Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Hari-hari berikutnya di Shanghai berubah menjadi jaring labirin yang semakin mengikat erat kebebasan Layla. Hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang sangat rumit, beracun, sekaligus adiktif.
Teo tidak lagi perlu terang-terangan mengancam, dia cukup menarik dirinya sejenak dan dunia Layla akan langsung runtuh karena berbagai hambatan sistematis yang menghadangnya.
Mau tidak mau Layla terjebak dalam kondisi di mana ia begitu membutuhkan Teo di setiap langkah kesulitannya.
Konflik hubungan mereka memuncak saat cuaca Shanghai memasuki musim dingin ekstrem. Pagi itu, saat Layla harus memimpin rapat koordinasi dengan puluhan kontraktor lokal di lantai 40 gedung Zhang Group, kursi roda elektriknya mendadak mengalami gangguan sistem daya akibat suhu dingin dan manipulasi teknis yang sengaja di atur.
Layla terjebak di koridor basemen yang sepi, sendirian, tidak bisa bergerak maju maupun mundur. Ponselnya kehilangan sinyal di sekitar area ini. Rasa panik, dingin yang menusuk, dan keterbatasan fisiknya membuat Layla mulai menangis frustrasi.
Tepat di titik terendah nya, suara langkah sepatu yang familier menggema. Teo berjalan mendekat dengan santai bak malaikat turun dari langit namun tidak Layla harapkan kedatangannya.
Pria itu tidak tersenyum sinis seperti biasanya, wajahnya datar namun matanya memancarkan kepuasan tersendiri untuknya.
Tanpa sepatah kata pun, Teo membungkuk, mengangkat tubuh Layla dengan kedua tangannya yang kokoh. Layla mencoba melepaskan diri walaupun terjatuh taruhannya, namun Teo seperti enggan melepaskan dan mendekapnya lebih erat, menyalurkan kehangatan dari jas wolnya yang mahal.
“Katakan padaku Layla, siapa lagi yang bisa menolong mu di tempat sejauh ini kalau bukan aku?” Bisik Teo di telinganya.
Layla hanya diam membenamkan wajahnya di dada Teo, dia sangat muak dengan kelakuan nya yang seakan menjadi penolong utama padahal itu jelas jelas adalah rencana nya.
Layla semakin membenci dirinya sendiri pada detik itu juga, saat dia merasakan kehangatan setelah tubuhnya yang menggigil kedinginan, ada rasa lega dan aman berada di pelukan pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Di studio, Bimo mulai mencium keanehan yang mendalam saat ia melihat bagaimana proyek mereka yang awalnya hampir mustahil karena birokrasi kini tiba-tiba berjalan sangat mulus setiap kali Layla menghabiskan waktu bersama Teo.
Pemasok material ramah lingkungan terbaik yang sempat menolak mereka pun kini bahkan mengantarkan sampel langsung ke meja Layla dengan membungkuk hormat.
“Layla, ada apa sebenarnya antara kamu dan Teo?” Tanya Bimo suatu malam, menatap Layla dengan penuh selidik saat mereka tinggal berdua di studio.
“Izin amdal keluar dalam satu malam, bisa kerja ku berstatus vip, bahkan material langka ini di setujui tanpa audit biaya. Ini tidak masuk akal untuk skala Zhang Group”
”Apa kau kembali menjalin hubungan dengan pria itu?” Tanya Bimo lagi.
Jantung Layla berdebar kencang. Dia memandang Bimo dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Namun, di saat yang sama, Layla sadar bahwa jika dia jujur, Bimo yang keras kepala pasti akan menarik tim ini mundur, yang berarti kehancuran total bagi karier mereka semua akibat tuntutan penalti Teo.
“Ini hanya.. hubungan profesional, Bim. Teo hanya ingin proyek ayahnya sempurna “ Dusta Layla, suaranya bergetar egois demi melindungi rahasia beracun nya.
Setiap malam, mobil Teo selalu menunggu di depan studio. Layla tidak lagi di seret secara kasar. Kini, dia meluncur sendiri ke arah mobil itu karena dia tau, besok pagi ada berkas struktur baja yang membutuhkan tanda tangan dewa Teo agar proyek tidak mandek lagi.
Di dalam kamar apartemen mewah milik Teo yang begitu megah, Teo akan bersikap sangat lembut, menyuapi Layla makan malam, atau mendengarkan dengan serius saat Layla menceritakan konsep pencahayaan interiornya yang genius. Pada momen momen itu, Teo terlihat seperti pria yang tulus mencintai Layla.
Namun, begitu Layla meminta izin untuk pulang ke hotel timnya, Teo akan berubah dingin dalam sekejap, mengingatkan Layla tentang sisa hari kontrak mereka.
