Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11: Tangis di Atas Pusara
Langkah kaki Lea menghentak kasar koridor sekolah menengah pertama yang mulai ramai oleh lalu lalang siswa. Seragam putih birunya tampak sedikit kusut, dan tas ranselnya tergantung berat di satu bahu.
Di dalam hatinya, api amarah masih membara hebat, sisa dari ledakan emosi di meja makan tadi pagi.
Namun, begitu melangkah melewati ambang pintu kelas VIII-B, raut wajah Lea berubah drastis dalam sekejap mata. Senyum tipis yang biasa ia pamerkan langsung terukir di bibirnya.
Sebagai salah satu siswi yang cukup populer dan berprestasi, Lea tidak pernah mau terlihat lemah di hadapan teman-temannya. Ia membungkus rapat-rapat rasa sakit hati, kecemburuan, dan emosinya di balik topeng keceriaan.
"Pagi, Lea!" sapa Milla, sahabat dekatnya, yang sedang duduk di atas meja sambil mengayun-ayunkan kakinya.
"Pagi, Mil, Rina!" balas Lea dengan nada suara yang dibuat sebiasa mungkin riang. Ia meletakkan tasnya di atas meja, lalu mendudukkan diri di kursinya.
Rina yang duduk di samping Milla menatap Lea dengan mata berbinar-binar dan penuh rasa penasaran. "Lea, btw kemarin kan Papa kamu baru menikah lagi ya? Selamat ya! Aku liat di SW (Status WhatsApp) Bibi aku yang kebetulan tetangga komplek kamu, foto pernikahan Papa kamu manis banget!"
Jantung Lea serasa berhenti berdetak seketika. Senyum manis di wajahnya membeku. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal erat-erat hingga kuku-kukunya memutih.
"Oh... iya," sahut Lea singkat, seraya berusaha menahan getaran pada suaranya.
"Guru privat adik kamu kan, Lea?" lanjut Milla penuh antusias. "Keren banget lho. Kata mamaku, ibu tiri kamu itu kelihatan lembut dan keibuan banget. Padahal masih muda ya? Pasti asyik banget punya ibu tiri yang gak beda jauh umurnya sama kita, bisa diajak hangout bareng, tukeran baju, terus pasti perhatian banget!"
"Iya, bener!" Rina menimpali dengan penuh semangat. "Zaman sekarang tuh udah gak ada cerita ibu tiri jahat kayak di dongeng Cinderella. Ibu tiri kamu itu pasti baik banget kan, Lea? Dulu pas kebetulan kita ketemu juga dia kelihatan sayang banget sama Moana. Beruntung banget kamu punya ibu baru yang sabar dan perhatian gitu!"
Kalimat-kalimat pujian yang dilontarkan teman-temannya, meski diucapkan dengan niat baik tanpa maksud menyakiti, justru terasa bagaikan sembilu yang menyayat-nyayat ulu hati Lea.
Setiap kata "baik", "perhatian", dan "keibuan" yang ditujukan untuk Ayu membakar habis sisa-sisa kesabaran yang coba ia pertahankan sejak pagi.
Di mata Lea, penilaian orang-orang itu adalah kebohongan besar. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya posisi ibunya digantikan. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya posisinya sendiri dalam menjaga Moana direbut.
"Cukup!" bentak Lea tiba-tiba, dan langsung berdiri dari kursinya dengan wajah yang merah padam.
Suasana kelas yang tadinya ramai mendadak hening seketika. Milla dan Rina terperanjat kaget, dan menatap Lea dengan mata membelalak tak percaya.
"Lea... kamu kenapa?" tanya Milla heran dan agak takut melihat amarah yang mendadak meluap dari mata sahabatnya.
Dada Lea naik turun memburu. Airmata kemarahan yang sudah ditahannya sejak dari rumah kini merebak di pelupuk matanya. "Kalian gak tahu apa-apa! Gak usah sok tahu menilai orang yang baru dua hari tinggal di rumah aku! Dia bukan ibu aku dan gak akan pernah jadi ibu aku!"
