NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Pengasuh
Popularitas:27.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 CEMBURU BUTA

Lampu-lampu di dapur besar rumah itu masih menyala terang. Para pelayan lalu-lalang membawa piring dan gelas bekas makan malam. Meski sebelumnya Mommy sempat melarang, Sari tetap ikut membantu. Tangannya cekatan, gerakannya ringan, seolah pekerjaan seperti ini adalah caranya menenangkan diri.

“Tidak usah, Sari. Kamu tamu,” ucap salah satu pelayan setengah berbisik.

Sari tersenyum kecil“Tidak apa-apa. Saya sudah biasa.” Ia membawa beberapa piring ke wastafel, lalu membersihkannya dengan hati-hati. Pikirannya masih dipenuhi banyak hal tentang Ammar, tentang rumah ini, tentang tatapan-tatapan yang ia rasa namun tak benar-benar ia pahami.

Setelah dapur sedikit lebih rapi, Sari beralih ke sudut kecil tempat dispenser susu hangat berada. Ia mengambil botol kecil khusus milik Queen, menuangkan susu perlahan, memastikan suhunya pas.

“Nona pasti sudah mengantuk,” gumamnya pelan.

“Perhatianmu detail sekali.”

Suara itu membuat Sari menoleh. Exsel berdiri beberapa langkah darinya, bersandar santai di dekat meja. Senyum tipis menghiasi wajahnya senyum laki-laki yang terbiasa percaya diri.

“Oh—Tuan Exsel,” sapa Sari sopan.

“Ini susu untuk Nona Queen.”

“Aku tahu,” jawab Exsel ringan. “Kamu kelihatan selalu sibuk mengurus Queen.”

Sari tersenyum kecil. “Itu memang tugasku.”

Exsel melangkah sedikit mendekat, namun tetap menjaga jarak. “Capek?”

“Tidak,” jawab Sari jujur. “Queen anak yang manis.”

Exsel mengangguk pelan. “Kamu juga kelihatan cocok jadi… pengasuh.”

Nada suaranya netral, namun sorot matanya tidak sepenuhnya biasa.

Dari ujung ruangan, Ammar berdiri diam. Ia tidak berniat menguping, tapi langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan itu Exsel dan Sari berdiri cukup dekat, berbincang dengan suasana yang tampak ringan.

Dadanya menghangat. Bukan hangat yang menyenangkan. Kenapa harus sekarang?

Tangannya mengepal pelan, namun wajahnya tetap datar. Ia melangkah mendekat, langkahnya mantap, suaranya terkontrol.

“Exsel.”

Keduanya menoleh bersamaan.

“Jangan ganggu dia,” ucap Ammar dengan nada biasa, nyaris datar. “Sari harus menemani Queen tidur.”

Sari refleks menunduk sedikit. “Baik, Tuan. Saya akan ke kamar Nona.”

Namun sebelum ia melangkah pergi, Ammar menambahkan, masih dengan nada tenang namun penuh tekanan,

“Bukannya kamu mau mengajakku minum sambil berbincang?”

Exsel mengangkat alisnya, lalu tertawa kecil.

“Oh iya, hampir lupa.” Ia menggaruk kepalanya pelan. Ada sedikit rasa kesal yang tak ia sembunyikan sepenuhnya. “Baiklah. Aku ambilkan dulu botol anggurnya. Kamu tunggu di tempat biasa.”

Ammar mengangguk singkat.

Sari segera pamit. Saat ia melangkah melewati Ammar, ia bisa merasakan tatapan dingin itu menyentuhnya bukan marah padanya, tapi cukup membuat langkahnya terasa berat.

“Permisi,” ucap Sari pelan, lalu pergi menuju kamar Queen.

Ammar menatap punggungnya sesaat lebih lama dari yang ia sadari.

Lantai tiga terasa lebih sunyi. Area mini bar itu terbuka, dengan pencahayaan temaram. Kolam renang memantulkan cahaya lampu kecil, sementara taman bunga di sekitarnya menghembuskan aroma lembut malam hari.

Ammar duduk di kursi tinggi, menuangkan minuman ke gelasnya sendiri. Tak lama, Exsel datang membawa sebotol anggur dan dua gelas.

