NovelToon NovelToon
'Ahlaan Zawjati

'Ahlaan Zawjati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Komedi
Popularitas:282.6k
Nilai: 5
Nama Author: Naja

Berhijrah terkadang bukan perkara yang mudah, apalagi bayang kelam masa lalu bak sebuah benalu yang menggerogoti hati. Tak jarang membuat keyakinan merosot kembali.

Keinginan untuk menjadi lebih baik, terkadang di bumbui sebuah kesempurnaan. Bak
setiap pria yang mendambakan seorang istri sempurna, pun seorang perempuan mendambakan seorang suami yang sempurna. Namun terkadang keduanya tidak menyadari kalau mereka di ciptakan untuk saling menyempurnakan.

Inilah sebuah kisah. Perjalanan penuh Lika liku, mendambakan sebuah kesempurnaan untuk mencapai sebuah kebahagiaan.

Tidak pernah menyadari, berdiam di Zona nyaman sebuah kesempurnaan dan kebahagiaan, membuat hati buta.


Telat menyadari kalau kebahagiaan bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun bahagia, milik dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Sudah hampir setengah jam Alika masih berada di dalam sana. Belum ada tanda tanda kalau dokter ataupun perawat akan keluar untuk memberitahu keadaannya.

Ali terduduk lemas. Pukulan dan perkataan Ansell benar benar menjatuhkan harga diri nya.

Iya Alika istrinya. Wanita yang sepenuhnya berada dalam tanggung jawabnya. Dia sudah berusaha melindungi, menafkahi dan menyayangi Alika sepenuh hatinya. Namun rasanya semua pengorbanan itu sia sia. Dia telah gagal menjadi seorang suami sampai mendapatkan teguran keras dari orang yang lebih menyayangi istrinya.

"Maafkan aku Dek. Bang Ansell memang pantas marah dan kecewa pada ku. Aku harap Adek akan baik baik saja agar aku tidak merasa bersalah." Hati Ali bagi tersayat. Akankah dia bisa kembali mendapatkan kepercayaan Ansell, atau malah sebaliknya?

"Ya Allah ini semua kuasa Mu, ini semua kehendak Mu. Ku serahkan semuanya pada Mu."

...*...

Ansell dan Zahra duduk bersebelahan.

Dari luar memang terlihat bisa, namun atmosfer di sana terasa berbeda.

"Dek....!"

Walau tangan terus bermain dengan Afham. Ansell dari tadi terus merayu Zahra agar istrinya itu mau memaafkannya.

Zahra memang menjawab setiap panggilan Ansell, bahkan tersenyum setiap mereka saling bertatapan. Tapi Ansell masih merasakan aura yang berbeda, kalau sebenarnya Zahra marah pada nya.

"Dek, maaf."

Entah yang kesekian kalinya kata itu terus terlontar dari bibir Ansell.

Ansell begitu ketakutan kalau Zahra akan terus membencinya, sampai ia melupakan apa akar kesalahannya dan permintaan maaf itu seharusnya lebih dulu harus ia lontarkan pada siapa.

"Dek...." Ansell rasanya lupa dengan keadaan Alika. Karena terlalu takut kalau Zahra benar benar membencinya.

"Tenangkan dulu hati Kak Ansell. Kita tunggu keadaan Alika. Dan kita berdoa semoga Alika baik baik saja.

Jika merasa bersalah dan menyesal. Maka jangan pernah mengulangi kesalahan lagi. Dan berusahalah memperbaiki semuanya."

Sebenarnya Zahra pun tidak mau semakin memperburuk keadaan Ansell jika terus mendiamkannya. Jujur Zahra pun begitu kasihan melihat keadaan Ansell yang begitu frustasi mengkhawatirkan keadaan Alika. Namun dia harus lebih tegas agar Ansell tidak kembali mengulangi kesalahannya.

"Baik Dek. Aku akan memperbaiki semuanya. Jadi ku mohon! Jangan mendiamkan ku seperti ini." Ansell bagai tidak bisa berkutik di depan Zahra.

