NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINTU ANTARA DUA DUNIA

​Sinar matahari siang menerobos di antara celah pepohonan rindang, menimpa dinding kayu lapuk dan genteng terakota dari rumah bergaya kuno yang baru saja dibeli oleh Xiao Luo.

​Arsitektur klasik bangunan ini memancarkan keindahan masa lalu yang memikat, namun sekaligus menyimpan kesan misterius yang kental—seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia yang telah terkunci rapat selama puluhan tahun.

​Di balik pintu jati berukir yang tebal, Xiao Luo tengah berlutut di atas lantai kayu yang berdebu, sibuk memilah barang-barangnya dari kotak kardus.

​Sementara itu di luar pagar, Su Wanwan—sahabat karibnya—berdiri memegang dua kantong plastik berisi kotak makan siang yang masih memancarkan uap hangat. Bau harum tumis daging sapi dan gurihnya sup iga langsung menggugah selera siapa pun yang menghirupnya.

​Wanwan menghentikan langkahnya, menekan tombol bel kecil berbahan kuningan yang menempel di samping kusen pintu luar.

​Tek.

​Hening. Tak ada suara dentang yang terdengar. Ia mencobanya sekali lagi, menekan lebih dalam.

​Tek. Tek.

​Tetap tak ada respons. Hanya desis angin siang yang berembus pelan menembus dedaunan.

​"Dasar Xiao Luo," gumam Su Wanwan seraya menggelengkan kepala dengan senyum tipis.

"Rumah tua bergaya dinasti begini dibeli, bel pintunya saja sudah jadi fosil."

​Tok! Tok! Tok!

​"Xiao Luo! Ini aku, Wanwan! Aku bawakan makan siang sebelum kau pingsan kelaparan di antara debu-debu tua ini!" teriaknya dari luar.

​Di dalam rumah, Xiao Luo yang sedang menyapu sudut ruangan tertawa pelan. Ia menyandarkan sapunya ke dinding, lalu melangkah cepat menuju pintu depan.

​"Iya, sebentar! Pintunya agak macet!"

​Xiao Luo memutar kunci besi yang berat. Dengan suara derit kayu yang nyaring (Kreeeek...), pintu besar itu akhirnya terbuka.

​"Aroma makanannya sampai terdengar ke dalam," seloroh Xiao Luo seraya menyunggingkan senyum lebar.

​"Tentu saja! Aku tahu kau belum menyentuh makanan sejak pagi," ujar Wanwan seraya melangkah masuk. Matanya menyapu halaman rumah yang luas.

"Tapi rumput di halamanmu subur sekali. Lebih baik kau sewa orang untuk membersihkannya. Tidak mungkin kau sanggup memotong semuanya sendiri."

​"Uang dari mana?" Xiao Luo menghela napas pelan.

"Tabunganku sudah terkuras habis untuk membayar rumah ini. Sisa uang yang ada cuma cukup untuk makan sampai akhir bulan. Kalau harus bayar tukang kebun, aku bisa mati kelaparan."

​"Aku bisa meminjamkan uang padamu kalau kau butuh."

​"Tidak usah, Wanwan. Tapi kalau kau memang mau membantu... bolehkah aku meminjam mesin pemotong rumput milikmu? Besok rumput ini akan kupotong sendiri. Seharian juga pasti selesai."

​Wanwan menatapnya ragu. "Kau yakin bisa memakainya?"

​"Tentu saja bisa. Dulu sewaktu di rumah Paman, aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan kasat mata begini."

​"Baiklah. Besok pagi akan kupinta orang membawakannya ke sini. Sekarang kau makan dulu, aku sudah membelikan makanan kesukaanmu."

​"Terima kasih banyak, Wanwan! Aku memang sudah lapar sekali. Ayo makan sekalian!"

​"Memang itu tujuanku ke sini. Aku juga belum makan siang," kekeh Wanwan. "Mau makan di mana nih?"

​"Di kamar saja bagaimana? Selain kamar tidur dan dapur, ruangan lain belum tersentuh."

​"Boleh, ayo!"

​Keduanya menikmati makan siang di atas lantai kamar yang bersih seraya bersenda gurau. Selesai beristirahat, Wanwan tidak langsung pulang.

