Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Waktu berjalan dengan ritme yang terasa begitu lambat namun mendebarkan. Dalam rentang dua minggu terakhir sebelum hari peluncuran akbar Glow Series, gedung perkantoran NesAura Skincare diselimuti oleh kesibukan yang luar biasa. Para karyawan berlari kesana-kemari merapikan dekorasi panggung, mencetak katalog produk terbaru, hingga menyusun meja registrasi untuk para tamu VIP, media nasional, serta dewan komisaris.
Namun, di balik hiruk-pikuk dan gemerlap persiapan tersebut, ada dinamika tersembunyi yang hanya dirasakan oleh sedikit orang di lingkaran inti Nesa.
Di ruang kerja utamanya yang kini terasa jauh lebih luas dan sunyi, Nesa duduk di balik meja kerja dengan mengenakan setelan blazer berwarna charcoal yang elegan. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, mempertegas garis wajahnya yang masih menyisakan sedikit siasat kepucatan, namun kini dipancarkan oleh sorot mata yang jauh lebih tajam dan dingin dari sebelumnya.
Pintu ruang kerjanya terketuk dua kali sebelum terbuka lebar. Bila melangkah masuk membawa setumpuk map dokumen tebal di tangan kanannya, sementara di belakang sang asisten, Miya dan Kara turut menyusul masuk dengan ekspresi wajah penuh keseriusan.
"Bu Nesa, laporan logistik terakhir dari gudang utama sudah saya terima," ucap Bila langsung pada intinya begitu ia berdiri di hadapan meja sang CEO.
"Distribusi produk sampel untuk para tamu undangan sudah siap. Tidak ada celah atau kendala teknis yang bisa dimanipulasi oleh pihak luar."
Miya meletakkan sebuah flashdisk kecil di atas meja Nesa. "Dan dari sisi investigasi digital, pergerakan rekening atas nama Dika dan perusahaan cangkang fiktif miliknya sudah berhasil kami pantau secara real-time. Selama dua minggu ini, setelah mereka menguras brankas di rumahmu, Dika dan Sasya terlihat semakin percaya diri. Mereka bahkan sempat mengadakan pertemuan rahasia dengan beberapa mitra investor lama untuk meyakinkan bahwa posisi kepemimpinan perusahaan akan segera berpindah tangan ke tangan mereka."
Kara menyilangkan tangan di dada, mendengus sinis. "Mereka benar-benar termakan perangkap psikologis yang kamu buat, Nes. Karena kamu tidak langsung melaporkan mereka ke polisi atau melabrak mereka setelah kejadian di rumah sakit, Dika dan Sasya mengira kamu sedang dalam kondisi lemah dan tidak berdaya. Mereka pikir mereka berhasil menyingkirkanmu secara perlahan."
Nesa mendengarkan laporan dari ketiga sahabat dan asisten setianya itu dalam keheningan. Ia meraih flashdisk di atas meja, memutarnya perlahan di antara jemarinya, lalu mengangkat pandangannya menatap mereka satu per satu.
"Bagus," ucap Nesa dengan suara tenang namun penuh wibawa. "Biarkan mereka merasa di atas angin. Biarkan Dika menikmati ilusi bahwa dia berhasil merampas perusahaanku, dan biarkan Sasya menikmati keangkuhannya di divisi humas. Semakin tinggi mereka terbang, semakin keras pula suara benturan saat mereka jatuh nanti."
Bila mengangguk paham, meski ada guratan kecemasan tipis di wajah mudanya. "Tapi, Bu... bagaimana dengan hari H peluncuran nanti? Apakah pihak keamanan gedung sudah diberi instruksi khusus? Mengingat Pak Dika dan Ibu Sasya pasti akan hadir sebagai bagian dari jajaran direksi utama..."
"Tentu saja," potong Nesa cepat. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai tipis yang dingin. "Justru kehadiran mereka di acara puncak itulah yang menjadi inti dari seluruh skenario ini. Aku ingin mereka berdiri di atas panggung megah itu bersamaku, menyaksikan sendiri bagaimana istana kebohongan yang mereka bangun runtuh berkeping-keping di hadapan ratusan pasang mata."
Di tempat lain, di sebuah kafe eksklusif di bilangan SCBD Jakarta Selatan, suasana hati yang sangat bertolak belakang tengah dirasakan oleh dua orang pengkhianat.
Sasya menyesap cappuccino miliknya dengan santai, sementara Dika, yang duduk di seberangnya, menatap layar ponsel pintarnya sambil tersenyum lebar.
"Kamu lihat sendiri kan, Sasya?" ujar Dika dengan nada suara penuh kepuasan, memperlihatkan grafik laporan internal perusahaan yang berhasil ia akses secara diam-diam. "Nesa benar-benar sudah kehilangan taringnya. Semenjak kejadian malam itu di kantor dan kegugurannya di rumah sakit, dia sama sekali tidak pernah lagi membahas soal bukti transaksi atau melaporkan kita ke polisi. Perempuan itu benar-benar hancur secara mental."
Sasya tertawa kecil, menikmati rasa superioritas yang selama ini selalu ia dambakan. "Sudah kuduga! Nesa itu aslinya lemah, Dika. Dia hanya beruntung bisa mendirikan NesAura di awal masa mudanya berkat modal relasi dari almarhum Babe. Tapi dalam hal strategi bisnis dan kelicikan korporat, dia bukan tandingan kita."
"Betul," timpal Dika penuh percaya diri. "Makanya, di acara grand launching Glow Series lusa malam, kita akan tampil sebagai pasangan yang paling bersinar di hadapan media dan para investor. Kita akan pastikan Nesa menyerahkan kursi CEO itu secara sukarela di atas panggung, atau kita hancurkan sisa-sisa harga dirinya di hadapan publik."
Kedua orang itu tertawa bersama, menikmati kebodohan imajiner yang mereka sematkan pada Nesa. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di balik senyuman tenang sang CEO yang mereka remehkan, sebuah badai pembalasan yang jauh lebih mematikan tengah dipersiapkan untuk menyapu bersih seluruh hidup mereka dalam satu malam.
Kembali ke ruang kerja Nesa, malam semakin larut. Setelah Miya, Kara, dan Bila meninggalkan ruangan untuk merampungkan tugas terakhir mereka, Nesa berdiri dari kursi kerjanya. Ia melangkah pelan menuju jendela kaca besar, memandangi kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang membentang luas di bawah sana.
Tangannya secara perlahan terulur, menyentuh permukaan kaca yang dingin. Di balik bayangan wajahnya yang terpantul di kaca, tidak ada lagi air mata kesedihan atau rasa iba. Yang tersisa hanyalah tekad yang membaja dan bara api yang siap membakar habis masa lalu yang kelam.
"Lusa malam, semuanya akan berakhir", batin Nesa penuh keyakinan. Tunggu pembalasanku, Dika... Sasya...