Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Menjadi istri seutuhnya
Malam itu penthouse terasa sangat sepi.
Nenek memutuskan untuk pulang setelah beberapa menit tidur dikamar tamu.Nenek bilang tidak mau mengganggu lagi karena besok ada pengajian pagi. Sebelum pulang, Nenek sempat mengelus kepala Safa lama dan berbisik, "Nenek pulang ya, jaga rumah kalian baik-baik."
Setelah itu pintu tertutup dan kini hanya ada Safa dan Arga.
Jam setengah sepuluh malam. Di luar jendela, lampu jakarta masih berkelap-kelip. Berbeda dengan lampu di dalam kamar, lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya lampu tidur yang temaram kekuningan di atas nakas.
Safa duduk di tepi ranjang dengan dress tidurnya yang panjang dan sopan, rambutnya masih setengah basah setelah mandi dan kramas setelah seharian rambutnya tertutup jilbab diluaran.Wangi strawberry tercium begitu jelas kamar tersebut.Di atas nakas, kotak beludru merah berisi gelang bayi itu masih ada di sana, seperti menjadi saksi kecil namun belum tersentuh oleh Safa.
Arga duduk di sampingnya. Baru selesai mandi juga, memakai kaos hitam dan celana tidur panjang. Wajahnya terlihat tenang, tapi tangannya sedikit dingin.
Hening cukup lama. Hanya ada suara dengungan AC.
Safa memainkan ujung dressnya karna gugup. Arga menatap ke depan, ke arah jendela, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk sesuatu yang sudah lama ingin dia katakan.
"Safa," panggil Arga akhirnya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
"Iya Mas?" Safa menoleh.
Arga menarik napas panjang, lalu menoleh dan menatap mata Safa langsung. Tatapannya tidak seperti biasanya yang jahil atau dingin. Tatapannya dalam, tulus, dan penuh penjagaan.
"Sudah beberapa bulan kita menikah," kata Arga pelan." Dan beberapa hari terakhir kita selalu tidur di ranjang yang sama, Selama itu tidak pernah memaksa kamu untuk apa pun, karena saya ingin kamu nyaman dulu. Saya ingin kamu percaya dulu sama saya."
Safa mendengarkan dengan jantung berdegup. Dia mengangguk kecil.
"Kemarin dan hari ini... waktu kita pelukan karena petir, waktu kamu ikut saya ke Mahendra Grup, waktu kamu bersandar di bahu saya di kantor... saya merasa kamu sudah mulai percaya sama saya. Dan saya juga... saya sudah tidak bisa membayangkan hari-hari saya tanpa kamu di dekat saya."
Arga berhenti sebentar, tangannya meraih tangan Safa dengan sangat hati-hati kemudian menggenggamnya.
"Jadi malam ini, kalau kamu mengizinkan... saya ingin meminta hak saya dan meminta kamu melakukan kewajiban kamu menjadi istri saya seutuhnya. Bukan hanya di atas kertas, bukan hanya teman serumah. Tapi menjadi bagian dari hidup saya sepenuhnya, lahir dan batin. Menjadi penyatuan kita sebagai suami istri yang sesungguhnya."
Kalimat itu diucapkan dengan sangat santun, pelan, dan penuh rasa hormat. Tidak ada paksaan sama sekali.
Safa menatap Arga, matanya mulai berkaca-kaca. Bukan karena takut, tapi karena terharu.
"Mas Arga... meminta, bukan memaksa?" tanyanya pelan untuk memastikan.
"Tidak saya pernah memaksa,"jawab Arga langsung, tegas tapi lembut. "Kalau kamu bilang belum siap malam ini, kita tidak akan melakukan apa pun. Kita akan tetap tidur seperti biasa, saya akan tetap mencium kening kamu dan kita akan tetap berpelukan. Saya akan menunggu sampai kapan pun kamu siap. Saya hanya ingin kamu tahu, saya mencintai kamu dan saya ingin kita melangkah ke tahap selanjutnya bersama, kalau kamu juga menginginkannya."
