Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Pertemuan di Lorong Gelap dan Gelang Perak
Sore itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Matahari perlahan merosot di balik gedung-gedung tinggi, menyapukan warna jingga yang hangat di langit kota. Bagi Maya, cahaya senja hari ini tidak terasa seperti pertanda berakhirnya hari, melainkan sebuah gerbang menuju kehidupan baru yang selama ini hanya berani ia impikan dalam diam.
Langkahnya terasa sangat ringan saat ia berjalan keluar dari gerbang besi tinggi kediaman keluarga Danendra. Di kepalanya, kata-kata Kakek Suryo terus berputar seperti alunan melodi yang magis. Kakek akan mendaftarkanmu ke sekolah yang bagus. Kamu tidak perlu mengepel lagi. Kamu hanya perlu duduk di kelas dan belajar membaca.
Maya tersenyum sendiri. Tangannya yang mungil meremas tali tas kainnya dengan erat. Ia membayangkan besok ia akan bangun pagi, memakai seragam yang wangi, membawa kotak pensil baru, dan duduk di bangku kelas. Ia tidak sabar untuk menceritakan kabar gembira ini kepada ibunya. Ia yakin, jika ada orang yang mau membiayai sekolahnya, ibunya pasti tidak perlu bekerja terlalu keras lagi. Ibunya pasti akan tersenyum.
Di ambang pintu rumah besar itu, Elena masih berdiri melambaikan tangannya. "Besok datang lagi ya, Maya! Kita main sekolah-sekolahan untuk latihan sebelum kamu benar-benar masuk sekolah!" seru Elena riang.
Maya balas melambaikan tangannya dengan semangat. "Iya, Kak Elena! Sampai jumpa besok!"
Mobil jemputan tidak bisa mengantar Maya sampai ke depan rumahnya karena gang kontrakannya terlalu sempit. Maya biasanya diturunkan di persimpangan jalan besar, lalu ia harus berjalan kaki sekitar lima belas menit melewati area ruko tua dan jalanan sepi untuk mencapai kawasan padat penduduk tempat ia tinggal.
Hari mulai beranjak gelap. Lampu-lampu jalan berkedip menyala satu per satu, menyorotkan cahaya kekuningan yang temaram ke aspal yang berdebu. Maya berjalan dengan riang, sesekali melompat kecil menghindari genangan air sisa hujan semalam.
Namun, saat ia melewati sebuah gang sempit diapit oleh dua gedung gudang tua yang terbengkalai, langkah riang gadis kecil itu terhenti.
Telinganya yang tajam menangkap sebuah suara. Suara itu sangat pelan, nyaris tertelan oleh deru kendaraan di jalan raya, namun cukup jelas bagi Maya. Itu adalah suara isakan. Seseorang sedang menangis dengan cara yang sangat menyakitkan, seolah sedang menahan napas agar tidak bersuara.
Maya terdiam. Gang itu sangat gelap, hanya diterangi oleh pantulan lampu jalan dari depan. Insting anak-anak pada umumnya pasti akan menyuruh mereka berlari menjauh dari tempat gelap semacam itu. Namun, Maya bukanlah anak biasa. Kehidupan keras telah memaksanya memiliki empati yang melampaui rasa takutnya. Ia tahu betul bagaimana rasanya menangis sendirian di tempat yang gelap.
Dengan langkah perlahan dan hati-hati, Maya berbelok memasuki gang sempit itu. Bau apak dari sampah dan lumut langsung menyengat hidungnya.
Di sudut terdalam gang tersebut, meringkuk sebuah siluet kecil. Seseorang duduk memeluk lututnya, menempelkan tubuhnya ke dinding bata yang lembap seolah ingin menyatu dengan tembok itu. Tubuhnya bergetar sangat hebat, seperti sedang terserang demam tinggi.
"Hei..." panggil Maya dengan suara pelan, selirih bisikan angin agar tidak mengejutkan sosok itu.
