Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
Diva membersihkan tubuhnya sebelum mengistirahatkan tubuh lelahnya, begitu juga dengan Elio.
"Aku tahu ini sulit bagimu, tetapi ini sudah menjadi takdir yang harus kamu jalani, Diva. Lupakan Divana Anggraeni dan lanjutkan hidupmu sebagai Divana Calista! Aku tak bisa lagi menyayangi Elio tapi kamu bisa, maka lakukan, Diva... Tolong sayangi Elio dengan sepenuh hati!."
Di tengah malam Elio terbangun pada saat merasakan kegelisahan Diva dalam tidurnya.
"Sayang.... Bangun sayang!." Elio mengguncang pelan bahu Diva.
Diva sontak membuka mata, napasnya terengah-engah, sedangkan pandangannya tertuju pada Elio yang kini duduk menatapnya.
"Apa kamu mimpi buruk, sayang?." Dari raut wajahnya, siapapun pasti akan berpikir demikian, tak terkecuali Elio.
Diva tak menjawab, wanita itu justru membawa diri ke pelukan Elio.
"Apapun yang terjadi, apa mas akan tetap mencintaiku?."
"Tentu saja, sayang." Elio mengusap lembut puncak kepala Diva.
Setelah mendengar jawaban Elio, Diva pun memantapkan hati mulai detik ini akan sepenuhnya melanjutkan hidup sebagai Divana Calista. Apapun yang menjadi kewajiban serta tanggung jawab Calista akan diambil alih sepenuhnya oleh Diva, termasuk soal kebutuhan biologis Elio tentunya. Lagipula, mau sampai kapan ia menolak, jika kenyataannya jiwanya akan selamanya berada di raga Calista? Semua penolakannya pasti hanya akan menimbulkan luka dihati Elio yang merasa tidak diinginkan oleh istrinya sendiri.
Dalam hati, Diva berencana menjauhkan Erin dari sisi Elio. Wanita itu hanya membawa dampak buruk bagi hubungannya dengan Daddy-nya Elhan tersebut. Diva yakin bahwa Erin diam-diam menyukai Elio.
"Mas..."Diva mengurai pelukannya, menatap manik mata hitam milik Elio.
"Iya, sayang."
"Besok aku mau mampir ke kantor kamu di waktu istirahat makan siang, boleh kan?."
"Tentu saja, sayang. Kamu boleh datang kapan saja!." Balas Elio.
"Kita lihat saja nanti, bagaimana reaksi wanita itu besok." Batin Diva. Ia merencanakan sesuatu yang pastinya mampu memancing reaksi Erin nantinya.
"Sebaiknya kita tidur lagi, sayang!."
"Iya mas."
Elio membaringkan tubuhnya dan mendekap tubuh sang istri. Keduanya tidur dengan posisi berpe-lukan.
*
Keesokan paginya.
Setelah rapi dengan pakaian kerja, Elio dan Diva berlalu menuju ruang makan.
"Pagi mommy.....pagi Daddy...." Sapa Elhan yang lebih dulu berada di ruang makan dengan ditemani oleh beberapa pelayan. Bocah itu sudah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya.
"Pagi sayang." Elio dan Diva kompak membalas sapaan sang putra.
Elio menempati kursi paling ujung pada meja jati berukuran panjang tersebut, sedangkan Diva memgambil posisi duduk di sebelah Elio, berhadapan dengan Elhan.
"Maafkan mommy karena beberapa hari ini sibuk hingga tidak sempat mengantarkan kamu ke sekolah, sayang." Diva merasa bersalah, akibat kesibukannya sampai tak punya waktu untuk sekedar mengantarkan Elhan ke sekolah.
"Tidak perlu minta maaf, mom! Lagian, Elhan sudah besar dan sudah seharusnya belajar mandiri."
Diva bangga pada bocah itu.
"Terima kasih atas pengertian kamu, nak." Elhan ibarat penyemangat serta penguat bagi Diva. Bocah itu selalu mampu menenangkan hati Diva di saat sedang gundah gulana sekalipun.
"Nanti kalau mommy tidak terlalu sibuk lagi, kita main ke mall ya sayang!."
"Beneran mom?."
Diva mengangguk seraya tersenyum pada Elhan.
"Mommy Elhan memang paling cantik dan juga baik hati."
