Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Merah
"Kalau dia berasap lagi, aku yang menyeretnya ke sumur," bisik Gandung.
Ia berjongkok di balik batang pohon nangka di sudut halaman belakang. Sekar berjongkok di sebelahnya dengan seember air yang ia tenteng dari sumur sebelum langit mulai terang.
"Katanya kau masih marah padanya," bisik Sekar.
"Masih."
"Guru bilang kita tidak boleh bertanya apa-apa padanya."
"Aku tidak bertanya. Aku cuma jongkok di sini."
Mata Gandung tetap tertuju ke tengah halaman.
Di tengah halaman, Satrio duduk bersila di atas batu datar, dekat kebun singkong. Kabut tipis masih menggantung setinggi lutut, dan setiap kali ia mengembuskan napas, uap putih keluar dari mulutnya. Kain balutan di lengannya baru dilepas Sekar kemarin sore, dan kulit di bawahnya masih belang-belang merah muda bekas luka bakar. Lima langkah di depannya teronggok batu besar yang biasa dipakai Jati untuk menjemur kain, sebesar kerbau yang sedang tidur.
Eyang berdiri di sampingnya. Sosoknya masih pudar, tapi matanya terbuka lebar.
"Ingat. Jangan didorong," kata Eyang, "Alirkan. Waktu kau membuang napas, biarkan panasnya ikut mengalir sedikit, seperti air sawah yang dibuka pematangnya. Kalau kau dobrak seperti tempo hari, kau tahu akibatnya."
'Kalau terasa robek?' batin Satrio.
"Berhenti. Lebih baik kau jadi Olah Napas seumur hidup daripada mati di atas batu ini."
'Kalau aku berhenti, Guru terus membagi buburnya,' batin Satrio sambil memandangi telapak tangannya.
Eyang mendengus dan memalingkan wajah.
Satrio menegakkan punggung. Ia menarik napas, dan hawa dingin fajar masuk bersama panas dari kristal di telapak tangannya. Panas itu turun ke perut. Ia menahannya, lalu mengembuskan napas pelan-pelan, dan panas itu ikut bergeser naik ke bahu kanan.
Di sana panas itu tertahan lagi, di tempat yang sama dengan malam itu. Satrio menggigit bibir.
"Jangan dipaksa," desis Eyang, "Tarik napas lagi. Biarkan kulitmu merasakan dinginnya."
Udara pagi menempel di lengannya yang telanjang. Hawa dingin itu menjaga kulitnya, dan panas di bahunya tetap tertahan di dalam, menekan sumbatan itu terus-menerus. Satrio menarik napas, mengembuskannya, menariknya lagi. Sumbatan itu melunak sedikit demi sedikit, seperti tanah liat yang lama direndam.
Lalu sesuatu di bahunya terbuka, dan panas itu mengalir turun ke lengan kanan, melewati siku, sampai ke ujung-ujung jarinya. Rasanya seperti ribuan semut berlari di bawah kulit. Satrio tersentak.
"Itu jalur pertama," kata Eyang, "Jangan berhenti."
Jalur kedua di lengan kiri terbuka dengan rasa sakit yang lebih tajam. Satrio membungkuk dan menekan lututnya. Jalur di kedua kakinya menyusul, lalu satu jalur panjang yang merambat naik dari tulang ekor sampai ke tengkuk. Tubuhnya gemetar hebat, dan giginya bergemeletuk, padahal keringat sudah membasahi seluruh punggungnya.
"Ngh... arghh..."
"Sedikit lagi! Hubungkan semuanya!"
Satrio memejamkan mata. Panas di perutnya mulai berputar, keluar lewat satu jalur dan kembali lewat jalur yang lain, terus-menerus mengelilingi tubuhnya. Detik berikutnya, cahaya merah menyembur dari kulitnya.
***
Gandung terjengkang ke belakang sampai pantatnya mendarat di tanah.
Cahaya itu memancar dari tubuh Satrio ke segala arah. Kabut di halaman belakang berubah merah. Dinding-dinding bilik, atap pendopo, dan pucuk-pucuk rumpun bambu di balik pagar ikut tersiram warna yang sama. Butir-butir embun di daun singkong berkilau seperti percikan bara.
Ember di tangan Sekar terguling, dan airnya membasahi kakinya sendiri. Sekar terpaku di tempatnya, menatap cahaya itu dengan mulut setengah terbuka.
Di samping Satrio, Eyang menekan punggung bocah itu dengan kedua tangannya yang tembus pandang.
"Kutahan... ngh..." Sosok Eyang berkedip-kedip, "Tidak bisa. Terlalu besar!"
Pintu-pintu bilik terbuka satu demi satu. Jati berlari keluar tanpa alas kaki, lalu berhenti mendadak di ujung serambi. Lintang muncul di belakangnya sambil memapah Damar. Ketiganya ternganga.
"Ka... Kang Satrio terbakar?" seru Jati.
"Bukan." Damar mencengkeram bahu adiknya supaya tidak jatuh, "Itu tanda orang tembus ranah. Dulu waktu ikut Guru ke kademangan, aku pernah melihat murid Bayu Seta naik ranah. Cahayanya biru, dan cuma sebesar obor."
Mata Lintang membulat, "Merah..."
Pintu bilik paling ujung terbuka paling akhir. Ki Arya berdiri di sana dengan satu tangan mencengkeram kusen pintu. Cahaya merah itu menerangi wajahnya yang kuyu.
Cahaya itu berangsur surut, menyusut sampai tinggal selapis bara tipis yang menempel di kulit Satrio.
"Maaf, bocah," suara Eyang terdengar lemah di kepala Satrio, "Aku tidak sanggup menutupnya. Semua orang melihat."
