NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:205.7k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Prasangka yang Tak Pernah Padam

Setelah Mbak Rani berpamitan. Keheningan langsung memenuhi ruangan yang beberapa menit lalu dipenuhi percakapan hangat. Arini masih duduk di kursinya. Jemarinya saling bertaut di atas meja, sementara pandangannya menerobos jauh ke luar jendela, seolah sedang menatap masa lalu.

Pertemuan dengan Mbak Rani tanpa sadar membuka kembali lembaran-lembaran kenangan yang selama ini ia simpan rapat di sudut hati.

Ia masih mengingat dengan jelas hari ketika Galang datang bersama keluarganya ke rumah Bu Khadijah. Saat itu, Arini begitu gugup. Bukan karena takut tidak diterima sebagai calon istri, melainkan karena khawatir masa lalunya akan menjadi alasan mereka membatalkan niat.

Di hadapan keluarga Galang, Bu Khadijah menceritakan semuanya dengan jujur. Bahwa Arini bukan anak kandungnya. Bahwa sejak kecil Arini tinggal di panti asuhan setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Bahwa tak ada seorang pun keluarga yang bersedia merawatnya hingga akhirnya ia dibesarkan dengan kasih sayang di lingkungan Al Amanah.

Arini masih ingat bagaimana ia menundukkan kepala saat itu. Jantungnya berdegup begitu keras. Ia tak berani menatap wajah ibu Galang, takut menemukan penolakan di sana.

Namun, kekhawatiran itu ternyata tidak pernah terjadi.

Setelah mengetahui siapa Arini sebenarnya, keluarga Galang tetap melanjutkan niat baik mereka. Bahkan seminggu kemudian, mereka kembali datang dengan rombongan yang lebih besar untuk melamar Arini secara resmi.

Hari itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya, Arini merasa ada seseorang yang memilihnya bukan karena latar belakang atau statusnya, melainkan karena dirinya sendiri.

Sebulan setelah lamaran, mereka melangsungkan akad nikah dan resepsi sederhana di Aula Al Amanah. Tempat yang menjadi saksi perjalanan hidup Arini sejak remaja itu dipenuhi senyum dan doa dari orang-orang yang selama ini menjadi keluarganya.

Galang, yang saat itu bekerja sebagai seorang PNS golongan III B, mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang dan mantap. Ketika akad dinyatakan sah, Arini tak mampu lagi membendung air matanya. Air mata syukur yang mengalir karena ia merasa akhirnya memiliki seseorang yang akan berjalan bersamanya mengarungi kehidupan.

Setelah resmi menjadi suami istri, Arini mengajak Galang tinggal di rumah yang selama bertahun-tahun ia bangun dari hasil kerja kerasnya sendiri. Rumah itu memang tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman untuk memulai kehidupan baru.

"Kalau kita tinggal di sini saja bagaimana, Mas?" tanyanya saat itu. "Rumah ini sudah lunas. Jadi kita bisa menabung untuk masa depan."

Galang tersenyum sambil mengangguk. "Aku ikut saja. Yang penting kita bersama."

Jawaban sederhana itu membuat hati Arini menghangat. Saat itu ia benar-benar percaya telah memilih laki-laki yang tepat. Laki-laki yang akan menjadi teman hidupnya hingga rambut mereka memutih.

Siapa sangka, janji-janji manis yang dulu terdengar begitu meyakinkan perlahan akan berubah menjadi luka yang paling dalam.

Arini mengembuskan napas panjang. Sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang terasa begitu pahit. Ternyata, kenangan yang dulu begitu indah kini hanya menyisakan sesak di dada.

Hari-hari pertama pernikahan mereka dipenuhi kebahagiaan sederhana. Arini menikmati perannya sebagai seorang istri. Setiap pagi ia menyiapkan sarapan sebelum Galang berangkat bekerja, lalu mengantarnya sampai ke teras rumah dengan senyum yang tak pernah absen. Sore harinya, mereka sering menghabiskan waktu bersama, sekadar menikmati teh hangat sambil berbincang tentang pekerjaan dan mimpi-mimpi yang ingin mereka wujudkan.

Bagi Arini, kehidupan itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak pernah menuntut kemewahan. Selama mereka saling menghargai dan berjalan beriringan, ia merasa telah memiliki segalanya.

Namun, tepat sebulan setelah menikah, Arini baru mengetahui sebuah kenyataan yang sebelumnya tidak pernah dibicarakan Galang.