Mendengar itu, air mata Safa menetes lagi tanpa bisa tertahan.
Selama beberapa hari dia memang merasa Arga tidak pernah memaksanya. Arga selalu menjaga batasan, selalu menunggu, selalu menghormatinya.
Safa mengusap air matanya dan mengangguk pelan.
"Aku... aku sudah siap, Mas," bisiknya dengan suara bergetar tapi jelas. "Aku percaya sama Mas Arga. Aku mau menjadi istri Mas seutuhnya."
Mendengar jawaban itu, Arga tersenyum. Senyumnya lega, bahagia, dan penuh syukur.
"Terima kasih, Safa," bisiknya.
Arga mengangkat tangannya dan mengusap air mata di pipi Safa dengan ibu jarinya, dengan gerakan yang sangat lembut.
"Kalau di tengah nanti kamu merasa tidak nyaman atau ingin berhenti, bilang saja ya. Kita berhenti. Jangan dipaksakan,saya akan melakukannya dengan lembut dan hati-hati." kata Arga lagi, mencoba memastikan.
Safa mengangguk. "Iya Mas."
Lalu Arga menunduk dan mengecup kening Safa, lama. Kecupan yang sama seperti ritual mereka, tapi malam ini terasa lebih dalam maknanya. Kecupan itu turun pelan ke pipi, ke ujung hidung, dengan penuh kasih sayang dan kehati-hatian.
Safa memejamkan mata. Dia membalas pelukan Arga dengan memeluk bahu Arga. Tubuhnya yang tadinya tegang pelan-pelan menjadi rileks di dalam pelukan suaminya.
Lampu tidur masih temaram. Selimut tebal yang ada di ranjang mereka tarik pelan untuk menutupi mereka berdua.
Malam itu tidak ada yang terburu-buru. Semua dilakukan dengan pelan, dengan bisikan-bisikan lembut, dengan saling bertanya apakah sudah nyaman, apakah sudah siap.
Arga terus membisikkan kata-kata yang menenangkan di telinga Safa. "Tidak apa-apa, pelan-pelan saja... ada saya di sini..."
Safa menggenggam kaos Arga dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada Arga, mempercayakan sepenuhnya dirinya kepada suaminya.
Tidak rasa malu ataupun canggung lagi kini hanya ada dua hati yang akhirnya menyatu setelah berbulan-bulan menunggu. Ada rasa haru, ada rasa deg-degan yang berubah menjadi rasa aman, ada janji yang terucap dalam bisikan.
Di luar, hujan turun lagi rintik-rintik, membasahi kaca besar penthouse itu. Di dalam, di bawah selimut yang sama, Safa dan Arga akhirnya menjadi suami istri seutuhnya, dalam penyatuan yang penuh cinta, persetujuan, dan penjagaan.
Beberapa waktu kemudian, hening kembali. Hanya ada napas mereka berdua yang masih saling berkejaran pelan.
Safa masih bersandar di dada Arga, wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca bahagia. Arga memeluknya erat, mengelus punggungnya dengan lembut, menciumi puncak kepalanya berkali-kali.
"Terima kasih ya sudah percaya sama saya," bisik Arga di atas kepala Safa, suaranya serak pelan karena rasa haru bahagia yang bercampur jadi satu.
Safa mengangguk kecil di dadanya. "Aku sayang Mas Arga."
Mendengar itu, pelukan Arga semakin erat.
Di atas nakas, kotak beludru merah berisi gelang bayi kecil itu masih ada di sana, terkena cahaya lampu tidur yang temaram. Malam ini, kotak itu terasa lebih dekat dari biasanya.
Arga menarik selimut lebih rapat untuk menutupi Safa yang sudah mengantuk berat di pelukannya.
"Tidur yang nyenyak ya, istriku i love u." bisik Arga.
" I love u too mas Arga."
Safa memejamkan matanya terlelap di dalam pelukan suaminya, dengan perasaan aman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Malam pertama mereka sebagai suami istri seutuhnya akhirnya terlewati dengan indah dan penuh cinta.
Bersambung