Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI BERSAMANYA
Duhai cintaaku sayaaaangku leepaskanlaah
perasaanmu rinduumu sluruuuh cintamu
yang kini haaaanya aaada aku dan diriimu sesaat di keabadiaannn
Salah satu lagu penyanyi indonesia mengalun dengan indah digendang telinga Bram, laki-laki itu memutar musik dalam mobilnya. Hiburan agar tidak jenuh menunggu Sinta.
brak
Pintu mobil itu tertutup dengan keras, Bram melihat Sinta yang keluar dari kantor itu dan langsung berlari. Untung saja laki-laki itu jeli melihat kearah luar, Bram menarik baju belakang Sinta dan memeluk pinggang perempuan itu lalu berjalan mundur.
"Lepaskan aku Bram aku mau pulang!"
"Pulang bersama denganku."
Sinta tidak membantah lagi, dia hanya menurut. Setelah keduanya sudah berada dalam mobil dan Bram yang terus menanyakan dimana rumah perempuan itu, Sinta hanya diam bingung apakah keputusan memberitahu dimana tempat tinggalnya akan membuat kekacauan dimasa mendatang atau tidak.
"Kalau kamu tidak menjawab berarti kita akan terus berada dalam mobil ini," Sinta menoleh tidak habis pikir dengan pemikiran Bram, ada saja yang bisa membuat Sinta lagi-lagi harus menyerah. Dengan pasrah Sinta memberi tahu dimana letak kontrakannya, Bram mengangguk dan mengucap mengerti.
Sinta merasa perjalanan pulang sangat lama, dia juga tidak menemukan tanda-tanda arah jalan pulangnya, Bram yang menyadari gelagat bingung Sinta akhirnya berbicara.
"Aku tidak akan membawa kamu pulang sebelum kamu menjelaskan semuanya."
"Apa lagi yang harus dijelaskan Bram?" Sinta menolehkan wajahnya kearah Bram, pria itu memutar matanya seolah jengah.
"Kenapa kamu menghindariku?
Sinta kali ini menghadap keluar kaca dia melirik Bram dari ekor matanya, laki-laki itu masih fokus menyetir.
"Aku tidak merasa begitu."
"Benarkah?"
"Menurutmu."
"Tidak perlu bohong Sinta aku tahu kamu menjauh dari aku bahkan sampai rela pergi dari apartemen."
"Itu hanya perasaanmu saja Bram."
Laki-laki itu tidak mendesak lagi seolah memberi ruang untuk Sinta, perempuan itu pasti belum mau memberi tahu alasan kenapa menghindarinya. Tidak apa bagi Bram yang terpenting perempuan itu sudah berada disampingnya sekarang, Bram mengendarai mobilnya menuju tempat tinggal Sinta yang baru. Perempuan itu seperti tidak mau berbincang lagi, keheningan terus menyelimuti keduanya sampai mobil Bram sampai dihalam rumah kecil itu. Sinta turun lebih dulu, Bram mengamati tempat itu sangat kecil dan sederhana.
"Aku pulang."
Sinta menaruh tas nya diatas meja ruang tamu, dia mencuci tangan didapur lalu membuatkan Bram segelas kopi. Laki-laki itu sudah masuk dan tengah duduk diruang depan itu, Sinta meletakkan kopi hitam manis itu tepat didepan Bram, bokong indahnya ikut duduk didepan si laki-laki. Sinta menatap kosong meja didepannya.
"Jangan melamun!" telapak tangan Bram mengusap wajah ayu Sinta, menyadarkan janda itu dari lamunan semu.
"Terima kasih sudah mengantarku, minum dulu kopinya dan sebaiknya kamu pulang Bram."
"Aku sudah pulang," laki-laki itu menampilkan cengiran, Sinta menatap tajam kepada sang pemilik suara besar itu.
"Aku tidak bercanda Bram disini hanya ada dua kamar yang satu untuk Siti."
"Kalau begitu aku tidur disini," Bram meminum kopi buatan Sinta lalu menyenderkan punggungnya kebelakang.
Perempuan itu meninggalkan Bram sendiri, dia masuk kedalam kamarnya yang tidak berpenghuni. Dia lalu keluar lagi dan membuka pintu kamar Siti, disana James dan pengasuhnya sedang saling tiduran. Sinta mendekat dan mendapati Siti tengah terlelap, diambilnya James dalam gendongan ringan lalu keluar dari kamar Siti. Bram yang melihat James langsung berdiri, Sinta tidak memberikan anaknya kepada Bram yang hendak menggendongnya.