Setiap kali menerima gaji, Galang selalu menyisihkan sebagian besar penghasilannya untuk diberikan kepada ibunya, Bu Sumarni, sekaligus membantu kebutuhan adiknya. Sejak ayahnya meninggal, Galang memang menjadi tulang punggung keluarga. Tanggung jawab itu sudah dipikulnya jauh sebelum mereka menikah.

Awalnya Arini terkejut. Bukan karena Galang membantu keluarganya, melainkan karena hal sepenting itu baru ia ketahui setelah mereka resmi menjadi suami istri.

Meski begitu, Arini tidak pernah berniat melarang suaminya berbakti kepada ibu dan adiknya. Baginya, membantu orang tua adalah kewajiban yang harus dihormati.

"Aku tidak keberatan, Mas," ucap Arini saat itu dengan lembut. "Hanya saja, sekarang kebutuhan kita juga harus mulai dipikirkan. Boleh tidak kalau jumlahnya sedikit disesuaikan? Tidak banyak, hanya supaya kita juga bisa menabung untuk masa depan."

Galang menyetujui usul itu. Ia mengurangi sedikit uang yang biasa diberikan kepada Bu Sumarni. Siapa sangka, keputusan kecil itulah yang menjadi awal dari segala keretakan.

Begitu mengetahui jumlah uang yang diterimanya berkurang, wajah Bu Sumarni langsung berubah. Meski Galang sudah menjelaskan bahwa pengurangan itu dilakukan karena kini ia telah berumah tangga dan memiliki tanggung jawab baru, Bu Sumarni tetap beranggapan bahwa semua itu adalah ulah Arini.

Sejak saat itu, sikapnya kepada Arini tak lagi sama. Setiap kali Arini datang berkunjung, tatapan Bu Sumarni terasa dingin. Ucapannya mulai dipenuhi sindiran-sindiran halus yang semakin lama semakin menyakitkan. Apa pun yang dilakukan Arini selalu dianggap salah.

Merasa tidak ingin menjadi penyebab renggangnya hubungan ibu dan anak, Arini akhirnya mengalah.

Ia meminta Galang kembali memberikan uang dalam jumlah penuh seperti sebelum mereka menikah.

"Kalau memang itu bisa membuat Ibu tenang, berikan saja seperti dulu," katanya sambil tersenyum. Toh sebenarnya dia juga cukup mampu untuk menopang kehidupan rumah tangga mereka.

Galang pun menuruti permintaan Arini. Mulai bulan berikutnya, uang yang diberikan kepada Bu Sumarni kembali utuh seperti semula.

Sayangnya, pengorbanan Arini tidak mengubah apa pun. Di mata Bu Sumarni, Arini sudah telanjur menjadi perempuan yang dianggap merebut anak laki-lakinya. Kecurigaan dan ketidaksukaannya tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan, seiring berjalannya waktu, perlakuannya terhadap Arini justru semakin dingin dan menyakitkan.

Saat itu Arini belum menyadari, bahwa luka-luka kecil yang terus dibiarkan akan berubah menjadi jurang yang pada akhirnya memisahkan dirinya dan Galang.

Setahun setelah pernikahan mereka, Bu Sumarni akhirnya datang berkunjung ke Bandung. Tujuannya bukan hanya untuk menjenguk Galang dan Arini, tetapi juga mengantarkan Vera yang baru saja diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Untuk sementara waktu, Vera akan tinggal bersama kakaknya.

Begitu mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah, Bu Sumarni langsung terpaku. Rumah dua lantai itu berdiri kokoh di lingkungan yang asri dan tenang. Halamannya tertata rapi dengan aneka tanaman hias, sementara bagian dalam rumah terasa hangat, bersih, dan dipenuhi perabot berkualitas. Semuanya tampak begitu nyaman.

Tatapan Bu Sumarni berkeliling ke setiap sudut rumah. Bukannya merasa bangga, wajahnya justru berubah. Di dalam benaknya muncul berbagai prasangka.

"Pantas saja Galang jarang mengirim uang sebanyak dulu. Ternyata semua gajinya habis untuk membiayai kehidupan mewah istrinya."

Ia sama sekali tidak berpikir bahwa semua yang ada di rumah itu bisa jadi berasal dari sumber lain. Dalam pikirannya, Galang adalah seorang abdi negara dengan penghasilan yang cukup besar. Sudah pasti, menurutnya, rumah yang nyaman itu dibangun dari hasil kerja keras putranya.

Sementara Arini? Di mata Bu Sumarni, menantunya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan. Ia menganggap Arini hanya pandai menghabiskan uang suami tanpa pernah membantu mencari nafkah.

