Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Kenapa?" bisiknya dengan suara bergetar. "Apa salahku sampai kalian tega melakukan ini?"
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar di dalam mobil.
Ia teringat bagaimana selama ini dirinya berusaha menjadi istri yang baik. Bagaimana ia menahan keinginan, menjaga perasaan Pras, dan percaya bahwa kesibukan suaminya adalah bagian dari tanggung jawab seorang lelaki yang bekerja keras.
Ternyata, di balik semua itu, Pras memiliki kehidupan lain yang sengaja disembunyikannya.
Dan Alena, sepupunya sendiri, bersedia menjadi bagian dari kebohongan tersebut.
Semua yang diketahui Mikha hari ini terasa seperti pukulan telak yang menghantam hati sekaligus jantungnya.
Ia tidak tahu bagian mana yang lebih menyakitkan.
Pengkhianatan suaminya, atau kenyataan bahwa orang yang ikut menghancurkan rumah tangganya adalah bagian dari keluarganya sendiri.
Namun, di antara rasa sakit yang nyaris membuatnya kehilangan kendali, perlahan muncul sesuatu yang berbeda.
Kekecewaan yang berubah menjadi kemarahan.
Mikha menyeka air matanya, lalu menyalakan mesin mobil.
Jika Pras merasa dirinya bisa mempermainkan perasaan seorang istri sambil menjanjikan pernikahan kepada perempuan lain, lelaki itu salah besar.
Mikha tidak akan lagi menjadi perempuan yang hanya duduk di rumah, menunggu suaminya pulang, lalu menerima alasan apa pun yang diberikan kepadanya.
Kalau Pras bisa merencanakan masa depan bersama Alena tanpa memedulikan perasaannya, maka Mikha juga berhak memikirkan masa depannya sendiri.
Ia tidak berniat terus menjadi satu-satunya orang yang menanggung kerugian.
Malam harinya, Pras pulang membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Mikha yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh ketika mendengar suara langkah suaminya.
Seketika, ingatannya kembali pada kejadian siang tadi.
Wajah Pras di restoran. Suaranya ketika menyebut nama Alena. Jemarinya yang menggenggam tangan perempuan itu.
Semua terulang begitu jelas hingga Mikha harus mengepalkan tangan di atas pangkuannya agar tidak kehilangan kendali.
Namun, ketika Pras menghampirinya, ia justru memasang senyum.
"Kamu sudah pulang, Mas?"
Pras mengangguk. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya.
"Iya. Kamu lagi santai?"
"Iya."
Pras duduk di sampingnya, kemudian mengeluarkan kotak kecil yang sejak tadi dibawanya.
"Mas punya sesuatu buat kamu."
Mikha menatap kotak itu.
"Apa, Mas?"
"Coba buka."
Dengan jemari yang terasa dingin, Mikha menerima kotak tersebut. Ia membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat gelang mutiara yang kemarin diperlihatkannya kepada Pras. Kilau mutiaranya tampak indah, berpadu dengan berlian kecil yang menghiasi setiap bagiannya.
Gelang yang harganya mencapai lima ratus juta rupiah.
Gelang yang kemarin ia gunakan sebagai alasan untuk melihat seberapa jauh Pras bersedia memenuhi keinginannya.
Dan sekarang, benda itu benar-benar berada di tangannya.
"Mas membelinya?" tanyanya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Pras tersenyum.
"Iya. Katanya kamu suka sekali. Jadi, Mas pikir tidak ada salahnya membelikannya untuk kamu."
Mikha menunduk menatap gelang tersebut.
Seharusnya ia merasa senang.
Seharusnya ia tersenyum lebar, memeluk Pras, lalu mengucapkan terima kasih seperti istri yang baru saja mendapatkan hadiah istimewa dari suaminya.
Maka itulah yang dilakukannya.
"Ya ampun, Mas!" Mikha memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat. "Cantik sekali!"
Ia bahkan tertawa kecil sambil mengangkat gelang itu.
"Aku benar-benar suka. Terima kasih banyak, ya, Mas."
Pras terlihat lega.
"Sama-sama. Kamu senang?"
Mikha mengangguk cepat.
"Senang banget!"
