Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayla Sakit
"Maya, kamu bercanda kan?" sembur Clara dengan suara kencang yang sengaja ditinggikan hingga memancing perhatian belasan tamu di sekitarnya.
"Kamu bilang wanita ini desainer? Dia ini cuma mantan istri suamiku yang diusir karena cuma jadi beban finansial rumah!"
Beberapa tamu wanita yang berdiri mengelilingi Maya mendadak saling berbisik, menatap Adelia dengan raut heran dan penuh tanya,ada juga tatapan mencemooh.
Arkananta yang berdiri di samping Clara tampak memegang cangkir minuman beralkoholnya dengan canggung.
Pria itu berdiri tegap memamerkan setelan jas mahal, sementara Clara memajang gelang emas putih baru di pergelangan tangannya,perhiasan mewah yang dibelikan Arkananta yang sengaja dipamerkan ia pamerkan.
Clara maju dua langkah, menyilangkan tangan di dada sambil tertawa meremehkan.
"Lihat saja gaun hitam yang dia pakai itu. Modelnya nggak banget, kusam, mirip baju pasaran lima puluh ribuan di pasar loak! Masa pengusaha kelas atas kaya kamu mau pakai baju buatan tukang jahit miskin?"
Adelia tidak goyah sedikit pun. Ia berdiri tegak, membiarkan gaun hitam buatannya membalut tubuhnya dengan sangat anggun. Tidak ada raut panik atau ketakutan di wajahnya.
"Clara, cukup!" tegur Arkananta pelan sambil menyikut lengan istri barunya, merasa canggung dengan perhatian para pengunjung pameran yang mulai mengerumuni mereka.
"Kenapa harus cukup, Mas?" bentak Clara tidak terima. "Aku cuma mengaitkan fakta! Biar semua orang di gedung ini tahu kalau wanita ini cuma pura-pura jadi desainer!"
Maya melangkah maju satu pijakan, berdiri pasang badan tepat di depan Adelia. Wajah wanita pengusaha sukses itu mengeras penuh ketegasan, menatap Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan dingin yang menohok.
"Jaga mulutmu, Clara!" tegur Maya dengan suara lantang dan Keras hingga membuat area pameran mendadak hening seketika. "Kamu datang ke acara pameran kelas atas ini cuma buat Menghina Sesorang!?"Dasar Wanita tidak punya etika dan moral sedikit pun!!"
Wajah Clara seketika memerah padam. "Lho, Bu Maya! Saya ini cuma memberitahu fakta soal asal-usul dia..."
"Fakta yang saya tahu adalah gaun yang saya pakai malam ini buatan Bu Adelia," potong Maya tajam tanpa memberi celah.
"Potongannya jauh lebih presisi dan berkelas daripada gaun merah penuh payet norak yang kamu pakai itu! kualitas karya tidak ditentukan dari dari mana seseorang berasal, tapi dari bakat murni dan kerja kerasnya!"
Para tamu undangan di sekeliling mereka mulai mengangguk-angguk setuju, melayangkan tatapan menyindir ke arah Clara.
"Kualitas seseorang itu kelihatan dari cara dia bertutur kata," lanjut Maya penuh wibawa. "Dan dari bisikan kasar serta kelakuanmu barusan, sangat jelas siapa di sini yang sebenarnya tidak punya kelas!"
Clara mengepalkan kedua tangannya rapat-rapt, bibirnya bergetar menahan malu yang amat sangat di hadapan puluhan orang terpandang. Ia menoleh pada suaminya. "Mas Arkan! Kok kamu diam saja sih?! Bela aku dong!"
Arkananta tidak menjawab. Pandangan matanya mendadak terkunci lurus ke arah Adelia yang berdiri tenang di samping Maya.
Ia tertegun untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia menatap adelia dulu Adelia merupakan gadis yang cantik yang banyak disukai pria bahkan banyak yang ingin melamarnya,tapi adelia dengan rela memilih hidup bersamanya.
dan sekarang ia melihat aura Adelia yang seperti dulu,ia tampak begitu cantik dengan balutan gaun hitam,dan riasan tipis yang tak mengurangi kecantikannya,
yang membuat dada Arkananta berdesir hebat.
ia melihat aura ketangguhan dan martabat tinggi yang tak pernah ia lihat selama lima belas tahun pernikahan mereka.