Siluet itu tersentak keras, kepalanya mendongak dengan panik. Di bawah cahaya remang-remang bulan yang menyusup dari celah gedung, Maya bisa melihat wajahnya. Itu adalah seorang anak laki-laki. Usianya mungkin beberapa tahun lebih tua dari Maya. Anak itu memiliki kulit yang putih bersih dan potongan rambut yang sangat rapi, khas anak-anak dari keluarga terpandang. Ia mengenakan setelan jas kecil dan kemeja putih.
Namun, ada sesuatu yang membuat darah Maya berdesir ngeri. Kemeja putih anak laki-laki itu tidak lagi bersih. Ada bercak-bercak merah gelap yang merembes di kerah dan lengan bajunya. Itu darah.
Anak laki-laki itu menatap Maya dengan mata yang membelalak lebar, dipenuhi oleh horor dan kepanikan absolut. Mulutnya terbuka, napasnya memburu cepat, namun tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari tenggorokannya. Ia terlihat seperti seekor anak burung yang sayapnya patah dan sedang menunggu mangsa menerkamnya.
Maya tidak tahu apa yang telah terjadi. Ia tidak tahu siapa anak ini, atau bagaimana anak berpakaian mahal bisa berakhir di gang kumuh dengan pakaian berlumuran darah. Yang Maya tahu hanyalah satu hal: anak laki-laki di depannya ini sedang sekarat karena ketakutan.
Maya tidak berteriak. Ia tidak berlari mencari pertolongan orang dewasa, karena pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa orang dewasa sering kali membawa lebih banyak masalah. Sebaliknya, Maya berjongkok, berjarak sekitar dua langkah dari anak laki-laki itu, menjaga jarak agar tidak membuatnya merasa terancam.
"Kamu tersesat?" tanya Maya lembut.
Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan kuat, tubuhnya semakin meringkuk mundur hingga menabrak dinding.
"Kamu terluka? Darah itu... apakah itu darahmu?" Maya menunjuk pelan ke arah kemejanya.
Anak itu menunduk menatap kemejanya sendiri, lalu tubuhnya kembali bergetar hebat. Isakannya pecah, namun tetap tanpa suara. Ia baru saja menyaksikan sebuah pembantaian. Pengasuh yang sangat menyayanginya baru saja ditikam di depan matanya sendiri saat berusaha melindunginya dari sekelompok pria bertopeng. Ia disuruh berlari tanpa menoleh ke belakang. Dalam pelariannya yang buta, ia tersesat hingga ke gang kumuh ini, lumpuh oleh trauma yang mengunci pita suaranya.
Melihat anak itu tidak merespons dan terus gemetar, Maya memutuskan untuk duduk beralaskan tanah berdebu, melipat kakinya dengan santai.
"Kalau kamu tidak mau bicara, tidak apa-apa," ucap Maya dengan nada yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang terbentuk dari kerasnya hidup. "Kita duduk saja di sini. Aku akan menemanimu sampai ketakutanmu pergi."
Anak laki-laki itu mengangkat wajahnya, menatap aneh pada gadis kecil berpakaian kusam yang berani duduk menemaninya di tempat sekotor ini.
Maya menghela napas panjang, menatap langit sempit di antara dua gedung. Ia mulai berbicara, bukan untuk memaksa anak itu menjawab, melainkan untuk mengisi keheningan yang menakutkan itu dengan suara manusia.
"Kamu tahu, aku juga sering merasa sangat takut," gumam Maya pelan, matanya menerawang. "Ibuku... ibuku kadang bisa sangat galak. Kalau ibuku sedang marah, matanya menakutkan sekali. Ibuku sering menangis di malam hari, dan aku hanya bisa sembunyi di balik selimut, menahan napas supaya Ibu tidak tahu aku bangun."
Anak laki-laki itu mengerjap, isakannya perlahan mereda. Fokusnya mulai tersita oleh suara lembut gadis kecil di depannya.
"Tapi aku tahu, ibuku galak karena dia lelah. Tadi, sebelum aku pulang, aku mendapat kabar yang sangat bagus," Maya menoleh ke arah anak itu, tersenyum dengan sangat manis. "Ada seorang kakek baik hati yang mau membiayai sekolahku. Besok, aku akan masuk sekolah. Aku akan punya buku sendiri. Aku rasa... kalau aku sudah pintar, ibuku tidak akan perlu marah-marah lagi."