"Tanganmu kotor," Bram mendengus mendengar alasan Sinta, laki-laki itu berjalan kedapur dan mencuci tangan disana.
Tidak lama Bram kembali dan dengan cepat mengambil James, bayi itu tidak menangis dia setengah sadar karena tadi Sinta memang mengambilnya ketika James tidur.
"Dia semakin gembul ya," Bram menimang-nimang James dalam tangan besarnya, laki-laki itu berdiri disebelah Sinta. Mata bayi itu sudah tertutup sempurna sekarang, Sinta yang melihatnya ingin mengambil James untuk ditidurkan, Bram memindahkan James kedalam gendongan Sinta. Laki-laki itu menatap keduanya ketika berlalu kedalam kamar.
"Aku lapar," Bram sudah berdiri didepan pintu kamar Sinta rupanya ibu dari James itu sudah mandi.
"Mau makan apa?" Sinta melangkah kedapur kecil dirumahnya, Bram mengekori dengan sabar langkah kecil itu.
"Apapun aku mau."
Sinta membuka kulkas dan hanya ada bahan untuk membuat sayur asem, dia tidak yakin kalau laki-laki yang sedang memegangi perutnya akan menyukai masakan itu.
"Disini hanya ada bahan sayur asem dan ikan."
"Tidak apa, buatkan saja!"
Bram keluar dari sana, Sinta menopang dagunya seolah mengingat sesuatu. Ternyata sup iga yang sempat dia bungkus tertinggal dikantor, seandainya dia tidak lupa mungkin dengan memanaskan sebentar masih bisa dimakan. Tapi ya sudahlah, dia menyiapkan semua bumbu-bumbu untuk memasak sayur asem, tangan mungilnya dengan telaten menghaluskan bumbu itu. Setelah dirasa halus dia beralir untuk membersihkan sayur-sayur tadi, tidak lama air yang tadi sudah Sinta masak akhirnya mendidih dimasukkan semua bumbu dan sayur kedalamnya. Dia menutup wajan kecil itu, sembari menunggu matang dia mengambil ikan yang sudah dibaluri dengan bumbu, minyak yang tadi sudah disiapkan juga sudah panas. Sinta melakukan aksi masak itu dengan mahir dan telaten, tidak lama semuanya telah matang. Meja makan itu sudah terisi dengan pantas, Bram disana diruang tamu tengah memainkan ponselnya. Sinta menghampiri Bram dan mengajak laki-laki itu untuk segera makan, posisi mereka sangat pantas disebut pasangan suami istri. Sangat harmonis, Sinta dan Bram makan dalam hening. Perempuan itu selesai lebih dulu, Bram masih mau menambah nasi dan ikan goreng. Sinta tersenyum melihat Bram yang makan dengan lahap.
"Masakanmu memang enak, aku suka."
Sinta tidak menjawab, dia menatap laki-laki itu bersama pipinya yang bersemu merah.
"Kenapa tidak tinggal bersama Mama kamu?" Bram meminum air putih ketika makanan dipiringnya habis, Sinta membenahi piring bekas mereka mencuci dengan pelan piring kotor itu.
"Sebenarnya aku sempat tinggal disana."
"Tetapi?"
"Ceritanya panjang."
"Aku akan terus mendengarnya," Bram menarik sinta untuk duduk kembali diruang tamu.
Keduanya saling menatap, Sinta dengan pandangan sayunya sedangkan Bram tersenyum lewat matanya. Elusan halus dapat Sinta rasakan dipunggung tangannya, Bram mengangkat tangan Sinta diudara dikecupnya tangan mungil itu, Sinta menarik tangannya agar terlepas dari Bram dan laki-laki itu hanya terkekeh.
"Ayo ceritakan Sinta aku masih mau mendengarnya."
Perempuan itu menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh dari Bram, dia menerawang kelangit-langit rumahnya.
"Kamu masih ingat dengan laki-laki yang waktu itu datang ke apartemenku?" Bram mengangguk.
"Dia melamarku," Bram sedikit terkejut, namun hanya sebentar dia menampilkan raut kagetnya.
"Bagaimana jawabanmu?"
