Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Kila yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah mendapati ponselnya berdering di atas kasur, di sebelah jaket hitam yang terlipat rapi.
"Halo, Ma," kata Kila setelah menjawab telepon dari Mama Lidya.
"Halo sayang, udah sampai rumah belum?"
"Astaga iya Ma, udah nyampe dari tadi kok, maaf tadi aku lupa ngabarin, abis bersih-bersih rumah," kata Kila merasa sedikit bersalah sambil melirik jaket hitam itu.
"Syukur deh kalau kamu udah sampai sayang, Mama khawatir soalnya tadi hujan pas kamu udah berangkat, kamu nggak kehujanan kan? Di jalan licin loh."
"Iya Ma tadi aku sempat singgah berteduh, tapi cuma sebentar kok, Ma. Abis itu lanjut lagi."
"Tapi kamu nggak apa-apa kan? Nggak masuk angin kan? Jangan sampai sakit ya," tanya Mama Lidya khawatir, nada keibuannya keluar.
"Nggak kok, Ma, aku baik-baik aja, ini juga aku barusan kelar mandi air hangat."
"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja, yaudah Mama masih ada kerjaan, udah dulu ya sayang. Kabarin Mama terus ya."
"Iya Ma."
"Kamu baik-baik di sana, kalau ada apa-apa cepat kabari Mama atau Kak Elvar."
"Siap Ma, siap laksanakan."
**_
Kila berjalan menuju dapur setelah selesai berpakaian dengan kaos oversized. Dia memutuskan untuk pergi ke supermarket setelah melihat kulkasnya kosong tanpa ada bahan makanan yang bisa diolah, karena sudah beberapa hari ditinggal pulang ke rumah orang tuanya. Setelah bersiap, dia pun bergegas menuju supermarket yang memakan waktu kurang lebih lima belas menit lamanya naik motor.
Kila memasuki pintu supermarket, berjalan menuju tempat troli. Setelah mendapat troli, dia pun mulai mengambil satu demi satu bahan makanan yang dibutuhkan. Dia masih berjalan di lorong-lorong supermarket mencari beberapa bahan makanan yang belum didapatkan.
"Dimana ya sausnya? Biasanya juga di sini," kata Kila pada dirinya sendiri sembari terus mencari di rak.
Tiba-tiba ponselnya berdering, terlihat nama Elvano di layar ponsel. Kila pun segera menjawab teleponnya.
"Iya halloo, ada yang bisa dibantu? Dengan customer service Kila di sini," kata Kila meniru gaya bicara customer service saat menjawab telepon dari sahabatnya itu, jahil.
"Hahaha, apaan sih? Gaya banget jadi customer service. Kamu lagi dimana? Kok berisik?"
"Aku lagi di supermarket, lagi belanja mingguan."
"Lagi belanja apaan?"
"Bahan makanan, soalnya kulkas ku lagi kosong melompong nggak ada yang bisa dimasak. Puasa aku beberapa hari."
"Ehh bentar, emangnya kamu udah balik ke rumah kamu? Yang di sini?"
"Iya, udah dari pagi tadi."
"Kebiasaan, nggak pernah ngabarin gue." kata Elvano ngambek.
"Emangnya situ siapa? Kenapa juga aku harus laporan 24 jam? Hahahaha. RT?"
"Ihhh gitu banget, aku ini sahabat kamu yang paling ganteng sejagat raya tahu, jahat banget udah balik nggak ngabarin."
"Yaelahhh, aku juga baru balik tadi pagi, lagian kamu juga udah tau kan kalau aku udah balik, jadi nggak usah lebay deh, Van."
"Yaudah kalau gitu aku mau ke rumah kamu sekarang ya, kamu tungguin aku ya?"
"Mau ngapain ke rumah?"
"Yahh, mau melepas kangen lah, hahahaha. Kangen berantem sama bocil."
"Hahaha, apaan sih? Tapi aku masih di luar, yaudah deh nanti aku kabari kalau udah di rumah ya."
"Ok, siap."
"Oiya mau nitip sesuatu nggak?"
"Hmm, apa ya? Terserah kamu aja deh, yang enak. Es krim!"