Mata anak laki-laki itu perlahan tidak lagi liar. Ketenangan Maya bekerja seperti obat penenang yang disuntikkan langsung ke nadinya.
Maya melihat bahu anak itu mulai rileks. Gadis kecil itu perlahan menggeser duduknya, memangkas jarak di antara mereka. Ia mengulurkan sebelah tangannya yang kecil, telapak tangannya terbuka menghadap ke atas.
"Kata orang-orang di pasar, anak laki-laki harus kuat. Tapi menurutku itu bohong," bisik Maya, menatap lurus ke dalam mata anak laki-laki itu. "Laki-laki tidak boleh menangis hanya karena takut. Laki-laki hanya boleh menangis karena kehilangan, atau karena cinta."
Anak laki-laki itu membeku. Kalimat sederhana dari seorang anak berusia tujuh tahun itu entah bagaimana menembus masuk ke relung jiwanya yang paling dalam, menetap di sana sebagai sebuah jangkar.
"Pegang tanganku," bujuk Maya dengan senyum menguatkan. "Kalau kamu takut, pegang tangan orang yang membuatmu tidak takut. Ibuku selalu memukul tanganku kalau aku nakal, tapi tangan ini cukup kuat untuk menahan rasa takutmu."
Dengan tangan yang masih gemetar dan berlumuran noda merah, anak laki-laki itu perlahan mengulurkan tangannya. Jari-jarinya yang dingin dan kaku bersentuhan dengan jari-jari Maya yang hangat dan sedikit kasar. Maya langsung menggenggam tangan anak itu erat-erat, menyalurkan seluruh keberanian yang ia miliki.
Sentuhan itu ajaib. Untuk pertama kalinya sejak insiden berdarah itu, anak laki-laki tersebut merasa bisa menarik napas panjang. Ia menangis lagi, namun kali ini air matanya mengalir dengan tenang, meluruhkan kepanikan yang menyumbat dadanya.
Mereka duduk berpegangan tangan di dalam gang gelap itu entah untuk berapa lama. Dua anak yang sama-sama tersesat dalam takdir mereka sendiri, saling memberikan kekuatan dalam keheningan malam. Maya tidak tahu nama anak itu, dan anak itu tidak tahu nama Maya.
Tiba-tiba, suara nyaring sirine polisi memecah keheningan jalan raya. Sorot lampu senter menyapu jalanan dari luar gang. Terdengar derap langkah kaki orang dewasa yang berlarian panik.
"Cari di sekitar sini! Tuan Muda pasti belum jauh! Periksa setiap gang!" teriak suara seorang pria berat.
Mendengar suara itu, anak laki-laki itu tersentak. Ia melepaskan genggaman Maya dan berusaha berdiri, matanya kembali liar.
"Itu orang yang mencarimu?" tanya Maya, ikut berdiri. "Jangan takut, itu polisi. Mereka orang baik. Mereka akan membawamu pulang."
Sorot cahaya senter akhirnya menembus masuk ke dalam gang.
"DI SINI! TUAN MUDA ADA DI SINI!" teriak seorang petugas keamanan, berlari menghampiri mereka diikuti oleh beberapa anggota kepolisian.
Petugas keamanan itu langsung berlutut dan memeluk anak laki-laki tersebut. "Syukurlah Anda selamat, Tuan Muda Adrian! Keluarga sangat mengkhawatirkan Anda! Mari, kita harus segera kembali ke rumah sakit, ayah Anda sudah menunggu."
Adrian nama yang diucapkan oleh petugas itu hanya terdengar sayup-sayup di telinga Maya karena keributan yang terjadi. Adrian diangkat untuk digendong, namun sebelum petugas itu membawanya pergi, Adrian meronta pelan, meminta diturunkan.