Sejak hari itu, rasa tidak sukanya kepada Arini semakin besar. Ia merasa Galang telah berubah sejak menikah. Putra yang dulu selalu mengutamakan ibu dan adik-adiknya kini lebih memilih memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri.

Padahal, ada satu kenyataan yang tidak pernah diketahui Bu Sumarni. Rumah itu bukan dibeli dari gaji Galang. Rumah tersebut adalah milik Arini, hasil jerih payahnya membangun usaha jauh sebelum menikah. Bahkan sebagian besar isi rumah juga dibeli menggunakan uang Arini sendiri.

Sayangnya, Galang memilih diam. Ia tidak pernah meluruskan kesalahpahaman ibunya. Entah karena merasa tidak perlu menjelaskan, atau karena tidak ingin melukai harga diri sebagai kepala keluarga.

Diamnya Galang itulah yang perlahan menjadi awal dari begitu banyak kesalahpahaman. Bu Sumarni semakin yakin bahwa Arini adalah penyebab putranya menjauh dari keluarga, sementara Arini harus menanggung penilaian yang sama sekali tidak pantas ia terima.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Sinta Dewi
waaaww , apakah kecurangan nya udah bertahun tahun , kalo iya berarti hasil dari korupsi itu udah bisa bikin 1 resto lg tuh , penyelewengan dana & jabatan ini emang dimana mana gak pandang tempat 🤭🤭
Sinta Dewi
itulah kehidupan , alam mengajarkan bagaimana hukum tabur tuai berlaku semua ada konsekuensinya , ada harga yg harus dibayar .... terima kasih othor yg baik 🙏
Cicih Sophiana
biar pun Galang dan kluarga nya jahat jg... tp semoga pak Hardi dan si Mayang dapat karma nya...
Maria Magdalena
semoga klrg Galang pada tobat dan memulai dari bawah menerima keadaan.
Cicih Sophiana
knp ketauan nya dgn pak Hardi bukan dgn yg lain...
Cicih Sophiana
bongkar jg bapak nya yg sering anu anu dgn si pelakor🫢😀😀
Cicih Sophiana
🤣🤣🤣🤣🤣 Galang dikira kamu rumah nya mau di wariskan ke kamu... idih berharap banget ya🤣🤣
Cicih Sophiana
Alhamdulillah akhir nya bebas dari kluarga benalu Rin...
Cicih Sophiana
ayo sekarang giliran si pelakor yg tenar... masa dia udah lama belum ketauan sih... tp lebih seru lg klo lagi gancet dgn bapak mertua nya...
Cicih Sophiana
itu menantu idaman ibu lebih parah lg... menantu biar tiri itu menatu luh... kok masih mau bapak peke padahal di luaran sana jg dia gunta ganti orang🫢😅😅😅
Cicih Sophiana
ayo thor sekarang si Mayang yg ketauan jual diti... biar kapok semua termasuk bapak tiri nya yg sering make si Mayang
Cicih Sophiana
kasian jg sih si Vera... semenjak di tinggal Arini gak punya uang... uang nya di pegang si pelakor satunya.. 😀
Cicih Sophiana
wah wah Vera udah ketagihan nih... knp si Mayang gak ketauan ketauan yah... mau nya sih si Mayang dulu yg ketauan jadi pe**k
Cicih Sophiana
ya ampun si Mayang pergi knp sekali sekali dia gak ikutin .. biar tau dia kemana ? masa tiap hari pergi gak ada yg curiga
Cicih Sophiana
semoga cepat beres semua ya Rin... bebas dari benalu
Cicih Sophiana
Galang gak datang krn surat panggilan nya gak dia terima yah...
Cicih Sophiana
ya semoga aja perceraian nya lancar ya Arin
Sinta Dewi
kenapa gak pulang ke jogja aja , kok pikiran nya sempit
Sinta Dewi: oalaaahh , jd aslinya gak punya apa apa toh , segitu sombongnya gimana kalo ditakdirkan jd sultan bisa kacau dunia per novelan 😄🤣
total 2 replies
Cicih Sophiana
Vera demi duit jual diri Galang... kamu jg kan begitu lg punya duit kamu selingkuh
Arin
La.... urusan kelangsungan hidup keluarga ibu..... mikir sendiri lah. Masa mantan menantu yang sudah disakiti suruh nanggung dan ikut mikir juga. Aneh memang Ibu Sumarni ini....
Arin: iya gak nyambung. Mungkin nyambungnya kedengkul🤭🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!