NovelToon NovelToon
SAAT BAHAGIA BERSAMAMU

SAAT BAHAGIA BERSAMAMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah NH2

Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.

Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?

Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa

Selamat membaca~~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Piyama dan Gelang

Mendengar kabar Marsya celaka dan hampir tidak sadarkan diri, membuat Kyle terburu-buru pulang kerumah. Beruntung saat itu dia pergi menggunakan motor jadi dia bisa kembali pulang lebih cepat.

Kyle berlari, menerobos masuk kedalam kamar dan duduk ditepi tempat tidur. Tanpa sadar air matanya mengalir, dia tatap Marsya yang sedang tidur setelah meminum obat. Kyle merasa bersalah karena tidak ada disisi Marsya saat dia celaka. Kyle terus meminta maaf dan tidak berhenti mencium tangan Marsya digenggamannya.

Pemandangan haru itu mengundang tawa seorang laki-laki yang duduk disudut sofa. Sosok itu menatap Kyle dengan heran sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya,

"Kyle, Kyle, ternyata lo bisa nangis juga, ya? Dan karena cewek?"

Kyle menoleh, dia menemukan sosok sepupunya yang terlihat menggigit apel ditangannya, dia mengunyah sambil tertawa seakan mengejek. Kyle kesal karena bertemu lagi dengan sepupunya itu, padahal dia sudah mengusir orang itu saat dibengkelnya tadi.

"Nathan, Marsya itu istrinya, wajar kalau Kyle sedih" Sekar membuka suara, Nathan pun mengangguk paham namun tetap dengan senyum mengejek

"Oma tinggal dulu, kalian jangan buat keributan, kasihan Marsya"

Sepeninggal Sekar dari kamar, Nathan bangun dan berjalan menghampiri tempat tidur. Nathan berdiri disamping Kyle, sama-sama menatap Marsya yang masih berbaring diatas sana.

"Tadi Oma bilang, lo yang nolong Marsya waktu kejatuhan pintu?" Kyle bertanya tanpa menatap Nathan, tatapannya masih tertuju pada Marsya.

"Iya, nggak mau say thanks ke gue?"

"Thanks"

"Hahaha, okay. Ngomong-ngomong kenapa nggak cerita kalau Marsya istri lo?"

"Lo kenal dia?"

"Ya, baru kenalan kemarin sih, didepan danau"

Jawaban Nathan membuat Kyle mengernyit, apa maksudnya? Baru berkenalan saat didepan danau? Dimomen apa keduanya bisa bertemu bahkan sampai berkenalan? Kyle tidak mengetahui apapun karena Marsya tidak menceritakannya. Sudah lah, itu tidak penting, sebab kondisi Marsya adalah yang utama. Dan Melihat keadaannya sekarang, istrinya tampak membaik, Kyle hanya perlu menunggu Marsya bangun dari tidurnya.

"Istri lo kayak anak kucing, untung nggak remuk kejatuhan pintu, hahaha"

"Ck, berisik. Keluar lo"

"Iya, okay"

Akhirnya, sepupunya itu pergi meninggalkannya berdua dengan Marsya. Kyle menghela nafas panjang, lain kali, dia akan lebih ketat menjaga Marsya. Kyle berjanji hal seperti ini atau hal yang lebih membahayakan tidak akan terulang lagi. Sebab kejadian ini sudah membuatnya sedih dan panik setengah mati.

Menjelang sore, Marsya bangun seorang diri didalam kamar. Puas rasanya bisa tidur lelap setelah meminum obat pereda sakit kepala dan meminum jamu pereda nyeri dan pegal buatan Sekar. Sekarang, rasa nyeri sudah hilang meski puncak kepalanya masih sakit saat disentuh, tidak apa-apa, setidaknya kondisinya sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Marsya bersiap bangun dari tempat tidur. Diatas meja, dia melihat ponsel dan jam tangan Kyle yang tersimpan diatas sana. Senyum Marsya mengembang seketika, dia senang karena berarti Kyle berada dirumah. Marsya akan berikan kejutan yang tadi tertunda karena sempat tersandung selang air dan tertimpa daun pintu. Sungguh, kecerobohannya itu membuatnya gagal mengunjungi Kyle di bengkelnya.