Ia bergegas mengalihkan Afham ke pangkuan istrinya.

"Afham sayang, jaga Umie ya! Abie tinggal sebentar."

Ansell mengelus kepala Afham. Dan berakhir mengecup kening Zahra.

Dia beranjak berdiri. Daripada terus duduk gelisah menunggu kabar keadaan Alika. Lebih baik dia memperbaiki kesalahannya. Mungkin hatinya akan sedikit lebih tenang jika dengan seperti ini Zahra akan berangsur memaafkannya. Jujur sumber ketenangan Ansell adalah Zahra. Dan sekarang, bagaimana dia bisa tenang kalau Zahra sendiri marah pada nya.

Zahra kaget. Ansell benar benar pergi menghampiri Gus Ali. Dan lebih kaget lagi karena Ansell malah bertekuk lutut di hadapan adik iparnya.

"Kak Ansell...."

Bukan hanya Zahra yang terkejut. Ali pun lebih terkejut dengan tingkah Ansell yang tiba-tiba berbungkuk di hadapannya.

"Bang, kenapa? Bangun Bang!"

Ali beranjak berbungkuk meraih pundak Ansell. Namun ia tidak bisa berkata-kata karena Ansell tiba-tiba bicara dengan air mata.

"Maaf. Aku malah memperlihatkan sisi buruk ku pada adik ipar ku sendiri. Ku harap Gus Ali tidak mengurangi rasa sayang Gus Ali pada Alika setelah melihat kelakuan bejad Kakaknya ini."

Sungguh Ali begitu terkejut mendengar perkataan Ansell. Seakan ada banyak makna yang terkandung di setiap ucapannya. Apakah Ansell kembali mempercayai nya? Apakah Ansell menyuruhnya untuk terus menyayangi adiknya?

Ali tertegun, Ia masih tidak mampu berkata kata. Satu tangannya yang awalnya menempel di pundak Ansell, kini sudah beralih posisi. Menempel pas di wajah Ansell di bagian pipinya.

"Pukul lah aku, agar aku tidak terlalu malu menitipkan adikku." Ansell dengan keras mengayunkan tangan Ali. Agar tangan itu benar benar memukul wajahnya.

Namun Ali dengan cepat menghentikan pergerakan nya.

"Bang Ansell, tidak harus seperti ini.

Bangun Bang!"

"Terima kasih karena Bang Ansell masih memberikan kepercayaan pada ku. Insyaallah aku akan terus menjaga Alika."

Iya, dari awal Ali sudah pasrah. Ia akan berlapang dada dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Dan tentunya sekarang dia amat bersyukur karena Ansell kembali mempercayai nya.

"Gila. Itu beneran Si Ansell? Bukankah tadi dia marah marah pada Gus Ali. Dan sekarang Ia tiba-tiba langsung berbungkuk di hadapannya?

Secepat itu Si Ansell memaafkan Gus Ali. Padahal dia belum tahu bagaimana keadaan adiknya?" Alex berdecak dalam hati. Rupanya sebesar itu cinta Ansell pada Zahra sampai dia rela menjatuhkan harga diri nya dan memohon maaf di hadapan Gus Ali.

Suara pintu terbuka terdengar begitu jelas. Ansell dan Ali, mereka langsung lupa dengan pembicaraan mereka. Dua laki laki yang sama sama sedang mengkhawatirkan Alika kini dengan cepat menghampiri orang yang baru keluar dari sana.

"Bagaimana keadaan Alika Dok?"

Sang Dokter yang baru keluar langsung di kaget kan oleh tingkah keduanya.

"Dokter, bagaimana keadaan Alika?" Lagi lagi bertanya karena si Dokter malah diam terkesima.

"Dokter Alika tidak apa apa kan, kenapa lama sekali memeriksanya?"

Ansell makin gencar. Diam nya si Dokter malah membuat Ansell makin gelisah.

"Dokter...?" Kini Ali yang bersuara karena belum di respon juga.

