NovelToon NovelToon
Rotinya Manis, Rin!

Rotinya Manis, Rin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Renjana

Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.

Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.

Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Day 1...

Rin menguncir rambutnya mengeratkan ikatan sepatunya dan berpamitan pada neneknya. Ya, Rin tinggal dengan neneknya saat ini.

Lingkungan baru, suasana baru meski hati Rin belum tertata dengan baik karena harus memilih tinggal dengan siapa akibat perceraian kedua orangtuanya. Rin lebih memilih tinggal dengan neneknya di perbatasan kota.

Rin mendaki di perbukitan tak jauh dari rumah neneknya. Kemarin dia berjalan-jalan di sekitar sana dan menemukan satu tempat menarik diatas perbukitan. Ada tempat duduk menghadap ke kota. Pemandangannya bagus dan tempatnya teduh.

Rin sampai dengan napas ngos-ngosan. Tapi terbayar dengan pemandangannya yang cantik. Cuma hari ini seseorang sudah duduk di ujung kursi. Seorang laki-laki dengan hoodie hitam dan topi, telinganya memakai ear phone.

Dengan sedikit ragu Rin duduk di ujung kursi lainnya. Rin mencoba bertanya tapi laki-laki itu nggak dengar. Jadi Rin duduk pelan dan mengeluarkan catatan dari tasnya.

Tanpa mempedulikan laki-laki di sampingnya, Rin mulai menulis sedikit catatan untuk tulisannya. Rin suka menulis cerita tapi tidak ada keberanian untuk mengirimkannya ke penerbit.

Rin meraih tumbler dan menyeruput minumannya dan tetap menulis. Seolah dunianya dan dunia laki-laki di sebelahnya adalah dunia yang berbeda.

Rin menghentakkan penanya karena macet berkali-kali. Hal yang paling menyebalkan karena disaat isi kepalanya penuh justru penanya bermasalah.

"Nih..!" sebuah pena hitam terulur. Rin melihat laki-laki di sebelahnya mengulurkan sebuah pena tanpa melihat Rin. Hanya sesekali melirik.

"Oh... Terimakasih! Aku pinjam dulu!"

"Hmmm...."

Hanya itu. Rin ngedumel dalam hati. Irit banget suaranya. Padahal Rin berusaha ramah dengan memberikan senyum terbaiknya. Jangankan menatap Rin, melirik aja sesekali.

Rin tak lagi peduli, mumpung pikirannya sedang lancar dia membuat tulisannya sampai selesai.

"Selesai!" Rin bernapas lega. Dia menyeruput minumannya dan melihat laki-laki di sampingnya masih asik dengar musik entah apa di earphone dan memainkan ponselnya.

Dering ponselnya mengagetkan.

"Halo Ra? pagi banget udah nelpon!" sahabat Rin satu-satunya menelepon.

"....."

"Nggak apa-apa, i'm ok!"

"....."

"Iya, nanti kukabari. Kayaknya gue betah Ra. Di sini tempatnya enak. Pemandangannya bagus," tak sengaja saat berkata seperti itu, dia bertemu pandang dengan laki-laki di sampingnya. Rin membuang pandangannya dan kembali bercerita dengan Ara.

Rin tidak takut laki-laki di sampingnya bakal mendengar pembicaraan mereka karena telinganya masih ditutup earphone.

"Hahahaha... Nggak ada. Nanti kalo ada yang cakep gue pacarin! Lu nggak usah ngiri!" kekeh Rin membuat laki-laki di sebelahnya menoleh tapi Rin cuek.

"Ya udah, having fun. Weekend nanti kalo sempet kita ketemuan aja. Ntar gue cerita, oke bye!"

Rin menekan tombol merah dan memasukkan ponsel ke ranselnya. Tiba-tiba uliran tangan di samping membuatnya kaget.

"Haaaa?" Rin bingung. Laki-laki itu bahkan tidak menatapnya. Dia hanya mengulurkan tangan. Mau apa? Minta duit? Minta minum? Atau minta nomor hp nya?

"Sini!" ucap suara berat itu lagi.

"Haaa? Apanya?" Rin masih bingung.

"Ck! Pena!" ucapnya jengkel.

"Oh... Bilang dong! Kirain minta apaan!" omel Rin malu. Mana pena itu sudah dia masukin ke tas lagi!

"Nih!" Rin menyodorkan pena hitam itu.

"Hm..." laki-laki itu meraih pena tanpa berkata apa-apa.

"Makasih ya," ucap Rin. Dia hanya menganggukkan kepalanya.

Rin kehabisan kata-kata. Jadi dia membaca ulang semua catatannya dan bagian-bagian penting mulai diberi tanda dengan stabilo warna pink.

Warna-warna itu mencolok mata sampai beberapa kali laki-laki itu melirik ke catatan Rin yang penuh warna.

Suara piano pelan menandai ponsel Rin berbunyi lagi. Dan melihat nama 'nenek' di layar.

"Halo nek?"

"Kamu dimana? Ayo pulang dulu, ikut nenek!"

"Kemana?"

"Udah cepat pulang dulu!"

Klik

Tanpa salam neneknya sudah mengakhiri pembicaraan. Rin mengeluh kembali. Tapi meski begitu ia memasukkan ponselnya dan bersiap untuk pulang.

Rin merapikan rambutnya dan mengencangkan tali sepatunya kembali lalu pergi begitu saja. Laki-laki yang tadinya hanya menunduk, mengangkat kepalanya dan memperhatikan gadis itu turun dari perbukitan.

Laki-laki itu memasukkan pena tersebut ke sakunya dan dia berbaring di kursi panjang itu. Meletakkan kedua tangan di kepalanya dan menatap langit pagi itu. Cerah. Secerah senyuman gadis itu. Salah satu pipinya ada lesung pipi. Rambutnya yang sedikit panjang diikat rapi. Samar-samar dia mengingat aroma wanginya seperti sampo pada umumnya, bukan produk tertentu yang sering dia hirup aromanya.

Laki-laki itu memejamkan matanya berusaha mengusir pikirannya. Gadis itu baru pertama kali dia temui. Dan entah kenapa tempat favoritnya ini bisa ditemukan olehnya.

Lagian dia kesini untuk menenangkan diri. Kenapa malah memikirkan gadis itu? dia berharap hanya kali ini mereka ketemu. Suara gadis itu berisik meski telinganya disumpal earphone tetap aja kesunyiannya terganggu.

Laki-laki itu tersenyum tipis mengingat gadis itu merengut karena suatu hal. Aaah... Kepikiran gadi itu lagi. Dia menarik topinya dan menutupi wajahnya menghilangkan bayangan gadis itu.

Istirahatnya terganggu karena dering ponselnya. Laki-laki itu membuka mata dan dengan nyawa yang masih belum terkumpul dia melirik ponselnya.

Jonas calling

"Hmmmm?"

"Dimana bang? Ni anak-anak udah ngumpul. Ayo latihan!"

"Iya, bentar lagi kesana," Laki-laki itu mematikan ponselnya dan duduk. Sesuatu menggelinding ke bawah kursi. Benda berwarna ungu. Laki-laki itu menunduk dan melihat ada sebuah gelang. Sepertinya putus.

Gelang berwarna ungu itu berkelip memantulkan cahaya dari matahari. Sepertinya punya gadis itu. Dia segera mengantongi gelang itu dan turun dari bukit. Mungkin besok dia kembalikan, pasti gadis itu kehilangan gelangnya.

Laki-laki itu mengumpat pelan saat dirinya tersandung akar yang mencuat. Lalu menepuk sakunya dan memastikan gelang itu tidak jatuh dari sakunya. Dia juga menyesal tidak mengajak gadis itu bicara. Tapi dia mau bicara apa dengan gadis yang baru dia lihat?

Al. Namanya adalah Al. Al berjalan turun menuju taman dan di sanalah dia memarkirkan motornya. Al menstarter motornya dan pergi meninggalkan taman yang sepi.

Hari mulai panas dan Al sudah bersiap untuk kembali berjuang bersama teman-temannya. Kali ini dia akan mempersiapkan semuanya. Dia kembali ke kotanya dan memulai semuanya kembali.

Ponsel di sakunya bergetar berkali-kali.

"Ck...! Nggak sabaran!" Al melajukan motornya ke rumahnya. Rumah kosong itu dia tempati kembali bersama teman-teman seperjuangannya. Al tersenyum tipis mengingat rumah itu punya banyak kenangan. Rumah itu tempat mereka memulai perjuangan selama ini.

"Aaah nyampe juga, dari mana sih bang?" Jonas, yang dia anggap adik sudah menunggunya di teras sambil memainkan gitar.

"Nyari angin!"

"Nyari angin atau nyari angin? Ketemu yang seger nggak?" goda Bima.

"Berisik!" Al membanting tubuhnya di sofa.

Jonas dan Bima saling melontar ejekan. Al nggak punya tenaga untuk membalas. Jadi dia hanya diam membiarkan suara-suara berisik. Al meraba sakunya. Gelang itu masih ada.

Disinilah kisahnya dimulai...

1
renjana biru
wooo hadirr dg boom like kakk, smangat💪
renjana biru
ga cm km kok rin, aku pun gregetan ama si al😊
Renjana: hai kak @renjana biru Renjana Biru, aku notice banget soalnya nama kita mirip.🥰
makasih banyak udah mampir + boom like. sumpah komen kakak yang gregetan sama Al itu bikin aku ngakak.
aku uda gregetan duluan pas nulis itu😄
makasih ya udah nemenin AlRin dari episode awal.
jangan pernah bosen baca ceritaku

salam manis semanis Roti Rin🥰
total 1 replies
falea sezi
nyimak moga bagus klo bagus q kirim hadiah🤭
Renjana: semoga suka ya kak,
😊
total 1 replies
Erin Dwi Andini
karya yang keren
Renjana: sekeren kk,
makasih ya udah mampir😊
total 1 replies
justice
wahh bagusss, semangat ya kak
Renjana: terimakasih, semangat nulis juga yah😊
total 1 replies
renjana biru
btw lucuuu bgt mereka ihhh🤭🤭
Renjana: bikin gemes kan...🤭
total 1 replies
renjana biru
done mmpir ya kakaa💪
Renjana: makasih🥰
total 1 replies
oding's
halo kaa aku mampir jugaa nihh xixi
Renjana: makasih banyak🥰
total 1 replies
R
😍
Renjana: 🥰🥰
makasih yaaaaa
total 1 replies
Seraphina
saling support kak
Akao Rion
aku mampir kak, meskipun setiap baca Rin selalu ingat nama bapakku 🫣
Renjana: makasih, aku tunggu tulisan kamu juga😊
total 3 replies
Renjana
cinta manis diawali dari salah tingkah, berakhir manis. Tapi namanya hidup tak selalu manis.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok
aefpe fp
💪🤣
Mustika Nusantara
semangat ka bikin karyanya
Renjana: makasih😊
total 1 replies
Lisye Aisyah Hematang
Hadir juga kak 😍🙏
Renjana: terimakasih😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!