Adrian berdiri di hadapan Maya yang tersudut ke dinding. Anak laki-laki itu tidak bisa mengucapkan kata terima kasih karena suaranya masih hilang, namun matanya memancarkan rasa syukur yang luar biasa dalam. Adrian menunduk, lalu meraba pergelangan kakinya. Ia melepaskan sebuah gelang kaki.
Itu adalah gelang kaki anak-anak yang terbuat dari perak murni. Di tengahnya, terdapat sebuah bandul kecil berbentuk bintang bersudut lima yang berkilauan tertimpa cahaya senter. Gelang itu adalah benda kesayangannya, hadiah dari ibunya saat ia masih sangat kecil.
Adrian menyodorkan gelang perak itu kepada Maya.
Maya terbelalak kaget. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menolak menerimanya. "Itu milikmu. Aku tidak menolongmu untuk meminta hadiah."
Namun Adrian bersikeras. Ia melangkah maju, meraih tangan Maya secara paksa, lalu meletakkan gelang perak yang dingin itu tepat di telapak tangan Maya, menutup jari-jari gadis kecil itu agar menggenggamnya. Adrian menatap mata Maya tajam, membuat sebuah janji yang nantinya menjadi obsesinya ( I Will Marry You My Little Girl), sebelum akhirnya ia berbalik dan membiarkan dirinya digendong pergi oleh para petugas.
Maya berdiri mematung di dalam gang yang kembali sepi dan gelap. Ia menatap gelang perak di tangannya. Bandul bintang itu memantulkan sedikit sisa cahaya lampu.
"Semoga kamu tidak takut lagi, Tuan Muda," bisik Maya tersenyum kecil. Ia memasukkan gelang perak itu ke dalam saku celananya dalam-dalam. Baginya, itu adalah kenang-kenangan dari sebuah keberanian kecil di malam hari. Ia sama sekali tidak tahu bahwa kelak, di masa depan, gelang perak itu akan menjadi saksi bisu dari pengkhianatan paling kejam dalam hidupnya.
Dengan hati yang kembali berbunga-bunga mengingat janji sekolah dari Kakek Suryo, Maya melanjutkan perjalanan pulangnya. Setengah berlari, ia membayangkan bagaimana reaksi ibunya jika mendengar bahwa mereka tidak perlu lagi memusingkan biaya sekolah.
"Ibu! Maya pulang!" seru Maya riang saat ia mendorong pintu kayu rumah kontrakannya yang reyot.
Namun, senyum di wajah Maya pudar seketika, menguap bagaikan embun yang tersapu badai.
Kondisi di dalam rumah itu sangat kacau. Isi lemari plastik mereka berserakan di atas kasur. Baju-baju lusuh dimasukkan secara paksa dan berantakan ke dalam sebuah tas kain butut yang sangat besar.
Di tengah kekacauan itu, berdiri Clara. Wajah ibunya sepucat kapas, dihiasi keringat dingin yang mengucur deras. Mata Clara liar, napasnya memburu cepat bagaikan orang yang sedang dikejar malaikat maut. Clara sedang membongkar kaleng biskuit bekas yang ia gunakan sebagai tempat menyimpan uang tabungannya yang tidak seberapa.
"I-ibu...? Ibu sedang apa?" suara Maya tercekat, ketakutan mulai merayapi lehernya.
Clara menoleh dengan cepat. Matanya membelalak melihat Maya. Tanpa peringatan, Clara melangkah maju, mencengkeram lengan Maya dengan sangat keras hingga gadis kecil itu meringis kesakitan.
"Dari mana saja kau, hah?!" bentak Clara histeris, suaranya bergetar hebat oleh panik yang nyaris membuatnya gila. "Sudah Ibu bilang jangan keluyuran! Cepat masuk, kemasi barang-barangmu sekarang juga!"
"Barang-barang? Untuk apa, Bu?" Maya merintih, mencoba melepaskan cengkeraman ibunya. "Kita mau ke mana malam-malam begini?"
"Kita harus pergi!" jerit Clara, melepaskan lengan Maya dan kembali memasukkan barang-barang ke dalam tas dengan membabi buta. "Kita harus pergi dari kota ini sekarang juga! Malam ini juga! Pergi sejauh mungkin dari keluarga sialan itu!"