Layla sadar, dirinya telah jatuh ke dalam sindrom ketergantungan yang berbahaya. Ia membutuhkan kekuasaan Teo untuk mewujudkan mimpi arsitektur nya di tingkat global, sementara Teo membutuhkan kerapuhan Layla untuk memuaskan egonya yang haus akan kendali. Mereka berdua terikat dalam hubungan yang merusak, di mana garis batas antara benci,butuh dan obsesi telah menyatu sepenuhnya.
Malam itu, hujan badai tiba-tiba datang dan mengguyur Shanghai. Petir menyambar di balik jendela kaca besar, memantulkan bayangan mereka berdua di lantai marmer.
Layla duduk di kursi rodanya di dekat jendela, memandang keluar dengan tatapan kosong. Tubuhnya sedikit menggigil, tiba-tiba sebuah kehangatan muncul dari belakang, Teo menyelimuti bahu Layla dengan mantel wolnya. Tidak berhenti di situ, Teo perlahan berlutut di samping kursi roda Layla, lalu menggenggam kedua tangan wanita itu dan membawanya ke pipinya yang hangat.
“Lepaskan Teo..” Layla mencoba menarik tangannya dengan sisa tenaga yang dia miliki. Pikiran nya menjerit untuk menolak kedekatan ini.
“Jangan sentuh aku jika ini hanya bagian dari caramu menghukumku “
Teo tidak melepaskan nya memilih menghiraukan perkataan Layla. Teo justru mempererat genggamannya, menatap Layla dengan sepasang mata yang tidak lagi memancarkan kemarahan, melainkan sebuah obsesi kelam yang teramat dalam.
“Kau selalu saja menolak ku dengan kata-kata mu Layla” ujar Teo. suaranya merendah, parau oleh emosi yang tertahan. Teo berdiri perlahan, lalu dengan gerakan lembut namun pasti, dia mengangkat tubuh Layla dari kursi roda dan membawanya ke sofa panjang.
Layla memukul dada Teo lemah, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil terisak “Aku membencimu Teo..aku benci semua yang kau lakukan padaku”
“Aku tau..” bisik Teo tepat di telinga Layla, deru napasnya membuat bulu kuduk Layla meremang.
Teo mendudukkan Layla di pangkuannya, mendekap tubuh rapuh itu begitu erat hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka “Bencilah aku sesukamu, tapi malam ini..kau tidak bisa lari kemana-mana”
Dulu Layla bukanlah gadis yang polos saat kedua kakinya bisa berlari, dia centil dan manis memiliki banyak kekasih yang bergantian setiap bulannya, namun gaya berpacaran sewaktu sekolah tidak berlebihan hanya sebatas ciuman singkat yang pernah Layla lakukan.
Jauh sebelum ini, Layla pernah memprediksi akan hal ini, namun Layla tidak pernah terpikirkan bahwa hal itu akan tiba sekarang.
Di tengah penolakan dan air mata Layla, keintiman fisik di antara mereka justru terasa semakin tak terbendung. Teo menjauhkan anak rambut yang menutupi wajah Layla, lalu mengecup keningnya dengan sangat lembut, sebuah ciuman yang terasa begitu kontradiktif dengan segala perbuatan kejamnya selama ini.
Layla memejamkan matanya erat erat. Jiwanya meneriakkan penolakan total terhadap pria manipulatif yang telah menjebak nya ini.
Namun secara sentuhan hangat Teo adalah satu-satunya hal yang membuat nya merasa hidup. Layla begitu membenci dirinya sendiri saat akal sehat dan tubuhnya tidak seimbang menciptakan rasa sadar yang tak menentu.
Saat Teo perlahan mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir Layla, Layla sempat menahan dada Teo dengan tangannya, namun ciuman Teo kali ini tidak kasar, melainkan ciuman yang lembut dan menuntut, dengan perlahan cengkeraman tangan Layla di dada jas Teo melemah, berubah menjadi remasan tidak berdaya yang menyerahkan sisa pertahanannya.
Ketika malam semakin larut, Layla terbangun di dalam dekapan Teo di atas ranjang, lengan kekar Teo melingkar posesif di pinggangnya, menguncinya bahkan dalam tidurnya.
Layla menatap wajah Teo yang tampak tenang saat terlelap. Pria di sampingnya ini adalah monster yang menyusahkan, yang siangnya memboikot pekerjaannya namun malamnya menjelma menjadi pelindung yang memberikan kehangatan intim.
Layla menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan, ia tidak hanya bergantung pada tanda tangan proyek Teo secara profesional, tetapi tubuh dan batinnya perlahan lahan mulai terjebak dalam pesona beracun lelaki bajingan ini.
Batas antara rasa benci yang mendalam dan kebutuhan akan keintiman yang selama ini Layla inginkan telah melebur sepenuhnya di bawah selimut lelaki yang begitu dia benci.
Hanya karena pesona ketampanan dan keperkasaan nya di atas ranjang membuat Layla mulai goyah, Dan kemunafikan atas dirinya sendiri tidak terbantahkan.