
"Aku tidak apa-apa."
"Kalau kamu ingin bercerita, aku siap untuk menjadi pendengar yang baik." Menawarkan diri.
"Benarkah? Tapi aku rasa kamu tidak perlu menjadi pendengar yang baik untukku. Cukup kamu tidak berniat untuk pergi."
"Aku tidak ingin pergi, aku betah di rumah istana itu." Nadin tersenyum mengembang, keceplosan.
"Benar iya, kamu harus janji." Argan sudah bersemangat.
"Tidak janji si, karena kita menikah di atas perjanjian." ujar Nadin.
"Hmmm..." Argan hanya berdehem, membuat Nadin kecewa.
Padahal inginnya surat perjanjian dihapus, lalu menjalani pernikahan pada umumnya. Harapan itu ibarat seperti kaca terbang, bila ia terjatuh maka akan menjadi serpihan serbuk yang halus. Itu semua menyakitkan, melebihi goresan pisau.
Hana dan Komar sedang duduk bersama. Mereka memperbincangkan Nadin yang dinikahi konglomerat sejagat.
"Emak, Bapak takut Nadin tidak bahagia dengan menantu kita itu."
"Tapi mamak kemarin melihat mereka kompak. Saling menghargai satu sama lain."
"Yang terlihat belum tentu yang sebenarnya Mak." ucap Komar.
"Waktu itu bapak pernah bilang supaya mamak tidak perlu terlalu mencemaskan anak kita. Tapi sekarang kenapa malah bapak yang bersikap seperti ini?"
"Iya Mak, bapak lupa. Mungkin bapak khawatir karena melihat Mamak yang memanggilnya tuan."
"Emak memanggilnya tuan untuk menghormatinya saja. Dia juga orang yang baik, tanpanya masa depan anak kita akan hancur." ujar Hana.
Niken membanting gelas di dapur. Dia merasa dengki melihat Nadin diajak keluar negeri oleh Argan.
"Ah, aku benci dengan ini semua. Kenapa sahabatku yang sialan itu lebih beruntung."
Bibi Ingke dan bibi Ranti segera berlari ke dapur karena mendengar barang yang terjatuh.
"Kamu kenapa Niken kok banting-banting barang." tanya Ranti.
"Apa salah barang sama kamu?" timpal Ingke.
Niken geleng-geleng kepala dan memeluk mereka berdua. Dia tidak ingin mereka tahu bahwa dia sedang marah pada istri tuan muda.
"Aku merasa sedih Bi, karena teman-temanku menghinaku kalah saing dengan sahabatku. Dia selalu beruntung daripada aku."
"Kamu berdoa saja supaya nasib kamu juga bisa menjadi lebih baik." Bibi Ingke menasehati.
"Benar itu Niken, jangan biarkan kamu terpuruk dalam kondisi yang buruk. Nanti kamu bisa menjadi dengki dengan sahabatmu karena omongan orang" tambah bibi Ranti.
'Curhat dengan mereka sama saja bohong. Dasar pelayan kampungan, tidak ada keren-keren. Bahkan usulan idenya saja membuatku muak. Ntah kenapa aku semakin menjadi-jadi untuk menghancurkan Nadin' Gumam Niken di dalam hati.
Dengki itu ibarat engkau memakan nangka, namun berharap orang lain yang kena getahnya. Dengki juga ibarat kau meminum racun, namun berharap orang lain yang tergeletak mengenaskan.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