Mengingat kejadian itu membuat Marsya menyadari satu hal, dia merasa tidak percaya yang menolongnya tadi adalah Nathan, kakak sepupu Kyle. Dan kemarin malam, laki-laki itu juga yang membantu saat mobilnya mogok didepan danau. Semua seperti kebetulan bisa berkenalan dengan laki-laki yang merupakan saudara dari suaminya sendiri, dunia begitu sempit, pikir Marsya.

Marsya menggulung rambutnya keatas, dia akan mencari Kyle, rasanya tidak sabar memberi kejutan itu.

Baru saja menuruni tangga, Kyle memanggil dari arah ruang keluarga. Kyle menghampiri, memastikan keadaan Marsya dan menggendong Marsya tanpa permisi, dia bawa istrinya itu menaiki tangga menuju kamar mereka. Marsya memeluk erat leher Kyle, kepalanya turut bersandar di bahunya yang kokoh. Marsya tersenyum, dia menyukai momen ini, sederhana namun manis dan romantis.

Diatas tempat tidur, Kyle menjatuhkan Marsya perlahan, dia mengurung Marsya dengan kedua sikunya. Kyle tinggalkan kecupan dikening Marsya berkali-kali, sampai kecupan itu berpindah ke bibirnya

"Sya, maaf, gue nggak ada disamping lo waktu lo celaka kayak tadi"

"Gue nggak bisa ngelindungin lo, ini pasti sakit banget, kan?" Tanya Kyle sambil mengusap lembut puncak kepala Marsya,

"Badan lo juga, pasti sakit, kan?" Kyle menunduk, dia sembunyikan wajahnya dileher Marsya, terdengar suara isak tangis yang begitu pelan, Kyle menangis sambil memeluknya.

"Badan lo sekecil ini, Sya, tapi lo harus kejatuhan pintu sebesar dan seberat itu"

"Gue bodoh banget, gue nggak ada gunanya"

"Harusnya gue aja yang kejatuhan itu, jangan lo" Tangisan Kyle semakin menjadi, dia menyesali hal yang seharusnya tidak menimpa Marsya. Kyle membayangkan sakitnya menjadi Marsya, dengan tubuh mungil itu harus tertimpa pintu berbahan kayu yang cukup tebal, besar dan berat. Tentu sakitnya luar biasa.

"Kyle? Jangan nangis, aku nggak apa-apa kok" Marsya menenangkan Kyle dengan mengusap punggungnya, dia mencoba meyakinkan Kyle bahwa semua sudah baik-baik saja. Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi karena itu bukan lah kesalahan Kyle. Marsya sadar kecelakaan itu murni kecerobohannya sendiri. Andai saat itu Marsya lebih berhati-hati memilih jalan, dia tidak akan tersandung sampai menyenggol dan tertimpa pintu yang ada disana.

Marsya tersentuh melihat Kyle menangis. Tidak disangka dengan sosoknya yang terlihat pendiam, dingin dan acuh dari luar, ternyata bisa menangis dan tidak berdaya seperti ini. Tangisannya terdengar menyakitkan, seakan ada rasa sesak didada. Marsya tidak tega melihat kyle seperti ini, lebih baik dia menghadapi Kyle yang usil dan nakal dari pada melihatnya menangis.

"Udah, jangan nangis lagi" Marsya menyeka air mata Kyle dengan kedua ibu jarinya. Dia berikan kecupan dibibir Kyle sebelum menuntun laki-laki itu untuk bangun dari posisinya.

"Aku punya sesuatu, tunggu ya"

Kyle menunggu Marsya yang terlihat mengambil sesuatu dari dalam lemari, dia cukup penasaran sebab tatapan Marsya tadi terlihat berbinar seakan tidak sabar memperlihatkan apa yang dia punya. Dan benar saja, ditangannya sekarang ada dua buah tas jinjing berukuran besar dan kecil.

Saat kembali, Kyle menepuk salah satu pahanya dan meminta Marsya duduk diatasnya. Terlihat Marsya langsung membuka paper bag berukuran besar, mengeluarkan dua pasang baju tidur dengan warna, gambar dan model senada.

Kyle menahan tawa, apa yang dia lihat ini? Piyama terusan berbahan kain bulu dengan desain menonjol yang unik berbentuk gajah. Tidak lupa dengan mata bulat yang besar dan kuping lebar dibagian penutup kepala serta belalai dibagian depan celananya. Kyle terperangah, tetapi tidak dengan Marsya yang begitu gemas dengan piyama ditangan itu.