“Masih sama seperti dulu,” ucap Exsel sambil menuang.

“Tempat ini tidak berubah.”

Ammar mengangkat gelasnya, meneguk pelan.

“Kamu juga tidak berubah.”

“Hmm?” Exsel tersenyum miring.

“Masih sok dingin?”

Ammar mendengus kecil.

Mereka minum dalam diam beberapa saat, hingga Exsel akhirnya bersuara lagi. “Pengasuhmu itu,” katanya santai, seolah topik biasa. “Sari.”

Ammar menoleh sekilas, lalu kembali menatap gelasnya. “Kenapa?”

Exsel tersenyum. “Dia berbeda.”

Ammar meneguk minumannya lebih dalam.

“Cantik dengan caranya sendiri,” lanjut Exsel. “Tidak dibuat-buat. Jarang.”

Ammar meletakkan gelasnya agak keras. “Jangan dekati dia.”

Exsel terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. “Lho? Kenapa?”

“Dia masih polos,” jawab Ammar cepat. “Dan kamu… playboy. Aku tidak ingin dia tiba-tiba berhenti kerja hanya gara-gara kamu.” Itu bohong. Setengah bohong.

Yang sebenarnya, Ammar tidak rela. Tidak pada siapa pun. Termasuk sepupunya sendiri.

Exsel mengangkat gelasnya, menyesap anggur dengan santai. “Wah, protektif sekali.”

“Ini soal tanggung jawab,” potong Ammar. “Dia bekerja di rumahku.”

“Ah, jangan pelit dong, bro,” ujar Exsel ringan. “Aku janji akan berhenti jadi playboy demi dia.”

Ammar mencibir. “Cih. Omonganmu seperti laki-laki benar saja.”

“Kenapa? Kamu tidak percaya?” Exsel menoleh, menatap Ammar lebih serius sekarang.

“Dia itu cantik dengan porsinya sendiri. Walaupun dia pengasuh anakmu, aku tidak peduli.” Kalimat itu seperti percikan api.

Rahang Ammar mengeras. Tangannya mengepal di sisi kursi. Ia menahan diri. Sangat menahan.

“Dia bukan untukmu,” ucapnya dingin.

Exsel menatap Ammar lekat-lekat, lalu tersenyum samar. “Kenapa kedengarannya seperti kamu yang tidak rela?”

Hening.

Hanya suara air kolam yang pelan. Ammar meneguk minumannya lagi, kali ini lebih dalam.

“Kamu terlalu banyak minum.”

“Begitu juga kamu,” balas Exsel.

Mereka tertawa kecil, namun tawa itu tidak benar-benar ringan. Ada sesuatu yang menggantung di udara sesuatu yang belum diucapkan, tapi sudah terasa.

Malam semakin larut. Botol anggur hampir setengah kosong. Kesadaran mereka mulai kabur, namun emosi justru semakin tajam.

Dan di kamar lain, Sari sedang duduk di sisi tempat tidur Queen tak tahu bahwa namanya sedang menjadi sumber api kecil yang perlahan membakar dua hati laki-laki.

Cahaya lampu di lantai tiga mulai meredup satu per satu. Setelah berpisah dengan Exsel, Ammar tidak kembali ke kamarnya.

Langkahnya justru mengarah ke kamar Queen.

Pintu terbuka perlahan. Di sana, Queen tertidur pulas di sisi kiri ranjang kecilnya, sementara Sari terlelap di kursi empuk di samping tempat tidur, tubuhnya sedikit meringkuk, tangan masih memegang selimut Queen.

Ammar berdiri lama di ambang pintu.

Ada rasa yang bergolak di dadanya campuran amarah, cemburu, dan keinginan menguasai yang membuat napasnya berat. Bayangan Exsel yang tersenyum pada Sari kembali menyulut api di kepalanya.

Kenapa dia berani menatapmu seperti itu… Tanpa banyak berpikir, Ammar mendekat. Ia mengangkat tubuh Sari perlahan agar tidak membangunkan Queen.

Sari terkejut setengah sadar.