"Yaudah, sampai ketemu di rumah."
"Ok, cantik, dahh," katanya mengakhiri panggilan teleponnya.
_*_
Setelah dirasa cukup, Kila menuju kasir bermaksud untuk membayar semua belanjaannya. Setelah membayar, dia pun berjalan keluar meninggalkan supermarket itu dengan dua kantong besar.
Kurang lebih lima belas menit akhirnya Kila sampai di rumah. Dia mengeluarkan belanjaannya dan memasukkannya ke dalam kulkas dan sebagian lagi ke dalam lemari dapur.
Kila memasak beberapa makanan untuk makan siang, sebelumnya dia sudah mengabari Elvano bahwa dia sudah ada di rumah dan pintu tidak dikunci.
_*_
"Ting...tong..." bunyi bel rumah kesayangan Kila itu.
"Udah dateng aja tuh orang" kata Kila sedikit berlari menuju pintu masuk dengan celemek masih terpasang.
"Ahhhh bocil... akhirnya ketemu juga kangen Aku tuh!" kata orang yang baru saja datang, Elvano, sembari memeluk Kila sangat erat sampai Kila sedikit sesak dan kakinya menggantung.
"Heee, lepasin aku, sesak tahu! Tulang gue remuk!" kata Kila sambil meronta-ronta berusaha melepaskan pelukan sahabatnya itu.
"Hehehe, sorry-sorry, soalnya aku kangen banget sama bocil satu ini," katanya setelah melepas pelukannya, mengacak rambut Kila.
"Elleehh, dasar buaya darat, mulutnya manis banget."
"Tahu dari mana mulutku manis, emang pernah coba?" katanya menyipitkan kedua matanya menatap Kila dengan tajam, modus.
"Apaan sih? Maksudnya tuh omongan kamu yang manis suka banget ngegombal, gombalan maut!" kata Kila dengan wajah yang sudah memerah karena menahan malu.
"Hahaha, iya iya aku ngerti kok, aku cuma bercanda kali, baperan banget," katanya tersenyum nakal sembari mengacak-acak rambut Kila lagi sampai berantakan.
"Yehhh dasar... yaudah masuk yuk, jangan di luar."
"Akhirnya kamu ngajak aku masuk juga, capek tahu berdiri terus dari tadi, kaki gue pegel."
"Hahahah, ya udah sana kamu duduk dulu aku nyiapin makan dulu di belakang."
"Emang kamu bisa masak? Nggak gosong lagi kayak dulu?" katanya dengan wajah seperti tak percaya, mengejek.
"Bisa lah, kamu pikir selama bertahun-tahun aku tinggal sendiri siapa yang masakin? Ya gue sendiri lah!"
"Oiya lupa, lu kan anak mandiri sekarang, bukan anak manja lagi."
"Ya udah tunggu bentar ya, sedikit lagi selesai kok masaknya."
"Ok cantik, semangat masaknya!"
Kila berjalan menuju dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya. Setelah beberapa menit akhirnya semua hidangan sudah selesai. Kila menata makanannya di atas meja makan minimalisnya.
"Ayo sini, makanannya udah siap," kata Kila sedikit berteriak dari ruang makan bermaksud memanggil Elvano untuk ikut makan. Namun beberapa kali Kila memanggilnya tak kunjung ada jawaban, dia memutuskan untuk menghampirinya ke ruang tamu.
"Pantas aja nggak nyaut, lagi tidur ternyata," kata Kila setelah melihat sahabatnya yang ternyata sedang tertidur pulas di atas sofa ruang tamu, dengan posisi selonjor. Kila menatap wajah sahabatnya itu, semakin lama semakin lekat. Wajahnya nyaris sempurna. Tampan, hidung mancung, alis tebal. Sahabatnya sejak lama.
Namun tak seperti biasanya, saat itu jantung Kila berdetak biasa saja. Tidak ada debar-debar aneh, tidak ada kupu-kupu. Datar.
