DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3-BERANGKAT BERBURU
Keesokan paginya, Kirana menggeliat di atas tempat tidurnya. Rasa nyenyaknya terganggu oleh gedoran keras di pintu.
"Rana buka... Rana" suara dari pintu.
"tunggu..." teriak Kirana.
Ia turun dari tempat tidur, tak lupa ia membasuh muka terlebih dahulu sebelum membuka pintu.
"cepat bangunlah.... Kalo tidur jangan seperti babi yang susah bangun.."
Kirana yang tengah merapikan diri di depan cermin menatap kesal ke arah pintu.
Apa lagi dia bisa tau jelas suara siapa itu.
"bisa sabar tidak, aku sedang merapikan diri.."
setelah itu, Kirana sengaja menggunakan tekniknya untuk menyelimuti pintu agar suara dari luar tak terdengar.
3 menit berlalu, akhirnya ia siap.
"ada apa si." ungkap Kirana setelah membuka pintu.
Raka yang ada di depan pintu hanya tersenyum.
"gak ada apa apa si..."
"kamu.." tangan Kirana langsung mengangkat.
Buru buru Raka menangkap tangan itu, dan menurunkannya dengan lembut.
"tenang, jangan main kasar. Ingat kita ada janji kepada Mbah kalau tak akan berkelahi lagi, masak belum sampai 1 hari satu malam kamu udah mau ngelanggar."
Kirana menarik napasnya sedikit lebih dalam, mencoba menyetabilkan emosinya.
"ya sudah, sebenarnya ada apa."
"sudah ku bilang gak ada apa apa, aku cuma mau mastiin kalau kamu gak kesiangan. Jangan lupa hari ini kita berangkat berburu."
Kirana mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya mengayunkan tepat ke kepala Raka.
"Raka... sebenarnya apa isi otakmu, kita berangkat pukul 8. Sedangkan ini baru pukul 5 pagi." ungkap Kirana dengan nada selembut mungkin.
"ya kan, kita berburu gak sebentar. Setidaknya sampai 2 bulan, masak gak siap siap dulu."
"ya sudah, kalok begitu pergilah. aku mau siap siap."
setelah mengatakan itu, Kirana langsung berbalik sembari membanting pintu.
Bahkan rambut panjang Raka sampai terkibas terkena angin pintu.
"ada apa dengannya, padahal niatku kan baik." bingung Raka sambil menggaruk kepalanya sendiri.
Sedangkan Kirana kini sudah kesal bukan main.
"ah sudahlah, lebih baik aku pergi membantu menyiapkan makanan" gumamnya.
Kirana akhirnya keluar kamar, dia bingung mau berbuat apa lagi.
Perlengkapannya pun sudah di siapkan beberapa hari sebelum keberangkatan.
Mau tidur lagi, juga tak mungkin. ia telah memakai pakaian rapi, jika di bawa tidur yang ada bajunya akan kusut lagi.
"loh Rana, tumben udah bangun." ungkap warga yang tengah masak.
"ya mau bagaimana lagi, ada yang datang waktu tidur. Mana datengnya kayak ada hal genting lagi."
ibu itu tersenyum.
"pasti ulah Raka kan...?"
Kirana mengambil pisau dan beberapa bawang.
"siapa lagi kalok bukan dia bu, di desa ini yang kelakuannya mirip orang gila yang cuma dia."
bahkan kini bunyi hentakan pisau terdengar jelas , walau dia hanya tengah memotong bawang.
Ibu itu hanya menggeleng...
"Rana kamu kenapa...? Hati hati, nanti alas pemotongnya rusak." ungkap Raka yang baru datang.
Kirana tak menoleh, bahkan suara hentakannya malah semakin keras.
Tak mendapatkan jawaban dari Kirana, akhirnya Raka beralih ke warga yang ikut masak.
"dia kenapa Bu...?"
"udah jangan di ganggu, nanti kamu Lo yang di potong"
Raka bergidik, ia buru buru menjauh dan meletakkan 2 ekor ayam yang sudah bersih.
"loh ini ayam dapet dari mana ka...? Bukannya tadi ibu cuma minta ambilin daun jeruk."
"oh ayam ini, tadi waktu habis ngambil daun jeruk aku duduk bentar. Eh gak tau kenapa 2 ayam ini terus ngedeket ke tas belatiku, dengan insting yang ku miliki aku bisa menebak kalau 2 ayam ini sengaja ngasih kode untuk jadi hidangan penyemangat sebelum aku berangkat berburu. Jadi mau gak mau ya aku nurutin kemauan mereka." ungkap Raka tanpa rasa bersalah.
tok....