"Aku bahkan belum menjawabnya, Mama sudah dulu menerima lamaran itu rasanya aku sangat marah dan besoknya langsung pergi dari rumah Mama," Bram tersenyum lega, ternyata memang Sinta pasti akan menolak laki-laki itu.
"Aku mengerti sekarang."
"Sudah malam, apa kamu belum mau pulang?"
"Pulang kemana Sinta aku bahkan sampai tadi pagi di Bandung."
"Kalau begitu aku hanya mempunyai sofa keras ini," Sinta menepuk-nepuk sofa disebelah Bram, laki-laki itu mengangguk. Setelahnya Sinta masuk kedalam kamar, Bram memposisikan dirinya diatas sofa yang ukurannya terasa pas di tubuh panjang dan besarnya.
Sinta mencari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh laki-laki itu, tidur diluar pasti sangat dingin. Hampir lima belas menit berlalu tetapi dia tidak menemukan apapun, akhirnya Sinta menarik satu-satunya selimut yang biasa dia pakai, keluar dari kamarnya lalu menghampiri Bram.Laki-laki itu sudah tertidur dengkuran halus dapat Sinta dengar dengan jelas, dia menyelimuti seluruh tubuh Bram. Dipandangnya wajah menenangkan itu rasanya Sinta seperti sedang bermimpi, laki-laki yang telah berhasil mencuri perhatiannya kini benar berada didepannya, tangan mulus Sinta tergerak untuk mengelus surai hitam Bram. Laki-laki itu tidak terganggu, Sinta merasakan hangat dan menyelimuti sekitarnya. Seolah enggan untuk beranjak dari sofa itu dan masuk kedalam kamarnya, James yang sedari tadi sudah tertidur sayup-sayup terdengar suara tangisannya. Mendengar itu Sinta langsung berlari menuju James, dia membopong bayi itu yang ternyata merasa risi karena buang air. Dengan tanpa jijik Sinta mengganti popok anaknya, bayi itu memang sudah tidak menangis. Sinta menyusui James agar tertidur lagi, tubuh perempuan cantik itu mulai menyusui James.
***
Mentari seolah muncul lebih awal dipagi ini, Sinta sudah terbangun dan sedang membuat sarapan. Bram yang tadi malam tidur disofa sudah satu jam yang lalu terbangun, laki-laki itu kini tengah memangku James yang sedang menonton acara kartun kesukaannya di televisi. Sinta bersama Siti yang tengah mencuci baju James.
"Mas Bram datang jam berapa Bu Sinta?" Siti menanyakan satu hal yang sangat mengganjal dibenaknya.
"Sekitar jam enam tadi malam," Siti yang ingin bertanya-tanya lagi mengurungkan niatnya karena takut dikira mencampuri urusan Sinta.
Perempuan cantik itu sudah selesai membuat nasi goreng, menu sarapan kesukaannya. Sinta menaruh dua piring ke atas meja makan, setelah itu dia menghampiri James dan Bram yang sedang berada pada dunianya masing-masing.
"James memang selalu anteng ketika bersamamu," Bram menarik Sinta untuk duduk lebih dekat dengan dirinya dan James, perempuan itu mengambil posisi disebelah kiri laki-laki itu. Tangan kiri Bram memeluk pinggang Sinta, sedangkan yang satunya memegangi tubuh kecil James agar tetap seimbang dalam pangkuannya.
"Apa kamu tidak pergi bekerja?"
"Ini hari minggu kamu lupa?" Sinta menatap Bram tidak percaya, laki-laki itu seperti berfikir dengan keras untuk membenarkan omongan Sinta. Setelah mendapat jawabannya Bram tersenyum karena akan mendapat waktu yang lama bersama perempuan itu, Sinta tidak pergi bekerja dan pasti akan berdiam diri dirumah.
"Ayo sarapan James biar bersama Siti," Sinta menggendong James yang hendak protes karena tontonannya sudah tidak terlihat dipandangannya, bayi itu menghentak-hentakan kakinya diudara. Siti sedang menjemur pakaian diluar, ditunggunya pekerjaan Siti selesai dan Sinta memberikan James kepada pengasuhnya.
"Aku akan sarapan lebih dulu, nanti Mbak menyusul ya."
"Baik Bu Sinta."