_Kok aku biasa aja ya? Biasanya juga kalau aku dekat-dekat sama orang ini pasti bawaannya deg-degan mulu, kok ini enggak ya?_ gumam Kila dalam hati sembari meletakkan tangan di dadanya merasakan detak jantungnya yang stabil. _Aneh._
Kila mendekatkan wajahnya perlahan, sampai terasa hembusan napas Elvano yang teratur mengenai wajahnya. Dia mendekatkan wajahnya, seperti ingin menciumnya, meskipun dia tidak punya niat sama sekali untuk melakukannya, dia hanya ingin memastikan perasaannya padanya, menguji dirinya sendiri. Namun tanpa diduga, Elvano membuka matanya tiba-tiba. Mata mereka bertemu dalam jarak 10 cm.
Kila segera bangkit dari posisinya, kaget setengah mati, lalu berdiri tegak tepat di samping sofa dengan wajah sepanas kompor.
"Kamu ngapain? Mau nyium aku ya? Ketahuan!" kata Elvano dengan senyum iblisnya, bangun duduk.
"Ihhh amit-amit nyium kamu, males banget! Pede banget sih jadi orang! Nggak!" kata Kila dengan wajah yang sudah seperti udang rebus karena menahan rasa malu yang luar biasa.
"Terus tadi ngapain lu deket-deket gitu? Mau ngisengin gue yang tidur?"
"Aku cuma mau bangunin kamu kok! Bangunin! Nggak ada maksud lain!" kata Kila ngeles.
"Ohhh... kirain kamu mau nyium aku. Gue udah siap padahal," kata Elvano masih menggoda.
"Ihh apaan sih, yaudah cepat bangun, terus kita makan, makanannya keburu dingin!" kata Kila sembari berjalan cepat menuju ruang makan namun tertahan, Elvano tiba-tiba memegang tangan Kila dengan lembut. Kila yang terkejut lalu mengalihkan pandangannya padanya.
"Apa? Apaan sih narik-narik?" kata Kila menatap tajam padanya, jantungnya masih biasa saja.
"Gendong..." kata Elvano merengek seperti anak kecil, memasang puppy eyes.
"Ya ampun, kamu tuh udah gede malah minta gendong, lagian gedean kamu daripada aku, mana bisa aku gendong kamu? Logika dong!"
"Ya udah kalau gitu aku aja yang gendong kamu ke meja makan, kayak pengantin," kata Elvano segera bangkit dari tidurnya dengan semangat.
"Nggak usah makasih, aku bisa jalan sendiri, nggak butuh digendong," kata Kila sudah berjalan kembali menuju ruang makan dengan langkah cepat, kabur.
Mereka pun mulai makan siang, Elvano mencoba beberapa hidangan yang Kila masak tadi dengan lahap.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Kila penasaran, menunggu penilaian.
"Hmm, lumayan," kata Elvano sambil terus makan dengan lahap, sengaja jahil.
"Katanya lumayan tapi makannya banyak banget, nambah dua kali!"
"Hehehe... bercanda kali, makanan kamu enak banget serius deh, enak beneran, kayak masakan Bibi," kata Elvano jujur.
"Bisa aja deh, yaudah makan lagi yang banyak."
"Oiya, kok kamu cepet banget pulangnya, kan hari libur masih ada beberapa hari? Katanya mau seminggu di rumah orang tua kamu?" tanya Elvano, tiba-tiba serius.
Kila yang mendengar pertanyaan itu, hanya terdiam. Sendoknya berhenti. Dia teringat kembali kejadian yang terjadi di rumah orang tuanya yang menjadi alasan kenapa dia pulang lebih cepat, pertengkaran Papa Adrian dan Mama Lidya, dan konfrontasi di mall yang masih membekas.
"Woyy bocil, kok jadi melamun? Ngelamunin gue ya?" kata Elvano melambaikan tangannya di depan wajah Kila menyadarkan Kila dari lamunannya.
"Apa? Kenapa?"
"Kamu kenapa sih kok kayaknya lagi ada masalah? Cerita dong sama Aku," kata Elvano dengan wajah khawatir, nada bercandanya hilang.
"Nggak ada apa-apa, aku cuma lagi mikirin sesuatu aja, memangnya kamu tanya apa tadi?" Kila mengelak.