"Akh, tenang Tuan Tuan! Pasien baik baik saja." Sang Dokter menggaruk tengkuknya. Tersenyum pias melihat tingkah Ansell dan Ali

Dokter itu malah serasa sedang di interogasi oleh mereka.

"Benturannya tidak terlalu keras. Hanya goresan kecil di kepalanya. Dan itu tidak akan mengakibatkan apa apa. Luka di tangan nya hanya beberapa jahitan. Sepertinya pasien tergores sesuatu saat terjatuh pingsan. Setelah beberapa hari lukanya insyaallah akan mengering."

Sang Dokter masih menyeringai heran. Dia sudah menjelaskan begitu panjang lebar, namun itu tidak bisa membuat Ansell dan Ali puas. Masih tergambar jelas kekhawatiran di raut wajah keduanya.

Sepertinya Ansell dan Ali akan sedikit tentang jika bisa langsung melihat keadaan Alika.

"Tenang Tuan Tuan. Janin yang ada di perut pasien juga baik baik saja. Jadi kalian tidak perlu tegang begitu. Pasien hanya kelelahan, saat jatuh pingsan janin di dalam kandungannya baik baik saja. Dan sekarang pasien sedang tertidur."

Loh! Janin? Apa maksudnya? Ansell dan Ali begitu terkejut sampai mereka langsung saling menatap penuh pertanyaan.

"Apa Alika hamil?" Ali dan Ansell, sama sama bicara dengan hati. Masih ragu karena pendengaran mereka belum pasti.

"Dok bisa ulangi sekali lagi! Anda beneran Dokter kan?" Lah, pertanyaan apa itu. Baru juga berjanji tidak akan melakukan kesalahan. Kemarahan Ansell kini bangkit kembali.

Geram sendiri sampai melotot melihat Sang Dokter. Karena kata kata nya tidak bisa ia mengerti.

"Haha tenang Tuan." Sang Dokter tersenyum kikuk. Ketakutan melihat tatapan Ansell. Di tambah lagi Ansell malah meragukan status nya sebagai Dokter.

"Apa di sini ada suami pasien? Sepertinya akan lebih nyambung kalau bicara pada suaminya." Dokter dari tadi sudah di buat bingung dengan Ansell dan Ali yang terlihat khawatir. Kekhawatiran mereka sudah di level kekhawatiran seorang suami pada istrinya. Membuat Dokter bertanya tanya. Mana suaminya?

Merasa itu dirinya, Ali langsung mendekat. Sudah dag dig dug sendiri ingin mendengar penjelasan Dokter.

"Saya Dok."

"Oh. Baiklah Tuan. Tolong jelaskan pada Tuan ini kalau istri anda baik baik saja. Dia hanya perlu istirahat. Dan jangan marah seperti itu. Semuanya baik-baik saja. Janin yang ada dalam kandungan istri anda pun baik baik saja. Jadi kalian tidak perlu khawatir." Kenapa tidak langsung bilang saja kalau Alika hamil. Sang Dokter malah berputar putar, tidak bisa menyimpulkan perkataannya.

"Jadi maksud Dokter istri saya hamil?"

Ali begitu terkejut. Dan ternyata Sang Dokter lebih terkejut lagi.

"Loh! Jadi anda tidak tahu kalau istri anda sedang hamil?"

Sang Dokter menepuk jidat.

Pantesan saja dari tadi penjelasannya tidak nyambung nyambung. Percuma saja dari tadi menjelaskan kalau semua nya baik baik saja, bahkan terus mengucapkan janin yang ada di kandung nya pun sehat. Orang laki laki yang sedang khawatir tidak tahu kalau wanita yang mereka khawatirkan sedang mengandung. Bahkan suaminya sendiri pun tidak tahu kalau istrinya sedang hamil.

Hahaha, sial sekali hari ini Sang Dokter sampai di pelototi keluarga pasien karena tidak percaya dengan diagnosa nya.

"Untunglah bukan aku yang tidak kompeten. Tapi dua laki laki ini yang kurang peka. Bahkan itu suaminya yang tiap hari berada di sampingnya tidak sadar kalau istrinya sedang hamil."

