NovelToon NovelToon
Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: rini sya

Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.

Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.

Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.

Hati Jihan hancur.

Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.

Jihan hanya terdiam.

Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.

Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetap Pada Keputusan

Ruang mediasi di pengadilan itu terasa begitu sunyi. Jihan duduk di salah satu kursi dengan kedua tangan terlipat di atas pangkuan. Wajahnya tampak tenang, meskipun jauh di dalam hatinya, ada perasaan yang sulit dijelaskan.

Di sampingnya duduk kuasa hukumnya, sementara Hansen berada di seberang meja bersama pengacaranya.

Sudah sepuluh tahun mereka menikah. Sepuluh tahun pula Jihan berusaha mempertahankan rumah tangga yang perlahan membuatnya kehilangan dirinya sendiri. Namun, hari ini, mereka duduk berhadapan bukan untuk memperbaiki hubungan, melainkan untuk mengakhiri ikatan pernikahan tersebut.

Mediator yang bertugas membuka berkas di hadapannya, lalu menatap kedua belah pihak secara bergantian.

“Baik, Bapak Hansen dan Ibu Jihan. Hari ini kita akan melaksanakan mediasi terkait perkara perceraian yang diajukan. Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin memastikan terlebih dahulu, apakah benar perceraian ini merupakan kehendak kedua belah pihak?”

Hansen menjawab lebih dahulu.

“Benar, Pak. Saya ingin bercerai.”

Jawaban itu terdengar mantap. Tidak ada keraguan, tidak ada jeda, seolah keputusan tersebut sudah bulat sejak lama.

Mediator kemudian mengalihkan pandangan kepada Jihan.

“Ibu Jihan, bagaimana dengan Ibu?”

Jihan mengangkat wajah. Sekilas, matanya bertemu dengan mata Hansen. Laki-laki itu segera mengalihkan pandangan, membuat Jihan menarik napas pelan sebelum menjawab.

“Saya juga ingin bercerai, Pak.”

Mediator mengamati keduanya beberapa saat.

“Boleh saya tahu apa alasan utama kalian ingin mengakhiri pernikahan ini? Apakah masih ada persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui komunikasi atau kesepakatan bersama?”

Hansen menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Menurut saya, kami sudah tidak cocok lagi. Selama menjalani pernikahan, kami tidak memiliki hubungan yang seharusnya dimiliki oleh pasangan suami istri. Kami punya cara pandang yang berbeda, dan saya merasa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan.”

Jihan mendengarkan tanpa menyela.

Mediator mencatat jawaban Hansen, lalu menoleh kepadanya.

“Bagaimana menurut Ibu Jihan?”

Jihan menunduk sebentar sebelum berbicara.

“Saya setuju dengan alasan itu, Pak. Kami memang sudah tidak cocok. Saya dan suami memiliki kehidupan yang berbeda, dan saya rasa mempertahankan pernikahan hanya akan membuat kami semakin tidak bahagia.”

Hansen mengangkat wajah.

Ia tidak menyangka Jihan akan mengucapkan kalimat itu dengan begitu mudah.

Dahulu, perempuan itu selalu berusaha mencari alasan untuk tetap bertahan. Bahkan ketika Hansen pulang larut malam, tidak memberikan kabar, atau mengabaikan perhatian yang diberikan kepadanya, Jihan tetap berusaha meyakinkan dirinya bahwa pernikahan mereka masih bisa diperbaiki.

Namun, sekarang, perempuan itu justru mengiyakan semua alasan yang digunakannya untuk bercerai.

Mediator kembali berbicara.

“Pernikahan selama sepuluh tahun tentu bukan waktu yang singkat. Saya ingin memberikan kesempatan kepada kalian untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini. Apakah tidak ada keinginan untuk mencoba memperbaiki hubungan, setidaknya demi anak?”

Nama Raka membuat jemari Jihan sedikit menegang.

Ia menyayangi putranya lebih dari apa pun. Namun, ia juga tahu bahwa mempertahankan pernikahan yang sudah tidak sehat bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi orang tua yang baik.

“Raka tetap anak kami, Pak,” jawab Jihan. “Perceraian ini tidak akan mengubah kenyataan bahwa kami berdua adalah orang tuanya. Saya tidak ingin menghalangi hubungan Raka dengan ayahnya.”

Mediator mengangguk.

“Lalu, apakah Ibu masih memiliki perasaan kepada suami?”

