NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: DINGIN DI KAMAR NOMOR EMPAT

BAB 23: DINGIN DI KAMAR NOMOR EMPAT

Suara derit gerbang besi yang berkarat diterpa angin malam membelah keheningan lereng bukit Bogor. Gerimis tipis mencambuk dedaunan pinus yang rapat, membingkai siluet hitam kompleks Rumah Sakit Jiwa St. Carolus yang terbengkalai sejak kebakaran hebat dua puluh tahun silam.

Di balik kemudi SUV taktis VPCI, Reno Devano menatap tajam ke arah pilar-pilar beton bangunan kolonial yang tertutup jelaga hitam dan lumut pekat.

Di sampingnya, dr. Sara Maheswari mengencangkan tali tas forensik taktis, sementara Bara Aksara di kursi belakang memeriksa magasin senapan serbunya dengan ketukan ritmis yang mantap.

"Dion, bagaimana dengan sinyal pemancar lokal?" tanya Reno seraya membenahkan earpiece nirkabelnya.

"Sinyal GPS mati total di zona merah ini, Ren," sahut suara Dion 'Zero' Prasetya berderet ketat dari saluran transmisi bus laboratorium VPCI di luar hutan.

"Kalian bergerak tanpa pemetaan satelit. Tapi cetak biru tua RSJ menunjukkan bahwa Kamar Nomor Empat berada di lantai bawah tanah Bangsal Khusus tepat di bawah bekas ruang isolasi utama."

"Bara, potong gemboknya," perintah Reno dingin.

CRANK!

Pemotong rantai baja di tangan Bara memutus gembok berkarat dalam satu gerakan. Gerbang besi terdorong terbuka, menyemburkan aroma tanah basah bercampur kelembapan racun kimia tua dan wangi bunga melati busuk yang menyesakkan dada.

Reno, dr. Sara, dan Bara melangkah masuk menembus pelataran RSJ St. Carolus. Sinar senter taktis berdaya tinggi membias kaku di atas sisa-sisa pecahan kaca dan peralatan medis berkarat yang berserakan di sepanjang selasar utama. Suasana di dalam bangunan itu luar biasa hening sebuah keheningan kaku yang seolah memendam jeritan masa lalu.

"Tingkat kelembapan di dalam koridor ini tidak alami," analisis dr. Sara seraya menatap layar pemindai atmosferik di pergelangan tangannya.

"Ada sisa-sisa uap ether dan agen penenang saraf masa lalu yang masih mengendap keras di celah-celah nat dinding beton."

"Tetap rapat," instruksi Reno, matanya menyapu setiap pintu sel pasien yang terlepas dari engselnya.

Mereka menyusuri tangga semen melingkar menuju lantai bawah tanah. Semakin dalam mereka melangkah, suhu udara merosot drastis. Tetesan air dari pipa tua yang bocor terdengar beradu secara berirama tik... tik... tik... menciptakan suasana mencekam di sepanjang lorong beton hijau pupus.

Sinar senter Reno terhenti tepat pada sebuah pintu besi tebal di ujung lorong. Di bagian atas pintu tersebut, terpasang plat kuningan berkarat berangka: 04.

Kamar Nomor Empat.

Di hadapan pintu besi yang menganga sedikit itu, sebuah meja operasi tua dari kayu mahoni berdiri kaku. Di atasnya, lima buah lilin hitam besar menyala dengan nyala api membiru yang aneh, mengelilingi sebuah buku register pasien RSJ tahun 2006 yang terbuka lebar.

dr. Sara mendekat perlahan, menyinarkan lampu taktisnya ke atas lembaran kertas usang yang menguning.

"Ini adalah daftar subjek eksperimen pencucian otak milik Ordo Bayangan Hitam..." bisik dr. Sara, suaranya tercekat. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan lateks menunjuk ke baris pasien nomor empat.

Di sana, terukir nama tinta hitam yang tebal: Nia Devano ibu kandung Reno Devano.

Reno membeku di tempat. Manik matanya melebar, menatap nama wanita yang melahirkannya terdaftar sebagai subjek eksperimen gila puluhan tahun lalu.

"Ibu..." gumam Reno dengan suara yang pecah dan parau. "Ibuku pun... dijadikan korban di tempat ini sebelum kecelakaan itu?!"

Sebelum dr. Sara sempat menyentuh bahu Reno, suara tawa halus seorang wanita bergema mendadak dari balik kegelapan Kamar Nomor Empat. Suara tawa yang merdu, dingin, dan sarat akan kegilaan yang mematikan.

KRLAK!

Pintu besi Kamar Nomor Empat terdorong terbuka lebar! Uap dingin beraroma formalin pekat menyembur keluar!

Dari balik kegelapan ruangan, melangkah keluar sesosok wanita bertubuh jangkung yang mengenakan gaun panjang berwarna merah marun.

Wajah wanita itu ditutupi oleh sebuah topeng porselen putih polos tanpa mata, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah pisau otopsi bermata kurva yang berkilau tajam di bawah pendar lilin.

"Selamat datang di tanah kelahiran kekuatanmu, Reno Devano..." panggil wanita bertopeng porselen itu Ibu Suri dengan suara yang memantul dingin di dinding beton.

"Malam ini, kamu akan menyaksikan bagaimana ibumu menyerahkan jiwanya di atas meja ini!"

Bara refleks mengacungkan senapannya! "Angkat tanganmu! Jangan bergerak!"

Ibu Suri terkekeh pelan, lalu menekan sebuah tuas besi di balik dinding pintu!

BAM!

Jeruji besi tebal meluncur turun dari langit-langit, memisahkan Reno dan dr. Sara dari Bara dalam sekejap mata!