“Tuan…?” suaranya lirih, panik. “Lepaskan aku…”

Namun Ammar tidak menjawab. Langkahnya cepat menuju kamarnya sendiri.

Begitu pintu tertutup, Ammar meletakkan Sari di atas tempat tidur. Sari mencoba bangkit, namun tatapan Ammar membuatnya terdiam tajam, gelap, dan dipenuhi emosi yang tak ia pahami.

“Kamu hanya milikku,” ucap Ammar dengan suara rendah, bergetar. “Aku tidak suka ada yang menatapmu.”

Sari menggeleng pelan, air mata menggenang.

“Tuan… saya tidak mengerti…”

Ammar menutup matanya sesaat, napasnya memburu. Ada pergulatan hebat di dalam dirinya antara akal sehat dan cemburu yang membutakan.

Ammar mencium bibir ranum sari dengan kasar. tidak hanya itu, ammar juga memaksa sebuah percintaan dengan sedikit kasar.

" Ah.. tuan, pelan... " lirih sari yang merasa kesakitan

" Janji kepadaku jika kamu tidak akan pernah pergi dariku " ucap Ammar di sela-sela percintaan nya.

" i.. ia saya janji "

Percintaan berubah menjadi lembut. tidak ada teriak kesakitan dari sari yang ada desahan halus yang tak bisa sari tahan.

Seusai percintaan ammar melihat sari dengan lekat dalam pelukannya.

“Pergilah,” ucapnya. " Jika kamu masih di sini, aku tidak bisa menahannya untuk melakukan ronde ke dua "

Sari tak menunggu perintah kedua. Dengan tubuh gemetar, ia turun dari ranjang, merapikan pakaiannya seadanya, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Pintu tertutup.

Ammar terduduk di tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Apa yang sudah aku lakukan…

Di kamar lain, Sari berjalan tertatih menuju kamar Queen. Air mata jatuh tanpa suara. Ia tidak mengerti mengapa tuannya berubah.

Tidak mengerti mengapa ia selalu menjadi tempat pelampiasan emosi yang tak pernah ia minta.

Yang ia tahu hanya satu ia takut… dan hatinya semakin lelah.

1
💗 AR Althafunisa 💗
Kaya-kaya koq bisa dimanfaatkan begitu, kagak ada ketenangan, kagak ada kehangatan. Sepi seakan tak punya istri kalau begitu, kenapa ga cerai aja sih 😬
ollyooliver🍌🥒🍆
saranku sih pangggil mama aja, soalnya kalau anak sari lahir, trus panggil ammar papa dan sari bunda jatohnya kek.. anaknya sari juga anak tiri/anak angkat karna mengikuti panggilan queen.
Yatiek Widhodho
lanjut thorr
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
selamat ya Sari..
Felycia R. Fernandez
jadi ingat nge liwet dengan teman2 kerja🤍
Felycia R. Fernandez
aku laper jadinya 🤤😆😆😆
Felycia R. Fernandez
mas Ammar donk,masa panggil nama aja
Felycia R. Fernandez
Tetiba membuat nya berdua,eeeh yang salah cuma Ammar sendiri 🤣🤣🤣🤣
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦‍♀️😭😭😭😭
Reni Anjarwani
makin seru thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Queen kamu akan punya bunda🥰🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yeaaayyy queen punya bunda🥰🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Felycia R. Fernandez
biang kerok,gak bisa nahan nafsu🤬
Felycia R. Fernandez
ikutan 😭😭😭😭😭😭😭
Felycia R. Fernandez
ini datang karena Queen rindu atau sekaligus melamar Sari
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
😥😥😥😥😥😥
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga keluarga Ammar benar² menerima Sari..
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yang kuat ya Sari...
Sweetie blue
Sejauh ini yang aku baca ada pesan yang di taman dalam cerita ini.

jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.

kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍

Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍
Felycia R. Fernandez: Sebenarnya gak gtu juga kk,
istri bole bekerja,aku juga bekerja.cuma kita juga harus ingat kewajiban kita sebagai istri dan ibu.
Sabrina diijinkan Ammar kerja tapi dia kebablasan,malah mentingin kerjaaan dari suami dan anak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!