Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 KATA CERAI
“Mari kita bercerai.”
Jedarrr…
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar tepat di kepala Sabrina.
“Apa?” suaranya bergetar.
“Apa maksud kamu, Ammar?”
Ammar menghela napas panjang, seolah kalimat itu sudah lama ia simpan dan kini akhirnya terlepas.
“Kita sudah terlalu lama saling menyakiti,” ujarnya tenang.
“Dan aku sudah lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja.”
Sabrina menggeleng cepat. “Kamu… kamu sudah tidak cinta lagi kepadaku?” tanyanya lirih, nyaris memohon.
Ammar tersenyum kecil sinis dan pahit.
“Cinta itu tidak cukup kalau yang kamu pilih selalu dirimu sendiri.”
Ia melangkah mendekat, suaranya tetap tenang namun menusuk.
“Bukannya besok kamu akan pergi ke Thailand? Tiketmu sudah dipesan, bukan?”
Tubuh Sabrina menegang. “Jadi untuk apa kita pertahankan rumah tangga ini?” lanjut Ammar.
“Kamu sudah memilih jalanmu sendiri, Sabrina.”
“Itu itu hanya pekerjaan!” sanggah Sabrina cepat.
“Aku melakukan itu demi kita!”
“Tidak,” potong Ammar. “Kamu melakukannya demi ambisimu. Demi egomu. Bukan demi keluarga ini.”
Wajah Sabrina berubah. Amarahnya kembali muncul.
“Apa ini gara-gara upik abu itu?” bentaknya.
“Sejak perempuan itu masuk ke rumah ini, semuanya berubah!”
Ammar langsung menajamkan tatapannya. “Jangan bawa-bawa orang lain dalam hubungan kita.”
Ia mendekat satu langkah, sorot matanya dingin.
“Hubungan kita sudah tidak sehat jauh sebelum Sari ada.”
Sabrina tercekat. “Ammar…” lirihnya, kali ini suaranya benar-benar rapuh.
Namun Ammar sudah tidak bergeming. “Sudah cukup,” katanya pelan tapi final.
“Kita pisah baik-baik, atau kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun.”
Sabrina menatap Ammar tak percaya. “Kamu mengancamku?”
“Aku memberimu pilihan,” jawab Ammar tenang.
“Pilihan yang seharusnya sudah kamu ambil sejak lama.”
Ammar berbalik, mengambil map cokelat dari meja. Ia meletakkannya di atas ranjang.
“Semua sudah aku siapkan. Pengacara, dokumen, hak asuh Queen.”
Sabrina tersentak. “Queen?!”
“Queen anakku,” tegas Ammar. “Dan aku tidak akan membiarkannya tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu yang benar-benar ada.”
Ucapan itu seperti tamparan keras.
Air mata Sabrina akhirnya jatuh. Namun bukan air mata penyesalan melainkan air mata kekalahan.
“Aku… aku tidak menyangka kamu akan sejauh ini,” ucapnya parau.
Ammar menatapnya lama. “Aku juga tidak pernah menyangka istriku lebih memilih pergi daripada tinggal dan memperjuangkan anaknya.”
Sabrina terdiam. Ia tahu.
Ammar tahu semuanya. Tentang tiket pesawat. Tentang rencana ibunya. Tentang keinginannya untuk pergi bahkan sebelum semua ini terjadi.
Dengan sikapnya selama ini, tanpa ia sadari, ia sudah memilih.
Sabrina mengusap wajahnya kasar. “Baik,” ucapnya dingin akhirnya.
“Kalau itu keputusanmu.” Ia berdiri, meraih tasnya.
“Jangan menyesal, Ammar.”
Ammar menatapnya tanpa emosi. “Aku sudah menyesal terlalu lama. Malam ini aku hanya berhenti melakukannya.”
Sabrina melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi.
Pintu tertutup.
Ammar berdiri sendirian dalam keheningan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa marah.
Hanya… lelah.
Namun di balik lelah itu, ada satu hal yang ia yakini
Ia telah memilih jalan yang benar. Demi Queen.
Dan demi dirinya sendiri.
...----------------...
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Langit cerah menembus jendela ruang makan, sinarnya jatuh lembut ke meja tempat Sari duduk berhadapan dengan Queen. Wajah kecil itu tampak jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu. Tidak ada lagi pipi pucat atau mata sayu. Kini yang tersisa hanyalah senyum ceria dan tawa kecil yang menghangatkan siapa pun yang melihatnya.
Sari menyendokkan bubur hangat dengan hati-hati, meniupnya pelan sebelum menyuapkannya ke mulut Queen.
“Pelan-pelan ya, nona,” ucap Sari lembut.
Queen membuka mulutnya dengan patuh, lalu mengunyah sambil tersenyum. “Enak,” katanya polos.
Sari tersenyum lega. “Syukurlah. Queen sudah sehat lagi.”
Queen mengangguk kecil, lalu menatap Sari dengan mata berbinar. “Terima kasih, Kak.”
Sari sedikit terkejut. “Hah?”
“Terima kasih sudah jagain Queen waktu Queen sakit,” ucapnya jujur.
“Queen senang punya Kak Sari.”
Hati Sari terasa diremas lembut oleh kalimat
sederhana itu. Ia menelan ludah, lalu mengusap kepala Queen dengan penuh kasih. “Sama-sama, cantik,” balasnya tulus.
“Kak Sari senang bisa jagain Queen.”
