NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12 - Misteri di Kota Wirasaba

Ombak menggulung pelan di balik barisan pohon bakau, dan papan nama desa yang catnya sudah banyak mengelupas menyambut kedatangan dua orang asing tepat saat matahari mulai condong ke barat. Puspita berdiri sejenak di pinggir jalan berbatu itu, membiarkan angin laut menyapu ujung rambutnya sebelum akhirnya melangkah masuk ke Kota Wirasaba.

Kota kecil ini tidak berubah banyak sejak terakhir kali kakinya menginjak tanahnya, sekalipun ingatannya soal tempat ini kabur oleh usia dan luka. Jalannya kini diaspal sebagian, tetapi pematang sempit yang membelah deretan rumah panggung kayu masih berdiri persis seperti dulu, rapuh dan ditumbuhi lumut di bagian yang jarang tersinari matahari. Beberapa rumah sudah berganti tembok bata, tetapi di ujung sana masih berdiri beberapa pondok tua yang atapnya nyaris rata dengan tanah.

Yusuf berjalan di sampingnya dengan jaket rapi yang terlalu bersih untuk desa seperti ini. Ia memegang ponsel di satu tangan dan menenteng koper kecil di tangan lain, sudah tiga kali ingin menanyakan hal yang sama sejak turun dari kereta, akhirnya bertanya juga.

"Nona, kita mencari siapa di sini?"

"Seorang nenek yang pernah merawatku dan kakakku waktu kecil." Puspita menjawab tanpa memperlambat langkah. "Namanya Bu Ratmi. Dulu ia tinggal di gubuk jerami di ujung desa itu."

Ia tidak tahu apakah nenek itu masih di desa, dan ia juga tidak yakin gubuk jerami itu masih berdiri. Yang ia tahu, empat tahun lalu, sebelum semuanya berantakan, Retno pernah menelepon seseorang di desa ini, suaranya sangat rendah, dan rekaman itulah yang membuat Puspita akhirnya tahu ke mana ia harus mencari jejak masa kecilnya.

\=\=\=\=

Kota Wirasaba, kampung halaman Retno.

Perempuan itu lahir dari desa yang kekurangan segalanya, kecuali wajah cantik yang sejak remaja sudah menjadi modalnya sendiri. Meski di hadapan orang-orang kaya ia tampak penurun dan nyaris tanpa wibawa, Retno bukan perempuan tanpa otak — kepalanya jauh lebih tajam dari yang duga siapa pun. Dengan paras itu Retno pergi ke kota, bekerja sebagai perawat di rumah sakit kecil, dan entah bagaimana caranya sampailah ia ke kediaman keluarga Wibisono untuk merawat sang nenek yang sedang sakit.

Saat itu ibu Wibisono masih hidup. Nenek tua itu menginginkan seorang cucu laki-laki, lumrah bagi kebanyakan orang, tetapi istri pertama Wibisono, Anggraini, hanya melahirkan Galuh lalu tidak pernah melahirkan anak lagi. Anggraini berasal dari keluarga terpandang, sombong, dan tidak peduli pada permintaan mertuanya. Maka ketika sang nenek mendapati Retno, perawat muda yang lembut, dekat dengan anaknya, mata tua itu hanya berpura-pura tidak melihat.

Tidak seorang pun di keluarga itu yang menyalahkan sang nenek saat Retno akhirnya hamil. Apalagi setelah diketahui janinnya laki-laki. Dengan segala cara, nenek itu memaksa Wibisono menceraikan Anggraini, lalu menikahkan Wibisono dengan Retno sebelum perut Retno membesar.

Retno tidak hanya melahirkan satu anak laki-laki. Ia melahirkan kembar, seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan bayi laki-lakinya lahir beberapa menit lebih dulu dari adik perempuannya. Sepertinya tugas sang nenek selesai dengan sempurna, karena tidak lama setelah cucu kembarnya lahir, nenek itu tutup usia dengan wajah yang puas.

Wibisono memanggil bayi laki-laki itu Damar, dan bayi perempuan itu Puspita.

Ketika kedua anak itu berusia tiga tahun, Wibisono menyadari bahwa anak laki-lakinya tidak pernah bicara. Ia membawa Damar ke rumah sakit berkali-kali, tetapi dokter hanya menemukan bahwa bocah itu bisu sejak lahir. Galuh-lah yang menceritakan kebisuan Damar kepada ibunya. Anggraini, yang kini hanya menonton dari kejauhan, akhirnya menemukan jalan untuk membalas. Ia membocorkan aib itu ke mana-mana, dan dalam waktu singkat Wibisono menjadi bahan tertawaan seluruh elit Kota Serimpi.

Beberapa minggu kemudian, Wibisono menyuruh Retno mengirim dua anak kembarnya ke Wirasaba.

Awalnya hanya Damar yang dikirim, anak yang dianggap memalukan itu. Tetapi Puspita yang berusia tiga tahun menangis dan menolak dipisahkan dari kakaknya, menjerit setiap kali pintu mobil ditutup, sampai Retno akhirnya ikut menyerah. Anak perempuan itu tinggal bersama Damar di gubuk jerami Wirasaba, dan nenek tua bernama Ratmi dititipkan keluarga untuk menjaga mereka berdua.