Elio dan Diva spontan tersenyum mendengar gombalan sang putra.
"Anak Daddy sudah pandai menggombal rupanya." Elio geleng kepala sambil tersenyum.
Selesai sarapan, Elio dan Diva berangkat begitu pun dengan Elhan yang diantarkan oleh sopir menuju sekolahnya.
*
Di Calista butik.
Kedatangan Diva pagi itu disambut Ara dengan senyuman manis.
"Pagi, nyonya."
"Pagi." Diva pun membalas senyuman Ara.
"Ada apa, Ara?." Diva melihat mimik wajah Ara berubah, senyum di bibir wanita itu pun perlahan memudar.
"Kemarin...." Ara seperti ragu untuk berkata-kata.
"Memangnya apa yang terjadi kemarin, Ara?." Diva penasaran. "Katakan saja, jangan takut!."
"Kemarin aku tidak sengaja melihat Nona indah bertemu dengan nona Erin."
"Maaf jika saya sudah lancang, nyonya. Sungguh, saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya ingin anda mengetahuinya. Itu saja, nyonya." Lanjut Ara pada saat menyaksikan bosnya itu terdiam. Ia tidak mau dianggap sengaja menjelek-jelekkan wanita yang dianggap teman baik oleh bosnya itu.
"Saya sudah menduga bahwa Indah tidak pernah tulus berteman dengan Calista." Diva bergumam dalam hati.
"Di mana mereka bertemu?."
"Di cafe XXX, nyonya." Jawab Ara dengan hati-hati. Kemarin, Ara baru saja dari toilet dan hendak kembali ke mejanya, namun siapa sangka pandangannya malah menangkap keberadaan Indah yang baru saja menempati salah satu meja di cafe yang sama. Awalnya Ara tidak menaruh curiga sedikitpun dan hendak kembali mengayunkan langkah, namun hal itu urung dilakukan Ara pada saat menyaksikan kedatangan Erin yang menghampiri meja Indah. Karena jarak yang lumayan jauh sehingga Ara hanya bisa menyaksikan diam-diam tanpa dapat mendengar topik obrolan kedua wanita licik tersebut.
"Biarkan saja mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, yang jelas, jangan pernah lagi memberikan uang sepeserpun pada nona Indah! Anggap saja kita tidak pernah mengenal wanita parasit itu!."
Deg.
Ara cukup terkejut dengan kata-kata bosnya. Pasalnya, sebelum-sebelumnya bosnya tersebut pasti akan marah bila ada yang berbicara buruk tentang temannya itu.
"Ketimbang kita terus membahas tentang orang-orang jahat, akan lebih baik sekarang kita fokus bekerja saja karena siang nanti rencananya saya akan ke kantor suami saya."
"Baik, nyonya." Sebagai seseorang yang sudah banyak menerima kebaikan seorang Calista, tentunya Ara ikut senang jika rumah tangga bosnya itu sudah membaik dan kembali harmonis. Ara juga berharap orang-orang seperti Erin segera sadar agar tak lagi berupaya merusak keharmonisan rumah tangga bosnya itu.
Tanpa terasa waktu istirahat makan siang telah tiba, Diva berpamitan pada Ara untuk pergi ke kantor suaminya.
*
Di gedung Dirgantara Group, semua pegawai di sana dibuat kaget saat istri dari pimpinan perusahaan menyapa dan tersenyum ramah pada mereka. Padahal biasanya wanita itu datang dengan wajah masam, dan dipastikan itu karena ketidaksukaannya terhadap sekretaris suaminya di kantor, Erin.
Diva melintasi lobby menuju ke arah lift khusus petinggi perusahaan yang akan mengantarkannya ke lantai eksekutif, di mana ruangan pimpinan perusahaan berada. Ia sudah bisa menebak bahwa Erin pasti tidak akan suka dengan kedatangannya. Dan benar saja, saat melihat keberadaannya mimik wajah wanita itu langsung berubah merah padam, namun tak dapat menghalanginya untuk masuk ke ruangan Elio.
Diva melirik dengan seutas senyum seringai pada Erin.
"Dasar wanita sia-lan....Dia pasti sedang meledekku." Kesal Erin sambil terus memandangi punggung Diva berlalu hingga menghilang dibalik pintu ruang kerja Elio.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