Dari ambang pintu, Ammar berdiri diam. Ia tidak berniat menguping, namun langkahnya terhenti begitu melihat pemandangan itu. Queen yang tertawa kecil, Sari yang menyuapi dengan penuh kesabaran adegan sederhana, namun terasa begitu hangat.
Sudah beberapa hari ini rumah terasa berbeda.
Tidak ada lagi suara bentakan.
Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan.
Tidak ada lagi kecemasan menunggu kepulangan seseorang yang tak pernah benar-benar hadir.
Kemarin, Sabrina pergi.
Ia meninggalkan rumah itu dengan dua lembar cek bernilai fantastis uang yang bahkan tak sempat membuat Ammar terkejut. Yang justru menghantam hatinya adalah satu hal. Sabrina tidak memperjuangkan Queen.
Tidak menangis.
Tidak bertanya.
Tidak memohon.
Ia pergi begitu saja.
Ammar mengepalkan tangan pelan, lalu menghembuskan napas panjang. Kini ia kembali memusatkan perhatiannya ke hadapan ke dua manusia yang membuatnya bertahan. Ia melangkah mendekat.
“Wah,” ucap Ammar sambil tersenyum kecil.
“Putri cantik papah sedang apa, hm? Kelihatannya bahagia sekali.”
Queen menoleh cepat. “Papah!” serunya senang.
Ia langsung turun dari kursinya dan berlari kecil menghampiri Ammar.
Ammar berjongkok, mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. “Papah sudah pulang dari kantor?” tanya Queen antusias.
“Sudah,” jawab Ammar sambil mengusap rambutnya.
“Papah pulang lebih cepat hari ini.”
Queen tersenyum lebar. “Yeay!”
Ammar tertawa kecil, lalu melirik ke arah Sari.
“Terima kasih sudah merawat Queen dengan baik.”
“Itu memang tugas saya, Tuan,” jawab Sari sambil menunduk sopan.
Queen langsung menyela, “Bukan cuma tugas, Pah. Kak Sari baik banget.”
Ammar terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Iya,” katanya pelan. “Papah tahu.”
Ammar menurunkan Queen kembali ke kursinya, lalu duduk di seberang mereka. “Queen hari ini mau main apa?”
“Mau gambar,” jawab Queen cepat.
“Terus mau cerita sama Kak Sari.”
Ammar mengangguk. “Baiklah.” Ia menatap Queen sejenak, lalu pandangannya berpindah ke Sari. Ada sesuatu yang sejak tadi ingin ia sampaikan.
“Sari,” panggilnya.
“Iya, Tuan?” jawab Sari lembut.
“Lusa kita akan pergi ke rumah kedua orang tua saya”
Sari sedikit terkejut, sementara Queen langsung bersorak kecil.
“Oma dan Opa?” mata Queen berbinar.
“Yang Papah cerita itu?”
“Iya,” jawab Ammar.
“Oma dan Opa Papah.”
Queen tersenyum lebar. “Queen mau ikut!”
Ammar terkekeh. “Tentu saja.”
Lalu, dengan nada yang lebih pelan, Ammar menambahkan sambil menatap Sari,
“Kamu juga ikut.”
Sari terdiam. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Ammar dengan ragu. “Apa… apa boleh, Tuan?”
Ammar mengangguk. “Boleh.”
Sari menelan ludah. Ia tahu sedikit atau setidaknya merasakan bahwa hubungan Ammar dengan orang tuanya bukanlah hubungan yang hangat.
Ammar menarik napas panjang. “Hubungan kami renggang sejak lama,” ujarnya lirih, lebih seperti pengakuan.
“Sejak aku menikah dengan Sabrina.”
Sari menunduk, mendengarkan.
“Aku menentang mereka,” lanjut Ammar. “Dan mereka pun menentang keputusanku. Aku memilih menjauh… dan selama ini aku pikir itu keputusan yang benar.”
Ammar tersenyum pahit.
“Ternyata aku salah.”
Queen memiringkan kepalanya, tidak sepenuhnya mengerti, lalu menggenggam tangan Ammar kecil.
“Papah sedih?”
Ammar menatap putrinya, lalu tersenyum lembut.
“Sedikit.”
Queen meraih tangan Sari juga. “Kak Sari ikut ya. Biar Papah nggak sedih.”
Sari terkejut kecil, lalu tersenyum haru.
Ammar menatap mereka berdua. Hatinya terasa hangat sekaligus perih.
“Aku ingin meminta maaf pada orang tuaku,” ucap Ammar akhirnya.
“Aku ingin Queen mengenal Oma dan Opanya. Dan… aku ingin memulai semuanya dengan benar.”
Sari mengangguk pelan.
“Jika itu bisa membuat Tuan dan Queen bahagia, saya akan ikut.”
Ammar menatap Sari cukup lama. “Terima kasih.”
Sari kembali menunduk. “Sama-sama, Tuan.”
Queen tersenyum lebar, menggenggam tangan mereka berdua.
“Berarti… kita keluarga, ya?”
Kalimat polos itu membuat udara sejenak membeku.
Ammar tersenyum samar, tidak menjawab namun untuk pertama kalinya sejak lama, hatinya tidak menolak gagasan itu.
Di luar sana, masa depan masih penuh tanda tanya.
Namun hari itu, di meja makan sederhana, untuk pertama kalinya Ammar merasa:
ia tidak sendirian.
pantesan ...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...