Waktu terus berjalan. Ketika Puspita berusia delapan tahun dan hendak masuk sekolah dasar, Retno datang menjemputnya sendiri. Puspita menolak ikut kecuali Damar dibawa pulang bersama. Setelah sekian lama, gosip keluarga Kusumah di kalangan elit sudah memudar, dan Wibisono, yang menganggap anak-anak itu tetap darah dagingnya, akhirnya mengizinkan keduanya kembali.

Kala itu Puspita melompat kegirangan, penuh harapan pada kehidupan baru bersama orang tua dan kakaknya. Ia tidak tahu, masa depan yang ia bayangkan indah itu justru adalah pintu masuk segala mimpi buruknya.

\=\=\=\=

Sekarang, setelah sekian belas tahun, Puspita kembali berdiri di desa itu. Ia memeriksa ujung jalanan yang asing, menemukan gubuk jerami tempat ia dan Damar dulu tinggal sudah tidak ada lagi, digantikan sebidang tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar setinggi lutut.

"Di mana gubuk jerami tempat nenek yang merawat anak-anak dari kota dulu tinggal?" tanyanya pada seorang warga yang sedang duduk di beranda rumah panggung.

Warga paruh baya itu menatap Yusuf dari ujung sepatu kulit sampai dasi yang terlalu rapi, lalu menatap Puspita yang wajahnya bersih seperti porselen, dan secara naluriah mundur selangkah. "Nenek yang mana itu, Nona? Di desa ini banyak nenek."

"Ratmi." Puspita mengulang pelan. "Bu Ratmi."

"Bu Ratmi!" Warga itu akhirnya mengerti, lalu wajahnya langsung berubah jadi kasihan. "Rumahnya sudah roboh, Nona. Anaknya menitipkan ibunya ke peternakan babi... ah, tidak enak kuceritakan."

"Di mana rumah anaknya sekarang?"

"Di ujung desa, dekat peternakan babi itu."

"Bisa antar kami ke sana?"

Puspita menoleh ke Yusuf, dan asisten itu segera melangkah maju dengan senyum profesionalnya. Ia menawarkan transfer digital lewat ponsel, mengetik nominal yang menurutnya pantas untuk jasa pemandu, tetapi warga itu justru mundur lagi, kedua tangannya terangkat menolak.

"Wah, tidak usah sebanyak itu, Nona. Cukup antar saja." Warga itu tidak punya rekening, dan angka di layar ponsel Yusuf terasa asing dan menakutkan baginya. Menukar sayur di pasar desa dengan orang-orang yang sudah lama ia kenal jauh lebih masuk akal.

Yusuf bingung. Ia membuka dompetnya, menarik beberapa lembar uang ratusan ribu, tetapi warga itu tetap menolak dengan alasan yang sama. Terlalu banyak baginya, dan ia tidak berani menerima uang dari orang asing yang tidak dikenalnya.

Puspita menyeringai tipis melihat pelayanan gagal sang asisten. Ia menoleh pada keranjang ikan berisi hasil tangkapan pagi tadi yang tergeletak di pinggir jalan, lalu mengubah tawarannya.

"Kalau begitu begini saja." Puspita menunjuk keranjang itu. "Keranjang ini kau pikul dulu sampai peternakan babi, dan antar kami ke sana. Setengah jalan nanti, biar aku yang memikulnya untukmu."

Warga itu tertawa gugup, tetapi akhirnya mengangguk. "Baiklah, Nona. Ikut saja dulu."

\=\=\=\=

Mereka berjalan menyusuri pematang sempit yang hanya cukup untuk dua orang berdampingan, dengan genangan air payau di kiri dan kanan yang memantulkan langit sore. Warga pemandu itu memikul keranjang lebih dulu, tetapi di pertengahan jalan Puspita mengambil alih tanpa diminta dan menentengkannya di bahu tanpa mengeluh, seolah beban itu bukan hal yang aneh baginya sama sekali.

Yusuf berjalan di belakang, memandang punggung Nona Puspita yang memikul keranjang ikan di pematang desa, dan untuk kesekian kalinya hari itu ia merasa dunia sudah kehilangan akal sehatnya. Ia buru-buru menyimpan ponsel di saku dan menyusul, berharap tidak ada seorang pun di Kota Serimpi yang sempat memotret pemandangan ini.

Warga pemandu itu sendiri tidak sadar bahwa dirinya justru sedang menuruti pengaturan gadis asing itu begitu saja. Ada sesuatu dalam cara Puspita bicara, tenang dan singkat, yang membuat orang merasa hal yang dimintanya wajib dituruti. Matanya yang dalam menatap lurus ke depan sepanjang jalan, tidak pernah berkedip saat angin desa menerbangkan pasir ke wajahnya.

"Sebentar lagi sampai, Nona," kata warga itu akhirnya, menunjuk kepulan asap tipis di balik deretan pohon kelapa di kejauhan. "Peternakan babinya di sana."

Puspita mengangguk sekali, Dan langkahnya sedikit dipercepat.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
singgah dimari nanti bacanya ya kaCan
☠ Novita ☘𝓡𝓳『⃟𝐉 zc❖ 🍒⃞⃟🦅
mampir kak, semangat yah
Azka
semangat kk ceritanya bagus , gak bisa komen cepet-cepet tapi tenang dibaca semua kok.
Azka
halo apa kabar , aku mampir lagi nih
Azka: udah..
total 13 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!