Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sisa-sisa akal sehat Gladys memberontak hebat. Ia memukul dada bidang Praduta, mendorong dengan sekuat tenaga, dan meronta-ronta di bawah kungkungan tubuh pria itu.
Namun, perbedaan tenaga yang terlampau jauh membuat perlawanannya terasa sia-sia.
Bagai seekor anak domba di cengkeraman serigala, tubuh Gladys kian terhimpit rapat ke dinding ruko.
Ciuman itu kian menuntut, merampas napas dan pertahanannya hingga ia merasa lemas tak berdaya.
Ketika Praduta akhirnya sedikit melonggarkan ciumannya untuk mengambil napas, dahi pria itu bersandar pada dahi Gladys.
Napas keduanya memburu dalam keheningan kafe yang masih temaram.
Di tengah isak tangis tertahan dan tatapan penuh kebencian bercampur teror dari mata Gladys, Praduta berbisik dengan suara serak yang sarat akan kepemilikan mutlak.
"Aku mencintaimu, Gladys." bisik Praduta penuh penekanan tepat di bibir wanita itu, seolah kata-kata tersebut adalah mantra yang sah untuk menghancurkan seluruh hidup yang telah dibangun Gladys.
Gladys menggelengkan kepalanya dengan kuat, air mata keputusasaan merembes membasahi pipinya.
Dengan sisa pertahanan dan tenaga yang dimilikinya, ia berusaha sekuat tenaga menjauhkan dadanya dari kungkungan Praduta, meski pria itu masih mencengkeram bahunya rapat-rapat.
"Pra, jangan seperti ini. Hentikan semuanya," ucap Gladys dengan suara bergetar parau, menatap Praduta dengan tatapan memohon yang hancur.
"Anggap semua ini hanya mimpi. Lupakan segalanya, Pra. Tolong."
Praduta membeku. Tatapan matanya yang tadinya penuh obsesi mendadak menggelap, diwarnai oleh ketidakpercayaan dan senyuman dingin yang mengerikan.
"Mimpi?" desis Praduta pelan, suaranya seperti bisikan iblis yang merayap di celah-celah dinding kafe yang sunyi.
"Bagaimana bisa aku menganggap ini cuma mimpi, Gladys? Sentuhanmu, ciumanmu, semuanya nyata. Dan, kamu pikir kamu bisa terbangun begitu saja lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa di dalam pelukan Raka?"
Praduta kian memajukan tubuhnya, mengunci Gladys hingga wanita itu tak punya ruang sama sekali untuk bergerak.
"Kamu sudah masuk terlalu jauh ke dalam hidupku, Gladys. Dan, aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."
Tiba-tiba, suara dentingan pintu kaca depan yang dibuka dari luar memecah keheningan yang mencekam di antara mereka.
Kring!
"Pagi, Bu Gladys!" sapa suara riang Kirana, yang melangkah masuk disusul oleh seorang pegawai kafe lainnya membawa kotak perlengkapan kebersihan.
Mendengar suara itu, tubuh Gladys tersentak kaget.
Di saat yang sama, Praduta bergerak cepat. Dengan akting yang begitu mulus dan refleks kilat, pria itu menarik diri, merapikan kerah bajunya, lalu tertawa terbahak-bahak—seolah-olah mereka baru saja berbagi sebuah lelucon ringan di pagi hari.
Gladys yang kebingungan dan masih gemetar terpaksa ikut memaksakan tawa sumbang, berusaha keras menutupi kepanikan luar biasa di wajahnya.
Kirana yang baru saja masuk menghentikan langkahnya, mengerucutkan bibirnya sambil menatap heran ke arah Praduta dan bosnya.
"Wah, pagi-pagi sudah ramai ketawa nih. Tahu gitu saya datang lebih cepat," protes Kirana setengah berkelakar dengan nada manja khas anak muda.
"Tapi awas ya, Mas Praduta, jangan bikin Bu Gladys capek ketawa terus. Mas kan bukan bos di sini."
Praduta menyunggingkan senyum miring yang penuh arti.
Ia melangkah melewati Kirana, namun sebelum benar-benar keluar dari pintu kafe, pria itu sengaja melambatkan langkahnya tepat di samping telinga Gladys.
Tanpa bisa didengar oleh Kirana maupun pegawai lainnya, Praduta berbisik pelan, mengalirkan racun dingin yang membekukan darah Gladys.
"Tertawalah selagi kamu masih bisa, Sayang. Aku tunggu keputusanmu nanti, atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari rumah itu."
Setelah melontarkan ancaman terakhirnya, Praduta melangkah keluar kafe dengan santai, meninggalkan Gladys yang berdiri mematung dengan lutut yang lemas, meredam isak tangis di balik senyum kaku di hadapan para pegawainya.
Gladys berusaha keras menata napasnya yang masih memburu.
Bayangan senyum mengerikan dan bisikan ancaman Praduta masih berdengung di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak.
Ia tahu ia tidak bisa berlama-lama diam di kafe dalam kondisi mental yang hancur seperti ini.
Ia harus mengambil tindakan sebelum Praduta benar-benar menepati kata-katanya untuk mendatangi rumahnya.
Gladys melangkah mendekati meja bar tempat Kirana sedang membereskan inventaris pagi.
"Kirana, aku titip kafe sebentar ya," ucap Gladys dengan suara yang diusahakan senormal mungkin, meski raut wajah pucatnya tidak bisa disembunyikan.