Pertanyaan itu membuat Jihan terdiam.

Untuk sesaat, bayangan Hansen di masa lalu melintas di benaknya. Laki-laki yang pernah ia cintai dengan begitu tulus. Laki-laki yang selama bertahun-tahun ia tunggu kepulangannya. Laki-laki yang pernah membuatnya berharap bahwa suatu hari ia akan mendapatkan kasih sayang yang sama.

Namun, ia juga teringat malam ketika Hansen mengabaikan penolakannya. Sejak malam itu, ada bagian dalam dirinya yang semakin sulit merasa aman di dekat suaminya sendiri.

Jihan meremas jemarinya di atas pangkuan.

“Perasaan bukan satu-satunya alasan seseorang harus mempertahankan pernikahan, Pak,” jawabnya akhirnya. “Kalaupun masih ada perasaan, itu tidak berarti kami harus terus hidup bersama ketika hubungan ini sudah tidak baik bagi kami.”

Hansen terdiam.

Jawaban itu terasa seperti tamparan yang tidak bisa ia hindari.

Ia ingin mengatakan bahwa Jihan tidak perlu berbicara seolah-olah dirinya sudah tidak memiliki arti apa pun. Namun, bukankah selama ini ia sendiri yang memperlakukan Jihan seperti seseorang yang tidak penting?

Mediator menoleh kepada Hansen.

“Bagaimana dengan Bapak? Apakah Bapak sudah mempertimbangkan kemungkinan untuk memperbaiki rumah tangga ini?”

Hansen merapatkan rahangnya.

“Sudah, Pak. Saya tetap pada keputusan saya. Saya merasa kami sudah tidak cocok dan lebih baik berpisah.”

Kalimat itu keluar dengan tegas.

Namun, berbeda dengan saat pertama kali mengucapkannya, kali ini Hansen merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

Ia teringat Jihan yang sudah pindah dari rumah mereka. Ia teringat kamar yang kini terasa kosong, juga kebiasaannya mencari sosok perempuan itu setiap kali pulang. Selama perjalanan dinasnya ke Jepang, ia bahkan beberapa kali ingin menghubungi Jihan, tetapi selalu mengurungkan niat karena tidak tahu harus mengatakan apa.

Meski demikian, ia tidak menarik kembali keputusannya.

Ia masih belum mampu mengakui bahwa keinginannya untuk mempertahankan Jihan mungkin sudah mulai tumbuh. Ia juga belum berani menghadapi kenyataan bahwa rasa takut kehilangan tidak otomatis berarti ia telah berubah menjadi suami yang layak dipercaya.

Jihan mengangguk pelan ketika mendengar jawaban Hansen.

Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada protes. Tidak ada permohonan agar laki-laki itu mempertimbangkan kembali keputusan mereka.

Justru ketenangan itu membuat Hansen semakin gelisah.

Mediator kembali memeriksa dokumen di hadapannya.

“Baik. Saya memahami bahwa kedua belah pihak sama-sama menyatakan ingin bercerai. Namun, sebelum mediasi dinyatakan tidak berhasil, saya perlu memastikan beberapa hal terkait anak dan hak-hak yang mungkin timbul akibat perceraian.”

Pengacara Jihan kemudian menyampaikan bahwa kliennya tidak mengajukan tuntutan pembagian harta bersama dalam proses tersebut dan tidak bermaksud menghalangi hubungan Hansen dengan Raka. Jihan juga telah menyatakan keinginannya agar kebutuhan pendidikan serta masa depan Raka tetap menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya sesuai kewajiban masing-masing.

Hansen menoleh kepada Jihan.

“Kamu benar-benar tidak menuntut apa pun?” tanyanya spontan.

Jihan menatapnya.

“Tidak ada yang perlu saya tuntut dari Dokter Hansen.”

Hansen mengerutkan kening.

“Rumah itu bisa kamu tempati. Kamu juga bisa meminta bagianmu dari harta bersama.”

Jihan menggeleng perlahan.

“Saya sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Saya juga bekerja dan bisa memenuhi kebutuhan saya.”

“Jihan, bukan itu maksudku.”

“Lalu apa maksud Dokter?”

Hansen terdiam.

Ia sendiri tidak tahu mengapa merasa terganggu mendengar Jihan menolak semuanya. Seharusnya ia merasa lega karena proses perceraian berjalan tanpa perselisihan mengenai harta.