Pada saat yang sama, katup dinding menyemprotkan gelombang gas penenang berwarna keabu-abuan, mengisolasi Reno dan dr. Sara di dalam Kamar Nomor Empat!

"Reno! Dokter Sara!" teriak Bara histeris seraya memukuli jeruji besi dengan senjatanya.

dr. Sara menyambar injektor penawar racun, berdiri membelakangi Reno seraya mengacungkan pisau bedahnya. "Jangan mendekat!"

Ibu Suri menerjang maju dengan anggun, mengayunkan pisau otopsinya lurus mengincar dada dr. Sara!

"Sara, awas!" teriak Reno.

Dengan refleks luar biasa, Reno melompat menghadang di depan dr. Sara! Bilah pisau kurva Ibu

Suri merobek lengan mantel kanan Reno, namun Reno tidak mundur satu senti pun. Dalam posisi jarak dekat yang amat terdesak di bawah himpitan gas penenang, Reno melepas sarung tangan kulitnya dan mencengkeram erat leher bertopeng milik Ibu Suri secara langsung!

Kulit bertelanjang jemari Reno menyentuh jaringan parut bekas terbakar di bawah rahang wanita itu!

DEG!

Hantaman psychometry meledak bagaikan gelombang kejut dahsyat di dalam kepala Reno! Kilasan memori melempar kesadaran Reno ke malam kebakaran tahun 2006.

Reno melihat dalam bayangan memori tersebut bahwa Ibu Suri bukanlah penguasa mistis, melainkan dr. Helena Kusuma mantan kepala dokter RSJ St. Carolus yang memalsukan kematiannya demi melarikan diri membawa hasil riset pencucian otak! Reno juga melihat tombol pemutus katup gas darurat yang tersembunyi di balik bingkai foto tua di dinding kamar!

BRAK!

Kesadaran Reno tersentak kembali ke realita! Dalam sisa kesadarannya yang terancam gas penenang, Reno menarik lengan dr. Helena dan menghempaskannya keras-keras ke dinding beton hingga topeng porselennya pecah berhamburan!

"Sara! Tekan saklar di balik bingkai foto sudut kanan!" jerit Reno seraya mengunci pergelangan tangan dr. Helena yang meronta histeris.

dr. Sara bergerak kilat. Ia menerjang ke sudut kamar, meraba bagian belakang bingkai foto tua, dan menekan tuas daruratnya!

BIP! WUUUSHHH!

Aliran gas penenang berhenti seketika, disusul oleh terangkatnya jeruji besi secara otomatis! Bara menerobos masuk dengan senjata teracung, langsung mengunci kedua tangan dr. Helena Kusuma ke belakang dengan borgol baja tebal.

"Sistem aman! Pelaku utama dilumpuhkan!" teriak Bara histeris penuh rasa lega.

dr. Helena yang kini wajah aslinya terekspos penuh luka bakar tua menatap Reno dengan tawa kering yang pecah.

"Kamu boleh melumpuhkanku, Reno... tapi Ordo Bayangan Hitam tidak pernah mati! Sejarah kelam medis ini akan terus memburu hidupmu!"

Reno menatap mantan dokter gila itu dengan pandangan dingin yang penuh martabat.

"Dan selama aku dan VPCI masih berdiri, tidak ada satu pun bayangan kejahatan medis yang bisa bersembunyi dari kebenaran."

Tiga hari setelah penggerebekan di RSJ St. Carolus.

Sisa-sisa sekte Ordo Bayangan Hitam dan dokumen eksperimen rahasia puluhan tahun lalu telah sepenuhnya diamankan oleh pihak berwajib dan tim laboratorium VPCI.

Dosa-dosa masa lalu yang membayangi kematian orang tua Reno dan keluarga Maheswari akhirnya ditutup dengan tuntas dan bersih.

Pagi yang cerah menyelimuti markas VPCI di Jakarta. Di ruang kerja utama, Reno Devano berdiri memandangi jendela kaca, menghirup aroma kopi hangat yang dibawakan oleh dr. Sara.

"Kasus St. Carolus resmi dilimpahkan ke Kejaksaan Agung, Reno," ujar dr. Sara lembut, meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja. "Semua berkas lama keluargamu akhirnya bersih."

Reno menoleh, mengukir senyum tipis yang hangat ke arah sang dokter forensik.

"Terima kasih, Sara. Tanpa analisis medis dan ketenanganmu, aku mungkin sudah hanyut dalam dendam masa lalu itu."

dr. Sara membalas senyuman Reno dengan pendar mata penuh rasa percaya yang abadi. "Kita adalah tim, Reno. Selalu."

Tiba-tiba, pintu ruang kerja dibuka oleh Widya Kusuma yang membawa sebuah folder map biru tua tebal berstempel resmi kepolisian: Cold Case - Unsolved.

"Reno, Dokter Sara, ada limpahan kasus dingin baru yang diserahkan langsung oleh Kepolisian Kota," kata Widya seraya meletakkan map tersebut di meja.

"Kasus pembunuhan pengusaha properti di Vila Puncak yang sudah delapan bulan tidak menemukan titik terang. Polisi menyerah karena TKP-nya benar-benar bersih tanpa sidik jari atau jejak darah."

Reno dan dr. Sara saling pandang. Rasa lelah dari misteri St. Carolus menguap seketika, digantikan oleh fokus dan ketajaman naluri investigasi yang tak pernah padam.

Reno membuka map biru tersebut, lalu menyambar mantel hitamnya.

"Bawa koper peralatan forensik lapangan, Widya. Saatnya VPCI membuktikan apa yang terlewat oleh mata penyidik biasa."

1
Sativa Kyu
👍👍👍
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!