Adelia menatap balik manik mata Arkananta tanpa rasa gentar sedikit pun. Tatapan Adelia begitu dingin, seolah Arkananta hanyalah sosok asing yang tak berdampak apa-apa dalam hidupnya.
"Bu Maya, mari kita lanjut melihat gaun gaun di sebelah sana," ucap Adelia tenang, sama sekali mengabaikan keberadaan Clara dan Arkananta.
"Tentu, Bu Adelia. Mari," sahut Maya tersenyum puas, lalu menggandeng lengan Adelia melewati Clara yang berdiri mematung menahan amarah.
Arkananta memperhatikan langkah Adelia yang menjauh dengan dada bergemuruh aneh. Ada perasaan kehilangan yang mendadak menyeruak tebal di dalam hatinya.
"Mas Arkan! Kenapa kamu malah melamun menatap cewek itu?!" jerit Clara kesal seraya memukul lengan Arkananta.
"Kamu lihat kan bagaimana wanita licik itu mempermalukan aku di depan umum?!"
"Kamu yang mulai duluan, Clara!" sentak Arkananta kasar, menepis tangan Clara. "Harusnya kamu bisa jaga sikap di acara seperti ini! Bikin malu saja!"
"Kok kamu jadi salahin aku sih"
Arkananta berjalan cepat meninggalkan Clara menuju pintu keluar gedung dengan napas memburu.
Malam itu, Adelia pulang ke kontrakan kayu membawa tiga pesanan gaun pesta baru dari rekan-rekan bisnis Maya yang terkesan dengan keanggunaannya di pameran.
Namun, kegembiraan Adelia tidak bertahan lama.
Saat Adelia mendorong pintu kayu rumahnya pada pukul sepuluh malam, ia mendapati Kenzie sedang berlutut di samping kasur kapuk dengan wajah panik dan mata sembab.
"Kenzie! Ada apa, Nak?" tanya Adelia buru-buru mendekat.
Di atas kasur, Kayla terbaring lemas dengan napas memburu dan tubuh yang gemetar hebat. Dahinya saat diusap Adelia terasa sangat panas membakar.
"Ibu... Kayla tadi sore mendadak muntah-muntah dan pingsan," tangis Kenzie pecah. "Suhu badannya tinggi banget, Bu! Kenzie bingung harus bagaimana..."
Adelia tidak berpikir dua kali. "Kenzie, bantu Ibu angkat adikmu! Kita harus bawa Kayla ke rumah sakit sekarang!"
Dengan bantuan tetangga sebelah yang meminjamkan sepeda motor, mereka membawa Kayla ke instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat di kota.
Setelah pemeriksaan intensif selama satu jam oleh tim medis, seorang dokter keluar dari ruang perawatan dengan raut wajah serius.
"Ibu Adelia?" panggil dokter tersebut.
Adelia berdiri dengan tangan gemetar. "Iya, Dok. Saya ibunya. Bagaimana keadaan putri saya?"
Dokter itu menghela napas pelan. "Putri Ibu mengalami infeksi tifus akut dan dehidrasi berat. Dia harus segera dirawat inap di ruang perawatan khusus malam ini juga agar infeksi darahnya bisa ditangani."
Dokter itu menyerahkan lembaran berkas administrasi ke tangan Adelia. "Silakan selesaikan pembayaran uang muka rawat inap dan obat-obatan di kasir dulu ya, Bu. Biayanya cukup besar karena ada tindakan medis darurat."
Adelia membuka lembar rincian biaya tersebut di bawah lampu koridor rumah sakit. Angka yang tertera di kertas itu membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: Tujuh juta lima ratus ribu rupiah.
Adelia merogoh dompet kainnya. Uang simpanannya dan hasil penjualan gaun beberapa hari ini jika digabungkan hanya ada dua juta rupiah. Uang muka dari pelanggan baru pun belum ditransfer.
Adelia menatap Kenzie yang berdiri memandangnya dengan raut cemas di depan pintu kamar inap.
Kayla jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang lumayan besar di rumah sakit.
Adelia memejamkan mata rapat-rapt, menggenggam kertas tagihan medis itu hingga remuk di jemarinya. Tidak ada pilihan lain demi menyelamatkan nyawa putrinya.
Dengan tangan gemetar dan hati yang teriris perih, Adelia mengeluarkan ponselnya, lalu mencari satu nama kontak yang sudah lama tidak pernah ia hubungi.
Adelia memencet tombol panggil ke nomor Arkananta.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel