Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Berubah
Bab 35
Berubah
Tiga bulan berlalu, namun waktu seolah berhenti berputar bagi Dika dan Novia. Dunia tetap berjalan dengan semestinya, tidak peduli dengan luka yang menganga di hati mereka.
Dika semakin tenggelam dalam kesunyian setelah kepergian Lyra. Sebelumnya, ia tidak pernah pulang ke kota selama lebih dari dua bulan, beralasan sibuk padahal mencari Lyra di setiap kesempatan yang ada. Novia dan Ibra selalu menjadi prioritas kesekian. Sampai beberapa hari yang lalu, ia mendapat telepon dari Novia yang mengabarkan bahwa Ibra jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Barulah hatinya tergerak untuk pulang, meskipun hanya karena merasa bersalah.
"Assalamualaikum..." sapa Dika dengan nada datar, tidak ada kehangatan seperti dulu ketika ia pulang dengan senyum merekah.
"Wa'alaikumsalam, Mas..." jawab Novia dengan suara hambar, tapi tetap mencoba tersenyum menutupi rasa sakit dan kecewa yang kembali menggerogoti hatinya. Mereka berdua berusaha keras untuk tetap menjalankan peran sebagai suami istri, meskipun cinta dan kebahagiaan mungkin sudah mulai sirna dari rumah tangga mereka.
Novia mengambil tas besar dari tangan Dika, merasakan beratnya beban yang selama ini ia pikul sendirian. Ia bertanya dengan nada hati-hati, "Ini apa Mas?" berharap ada sedikit basa-basi atau penjelasan dari Dika, namun ia tahu jawabannya sebelum Dika mengatakannya.
"Pakaian kotor," jawab Dika singkat, tanpa menatap Novia, seolah ia sedang berbicara dengan orang asing.
Deg.
Jantung Novia berdebar nyeri. Benar, ia sudah mengira hal ini. Dulu, saat masih ada Lyra, Dika tidak pernah membawa tas berisi pakaian kotor pulang. Sekarang, setelah wanita itu pergi, Dika kembali membawa pulang sisa-sisa perselingkuhannya, seolah menghina dan merendahkan dirinya.
Tanpa bertanya lagi, Novia membawa tas berisi pakaian kotor itu ke belakang rumah, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Kemudian, ia kembali ke ruang tamu untuk menghadapi Dika lagi, memasang senyum palsu demi menutupi luka di hatinya.
Namun, Dika sudah tidak ada di sana. Rupanya, suaminya itu sudah merebahkan diri di tempat tidur, memejamkan mata seolah tidak ada yang terjadi. Ini bukan kebiasaan Dika yang dulu, ini kebiasaan baru yang ia bawa dari akhir perselingkuhannya.
"Mas, aku mau ke rumah sakit. Malam ini, bagianku menjaga Ibra. Ibu dan Kak Desi pasti sudah lelah di sana sejak pagi. Apa Mas mau ikut? Atau Mas mau beristirahat saja di sini?" tanya Novia dengan nada lembut seperti biasanya, meskipun hatinya menjerit menahan sakit. Ia sudah mengatur emosinya sejak beberapa bulan terakhir, berusaha mempertahankan rumah tangganya demi Ibra, agar anaknya tetap mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.
"Di sini saja. Besok pagi, biar aku yang menjaga Ibra," jawab Dika tanpa membuka mata, seolah enggan untuk bertemu dengan putranya.
Jawaban Dika menghancurkan harapan Novia. Ia berharap, dengan kedatangan Dika, Ibra akan merasa lebih semangat dan cepat sembuh. Namun, Dika tampak masih belum bisa melepaskan Lyra, selingkuhannya.
"Mas, kenapa?" tanya Novia lembut, namun matanya menyorotkan kesedihan. Ia masih berdiri di ambang pintu, menatap Dika yang berbaring memunggungi arah pintu.
Dika menoleh, membalas tatapan Novia dengan pandangan lelah dan dingin. "Aku lelah, Novia. Aku capek bekerja terus menyetir ke sini," jawabnya dengan suara datar tanpa ekspresi.
"Mas, kita berumah tangga bukan baru sebulan dua bulan saja. Aku tahu kebiasaan Mas, aku hafal sikap Mas. Tapi... Mas berubah. Mas dulu nggak pernah mengeluh setiap pulang, selalu semangat bertemu Ibra. Ada apa?" tanya Novia dengan nada lirih, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Sudah kubilang aku capek, Novia! Apa kamu tidak dengar?!" bentak Dika tiba-tiba, suaranya naik satu oktaf, memecah keheningan kamar.
