NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reruntuhan Negeri Dermawan

Dari kejauhan, penduduk negeri itu sudah melihat langit berubah menjadi hitam karena kepulan asap dan bayangan naga-naga api yang mendekat. Meskipun sang Raja dermawan kembali mencoba menggalang kekuatan rakyatnya, kali ini perlawanan mereka terasa sia-sia. Begitu pasukan Atlas tiba, Naga Api langsung memuntahkan lidah-lidah api dari langit, membakar lumbung pangan dan rumah-rumah penduduk dalam hitungan detik

Hanya dalam waktu singkat, pertahanan yang sebelumnya begitu kokoh hancur berantakan. Para Minotaur menghantamkan gada raksasa mereka ke gerbang-gerbang kota hingga hancur berkeping-keping. Panglima Delta memimpin serangan dengan keganasan yang berkali-kali lipat lebih besar. Ia tidak lagi peduli pada strategi; ia hanya ingin menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi jalannya. Setiap pejuang yang mencoba melawan langsung tewas di bawah kaki-kaki Centaur atau dihancurkan oleh kekuatan fisik Minotaur.

Namun, di tengah kemenangan telak itu, Panglima Delta merasa kecewa. Serangan yang begitu destruktif menyebabkan banyak penduduk tewas terbakar atau tertimbun reruntuhan bangunan mereka sendiri. Saat asap mulai menipis dan pertempuran berakhir, ia menyadari bahwa hanya sedikit penduduk yang bisa dibawa kembali ke Atlas dalam keadaan hidup. Sebagian besar rakyat yang tersisa lebih memilih untuk mati di dalam rumah mereka yang terbakar daripada menjadi budak di tangan musuh.

Delta hanya berhasil mengumpulkan segelintir budak—sebagian besar adalah mereka yang sudah terlalu lemah untuk melawan atau anak-anak yang kehilangan orang tua mereka. Sang Raja dermawan sendiri ditemukan tewas di tengah reruntuhan istananya, masih memegang pedangnya yang patah. Dengan perasaan yang tidak sepenuhnya puas karena jumlah budak yang didapat sangat sedikit dibandingkan dengan besarnya pasukan yang ia bawa, Delta memerintahkan pasukannya untuk segera bergerak kembali ke Atlas.

Ratu Layla berdiri di gerbang utama istana saat ia melihat pasukan besar itu kembali. Meskipun langit di atas Atlas masih tampak agung, ia bisa merasakan aura kegelapan yang dibawa pulang oleh pasukannya. Namun, saat ia melihat barisan budak yang dibawa oleh Delta, wajahnya seketika berubah menjadi muram. Budak-budak itu tampak sangat sedikit dan dalam kondisi yang mengenaskan; pakaian mereka compang-camping, tubuh mereka berlumuran abu, dan mata mereka memancarkan kehampaan yang dalam. Ini jauh dari apa yang ia bayangkan saat memberikan izin untuk mengerahkan seluruh kekuatan militer.

"Hanya ini?" tanya Ratu Layla saat Delta berlutut di hadapannya, melaporkan kehancuran kerajaan seberang. Suaranya terdengar dingin dan tajam, membuat suasana di gerbang istana menjadi tegang. Delta mencoba menjelaskan betapa gigihnya perlawanan mereka hingga banyak yang lebih memilih mati, namun Layla mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar ia diam. "Aku tidak peduli seberapa banyak dari mereka yang mati. Yang aku inginkan adalah mereka yang hidup untuk bisa aku hancurkan jiwanya." Ia mendekati salah satu budak, seorang pemuda yang menatapnya dengan kebencian yang masih tersisa, lalu ia menamparnya dengan keras hingga pemuda itu tersungkur ke tanah.