'Eyang tidak apa-apa?'
"Pikirkan dirimu sendiri dulu. Panas sebanyak itu tidak boleh lama-lama di jalur yang baru terbuka. Keluarkan sekarang, atau dia membakarmu dari dalam." Eyang menunjuk batu besar di depan mereka, "Ke sana. Jangan ke dapur."
Satrio menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Jari-jarinya saling mengunci, dan kedua ibu jarinya menekan tulang dadanya. Ia mengikuti rapalan yang dibisikkan Eyang di kepalanya, kata demi kata.
Bara-bara merah kecil muncul dari kulit lengannya. Bara itu terangkat dan berputar mengelilingi kedua lengannya, makin lama makin banyak, sampai lengannya terbungkus pusaran percik api yang berdengung.
Satrio membuka kedua telapak tangannya ke arah batu itu.
"Ajian Geni Sewu!"
Pusaran itu pecah. Seribu percik bara melesat sekaligus dan mendengung seperti kawanan lebah merah. Setiap percik terbang di jalurnya sendiri. Ada yang melesat lurus, ada yang melengkung ke kiri dan ke kanan, ada yang menukik dari atas, dan semuanya menghantam batu besar itu dari segala arah pada saat yang sama.
Duarr!
Batu itu retak dari puncak sampai ke dasarnya, lalu terbelah dua dan rubuh ke kiri dan ke kanan. Debu dan serpihan batu berhamburan. Percik-percik bara yang tersisa jatuh ke rumput basah dan padam dengan bunyi mendesis.
Lutut Satrio lemas, dan ia jatuh terduduk di atas batu datar itu. Kedua telapak tangannya merah, dan gelembung-gelembung kecil mulai muncul di punggung tangannya. Bajunya tinggal serpihan hangus yang menggantung di bahu.
"Olah Cakra awal," kata Eyang pelan, "Selamat, bocah."
Sosoknya berkedip sekali lagi, lalu buyar dan tertarik masuk ke dalam kristal di telapak tangan Satrio.
***
Jati yang pertama berteriak, "KANG SATRIO!"
Ia melompat turun dari serambi dan berlari ke arah batu yang terbelah itu. Ia berjongkok dan menyentuh bidang belahannya dengan ujung jari, lalu buru-buru menarik tangannya.
"Halus, Kang! Belahannya halus seperti dipotong! Masih panas lagi!"
Di serambi, Lintang memeluk Damar dari samping, dan Damar menepuk-nepuk kepala adiknya sambil tertawa.
Gandung keluar dari balik pohon nangka. Ia berlari ke arah Satrio sambil menyeret kaki kirinya, lalu mengulurkan tangan untuk merangkul leher sahabatnya.
"Panas! Kau masih panas!" Gandung menarik tangannya, tapi detik berikutnya ia merangkul leher Satrio lagi dan mengepitnya di bawah ketiak, "Dasar kau... dasar bodoh... kau berhasil, ya? Kau berhasil!"
"Gandung, aku... aku tidak bisa napas..."
"Biar! Tempo hari kau juga hampir tidak napas!"
Suara Gandung mendadak pecah, "Lain kali... lain kali kalau mau mati, jangan diam-diam."
Satrio berhenti meronta. Ia menepuk lengan Gandung yang masih melingkar di lehernya, "Iya."
Sekar memungut embernya yang masih berisi sedikit air. Ia berjalan menghampiri mereka, lalu menyiramkan sisa air itu ke kepala Satrio.
Byurr!
Uap putih mengepul dari rambut Satrio. Sekar langsung memalingkan wajah dari dada Satrio yang telanjang. Telinganya merah.
"Supaya dingin," katanya pendek.
Satrio mengusap air dari matanya sambil nyengir, "Sekar, kenapa setiap kali bajuku hangus, kau selalu ada di dekat situ?"
Duk!
Ember kayu itu mendarat di kepalanya.
"Aduh!"
Gandung tertawa terbahak-bahak sampai rangkulannya di leher Satrio makin kencang.
"Kang Satrio!" seru Jati dari depan batu yang terbelah itu, "Kalau batu sebesar ini saja bisa terbelah, rusa pasti bisa ditangkap!"
"Rusa panggang," gumam Gandung. Matanya menerawang, dan ia mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan.
Satrio ikut tertawa sambil mengusap kepalanya. Tawa itu terhenti saat ia melihat ke arah serambi.
Ki Arya sudah keluar dari biliknya dan berdiri di serambi sambil berpegangan pada tiang. Wajahnya pucat, lebih pucat daripada malam di ruang bawah pendopo. Matanya tertuju ke rumpun bambu di balik pagar belakang, jauh melewati kepala Satrio.
Jati bangkit dari depan batu yang terbelah itu. Satu per satu, para murid ikut menoleh ke arah guru mereka.
"Mereka yang terang lebih awal," kata Ki Arya, "Kebanyakan akan redup sebelum menerangi seluruh dunia."
"Maksud Guru?" tanya Jati.
"Murid yang bersinar terlalu cepat biasanya dibunuh sebelum sempat besar."
"Dibunuh?" Gandung tertawa sumbang, "Guru, siapa yang mau membunuh dia? Dia cuma membelah batu jemuran."
"Orang yang melihat cahaya tadi, dan tahu apa artinya." Ki Arya menatap para muridnya satu per satu, "Mulai hari ini, jangan ada yang bercerita soal pagi ini. Kepada siapa pun."
Gandung pelan-pelan melepaskan rangkulannya dari leher Satrio.
Di balik pagar belakang, salah satu batang di rumpun bambu itu masih bergoyang.