"Aku nanya kenapa kamu baliknya cepet padahal kan liburan masih ada beberapa hari? Ada apa di rumah?"
"Ohhh itu... iya aku pulang cepet soalnya aku udah kangen sama kamu, hahaha, kangen berantem," jawab Kila asal, tidak mungkin dia memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu, dia tidak ingin sahabatnya khawatir apalagi sampai mengasihaninya. Luka keluarganya terlalu pribadi.
"Yehhh, udah pintar ngegombal sekarang ya, tapi kamu bener nggak apa-apa kan? Sumpah?"
"Iya aku beneran nggak apa-apa kok, tenang aja, Van. Beneran," kata Kila meyakinkan sahabatnya itu sambil tersenyum.
"Beneran kan?" kata Elvano lagi memastikan, menatap mata Kila dalam.
"Iya beneran, nggak percayaan banget sih jadi orang," kata Kila meyakinkan sahabatnya itu.
_Maafin aku ya, Van, aku bohong sama kamu,_ kata Kila dalam hati sembari memandang sahabatnya dengan tatapan bersalah. _Aku belum siap cerita._
_*_
"Ya udah kalau gitu aku pamit ya? Udah kenyang, mau balik," kata Elvano berpamitan setelah selesai makan dan mencuci piringnya sendiri.
"Kok buru-buru? Masih sore ini."
"Kenapa emangnya? Masih kangen sama Aku? Mau Aku temenin lagi?" kata Elvano sembari tersenyum nakal.
"Iya aku masih kangen... tapi bohong, hahahaha," jawab Kila.
"Yehhh, rese banget aku udah geer tahu, ya udah aku pamit ya, mau ke bengkel dulu."
"Yaudah, ayo aku anter sampai depan."
_**
"Kamu hati-hati di jalan, Van," kata Kila setelah mereka sampai di depan rumah, dan Elvano sudah berada di atas motornya, memakai helm.
"Ok, nggak mau peluk aku dulu gitu perpisahan?"
"Nggak usah aneh-aneh, lagian aku bukan pacar kamu, ngapain juga aku peluk kamu, udah sana balik gih."
"Kalau gitu kamu jadi pacar aku aja gimana? Biar bisa pelukan tiap hari, gimana?" kata Elvano sembari menaikkan kedua alisnya, setengah bercanda setengah serius.
"Mana ada orang nembak cewek kayak gitu, lagian siapa juga mau jadi pacar kamu. Udah deh kamu balik aja, aku bisa gila kalau kamu lama-lama di sini ngegombal terus."
"Ishhh gitu banget, aku nggak pernah lohh ditolak sama cewek, baru kali ini ada yang nolak aku. Sakit hati Aku," kata Elvano cemberut.
"Itu sih masalah anda, bukan masalah saya, hahahaha."
"Yaudah deh, aku balik ya," katanya dengan wajah cemberut tapi itu membuatnya tampak menggemaskan.
"Iya, hati-hati di jalan ganteng, jangan ngebut-ngebut, inget masih ada yang nungguin di rumah," kata Kila.
"Ok, dadahhh," kata Elvano kembali tersenyum manis setelah Kila memanggilnya ganteng, langsung gas motornya.
"Dasar narsis, gitu aja udah langsung senyum," kata Kila menggelengkan kepala setelah sahabatnya itu melajukan motornya menjauh.
Di depan rumah , Kila masih berdiri sendirian di teras. Angin sore menerpa rambutnya. Dia menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak sekaligus lega. Dulu, kata "ganteng" untuk Elvano itu akan membuatnya deg-degan setengah mati, salah tingkah seharian. Sekarang tidak. Sekarang jantungnya datar saja, seperti detak jantung untuk seorang sahabat, bukan lebih.
Sekarang, kata ganteng yang bikin jantungnya berisik, yang bikin pipinya panas, yang bikin tangannya berkeringat, adalah untuk orang lain. Orang yang jaket hitamnya masih ada di dalam kamarnya, terlipat rapi di atas kasur, masih wangi.
Pak Rhaegar.
ayok ada dibaca🤭