Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vidio Skandal
Ngung ... Ngung ... Ngung ...
Tiba-tiba ponsel Jessica berdengung, dia enggan melihat ponselnya setelah vidionya bersama Hae In tersebar di seluru fakultas.
Jessica segera pergi bergegas dari apartemennya, dia mengambil kunci mobilnya. Pikirannya semakin runyam setelah dia mendapat kabar dari keluarganya bahwa pertunangannya dengan salah satu kolega ayahnya dibatalkan.
Akibat Vidio itu tersebar dan terkirim kepada seluruh anggota keluarganya,
Bruk ...
Jessica masuk ke dalam mobil, Jessica tak sanggup lagi menghadapi masalah ini dia memilih pergi.
Vroom!
Whoosh ...
Mobil itu melaju ke suatu tempat tampa tujuan, sebelumnya dia di kabari akan di jemput ajudan Ayahnya untuk pulang ke Singapura, dia harus menghadapi keluarganya untuk menyelesaikan kekacauan ini, di usia yang masih sangat muda dia harus menanggung skandal sebesar ini.
Tanpa dia sadari mobilnya berpapasan dengan mobil Julian yang hendak mendatangi jessica, Julian datang ke apartemen karena kuatir dengan keadaan Jessica. Ninda meminta bantuanya karena Jessica tak menggubris chatt dan panggilan telponnya.
Julian yang melihat Mobil Jessica keluar diam-diam mengikutinya dari belakang.
Walau hati kecilnya tau dia butuh seseorang untuk menguatkannya, dia berusaha untuk menghadapinya sendirian, dia tidak mau melibatkan sahabatnya dalam masalah ini. Belum lagi dia harus menghadapi media dengan berbagai berita negatif yang bisa memberikan efek buruk untuk perusahaan keluarganya.
Jessica merasa ingin pergi dari semua masalah ini, tekanan demi tekanan tidak sanggup Jessica hadapi, semua terlalu mendadak dan menyakitkan.
Di tengah perjalanan tiba-tiba dia menghetikan mobilnya.
Khit!
Bruk!
Dia membuka pintu mobil itu kemudian keluar. Julian yang melihat itu diam-diam mengikuti Jessica dari jauh.
Fuuuu ...
Jessica berjalan menyusuri jalan, dangan pikiran yang sangat kacau dan hati yang berantakan.
Tap ...Tap ...Tap ...
Setelah berjalan cukup jauh, sekitar 7 sampai 8 kilo, Jessica tiba disebuah pantai, dia duduk sambil menatap ombak.
Byurr ... Byuur .... Byuur ...
Entah berapa lama Jessica duduk di situ pikiranya begitu kosong, berlahan dia melepas sepatunya , dia menyimpan sepatunya di atas pasir, tak lupa dia melepas jam tanganya disimpan sejajar dengan sepatunya.
Celepak ... Celepak ... Celepak ...
Byuurr ... Byuurr ... Byuurr ...
Dengan tatapan kosong dia berjalan menuju ombak, yang seolah memangilnya dia berjalan belahan menuju lautan, ombak pun menerjang tubuhnya berkali-kali hal itu tak dirasakan lagi dia terus berjalan.
Byuurr ....
Awalnya dia masih tampak setengah badan, sampai akhirnya seluruh tubuhnya lenyap di bawa ombak, dia pasrahkan tubuhnya pada lautan. Dadanya sesak yang dia lihat hanya kegelapan.
Seketika tubuhnya tak merasakan apapun kegelapan semakin dalam dan dalam, setelah beberapa saat dari kegelapan itu, terlihat sebuah cahaya yang menuntunnya keluar dari kegelapan.
Matanya Silau dengan cahaya itu apa aku sudah mati pikir Jessica, Sosok laki-laki yang sudah tak asing terlihat memperhatikannya.
"Kamu sudah sadar!" Jessica melirik melihat ke seluruh ruangan, Julian tersenyum kearah Jessica. Sambil mengelus rambutnya.
"Di mana aku?" Jessica mencoba bangkit dari tempat tidurnya.
"Kamu sedang berada di Rumah sakit!" Jawab Julian mencoba menenangkan Jessica.
"Ada apa dengan mu, kamu benar-benar ingin mati," kata Julian menatap Jessica sedikit emosional.
Jessica menagis seketika sejadi-jadinya Julian langsung memeluknya, dia tak berbicara sepatah kata pun dia mengerti Jessica dalam kodisi yang sedang tidak baik-baik saja.
Mengingat kejadian tadi malam saat Ninda dan Noah meperlihatkan vidio yang sudah tersebar di internet, media di Singapura langsung menjadikannya headline mengingat Jessica adalah anak dari salah satu orang terkaya di negara itu.
Lalu kemudian Julian melihat Jessica berjalan ketengah lautan, dia tak sempat mengejarnya untungnya tak lama kemudian badannya mengambang beruntung di sana ada penjaga pantai yang melihat kejadian itu.
Jessica yang mencoba bunuh diri , bisa di selamatkan oleh penjaga pantai, setelah itu dia di bawa ke Rumah sakit menggunakan ambulan, jessica di nyatakan selamat hanya tak sadarkan diri karena traumatis.
"Sudah berapa lama aku?" dia tak meneruskan bicaranya.
"Sekitar 3 jam!" Julian langsung menjawab cepat.
Jessica menatap Julian yang wajahnya tampak teduh memberikan ketenangan kepada Jessica, Jessica menatapnya dalam nampaknya Julian merasa di perhatikan Jessica. Tampa basa basi Julian langsung memeluknya lagi.
"Aku akan selalu ada di samping mu" ungkap Julian membuat Jessica menangis sesegukan.
Tiba-tiba seorang suster menghampiri mereka, Julian kemudian mengalihkan perhatiannya kepada suster itu.
"Bagai mana suster?" Tanya Julian sambil menatap suster itu tampak cemas.
Suster itu terdiam sejenak kemudian menatap Jessica.
"Anda keluarganya?" tanya suster itu.
"Ya, aku pacarnya," sahut Julian.
"Anda akan di pindahkan ke ruang perawatan, akan ada yang mendampingi" Sahut Suter itu lagi sambil menatap Jessica.
Julian mengagguk kemudian menatap Jessica sambil memeluknya seolah berkata dia akan selalu berada di situ.
"Aku mau pulang," tiba-tiba saja kata-kata itu terlontar begitu saja.
"Apa bisa suster?" tanya julian.
"Tunggu sementar, aku akan tanyakan kepada dokter yang menangani pasien," katanya sambil berlalu dari hadapan Jessica dan Julian.
"Bawa aku pergi" ucap Jessica pelan sambil menggenggam tangan Julian.
Julian tersenyum sambil mengecup kening Jessica, dan tak lama kemudian suster datang.
"Dokter mengijinkan anda pulang, tapi pacar anda harus menandatangani surat pernyataan bahwa pacar anda yang bertanggung jawab atas kondisi pasien," Ungkap suster itu panjang lebar.
Setelah itu Julian membawa Jessica pulang ke apartemennya, karena Jessica tidak mau kembali ke apartemennya.
Jessica berbaring sambil memeluk Julian dengan erat dia seperti ketakutan, Julian mendekapnya sesekali dia mengusap kepalanya.
"Tidur lah, selama ada aku semua akan baik-baik saja," ucap Julian masih mengelus kepala Jessica.
"Julian bisakah kau membawa ku pergi jauh dari semua orang yang aku kenal?" ungkap Jessica.
"Jika itu bisa membuat mu lebih tenang aku akan melakukannya untuk mu" sahut Julian.
"Terimakasih Julian" ucap jessica sambil terisak .