Sebagai sahabat yang setia, ia menyingsingkan lengan baju dan membantu Xiao Luo membersihkan ruang tamu serta kamar-kamar di bangunan depan. Merekapun bekerja bahu-membahu hingga sang surya mulai tenggelam di ufuk barat.

​"Akhirnya selesai juga..." desah Wanwan seraya menjatuhkan diri ke kursi kayu. "Capek sekali rasanya. Baru kali ini aku membersihkan rumah sampai selesai seperti ini."

​Xiao Luo menyodorkan segelas air dingin. "Kalau aku kan memang tiap hari kerjanya bersih-bersih, jadi sudah biasa. Ini, minum dulu. Terima kasih banyak ya, Wanwan, sudah mau repot-repot membantuku."

​"Hanya masalah kecil, tak perlu segan. Tapi maaf ya, besok aku tidak bisa ikut membantu lagi. Aku ada janji dengan tunanganku untuk mencari gaun pengantin," ujar Wanwan dengan wajah berseri-seri.

"Untuk mesin pemotong rumputnya, aku sudah meminta kepala pelayan rumahku menyiapkannya. Sebentar lagi sopirku akan mengantarkannya ke sini."

​"Terima kasih... Nona Besar sepertimu masih mau menyapu debu bersamaku," goda Xiao Luo.

​"Sembarangan! Kita kan sahabat!" sahut Wanwan tertawa.

​Meskipun Su Wanwan berasal dari keluarga konglomerat paling berpengaruh di kota, ia tidak pernah bersikap sombong atau membeda-bedakan teman.

Bahkan di perusahaan tempat mereka bekerja, Wanwan merangkak dari bawah sebagai staf magang tanpa pernah memanfaatkan pengaruh orang tuanya.

​Tak lama kemudian, klakson mobil terdengar. Sopir keluarga Su telah sampai, membawa mesin pemotong rumput pesanan Xiao Luo. Setelah berpamitan hangat, Wanwan pun pulang.

​Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing, Xiao Luo sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Mesin pemotong rumput bertenaga mesin membuat pekerjaannya jauh lebih cepat dibandingkan cara manual. Hanya dalam waktu beberapa jam, rumput liar setinggi dada di halaman depan dan samping telah rapi terpangkas.

​Puas dengan halaman depan, Xiao Luo beralih ke area pelataran tengah (courtyard). Di sana, tepat di antara rerimbunan semak yang belum terjamah, berdiri sebuah bibir sumur tua bertumpuk batu bata yang sudah berlumut.

​Xiao Luo mematikan mesinnya. Ia penasaran. Selama ini air yang digunakannya berasal dari pipa saluran kota, dan ia baru menyadari keberadaan sumur tua ini.

​Dengan rasa ingin tahu yang membuncah, Xiao Luo melangkah mendekat. Ia membungkukkan badan dan mengintai ke dalam kegelapan lubang sumur.

​Namun, batu di pinggiran sumur ternyata sangat licin oleh lumut basah.

​Srett!

​"Ah—!"

​Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Pijakan kakinya tergelincir. Xiao Luo tak sempat berpegangan pada apa pun dan tubuhnya langsung meluncur jatuh menembus kegelapan sumur.

​Gubrak!

​"Aww... sakit sekali!" keluh Xiao Luo seraya memegangi pinggul dan bokongnya yang menghantam dasar.

​Beruntung, sumur tua itu tidak terlalu dalam dan sama sekali tidak terisi air.

​"Aduh... Ternyata sumur kering. Nanti harus tutupi rapat-rapat biar tidak ada kejadian sial seperti ini lagi," gumamnya meringis kesakitan.

​Namun saat jemarinya menyapu tanah kering untuk menahan tubuhnya berdiri, rasa tajam menusuk jari telunjuknya.

​"Ssssh! Apaan sih ini?"

​Xiao Luo memandangi jarinya yang tergores hingga mengeluarkan darah segar. Di bawah pijakannya, tampak sebuah benda keras tertimbun tanah tipis. Ia mengambilnya—sebuah liontin giok tua berukir rumit.

​Belum sempat rasa heran itu terjawab, mata Xiao Luo membelalak sempurna. Darah yang menetes dari jarinya tidak mengalir ke tanah, melainkan terserap habis ke dalam permukaan giok tersebut.