Langkah anggun itu melangkah lagi kedalam rumahnya, Bram sudah duduk lebih dulu diruang makan. Sinta mengambil dengan telaten sepiring nasi goreng itu, dia juga menaruh satu gelas air putih untuk Bram. Setelah menyiapkan untuk laki-laki disebelahnya perempuan itu mengambil bagiannya sendiri, Bram mulai memakan sarapannya disusul dengan Sinta yang makan dengan anggun.
"Sinta aku tidak membawa baju ganti nanti siang temani aku ke mall ya."
"Kenapa tidak sendiri saja?" perempuan itu menjawab tanpa menoleh ke wajah lawan bicaranya.
"Aku akan membawa James juga," Sinta bersungut mendengar niat baik Bram untuk membawa anaknya pergi keluar.
"Baiklah."
Sinta dan Bram terus menikmati sarapannya, laki-laki itu selesai lebih dulu kali ini. Dia mengambil bungkus rokoknya dan itu tidak luput dari pandangan Sinta.
"Jangan merokok disini duduklah diteras aku akan membuatkanmu kopi!" setelah mengatakan itu Sinta berdiri membawa piring kosong itu, Bram juga ikut berdiri menuju teras. Tidak berselang lama Sinta sudah datang dengan membawa segelas kopi.
"James biar saya yang menggendong Mbak sarapan dulu saja," Siti mengangguk dan memberikan James kepada ibunya, Sinta tetap berdiri disana dia menatap Bram yang masih asyik menikmati asap rokok itu.
"Duduklah disini Sinta," Bram menepuk kursi sebelahnya.
"Matikan dulu rokokmu kasihan James," seolah mengerti maksud Sinta Bram membuang putung rokok yang sudah hampir habis itu ke rumput-rumput yang basah karena terkena embun, setelah asapnya habis barulah Sinta duduk disebelah Bram.
Jari teluntuk Bram menusuk-nusuk pelan pipi gembul James, bayi itu tidak menggubris dia sedang asyik memainkan kancing baju ibunya, Sinta mengelus pelan kepala James.
"Tidak terasa James sudah bisa menyentuh sesuatu didekatnya ya."
"Dia seperti sangat cepat besar."
"Aku tidak bisa lepas dari pandanganku dia sangat mirip dengan Kelvin," Sinta memutar bola matanya malas, lagi-lagi Bram memberitahu hal itu lagi.
"Oh ya Sinta, kemarin mantan suamimu itu sempat menyuruhku untuk membawa James kepadanya."
"Bagaimana bisa?" Sinta meggeser tubuhnya agar lebih tepat berada didepan Bram.
"Aku bertanya kepada dia dimana alamat rumah Mama kamu tetapi dia mengajukan syarat gila itu."
"Lalu?"
"Jelas aku menolaknya."
"Syukurlah, aku fikir kamu akan dengan licik membawa James nanti," Sinta memicingkan matanya Bram hanya membalas dengan cubitan di pipi Sinta.
"Mana mungkin aku setega itu."
"Pokiran manusia siapa yang tahu bukan?"
"Aku ke Bandung hanya untuk menemuimu mana mungkin aku akan berbuat jahat kepada bayi menggemaskan ini," kini mata Bram bertemu dengan mata bening James, bayi itu tertawa kegirangan hanya dengan bertatapan dengan pria dewasa itu. Sinta terheran setengah mati kepada anaknya yang selalu terbuai dengan tatapan tajam dari Bram, sama seperti dirinya.
"Kamu bekerja disana sudah lama?"
"Baru empat hari ini."
"Sebelumnya pernah melamar dimana?"
"Aku hanya melamar sekali dan itu langsung diterima."
"Perempuan ku memang hebat ya," Bram menatap Sinta dengan mata genit, Sinta tertawa sambil memukul lengan James yang tidak terasa apa-apa bagi laki-laki itu.
"Apa kamu tidak mau kembali lagi ke Jogja?"
"Aku sudah nyaman disini sekarang."
"Kalau hanya untuk sekedar berkunjung?"
Sinta terdiam seperti memikirkan pertanyaan Bram dengan serius.
"B-boleh," Bram menatap dalam manik hitam Sinta, laki-laki itu mencoba mencari rasa hangat dan cinta dalam mata perempuan itu, Sinta yang ditatap tajam Bram hanya bisa menundukkan wajahnya mengalihkan perhatiannya kepada James.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih