Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30: Jangan Menghubungiku Lagi, Mas
____🌺
Adrian pasti sudah berada di restoran hotel untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun perusahaan mereka.
Tiba-tiba, layar ponsel Nayara yang tergeletak di atas meja belajar menyala. Benda itu bergetar, menampilkan nama yang sejak tadi tidak ingin ia lihat.
Mas Adrian.
Tut tut tut …
Nayara hanya memandanginya dari atas tempat tidur. Ia membiarkan panggilan itu berdering sampai berhenti dengan sendirinya.
Namun, dua detik kemudian, ponselnya kembali menyala.
Bergetar, berhenti, lalu bergetar lagi.
Sepuluh panggilan tak terjawab.
Dua puluh panggilan tak terjawab.
Adrian terus menelepon tanpa jeda, seolah penolakan Nayara untuk menjawab merupakan penghinaan besar yang tidak bisa ia terima.
Pada panggilan kedua puluh lima, Nayara akhirnya menarik napas panjang. Ia mengambil ponsel itu, menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkannya ke telinga.
"Halo," sapanya datar.
"Kamu benar-benar gila, Nayara!"
Suara Adrian langsung meledak dari seberang telepon tanpa basa-basi. Latar belakang suaranya terdengar bergema, menandakan pria itu sedang berada di lorong restoran atau di dalam toilet hotel.
"Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan hari ini?!"
"Aku keluar dari rumahmu, Mas. Seperti yang kamu suruh tadi sore," jawab Nayara tenang.
"Aku suruh kamu buat mikir, Nay. Bukan malah nekat membawa koper, lalu pergi!"
Adrian membentak keras. Napasnya terdengar memburu, seolah ia sedang berusaha menahan amarah yang semakin meluap.
"Sekarang semua orang di acara ini menanyakan kamu! Mama marah besar karena aku datang sendirian. Papa dari tadi mencari kamu, karena paman dan bibiku terus-terusan bertanya ke mana istriku! Kamu benar-benar mempermalukan aku malam ini!"
Nayara memijat pangkal hidungnya pelan. Ia sudah bisa menebak bahwa Adrian akan bereaksi seperti ini.
"Itu resiko dari kebohongan kamu sendiri, Mas. Jawab saja sesukamu. Bilang aku sakit, atau bilang saja yang sebenarnya ke paman dan bibimu kalau kita akan bercerai."
"Cerai? Kamu masih berani menyebut kata itu, Nay?!" Suara Adrian terdengar tajam.
Nayara tersenyum getir. Tidak ada satu pun kata yang ingin ia dengar dari seorang suami yang masih menginginkan istrinya pulang. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada ungkapan penyesalan, apalagi permohonan agar ia kembali.
Adrian sama sekali tidak menelepon karena merindukannya atau takut kehilangan dirinya. Pria itu menelepon berkali-kali karena harga dirinya terluka. Ia tidak terima Nayara berani melawan perintahnya dan merusak citra sempurna yang selama ini ia bangun di hadapan keluarga besarnya.
"Kamu di mana sekarang?!" tuntut Adrian. "Cepat kasih tahu, kamu ada di mana?! Aku suruh sopir menjemput kamu sekarang juga!"
"Di tempat di mana kamu dan ibumu tidak bisa lagi mengatur hidupku, Mas."
"Jangan main-main sama aku, Nayara! Aku tidak punya waktu meladeni drama kekanak-kanakan ini!"
Bruk!
Terdengar bunyi benturan keras dari seberang telepon, seperti Adrian baru saja memukul dinding kayu.
"Kamu pikir dengan kabur begini, urusan kita selesai? Kamu tahu ini malam yang sangat penting buat karierku! Kalau sampai berita kita pisah rumah terdengar ke pemegang saham, posisiku di perusahaan bisa jatuh!"
Nayara mengembuskan napas pelan.
"Itu deritamu, Mas. Bukan deritaku lagi."
"Beraninya kamu mempermalukan aku seperti ini, Nay!" cecar Adrian. Suaranya semakin meninggi karena egonya benar-benar terluka. "Aku sudah memberimu segalanya! Aku memberikanmu rumah yang nyaman, asuransi, mobil, dan nama keluargaku! Kamu cuma diminta hadir satu malam ini saja untuk tersenyum mendampingiku, tapi kamu malah memilih pergi seperti pecundang!"