Masih sempat sempatnya itu Dokter membanggakan diri. Kalau saja tidak bicara dalam hati mungkin Ansell akan kembali memelototi nya lagi.

"Anda sedang tidak bercanda kan?"

Ansell masih bertanya, takut Dokter itu benar benar Dokter gadungan dan sedang mengerjai mereka.

"Saya serius, saya sudah melakukan USG, pasien sedang hamil. Bahkan usia kehamilan sudah menginjak minggu ke dua belas atau sekitar tiga bulan."

Sudah tiga bulan? Ansell tercengang. Langsung menengok ke arah Gus Ali refleks menepuk pundaknya.

"Selamat. Bahkan istri sudah mengandung sampai tiga bulan, tapi Gus Ali tidak menyadarinya."

Entah Ansell harus mengucapkan apa lagi. Walau agak sedikit kesal tapi ya sudahlah. Yang penting Alika baik baik saja. Dan sekarang dia bisa lebih tenang. Atau lebih tepatnya menjadi senang. Alika sekarang pasti bahagia, karena menjadi seorang Ibu sudah dari dulu amat di dambakan adiknya.

Sang Dokter kini tersenyum lebar, melihat raut kebahagiaan di wajah dua laki laki di depannya, Dia ikut bahagia. Dokter mengulurkan tangannya kehadapan Ali.

"Walau terlambat, selamat Tuan. Anda akan menjadi seorang Ayah. Bahkan anda akan di karuniai dua orang anak sekaligus."

Sang Dokter bicara dengan begitu santai. Tapi tidak dengan dua laki laki yang berdiri di hadapannya. Raut wajah mereka kini berubah kembali.

"Dua anak?" Walau terkejut Ali menerima uluran tangan sang Dokter.

Sedangkan Ansell malah menggeram kembali. Saking tidak percaya dia malah kembali mengira, kalau Dokter itu mengerjai nya.

"Hei jangan terus bercanda ya. Kita mendengar Alika mengandung saja sudah sangat bahagia. Kenapa anda terus mempermainkan kami?"

Ansell malah sewot. Itu Dokter sudah sepenuh hati mengucapkan selamat. Ekh Ia malah Tidak percaya. Padahal jelas Dokter itu sudah memeriksa keadaan adiknya.

Hahaha, pergi saja sana Dokter. Orang yang ada di hadapan anda bukan orang yang akan langsung percaya dengan hal hal yang baru. Setiap perkataan anda pasti akan menjadi kontra di hadapannya.

"Mau adu keahlian dengan saya? Saya Dokternya di sini, kenapa anda tidak percaya pada saya." Hahaha. Kini Sang Dokter yang melotot. Punya keberanian melawan rupanya. Emosinya tersulut karena dari tadi Ansell dan Ali terus saja meragukannya.

"Hahaha, baiklah saya percaya." Kini Ansell yang tersenyum kikuk melihat kesungguhan Sang Dokter. Dia langsung mengulurkan tangan menjabat Sang Dokter untuk berterima kasih. Merangkul pundak Gus Ali dan kembali menepuk nepuk pundaknya.

"Selamat ya Gus Ali. Kau sepertinya mendapatkan Jack posts. Sekali Alika mengandung, sudah ada dua janin yang kelak akan menjadi kesempurnaan kebahagiaan kalian berdua." Rasanya lenyap sudah amarah yang sedari tadi menumpuk dalam hati Ansell.

Rasa takut, rasa kecewanya, kegelisahannya kini sirna begitu saja. Apalagi saat melihat raut wajah bahagia yang terpancar jelas dari wajah adik iparnya.

Di belakang mereka rupanya dari tadi ada yang lebih bahagia memperhatikan mereka berdua.

Zahra senyum senyum sendiri melihat tingkah Ansell dan Gus Ali. Dua laki laki itu kini akur kembali. Mendapatkan balasan yang lebih atas kekhawatiran mereka dari tadi.

Kegelisahan selesai. Ansell dengan cepat berbalik ke belakang bermaksud menghampiri Zahra. Namun saat berbalik rupanya Zahra dan Afham sudah ada di depannya.