Setelah berteriak meluapkan emosinya yang memuncak, Lea menyambar tas ranselnya kembali. Tanpa menghiraukan panggilan bingung dari teman-temannya, ia berlari keluar dari kelas.
Saat bel istirahat pertama berbunyi pukul sembilan lewat tiga puluh menit, Lea berdiri di depan meja piket guru. Wajahnya yang pucat dan matanya yang merah sembab membuat guru piket percaya tanpa ragu ketika Lea mengajukan izin pulang lebih awal.
"Saya mendadak pusing dan mual banget, Bu... Boleh saya izin pulang duluan?" pinta Lea dengan suara melemah yang dibuat-buat.
"Aduh, wajah kamu memang pucat sekali, Lea. Ya sudah, Ibu tuliskan surat izin ya. Mau dijemput orang tua?" tanya sang guru khawatir.
"Tidak usah, Bu. Saya bisa naik taksi online sendiri," tolak Lea.
Setelah mengantongi surat izin, Lea melangkah keluar dari gerbang sekolah. Namun, bukannya memesan taksi untuk pulang ke rumah megahnya yang kini terasa dingin dan asing, Lea justru memesan ojek online dengan satu tujuan yang sangat spesifik.
Sebuah tempat di mana satu-satunya orang yang paling memahaminya kini beristirahat dengan tenang.
Tiga puluh menit kemudian, sepeda motor yang ditumpangi Lea berhenti di depan gerbang pemakaman umum yang asri dan rindang. Angin siang berembus pelan, menerbangkan dedaunan kering yang berguguran di antara deretan nisan semen dan batu pualam.
Lea berjalan menelusuri jalan setapak yang dipayungi pohon-pohon kamboja tua. Langkah kakinya yang gemetar membawanya menuju sebuah pusara bercat putih dengan rumput gajah mini yang tertata rapi.
Di atas batu nisan pualam hitam itu, terukir nama indah yang sangat ia rindukan: Ratna Pertiwi binti Soeprapto.
Seketika itu juga, pertahanan diri yang selama ini dibangun Lea runtuh sepenuhnya.
Lea merebahkan tubuhnya di atas rumput di samping pusara ibunya. Kedua tangannya memeluk batu nisan dingin itu erat-erat, seolah-olah sedang memeluk tubuh hangat sang ibu yang telah tiada. Air matanya menetes deras tanpa hambatan lagi, membasahi batu pualam yang membisu.
"Mama... 😭😭😭😭" tangis Lea pecah. Suara isakannya menggelegar di tengah keheningan pemakaman yang sepi. "Mama... Lea kangen banget sama Mama..."
Rasa sakit, cemburu, kesepian, dan amarah yang tertahan di dadanya meluap menjadi tumpahan air mata yang menyayat hati.
"Kenapa Mama pergi cepat banget? Kenapa Mama tinggalin Lea, Bang Kenzo, sama Moana?" racau Lea sesenggukan, dadanya naik turun menahan sesak. "Di rumah sekarang ada wanita lain, Ma... Papa udah nikah lagi. Papa sama Moana lebih sayang sama wanita itu... 😭😭😭"
Lea memejamkan matanya rapat-rapat, sembari mengusap nisan ibunya dengan jemari yang gemetar. "Wanita itu merebut semuanya, Ma. Dia merebut Papa, dia merebut Moana dari Lea... Bahkan semua orang bilang wanita itu baik dan pantas gantiin Mama. Lea benci, Ma! Lea benci sama wanita itu! Lea gak mau punya ibu baru!"
Di bawah naungan pohon kamboja yang berbisik ditiup angin siang, Lea menumpahkan seluruh kepedihan hatinya.
Dalam kesendirian di atas tanah kuburan ibunya, gadis remaja itu meraung meratapi perubahan hidupnya yang terasa begitu membingungkan dan menyakitkan. Ia merasa sendirian, terasing di rumahnya sendiri, dan kehilangan sosok pelindung yang paling ia cintai.
Bersambung...