Novia tersentak kaget, tangannya meremas ujung pakaian yang ia kenakan. Hatinya semakin hancur mendengar bentakan Dika. "Ibra sakit, Mas, seharusnya kamu..."
"Aku tahu Ibra sakit!" potong Dika. "Jangan mengaturku!" bentak Dika lagi, suaranya semakin keras, menunjukkan kemarahannya yang selama ini terpendam. "Aku pasti menemuinya besok! Paham?!"
Dika berbalik badan, tepat ketika air mata Novia jatuh ke pipi. Hatinya sakit dan terluka. Padahal ia mencoba untuk bertahan, tapi rupanya Lyra telah memenangkan hati suaminya seutuhnya.
Novia melangkah pergi. Mengambil tas kecilnya di meja makan yang berisi dompet dan handphonenya, lalu meraih kunci motor di dinding. Ia menggunakan helm yang tersusun rapi di rak, kemudian pergi tanpa pamit.
Tak ada makan malam yang di siapkan Novia seperti biasanya ketika Dika pulang. Ia berpikir mereka akan berjaga bersama malam ini di Rumah Sakit, dan akan membeli makanan di luar, sehingga ia tak perlu memasak. Tapi ternyata perkiraannya salah. Dika sudah berubah, tak lagi sama dengan Dika yang ia kenal sebelumnya.
Novia terdiam, membeku di tempatnya. Bentakan Dika bagaikan cambuk yang mencambuk hatinya yang sudah terluka. Ia merasa lelah dan putus asa. Hatinya sakit karena pengkhianatan Dika, dan ia harus menutup mata terhadap luka itu demi Ibra. Namun, sikap Dika semakin membuatnya kecewa, semakin mengikis cintanya yang dulu begitu besar. Ia terpaksa menahan semua rasa sakit itu, hidup bersama lelaki yang telah menghancurkan kepercayaan dan hatinya. Ia bertanya-tanya dalam hati, mampukah ia bertahan lebih lama lagi? Mampukah ia mempertahankan rumah tangga ini, ataukah ia harus merelakan semuanya demi kebahagiaannya sendiri?
-
-
-
Dika bangkit dari tempat tidurnya dengan gerakan kasar. Ia duduk di tepian ranjang, menunduk dalam, memegangi kepalanya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pahanya. Pikirannya berkecamuk, dipenuhi oleh penyesalan, kerinduan, dan kebingungan.
"Kenapa aku jadi seperti ini?" gumam Dika lirih, berbicara pada dirinya sendiri. Ia merasa frustrasi dengan perasaannya yang tak terkendali, dengan obsesinya pada Lyra yang semakin kuat. "Padahal, Novia tidak tahu apa-apa. Dia tidak bersalah apa-apa. Dan aku telah menyakitinya, mengkhianatinya. Tapi... Ah, Lyraaa..."
Dika menghela napas panjang, sekalipun ia meraaa bersalah, bayang-bayang Lyra selalu hadir membuatnya semakin rindu dan melupakan rasa bersalahnya.
"Haaah... Lyra... kamu di mana? Aku bisa gila tanpamu. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu," bisiknya putus asa. "Kembalilah, Lyra... Aku akan melakukan apapun untukmu. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu, bahkan jika itu harus meninggalkan anak dan istriku."
Dika semakin frustasi.
"Haruskah aku mencari mu di kota kelahiran mu?"
Pikiran Dika mulai merencanakan untuk mencari Lyra di kota asalnya, Pulau Sumatra. Pulau yang pernah di landa banjir bandang beberapa tahun silam, dan merengut ratusan ribu nyawa hanya dalam sehari.
Dika melihat kalender di ponsel pintarnya, menghitung jadwal kerjanya, lalu kembali merebahkan diri dengan posisi kaki menjuntai ke lantai. Lengannya menutupi matanya yang terkena cahaya lampu dengan pikiran kusut, sekusut rasa rindu yang tidak bisa ia lampiaskan.
-
-
-
Bersambung...
Notes : Ceritanya emang nggak mengebut ya, aku pengen alur santai dan tetap stabil. Jangan lupa like, oke...