Sebuah bawang tepat mengenai, kepala Raka.
tentu Raka langsung memegang kepalanya sendiri, sambil menoleh ke arah Kirana.
"apa apaan si na. Apa kamu gila.
"kamu yang gila...." ungkap Kirana sambil mendorong Raka menjauh.
tak terasa waktu berlalu, mereka makan secara bersama sama di halaman desa.
Becanda tawa sebelum melepas kepergian dua pemuda yang akan menempuh pengalaman berburu untuk pertama kali.
Bahkan saat keduanya sudah naik ke atas kereta kuda, beberapa warga ada yang melambaikan tangan sambil memberi semangat.
"ehem...."
Raka duduk di sebelah Kirana saat di dalam kereta kuda yang menuju ke tengah hutan.
"jangan ribut, aku sedang tak ingin berkelahi." ungkap Kirana.
Bukannya menjauh, Raka malah menggeser dirinya lebih dekat.
"aku sedang tak ingin menjahilimu".
"sebenarnya aku mau berbincang serius." lanjut Raka.
Kirana sedikit menggeser tubuhnya agar bisa melihat Raka lebih jelas.
"berbicara serius...?"
Raka mengangguk...
"kamu sadar gak, Mbah Sarwo akhir akhir ini terus menyuruh kita bisa saling melindungi."
"bukannya itu wajar...? Mbah Sarwo kan memang menganggap kita cucunya. Tentu dia gak akan mau lihat kita berantem terus, cuma kamu aja yang terus cari gara gara."
Raka berdecak.
"bukan itu maksudku, masak kamu gak sadar si. Setelah kunjungan Mbah Sarwo 3 bulan lalu ke kerajaan. Mbah Sarwo seperti berubah sikap, dia seakan akan membiarkan kita bisa bertahan hidup berdua"
Kirana terdiam, dia sebenarnya juga bisa merasakan hal itu.
Namun ia terus menekan kan kedalam dirinya kalau semua itu hanya karena mereka akan beranjak dewasa, ia tak ingin berfikir buruk.
"kenapa diam... Kamu juga merasa hal yang sama kan."
"sudahlah ka, lagian memang ada apa... Paling paling karena kita sudah masuk 18 tahun, masuk ke usia dewasa"
"na... Jangan terlalu berpikir positif, jika hanya itu. Kak Arif juga 8 bulan lalu masuk ke 18 tahun, tapi tak ada pelatihan bertahan hidup. Jujur saja, walau aku tak ingin apa yang ku pikirkan terjadi. Tapi aku tetap ingin mengatakannya kepadamu, agar kita bisa waspada."
Kirana menatap Raka semakin dalam.
"apa maksudmu..?"
"aku merasa ada sekelompok orang yang mengancam nyawa Mbah Sarwo."
"ka... jangan bercanda, hal ini bukan lah apa yang bisa kau buat bercanda."
"bukan begitu na... aku serius."
"tapi siapa yang akan mengancam Mbah, selama ini Mbah selalu baik kepada siapapun. Dan Mbah juga termasuk dalam jajaran petinggi kerajaan, tak mungkin ada yang berani mengancam nyawanya."
"dunia ini tak berjalan semulus itu na... Kematian dapat di rancang agar terlihat pelaku tak terkait apapun, jangankan hanya hanya petinggi kerajaan. Bahkan adik kandung dan keponakan saja bisa di buru habis habisan tanpa belas kasihan jika mengganggu keinginan."
Kirana langsung mengerutkan keningnya.
"apa maksudmu ka.."
Raka buru buru menggeleng.
"aku terlalu banyak ngelantur. itu hanya perumpamaan, yang terpenting kedepannya kita harus tetap waspada."
Kirana hanya mengangguk, ia juga tak menyangkal apa yang Raka ucapkan tadi.
Dia sendiri pernah mengalami hal yang hampir serupa, orang tuanya di serang orang berjubah hitam hingga tewas.
Namun orang orang di tempatnya dulu menuduhnya lah yang membunuh kedua orang tuanya, hanya karena ada tersebar bahwa dia memiliki kekuatan yang bisa membuat bayangan menjadi senjata.
Sampai kini, Kirana tak tau siapa orang orang berjubah hitam itu. Dia sulit menebak karena orang orang itu hanya datang membunuh kedua orang tuanya tanpa mengambil harta mereka sama sekali.