"Dek. Adek mendengar semuanya kan? Alika sedang hamil Dek. Sekarang dia baik baik saja. Aku pun sudah minta maaf pada Gus Ali.

Jadi Adek tidak marah pada ku lagi kan? Adek memaafkan aku kan?" Ansell begitu antusias. Akan lebih sempurna kebahagiaannya jika Zahra memaafkannya.

Zahra tersenyum. Bahkan Afham pun ikut tersenyum. Melihat ekspresi Abie nya yang terlihat sangat lucu.

"Kenapa kalian malah tertawa? Dek aku di maafkan tidak?" Ansell malah merengek. Hilanglah sudah wibawanya di depan Afham karena merengek pada Umie nya.

"Buba...buba...." Afham yang menjawab. Mengoceh ngoceh sambil mengibaskan tangannya.

"Apa sekarang kalian yang mengerjaiku?"

Ansell tersenyum jahil. Dia sudah bisa merasakan. Diam Zahra bukan sedang marah pada nya, tapi itu kebiasaan Zahra jika sedang mengerjainya.

"Baiklah, tidak di maafkan pun tidak apa-apa asal Adek bahagia."

Bibir seakan sudah pasrah, namun tangannya bergerak merangkul Zahra. Mencari pusat kelemahan sang istri untuk berbalik mengerjainya.

"Habib...! Akhirnya lolos juga panggilan itu. Ansell menggelitik perut Zahra sampai Sang empunya tidak bisa berbohong lagi.

"Tuh kan. Adek sudah memaafkan ku." Ansell berbisik menggoda Zahra. Masih sempat sempatnya bibir itu mengecup bibir istrinya.

"Iya. Iya. Aku maafkan. Tapi lepaskan Bib. Geli tahu." Hahaha. Zahra cemberut manja, membuat Ansell teramat senang. Lega rasanya bisa kembali melihat ekspresi Zahra yang selalu ia rindukan.

"Terima kasih sayang."

Ansell mengelus kepala Zahra. Mengambil alih Afham ke gendong nya.

"Dek. Apa kita juga harus membuat adik untuk Afham? Gus Ali sekali Alika mengandung langsung dua loh Dek. Masa kita kalah sama mereka. Kita kan Kakaknya." Haha. Rengekan macam apa itu. Sepertinya Ansell iri pada Gus Ali.

.

.

.

.

.

.

1
Lilik Farihah
wkkwk...kita temenin bang alex
Lilik Farihah
hha.hha..asli ngakak baca yaa
Sindun Solissa
bagaus
Dwi Setya S
kenapa ga di lanjut kak.
nungguin lho bolak balik cek blm up jg
Nurma Lisa Hasanah
🤣🤣🤣luccu jg
Dewi Nurlela
Alex sama Rani aja thor
Romadhoni Indra5758
thor kok digantung sih ceritanya?
Yayoek Rahayu
baik banget suaminya Alika
Yayoek Rahayu
sangat setuju dg zahra...
Romadhoni Indra5758
kok lama blm up lg thor
Iyaa Lia
salut sama novel ini..
apalagi dengan tokoh zahra...
🙏🙏
Joko Jokoo
smpe terbawa mimpi dgn cerita ini. dicek2 belum dilanjut lgi. tpi cek profil othor ny ad karya baru. knp ini gk dilanjut lgi😥😥
Joko Jokoo: msa lupa kk, lanjut dong
total 2 replies
Tri Sudarso
baca novel ini berasa di kehidupan nyata ya sederhana tp menghibur...tanpa konfkik berat...semua pasangan sllalu bikin baper abis....🤗🤗
Muhibbah
lanjut tor 💪👍
Joko Jokoo
buka2 mna tau ad tulisn up
Ainin Mu
hahaha godaaan terbesar snih
Ainin Mu
ketemu deh ya
Ainin Mu
hamil kan
Ainin Mu
Alek ma istri bikin q deg deg persis Ansel 11,12
Ainin Mu
jgn end dlu Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!