Kirana menghentikan kegiatannya dan menoleh dengan kening berkerut heran.
"Ibu mau ke mana? Ini kan baru buka, sebentar lagi jam operasional mulai ramai."
Gladys tersenyum tipis, senyuman paling terpaksa yang pernah ia buat seumur hidupnya.
"Ada urusan sebentar. Aku harus pergi."
Tanpa menunggu balasan atau pertanyaan lebih lanjut dari Kirana, Gladys berbalik dan bergegas keluar dari kafe.
Ia berdiri di pinggir jalan, lalu melambaikan tangan untuk memanggil sebuah taksi yang lewat.
Begitu taksi berhenti, ia langsung masuk dan menyebutkan satu tujuan: gedung perkantoran tempat suaminya bekerja.
Ia butuh Raka—ia butuh perlindungan dari benteng suaminya sendiri.
Tak lama kemudian, taksi tersebut berhenti di depan lobi gedung kantor yang menjulang tinggi.
Gladys membayar tarif taksinya dengan tergesa-gesa dan saat supir taksi akan melajukan mobilnya tiba-tiba terdengar suara nyaring memecah kebisingan lobi, memanggil namanya dengan nada penuh emosi.
"Gladys!!"
Gladys menoleh dengan jantungnya yang belum sepenuhnya tenang kembali berdegup kencang.
Ia kembali turun dari taksi dan meminta supir menunggunya.
Di hadapannya, berdiri seorang wanita asing berpenampilan modis dengan mata menyalang tajam penuh amarah, menatap lurus ke arahnya seolah ingin menerkam.
Gladys mengerjap, menatap wanita tak dikenal itu dengan kening berkerut dalam.
"Kamu, siapa?"
Wanita modis itu melangkah mendekat dengan tatapan yang menghunjam tajam, memotong jarak di antara mereka di tengah lobi kantor yang mulai sibuk.
Napasnya memburu, seolah kebencian di dadanya sudah mendesak untuk segera dimuntahkan.
"Aku Nayla," ucap wanita itu dengan suara tegas penuh penekanan, memperkenalkan dirinya tanpa ragu.
"Teman, dan wanita yang mencintai Praduta."
Nama itu meluncur begitu saja, membawa hawa dingin yang langsung merayap ke tengkuk Gladys.
Sebelum Gladys sempat mencerna keterkejutan itu, Nayla melangkah lebih dekat lagi, menatap mata Gladys lurus-lurus dengan seringai miris.
"Apakah kamu mencintai Praduta?" tanya Nayla tajam, seolah menguji seberapa jauh wanita di hadapannya telah terjatuh.
Gladys hanya terdiam. Lidahnya mendadak kelu, tertahan oleh rasa bersalah dan rahasia kelam yang mati-matian ia sembunyikan.
Keheningan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi sebuah jawaban.
Nayla mendengus sinis. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh kemenangan yang menyakitkan.
"Asal kamu tahu, Gladys. Praduta adalah putra Devandra," bongkar Nayla tanpa ampun, membuka rahasia terbesar yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Praduta.
"Dia telah memanfaatkanmu untuk menghancurkan keluarga Devandra."
Mendengar kalimat itu, napas Gladys seakan berhenti.
Darahnya berdesir hebat, namun sisi rapuhnya langsung menolak kenyataan tersebut demi membela bayangan pria yang telah merusak kewarasannya.
"T-tapi dia mengatakan kalau ia mencintaiku." sangkal Gladys dengan suara bergetar lemah, air matanya mendesak ingin tumpah.
Nayla tertawa pelan, tawa penuh kepedihan sekaligus ejekan yang telak.
"Gladys, dia membohongimu sejak awal! Dia bahkan menerormu seperti itu untuk mengendalikanmu," sergah Nayla dengan suara berapi-api.
"Praduta hanya ingin mempermalukan Devandra di depan banyak orang, dan kamu telah memberikan kesempatan itu di atas piring emas, Gladys!"
Setiap kata yang diucapkan Nayla menghantam dada Gladys bagaikan hantaman palu godam.
"Inilah kenyataannya, Gladys," lanjut Nayla dengan nada yang mulai melunak namun tetap menusuk tulang.
"Jika, kamu meninggalkan suamimu dan pergi kepadanya, dia tidak akan pernah menerimamu. Kamu harus mencintai seseorang yang menghormatimu dan bisa mencintaimu lebih dari cintamu sendiri."
Nayla menarik napas sebentar, menatap lurus ke dalam manik mata Gladys yang kini sudah basah oleh air mata.
"Kamu bukan cintanya, tetapi alat balas dendamnya. Dia hanya mencintai balas dendamnya," ucap Nayla lirih namun penuh kepastian.
"Aku tidak cemburu dengan kamu, Gladys. Tapi memang itu kenyataannya."
Setelah melontarkan seluruh kebenaran yang menghancurkan dunianya dalam hitungan detik, Nayla berbalik begitu saja.
Wanita itu berjalan cepat meninggalkan lobi, membiarkan Gladys berdiri terpaku seorang diri di tengah kerumunan, bagaikan patung yang kehilangan jiwanya.
Dunia Gladys runtuh. Segala teror, ciuman paksa, dan bisikan obsesif Praduta kini mendadak menemukan kepingan puzzle-nya. Ia bukan dicintai—ia hanya dijadikan bidak catur dalam perang kebencian keluarga Devandra.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang tersisa dan lutut yang gemetar hebat, Gladys kembali masuk kedalam taksi.