Namun, penolakan Jihan justru membuatnya merasa seolah-olah perempuan itu benar-benar tidak ingin lagi memiliki hubungan apa pun dengannya.

Jihan mengalihkan pandangan kepada mediator.

“Maaf, Pak. Saya hanya ingin proses ini berjalan dengan baik. Saya tidak ingin memperpanjang masalah yang sudah kami sepakati untuk diakhiri.”

Mediator mengangguk memahami.

“Baik. Saya menghargai sikap Ibu. Namun, perlu saya tegaskan bahwa hak dan kewajiban yang berkaitan dengan anak serta harta bersama harus tetap ditangani sesuai ketentuan yang berlaku. Kesepakatan mengenai hal-hal tersebut harus jelas dan tidak merugikan salah satu pihak.”

Kedua kuasa hukum kemudian mencatat hal-hal yang perlu ditindaklanjuti. Setelah mempertimbangkan keterangan kedua belah pihak, mediator kembali memberikan kesempatan terakhir kepada mereka.

“Sekali lagi, saya ingin memastikan. Apakah masih ada kemungkinan bagi kalian untuk berdamai dan melanjutkan pernikahan ini?”

Hansen menatap meja.

Di hadapannya, ada kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang berbeda. Ia bisa meminta waktu, mengakui bahwa ada persoalan yang belum selesai, atau setidaknya mengatakan bahwa dirinya belum siap kehilangan Jihan.

Namun, ia tidak melakukan semua itu.

“Saya tetap ingin bercerai, Pak.”

Mediator menoleh kepada Jihan.

Jihan mengangkat wajah dengan tenang.

“Saya juga tetap ingin bercerai.”

Tidak ada perubahan dalam suaranya.

Tidak ada air mata.

Dan tidak ada satu pun kata yang menunjukkan bahwa ia ingin membatalkan keputusan tersebut.

Mediator akhirnya menutup berkas di hadapannya.

“Baik. Karena kedua belah pihak tetap pada keputusannya dan belum menemukan kesepakatan untuk melanjutkan pernikahan, proses mediasi ini dinyatakan tidak berhasil. Perkara akan dilanjutkan sesuai prosedur yang berlaku.”

Jihan mengangguk pelan.

“Terima kasih, Pak.”

Hansen tidak mengatakan apa-apa.

Setelah mediasi selesai, Jihan segera berdiri. Pengacaranya membantu merapikan dokumen, lalu mereka berjalan menuju pintu keluar.

“Jihan.”

Langkah Jihan terhenti ketika mendengar suara Hansen.

Ia menoleh.

Hansen berdiri beberapa langkah darinya, sementara pengacaranya sedang berbicara dengan petugas di ujung ruangan.

“Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku?” tanya Hansen.

Jihan menatapnya dengan bingung.

“Apa yang harus saya katakan?”

Hansen tidak segera menjawab.

Entah mengapa, ia merasa seharusnya ada sesuatu yang tertinggal di antara mereka. Mungkin kemarahan. Mungkin kekecewaan. Atau mungkin tangisan yang selama ini tidak pernah benar-benar ia lihat.

Namun, Jihan hanya menatapnya dengan tenang.

“Kita sudah sepakat untuk bercerai, Dokter Hansen. Saya rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

“Jangan panggil aku seperti itu.”

Kalimat tersebut keluar begitu saja.

Jihan terdiam sejenak.

“Lalu, saya harus memanggil Anda apa?”

Hansen kehilangan kata-kata.

Dahulu, Jihan memanggilnya dengan panggilan yang lebih akrab ketika mereka sedang berdua. Suara perempuan itu sering terdengar lembut saat menyebut namanya. Kini, bahkan panggilan sederhana pun terasa seperti sesuatu yang tidak lagi menjadi haknya.

“Tidak apa-apa,” jawab Hansen akhirnya.

Jihan mengangguk.

“Kalau begitu, saya permisi. Saya masih harus bekerja.”

Ia kembali melangkah.

Hansen memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh. Ia ingin memanggilnya sekali lagi, tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Ia sendiri yang menginginkan perceraian ini.

Ia sendiri yang menyatakan bahwa mereka sudah tidak cocok.

Ia sendiri yang memilih untuk mengakhiri pernikahan mereka.

Lalu, mengapa ketika Jihan benar-benar menerima keputusan itu, Hansen justru merasa seperti sedang kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan hilang?