"Kyle, lihat deh belalainya gede" Ucap Marsya sambil menggenggam belalai gajah itu dengan tangannya, "Tapi lebih gede belalai kamu, sampai nggak muat ditangan aku"

"Marsya, lo jangan mancing, ya"

"Hahaha, iya ampun, nanti malam kita pakai ini ya buat tidur?"

"Serius? Jujur aneh ngeliatnya. Ide dari mana sih beli piyama model gini?"

"Random aja, karena lucu, jadi aku beli buat kita. Oh iya, ada satu lagi"

Marsya singkirkan piyama-piyama itu dan beralih pada tas jinjing berukuran kecil. Didalamnya, ada kotak berisi masing-masing gelang dengan model, warna yang berbeda. Marsya perlihatkan satu persatu gelang itu kepada Kyle.

Gelang rantai berpelat logam berwarna hitam bertuliskan "Her King" dengan ikon mahkota raja untuk laki-laki. Sedang gelang berwarna rose gold bertuliskan "His Queen" dengan ikon mahkota ratu untuk perempuan. Kyle terpana melihat gelang-gelang itu, terlihat kokoh dan elegan.

Tanpa mengutarakan pendapatnya, Kyle meminta Marsya untuk memasang gelang itu ditangan kirinya, dan Kyle lakukan hal yang sama ditangan Marsya. Marsya tampak bahagia, dia sandingkan tangannya bersama dengan tangan Kyle, gemas sekali rasanya bisa memiliki barang pasangan dengan suaminya setelah cincin pernikahan mereka.

"Kamu suka, nggak?"

"Hm, suka. Thanks, Sya, ini bagus. Meski piyamanya absurd, tapi nggak apa-apa nanti malam gue pakai"

"Yeay, gitu dong, aku kan jadi senang. Thanks juga ya, Kyle, karena udah nerima pemberian aku"

Keduanya saling berpelukan, mengutarakan kasih sayang yang mereka punya. Dan Marsya, dia memeluk Kyle begitu erat, seakan tidak mau segala sesuatu bersama Kyle berakhir cepat. Ditambah hari ini, sikap Kyle membuatnya terharu dan tersentuh, dia bisa merasakan tulusnya perasaan Kyle untuknya, air mata Kyle sudah cukup menjelaskan semuanya.

Dan sekarang Marsya tidak bisa menyangkal perasaannya lagi bahwa dia sudah menaruh hati pada Kyle. Dia mulai menyayangi dan mencintai suaminya. Ternyata benar kata pepatah, cinta datang karena terbiasa. Terbiasa melihat, terbiasa berinteraksi, terbiasa dengan perhatiannya membuat rasa itu muncul dengan sendirinya.

Marsya mengendurkan pelukannya, dia beralih menatap wajah Kyle yang tampak sembab karena menangis. Wajah sendunya ini membuat Kyle sangat lucu dan menggemaskan, sampai Marsya lupa bahwa suaminya ini pernah berubah menjadi iblis yang haus darah saat hampir menghabisi nyawa seseorang.

Cup, Marsya berikan satu kecupan dibibir Kyle

Cup, Marsya berikan lagi yang keduanya kalinya

Cup, dan ketiga kalinya membuat Kyle tidak melepaskannya begitu saja. Laki-laki itu memeluk dan menekan tengkuknya. Curang, batin Marsya.

...•••••...

Du du du du du bersambung dulu ya bun

Seperti biasaaa yang suka sama cerita ini jgn lupa komen yang banyaaaakkkk

tinggalkan jejak dengan beri hadiah, tombol suka dan subscribe biar gak ketinggalan🥰💕💕

1
rayhan dirgantara
belalai apa tu🫪🫪🫪🫪
rayhan dirgantara
hi nma aku rayhan ak suka crrita kmu ka aku kls 4sd ka
Kholifah NH2: anak kelas 4 sd bacanya komik yang lucu lucu aja ya dek, jangan yang ini nanti dimarahin mama🥰
total 1 replies
rayhan dirgantara
jjur krng pjng,bacany cma semenit torrr pjgngin lg dong smngat y😌
rayhan dirgantara
Kelazzzzzz
Tiaraa Kayla
ini kurang ajar si
Tiaraa Kayla
what😰
Tiaraa Kayla
rahasiain pernikahan tp mereka kiss di parkiran,ada yg liat ga th
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!