Dunia Maya runtuh seketika. Langit-langit rumah petak itu seolah menimpanya.
"Pergi? Pindah kota?" Maya menangis, berlari memeluk kaki ibunya. "Tidak mau, Ibu! Kenapa kita harus pindah? Maya besok mau sekolah! Kakek Suryo bilang Maya besok akan didaftarkan ke sekolah! Maya akan punya buku sendiri, Ibu!"
Mendengar nama 'Kakek Suryo' disebut, kewarasan Clara seakan putus total. Kengerian mencengkeram tenggorokannya. Rahasianya! Kebohongannya! Penukaran bayi di malam badai itu! Semuanya akan hancur jika pria tua itu mulai menggali masa lalu Maya. Jika mereka bertahan satu hari lagi saja di kota ini, Clara tahu ia akan berakhir di penjara dan kehilangan anak ini selamanya.
"DIAM!" teriak Clara dengan tenaga penuh, suaranya menggelegar memekakkan telinga. Ia menunduk, mencengkeram kedua bahu Maya dan mengguncangnya dengan kasar. "Kakek itu bukan siapa-siapamu! Mereka orang kaya yang hanya ingin mempermainkan kita! Dengarkan Ibu baik-baik, Maya! Kalau kau tidak ikut Ibu malam ini, Ibu akan meninggalkanmu sendirian di sini dan tidak akan pernah kembali lagi! Kau mengerti?!"
Ancaman itu adalah ketakutan terbesar Maya. Ditinggalkan oleh ibunya. Sendirian di dunia yang gelap.
Air mata membanjiri wajah mungil Maya. Mimpinya untuk bersekolah, mimpinya untuk belajar membaca, mimpinya untuk terus bermain bersama Elena... semuanya dihancurkan dalam hitungan detik oleh ego ibunya yang ketakutan.
"Jangan tinggalkan Maya, Bu... Maya ikut... Maya ikut Ibu..." isak gadis kecil itu pasrah, mengusap air matanya dengan kasar.
Clara tidak memedulikan tangisan anaknya. Ia mengunci ritsleting tas bututnya dengan paksa. "Pakai jaketmu. Kita pergi ke stasiun kereta sekarang."
Maya menurut dengan tubuh bergetar hebat. Ia mengambil jaketnya yang tipis. Tangan kecilnya merogoh ke dalam saku celananya, menyentuh gelang perak yang baru saja ia terima, dan memikirkan janjinya pada Elena tadi sore.
Besok datang lagi ya, Maya!
Suara Elena terngiang di kepalanya. Hati Maya menjerit kesakitan. Ia tidak bisa pergi begitu saja. Ia tidak bisa menghilang tanpa berpamitan pada sahabat satu-satunya, pada saudari angkatnya. Ia harus melihat Elena untuk terakhir kalinya, apa pun risikonya.
"Ibu..." Maya memberanikan diri menatap mata ibunya yang sedang kalut. "Boleh... bolehkah Maya pergi sebentar? Lima menit saja. Maya ingin berpamitan pada Elena. Hanya berpamitan, Bu. Tolong..."
"TIDAK! Kau dilarang keras menemui anak itu lagi!" bentak Clara.
Namun kali ini, entah dari mana keberanian itu datang, darah perlawanan Vera yang mengalir di nadi Maya bergolak. Di saat Clara berbalik untuk mematikan lampu, Maya tiba-tiba berbalik arah. Dengan sisa tenaga dan keputusasaan seorang anak yang ingin mempertahankan secercah cintanya, Maya membuka pintu dan berlari sekuat tenaga ke luar rumah.
"MAYA! KEMBALI KAU ANAK KURANG AJAR!" jeritan histeris Clara membelah malam.
Maya tidak menoleh. Ia berlari menembus gelapnya gang, berlari menuju istana keluarga Danendra. Ia harus menemui Elena malam ini juga. Ia harus memberikan sebuah salam perpisahan, sebelum takdir memisahkan mereka ke dalam dua dunia yang tidak akan pernah saling mengenali.