Di luar ruang mediasi, Jihan berhenti sejenak untuk menarik napas.

Dadanya terasa berat. Meski ia tidak menangis di hadapan Hansen, bukan berarti hatinya tidak terluka.

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Ada banyak kenangan yang tidak mungkin dihapus begitu saja. Ada harapan yang pernah ia pelihara, juga cinta yang selama bertahun-tahun membuatnya bertahan.

Namun, hari ini ia memilih untuk tidak lagi menjadikan cinta sebagai alasan untuk menyakiti dirinya sendiri.

Jihan mengusap sudut matanya sebelum kembali berjalan.

Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti Hansen akan menyesali keputusan ini. Ia juga tidak tahu apakah laki-laki itu akan benar-benar memahami semua luka yang pernah ditinggalkannya.

Untuk sekarang, Jihan hanya ingin menyelesaikan satu hal.

Mengakhiri pernikahannya dengan Hansen, lalu memulai hidup yang baru.

Sementara itu, Hansen masih berdiri di depan ruang mediasi.

Di atas kertas, keputusan mereka sama.

Mereka sama-sama ingin bercerai karena merasa sudah tidak cocok.

Namun, tanpa Hansen sadari, ada satu perbedaan besar di antara mereka.

Jihan ingin bercerai agar bisa berhenti terluka. Hansen tetap ingin bercerai karena gengsi dan kebingungannya sendiri, tetapi diam-diam ia mulai takut menghadapi hidup tanpa perempuan yang selama ini selalu ada untuknya.

Dan ketika proses perceraian itu benar-benar berakhir nanti, Hansen mungkin baru akan memahami bahwa ada keputusan yang bisa diambil dalam satu kalimat, tetapi penyesalannya bisa bertahan seumur hidup.

Bersambung....

1
Rini Sya
bantu beri ulasan ya kakak2😍
Ai nurjanah
ayo up lagi dong thor🙏
sunaryati jarum
Masyaallah Jihan,kau punya tabungan begitu banyak tidak dibawa,kan bisa bila rumah sederhana dan buka apotek.
sunaryati jarum
Kehidupan Jihan semakin baik ,mungkin itu uang sisa nafkah darimu, setelah pergi baru divari
sunaryati jarum
Semoga kesempatan itu memiliki Apotek
sunaryati jarum
Harus semangat dan happy selalu agar dua baby sehat pertumbuhan dan perkembangannya normal.Kamu.juga rezeki lancar hingga sebelum baby lahir kamu sudah punya apotek yang kau impikan jadi bisa merawat dua baby sambil menjaga apotek.
sunaryati jarum
Jika kalian.brrjodoh mudah- mudahan bertemu dan Jihan memberi maaf serta memberi kesempatan
Setyowati Setyowati
bukan lupa Hansen..tp mungkin itu uang belanja dari kamu , makanya Jihan GK mau bawa
Setyowati Setyowati
semangat Jihan ..kamu wanita kuat, dan berjuang untuk si kembar
Setyowati Setyowati: siap...hadiahnya rajin up yaa🤭🤭
total 2 replies
Setyowati Setyowati
seperti biasa ...masih merasa kurang 🥰🥰
Rini Sya
Terima kasih buat teman-teman semua atas dukungannya. Sekali lagi jangan lupa like komen dan beri ulasan ya gaes.... makasih banyak😍😍😍
Halimah
Kenapa Hansen ga jujur sekalian kalo penyebab Jihan pincang karena dia yg udah menabraknya
Halimah
Ini anak kecil kok mulutnya udah pedes bgt gitu ya
sunaryati jarum
Selamat Jihan, semoga kamu dan bayimu sehat.Kamu tetap bisa beraktifitas tidak terganggu dengan kehamilan itu.Dan Hanzen tahu dia mengalihkan kehamilan simpatik
sunaryati jarum
Semoga nanti.Jihan memberi kabar Hanzen
Setyowati Setyowati
lanjut lagi Thor..sangat bagus ceritanya
sunaryati jarum
Segera telpon tanya keadaan putramu ,Jihan.Dia sakit dan mencarimu
Setyowati Setyowati
episode ini ikut nangiss Thor 😭😭
sunaryati jarum
Jika kau hamil itu Reziky yang patut disyukuri, tetap beritahukan pada Hanzen.
Halimah
Lama" bosmu jd gila itu Juan🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!