Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Brak.
Pintu ruang makan utama dibanting dengan sangat keras oleh Raka.
Pemuda itu berjalan cepat menyusuri lorong dengan wajah merah padam menahan amarah.
Astiana berjalan mengekor santai di belakangnya dengan jarak sekitar dua meter.
"Cepat sedikit jalannya, kau ini siput atau manusia."
Raka menoleh ke belakang dan membentak Astiana yang masih berjalan dengan tempo lambat.
"Tuan Muda, berjalan terlalu cepat setelah sarapan itu tidak baik untuk pencernaan."
Astiana menjawab dengan nada datar tanpa mempercepat langkahnya sama sekali.
"Aku tidak butuh nasihat kesehatan dari gadis gembel sepertimu."
"Mulai hari ini kau adalah asisten pribadiku, jadi kau harus patuh pada semua perintahku."
Raka berhenti di depan sebuah pintu kayu ganda yang terlihat sangat elegan.
Ceklek.
Raka membuka pintu itu dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang sangat luas.
Ruangan itu dipenuhi rak buku menjulang tinggi dan sebuah meja kerja dari kaca tebal.
Astiana melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang rapi tersebut.
"Tutup pintunya."
Astiana menurut dan menutup pintu ganda itu dengan perlahan.
Bruk.
Tiba-tiba Raka melempar tiga tumpuk map tebal ke atas meja kacanya hingga debu tipis berterbangan.
"Ini adalah laporan keuangan perusahaan cabang selama lima tahun terakhir."
Raka menunjuk tumpukan kertas yang tingginya hampir mencapai dada Astiana itu.
"Semuanya berantakan dan halamannya banyak yang tertukar."
"Tugas pertamamu sebagai asisten adalah menyortir dan mengurutkan semua kertas ini berdasarkan tanggal dan bulan."
Astiana menatap tumpukan kertas itu dengan wajah tanpa ekspresi.
"Berapa lama waktu yang kau berikan untukku menyelesaikan ini, Tuan Muda."
"Dua jam dari sekarang."
Raka tersenyum sinis dengan tangan terlipat di depan dada.
"Aku yakin gadis kampung ini bahkan tidak tahu cara membaca tabel laporan keuangan."
Suara hati Raka terdengar sangat meremehkan di telinga Astiana.
"Kalau kau tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu, kau harus mengemasi tas lusuhmu dan pergi dari rumah ini."
"Begitu ya."
Astiana hanya bergumam pelan dan langsung berjalan mendekati meja kaca tersebut.
Dia tidak membuang waktu untuk berdebat atau memprotes ketidakadilan tugas ini.
Srek srek srek.
Tangan Astiana mulai bergerak memisahkan halaman demi halaman dengan kecepatan yang tidak wajar.
Matanya menyapu deretan angka dan tanggal di setiap kertas hanya dalam hitungan detik.
Kemampuan membaca cepat ini adalah efek samping dari latihan fokus tenaga dalamnya selama bertahun-tahun di gunung.
Raka yang awalnya tersenyum meremehkan perlahan mulai mengerutkan keningnya.
"Apa yang dia lakukan, dia sama sekali tidak membaca kertas-kertas itu."
Suara batin Raka mulai terdengar gelisah.
"Dia pasti hanya memindah-mindahkan kertas itu secara acak untuk mengelabuiku."
Pemuda itu berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping Astiana untuk mengawasi.
"Jangan berpikir kau bisa menipuku dengan menumpuknya sembarangan."
"Aku tidak menipumu, Tuan Muda."
Astiana menjawab tanpa menoleh sedikit pun dari pekerjaannya.
"Kalau kau tidak percaya, kau bisa mengecek tumpukan yang sudah selesai di sebelah kirimu itu."
Raka mendengus kasar dan mengambil satu tumpukan map yang baru saja diselesaikan Astiana.
Matanya bergerak cepat memeriksa tanggal di setiap ujung kertas tersebut.
Januari, Februari, Maret, semuanya tersusun dengan sangat sempurna tanpa ada satu pun yang meleset.
Deg.
Jantung Raka berdetak lebih cepat karena merasa sangat tidak percaya.
"Ini mustahil, bagaimana dia bisa menyortir seratus halaman hanya dalam waktu lima menit."
Pikiran Raka kacau balau melihat efisiensi kerja gadis yang dia anggap bodoh ini.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu ruang kerja tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Permisi, Tuan Muda Raka."
Suara Nadin terdengar ragu-ragu dari balik pintu ganda tersebut.
"Masuk."
Ceklek.
Nadin menyembulkan kepalanya dengan wajah sedikit panik.
"Maaf mengganggu Tuan Muda, tapi Dokter Handoko sudah tiba untuk memeriksa keadaan Tuan Besar."
Raka langsung meletakkan map di tangannya kembali ke atas meja.
"Bagus, suruh dia langsung ke kamar kakek sekarang juga."
Raka berjalan melewati Astiana dengan langkah terburu-buru.
"Kau, tetap di sini dan selesaikan pekerjaanmu."
Raka menunjuk wajah Astiana sebelum menghilang di balik pintu.
Astiana menghentikan gerakan tangannya dan menatap tumpukan kertas yang tersisa.
"Kesehatan kakek itu jauh lebih penting daripada laporan membosankan ini."
Astiana bergumam pelan dan memutuskan untuk mengabaikan perintah Raka.
Dia berjalan keluar dari ruang kerja dan mengikuti langkah Nadin dari kejauhan.
Astiana sangat penasaran dengan dokter pribadi keluarga kaya raya ini.
Di kamar tidur utama yang sangat luas, Pak Darma sedang duduk bersandar di ranjangnya.
Seorang pria paruh baya berjas putih sedang menempelkan stetoskop ke dada pria tua itu.
Dia adalah Dokter Handoko, dokter spesialis jantung yang sudah bertahun-tahun merawat keluarga Darma.
Raka berdiri di sudut ruangan dengan wajah cemas memperhatikan pemeriksaan tersebut.
Astiana masuk ke dalam kamar dengan langkah tanpa suara dan berdiri di dekat pintu.
"Bagaimana keadaan kakek saya, Dokter Handoko."
Raka bertanya dengan nada tidak sabar setelah dokter itu melepaskan stetoskopnya.
"Detak jantung Tuan Besar hari ini sangat stabil, jauh lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya."
Dokter Handoko berbicara dengan nada tenang dan profesional.
Namun Astiana langsung menyipitkan matanya saat memfokuskan pendengarannya pada pria berjas putih itu.
"Sialan, siapa yang sudah melancarkan penyumbatan di pembuluh darah orang tua ini."
Suara hati Dokter Handoko terdengar sangat penuh amarah dan kekecewaan.
"Padahal racun yang kuberikan lewat obatnya selama ini sudah hampir merusak katup jantungnya."
Astiana mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat mendengar pengakuan menjijikkan di dalam pikiran dokter tersebut.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