Tanpa membuang waktu lebih lama, Ratu Layla memerintahkan para pengawalnya untuk segera bertindak. "Ikat mereka semua dengan rantai besi yang paling berat! Jangan beri mereka kesempatan untuk bernapas lega!" perintahnya dengan nada kejam. Para Minotaur yang bertugas sebagai penjaga gudang segera maju, menyeret para budak baru itu dengan kasar. Tangan dan kaki mereka dibelenggu dengan rantai yang bergemerincing nyaring di sepanjang koridor istana. Layla mengikuti proses penggiringan itu dengan tatapan puas yang dingin,

Para budak itu digiring masuk ke dalam gudang bawah tanah yang luas, tempat yang sama di mana Layla sebelumnya melihat para tawanan saling berkelahi demi makanan. Pintu besi raksasa yang tebal ditutup dengan dentuman keras, mengunci mereka di dalam kegelapan yang pengap dan penuh bau busuk. Ratu Layla berdiri di depan pintu itu sejenak, mendengarkan isak tangis dan suara rantai yang beradu di dalam sana. Meskipun jumlah mereka sedikit, ia bertekad untuk membuat setiap detik kehidupan mereka di dalam gudang itu menjadi neraka yang paling nyata,

Malam di Kerajaan Atlas Ratu Layla berada di balkon pribadinya, menatap cakrawala dengan perasaan puas yang bercampur dengan sisa-sisa kegelisahan. Penyihir Petir berdiri tidak jauh di belakangnya, memegang tongkatnya erat-erat karena merasakan getaran aneh dari dalam tanah.

Getaran itu halus, namun frekuensinya terus meningkat, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang menggali jalan menuju permukaan tepat di bawah fondasi kemegahan Atlas.

Tiba-tiba, suara dentuman keras yang merobek bumi terdengar dari arah alun-alun istana. Tanah retak dan hancur, memuntahkan makhluk-makhluk mengerikan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Segerombolan kalajengking raksasa, dengan cangkang hitam mengkilap setebal baja dan capit yang mampu menghancurkan pilar batu, merangsek keluar dari dalam tanah. Ukuran mereka sebesar rumah kecil, dan ekor mereka yang berbisa melengkung tinggi, siap menghujamkan maut. Pasukan Centaur yang sedang berjaga tidak sempat bereaksi ketika salah satu kalajengking raksasa itu menyabetkan capitnya, membelah zirah dan tubuh mereka dalam satu gerakan cepat. Kekacauan meledak seketika di jantung pertahanan Atlas.

Panglima Delta, yang sedang berada di barak, segera berlari menuju pusat keributan dengan pedang terhunus. Ia berteriak memanggil pasukan Minotaur dan memerintahkan para penunggang Griffon untuk menyerang dari udara. Namun, kalajengking-kalajengking ini seolah memiliki kecerdasan kolektif yang mengerikan. Mereka tidak hanya menyerang secara acak; sebagian dari mereka membentuk barisan pertahanan untuk menahan pasukan Delta, sementara yang terbesar di antara mereka bergerak lurus menuju menara tempat Ratu Layla berada. Naga Api mencoba menukik turun untuk menyemburkan api, tetapi kalajengking-kalajengking itu menyemprotkan cairan asam dari mulut mereka yang mampu memadamkan api dan melukai sayap-sayap naga tersebut.

Ratu Layla berdiri terpaku di balkonnya, matanya membelalak melihat makhluk raksasa itu memanjat dinding istana dengan kecepatan yang mustahil. Penyihir Petir mencoba merapal mantra, melepaskan kilatan petir biru yang menyambar cangkang makhluk itu, namun sihir tersebut hanya meninggalkan bekas hangus kecil tanpa menghentikan gerakannya. Dengan satu hantaman capit yang masif, balkon marmer tempat Layla berdiri runtuh. Sebelum sang Ratu sempat terjatuh atau melarikan diri, ekor kalajengking raksasa yang paling besar melilit pinggangnya dengan gerakan yang sangat presisi,

Panglima Delta berteriak liar saat melihat Ratu Layla berada dalam cengkeraman makhluk itu. Ia mencoba menerjang maju, membabat kaki-kaki berbulu kalajengking yang menghalanginya, namun jumlah mereka terlalu banyak. Kalajengking yang membawa Ratu Layla mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga, sebuah sinyal bagi kawanannya untuk mundur. Dengan sang Ratu yang meronta-ronta dalam lilitan ekornya, makhluk itu kembali menuju lubang besar di tengah alun-alun. Dalam sekejap, kalajengking-kalajengking itu menghilang kembali ke dalam kegelapan bawah tanah, membawa pergi penguasa tertinggi Atlas dan meninggalkan istana dalam keadaan hancur, penuh dengan bau asam dan keputusasaan yang baru saja dimulai.

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!