Nayara terdiam sesaat sebelum menjawab dengan tegas.
"Aku bukan kabur, Mas. Aku meninggalkanmu."
"Sama saja! Atas dasar apa kamu berani bertingkah sejauh ini, hah?! Kamu pikir kamu siapa bisa mengatur-atur dan merusak acaraku?! Kamu tahu Selena ada di ruangan yang sama denganku sekarang, dan semua orang melihat aku berdiri sendirian tanpa istriku!"
Nayara mengangkat sudut bibirnya, tetapi senyum itu sama sekali tidak mencerminkan kebahagiaan.
"Kenapa kamu malah marah? Bukannya itu bagus? Kamu bisa langsung memamerkan selingkuhanmu ke keluargamu malam ini juga."
"Kenapa kamu selalu membawa-bawa Selena ke dalam masalah kita?!"
"Karena dia akar masalahnya, Mas! Kamu yang menanam masalah itu di perutnya!"
Suara Nayara ikut meninggi. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak berusaha menyembunyikan kemarahannya.
"Dia cuma hadir sebagai rekan bisnis malam ini! Dia duduk di mejanya sendiri bersama direktur lain, dan kamu harusnya berdiri di sampingku! Itu tugasmu sebagai istri!" kilah Adrian cepat.
"Tugas istri bukan untuk menutupi perselingkuhan suaminya!"
Nayara mencengkeram tepi kasur kuat-kuat. Tangannya bergetar, tetapi suaranya tetap stabil. Semua perasaan yang pernah ia miliki untuk pria di ujung telepon itu seolah telah menguap tanpa sisa.
"Nayara, aku beri kamu waktu setengah jam. Kalau kamu tidak muncul di lobi hotel ini, aku pastikan kamu akan menyesal karena berani melawanku!"
Ancaman Adrian terdengar berat dan dingin.
Namun, Nayara tidak lagi merasa takut seperti sebelumnya.
"Dengar baik-baik, Mas Adrian." Suaranya terdengar jelas, memotong ancaman suaminya. "Aku berani pergi dari rumah itu bukan karena aku pecundang. Tapi karena aku menolak menjadi korban dari keegoisanmu dan keluargamu lagi."
Adrian mendengus keras.
"Alasan konyol!"
"Karena kamu memilih menghamili dia, sementara aku yang harus menanggung semuanya," balas Nayara, memberikan pukulan terakhir melalui kata-katanya. "Mulai sekarang, tanggung sendiri kehancuranmu, Mas. Jangan pernah hubungi aku lagi."
Kalimat itu membuat Adrian terdiam.
Tidak ada lagi suara bentakan atau makian dari seberang telepon. Selama beberapa detik, hanya keheningan yang menyelimuti sambungan mereka.
Adrian seolah kehilangan kata-kata. Nayara baru saja mengatakan hal yang selama ini berusaha ia tutupi dengan arogansi dan segala pembelaannya.
Tanpa menunggu jawaban, Nayara menekan tombol merah dan memutuskan panggilan itu. Setelahnya, ia langsung mematikan ponselnya.
____🌺
Sementara itu, di lorong sepi dekat toilet VIP restoran hotel, Adrian masih berdiri mematung. Ponsel yang sudah terputus sambungannya itu masih menempel di telinga kanannya.
Rahangnya mengeras. Kepalanya terasa pening menahan amarah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu.
Ia baru saja hendak merutuk sambil memaki ponsel di tangannya ketika ponsel keduanya, yang khusus digunakan untuk urusan pekerjaan, bergetar hebat secara beruntun di saku kiri jasnya.
Adrian menurunkan ponsel pertama, lalu merogoh saku jasnya dengan perasaan tidak enak. Ia mengeluarkan ponsel kedua dan menyalakan layarnya.
Sebuah pesan darurat baru saja masuk dari nomor asisten pribadi Selena.
Mata Adrian membelalak ketika membaca isi pesan tersebut.
[Pak Adrian, tolong segera ke area lobi depan sekarang. Mbak Selena tiba-tiba mengalami pendarahan hebat saat turun dari mobil. Dia pingsan di lobi dan bayinya dalam keadaan bahaya.]
Jantung Adrian seakan berhenti berdetak seketika.
emang lu doang yang bisa 🤣🤣