Ia merapatkan tubuhnya, lalu memeluk lengan Pras. Kepalanya disandarkan di bahu lelaki itu, sementara senyum masih menghiasi bibirnya.
Dari luar, tidak ada yang aneh dengan pemandangan tersebut.
Seorang suami memberikan hadiah mahal kepada istrinya, dan sang istri menerimanya dengan penuh kebahagiaan.
Namun, di balik senyum itu, hati Mikha terasa semakin dingin.
Ia membenci dirinya sendiri karena harus berpura-pura bahagia di hadapan lelaki yang baru saja menghancurkan kepercayaannya.
Ia tahu cara yang dilakukannya ini mungkin membuat dirinya terlihat jahat. Memanfaatkan uang Pras, meminta perhiasan mahal, lalu menyembunyikan kemarahan di balik senyuman.
Namun, bukankah Pras telah lebih dahulu melakukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan?
Lelaki itu masih memanggilnya istri, masih memberinya hadiah, bahkan masih bisa memeluknya seolah tidak ada yang salah.
Padahal, pada siang hari yang sama, ia duduk di hadapan Alena dan membicarakan janji pernikahan mereka.
Pras mengira gelang itu bisa membuat Mikha bahagia.
Ia tidak tahu bahwa setiap butir mutiara di dalam kotak tersebut justru mengingatkan Mikha pada kebohongan yang selama ini disembunyikannya.
"Mas," panggil Mikha pelan.
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti aku meminta sesuatu yang lebih besar dari ini, Mas bakal mengabulkannya juga?"
Pras menoleh, sedikit heran dengan pertanyaan itu.
"Maksud kamu?"
Mikha mengangkat wajah dan tersenyum manis.
"Enggak apa-apa. Aku cuma penasaran. Mas sayang sama aku, kan?"
Pras terdiam sesaat sebelum menjawab, "Tentu saja. Kamu istriku."
Istriku.
Dua kata yang kini terasa begitu menyakitkan.
Mikha hampir tertawa mendengarnya, tetapi ia berhasil menahan diri.
"Kalau begitu, aku percaya sama Mas."
Ia kembali memeluk lengan Pras, menyembunyikan wajahnya agar lelaki itu tidak melihat perubahan ekspresinya.
Percaya?
Tidak.
Mulai malam ini, tidak ada lagi kepercayaan yang tersisa.
Yang ada hanya kesadaran bahwa ia harus melindungi dirinya sendiri sebelum semuanya terlambat.
Mikha akan tetap tersenyum. Ia akan tetap menjadi istri yang tampak patuh, selama itu diperlukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan Pras.
Dan jika suaminya mengira ia bisa meninggalkan pernikahan mereka begitu saja setelah semua kebohongan itu terbongkar, Pras harus berpikir ulang.
Mikha tidak akan membiarkan dirinya pergi dengan tangan kosong sementara lelaki itu mendapatkan perempuan yang diinginkannya.
Ia sudah kehilangan terlalu banyak.
Kali ini, ia akan memastikan bahwa Pras juga merasakan akibat dari pilihannya sendiri.
Di sampingnya, Pras mengusap rambut Mikha dengan penuh kelembutan.
Sementara itu, Mikha terus tersenyum sambil menggenggam kotak gelang mahal tersebut.
Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa malam itu, di antara hadiah mewah dan pelukan yang tampak hangat, pernikahan mereka sebenarnya telah memasuki babak yang berbeda.
Pras masih menganggap Mikha sebagai istri yang bisa ditenangkan dengan uang dan perhatian sesaat.
Sedangkan Mikha mulai melihat suaminya sebagai lelaki yang harus ia hadapi dengan cara yang berbeda.
"Mas aku sepertinya ingin ke kamar mandi." Rasa mual kembali datang, dan mual itu lebih terasa saat di dekat Pras. Mungkin karena saat ini mikha terlalu kecewa dengan sikap Pras, sehingga hormon kehamilannya pun berpengaruh.
"Sayang, kamu sejak kemaren kok aneh, mual terus seperti orang hamil. Jangan-jangan kamu memang hamil. Kamu juga pucat sekali Mas lihat."
"Enggak Mas, aku baik-baik saja. Percayalah Mas, ini cuma masuk angin biasa." Mikha lalu ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang masih kosong. Sejak pagi dia hanya makan sedikit sekali.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