Seketika, ukiran giok itu memancarkan pendar hijau redup sebelum akhirnya redup kembali.

​"K-kok bisa begini...?" gumam Xiao Luo linglung, jantungnya berdegup kencang.

​Mencoba mengabaikan rasa heran dan sakit di tubuhnya, Xiao Luo mencari cara untuk keluar. Karena dinding sumur tidak terlalu tinggi dan memiliki celah-celah batu yang menonjol, ia memanjat perlahan dengan memanfatkan kekuatan tangannya.

​Dengan napas terengah-engah, Xiao Luo akhirnya berhasil memanjat hingga tepi sumur dan melompatkan tubuhnya ke atas rumput.

​"Hah... hah... akhirnya keluar juga..."

​Namun saat Xiao Luo mendongakkan kepala dan menyapu pandangannya, napasnya seketika tercekat di tenggorokan.

​Dunia di sekelilingnya telah berubah total.

​"I-ini... di mana?"

​Halaman rumah kunonya yang megah dan gedung-gedung pencakar langit perusahaannya telah lenyap tanpa bekas. Sebagai gantinya, ia kini berdiri di tengah area terbuka yang gersang, dikelilingi pepohonan liar dan berangin dingin. Tepat beberapa meter di hadapannya, berdiri sebuah gubuk kayu reyot yang hampir roboh.

​Kepanikan hebat langsung menguasai dada Xiao Luo.

"Apa-apaan ini?! Kenapa lingkunganku berubah?!"

​Bagaimana mungkin hanya karena jatuh ke dalam sumur kering di belakang rumahnya, ia tiba-tiba berpindah ke tempat antah-berantah yang mengerikan ini?

​Di tengah kebingungan yang membakar kepala, samar-samar Xiao Luo menangkap sebuah suara. Itu adalah suara tangisan bayi yang melengking lemah dari dalam gubuk kayu tersebut.

​Rasa takut dan penasaran bertarung sengit di dalam dirinya. Dengan langkah ragu dan tubuh bergetar, Xiao Luo memberanikan diri mendekati gubuk tersebut. Semakin dekat ia melangkah, suara rintihan bayi itu semakin jelas terdengar, menusuk sembilu.

​Tiba di depan pintu kayu yang lapuk, Xiao Luo menarik napas dalam-dalam lalu mengetuknya pelan.

​Tok... tok... tok...

​"Siapa? Sebentar ya..." suara wanita tua sahut dari dalam, terdengar serak dan letih.

​Cek-lek.

​Pintu berderit terbuka. Seorang wanita paruh baya berwajah pucat dengan pakaian lusuh muncul di balik pintu. Namun begitu matanya menangkap sosok Xiao Luo yang berdiri di ambang pintu, wanita itu membeku.

​Nyonya Tua Shen membelalakkan matanya yang sembab tak percaya. Tubuhnya gemetar hebat, air matanya menetes seketika saat ia memanggil nama itu dengan suara tercekat.

​"Nian... Nian-er."

1
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
Dinta Anikmah
bagus ceritanya, walaupun namanya susah banget buat nyebutinya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
menarik
Wahyuningsih
thor xiao luo dpt ruang dimensi biar mkin sru
Wahyuningsih
q mampir thor
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
seru
Aisyah Suyuti
menarik
Pa Muhsid
lanjuut 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Pa Muhsid
jangan jangan ceo nya reinkarnasi jendral shen di masa depan,
Rochmanah Setyowati
upnya ditunggu lho thor
semangat berkarya thor sampai tamat ok
Nurul Senggrong: 👍..., terimakasih dukungannya kan🙏🙏🙏
total 1 replies
Rochmanah Setyowati
thor upnya yg banyak jd hadiahnya jg banyak
Nurul Senggrong: akan diusahakan kak. Terima kasih
total 1 replies
Rochmanah Setyowati
novelnya bagus, aq suka
lanjut sampai tamat ya thor
semangat berkarya thor
Nurul Senggrong: Terima kasih dukungannya Kak🙏🥰🥰🥰
total 1 replies
Rochmanah Setyowati
up yg banyak thor aq suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!