NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28: Mengajukan Pindah Apartemen

Shinta memeluk kedua lengan sendiri. Wajahnya masih pucat, mata berkilat menahan cemas.

“Jadi sekarang,” suara bergetar. “Rencana kita gimana, Bang?” bertanya kepada Jefry.

Jefry berdiri, lalu berjalan ke sudut restoran, dekat kolam ikan mas koki. Menendang angin, memikirkan rencana yang akan ia lakukan selanjutnya.

Tak lama, ia kembali menghampiri kami.

“Kita pindah,” katanya, berusaha tegas. “Gua bakal ngomong ke Damar sama Sully. Hari ini juga. Apartemen itu nggak layak ditempati. Titik.”

Hendra mengangguk cepat. “Setuju. Ini udah terlalu jauh.”

Aku menunduk. Nafasku berubah menjadi sangat berat. Ada rasa berdenyut di pergelangan tanganku, gelang serabut seperti menghangat, lalu dingin lagi.

“Masalahnya, Bang,” suaraku pelan, tapi cukup untuk membuat mereka berhenti bergerak. “Menurut gua nggak bisa sesederhana itu.”

Jefry menoleh. “Maksud lo?”

Aku mengangkat kepala, menatap mereka satu per satu. Entah kenapa, lidahku terasa kelu, seakan ada yang menahan.

“Selain tiga tuntutan mutlak,” kataku perlahan, “Ratna juga nulis satu kalimat lagi.”

Shinta menahan nafas. Hendra langsung terlihat tegang.

“Apa?” tanya Shinta nyaris berbisik.

Aku menelan ludah. “Kalau tuntutan itu nggak dipenuhi, kita akan mati.”

Seketika itu juga semua seakan membeku.

Jefry memaki pelan. “Gila!”

Shinta menutup mulut dengan tangan. Matanya membesar, air mata langsung menggenang. “Mati? Maksudnya mati beneran?”

Aku menggeleng pelan. “Gua juga nggak ngerti. Itu yang ada di dalam tulisan.”

Jefry tertawa pendek. Terlalu keras untuk situasi sekarang.

“Ah, bullshit,” katanya sambil mengibaskan tangan. “Ancaman klasik. Pasti cuma buat nakut-nakutin kita doang.”

“Bang,” Hendra mencoba menyela. “Tapi kalo menurut gua, kita nggak boleh anggap remeh. Inget sama apa yang barusan terjadi sama Shinta.”

“Nggak,” potong Jefry cepat. “Dengerin gua. Ini semua sugesti. Kita capek, stres, kebanyakan mikir. Hantu mana bisa nulis ultimatum segala? Cerita kayak gitu cuma ada di film murahan.”

Aku berdiri. “Bang, tadi Shinta hampir mati lho.”

“Kita semua nyaksiin.”

Masih berusaha denial, Jefry terus membela diri.

“Gua yakin cuma ilusi!” bentaknya. “Psikosomatis! Lo tau sendiri, orang stres bisa ngalamin apa aja. Buktinya sekarang Shinta nggak kenapa-kenapa. Luka di kaki juga nggak ada. Kita cuma dimanfaatin doang, ditipu karena kita takut.”

Shinta terisak. “Gua takut, Bang. Gua nggak mau kembali lagi ke apartemen itu. Please, kita pindah aja.”

“Iya, Dek. Nanti gua bilang ke Damar,” Jefry sambil menyentuh punda Shinta. “Kita pindah, hari ini juga. Nanti lo di sini aja atau kemana kek, biar kita bertiga aja yang urus pindahan.”

Aku tidak bisa memaksa lagi. Sekejap aku merasa kalau apa yang diucapkan Jefry mungkin ada benarnya. Tapi tetap saja, aku memiliki firasat bahwa ini bukan keputusan yang tepat.

Pagi pun tiba. Cahaya matahari masuk dari sela-sela kaca restoran, memantul di lantai kayu masih lembab karena baru dipel. Satu per satu karyawan berdatangan, mengenakan seragam, wajah segar seakan dunia berjalan normal.

Sementara kepala kami masih tertinggal di kejadian malam tadi.

“Pagi..,” sapa salah satu karyawan ramah.

Aku membalas anggukan. Tanganku refleks meraba serabut di pergelangan. Masih ada, terasa dingin.

Tak lama kemudian Jeje muncul. Rambut klimis, kemeja digulung sampai siku. Ekspresinya langsung berubah heran saat melihat kami sudah duduk lengkap.

“Lho, kok udah pada di sini?” tanyanya sambil menarik kursi. “Ada janji?” ucap Jeje lagi.

Jefry tersenyum tipis. “Iya, ada meeting sama Bapak.”

Dengan polos, Jeje mengungkit soal rencana grand opening restoran, “Oh iya, tinggal sebentar lagi ya acaranya.”

Aku ikut tersenyum palsu. Grand opening. Dua kata itu terasa asing sekarang.

“Udah sampai mana persiapan?” Jeje penasaran. Entah pertanyaan itu benar dilandasi oleh rasa ingin tahu, atau hanya sekedar basa-basi.

Seperti diketahui kalau semenjak soft opening berlangsung dengan sukses, Damar dan Sully mempercayakan sepenuhnya rencana acara Grand Opening kepada kami.

Jeje beserta yang lain tidak dilibatkan, hanya diminta bantu-bantu saja.

“Lancar kok. Tinggal finishing aja dikit. Pokoknya acara nanti bakal mengguncang Bandung,” jawab Jefry angkuh, khasnya selama ini.

Padahal aku tahu betul kalau rencana persiapan Grand Opening belum selesai bahkan belum setengah. Masih ada banyak sekali pekerjaan yang tak tuntas.

***

Beberapa jam berlalu. Restoran makin ramai, suara piring dan gelas bersahutan. Kami sudah berpindah ke ruangan kantor di belakang.

Shinta masih terbaring di sofa, sesekali membuka mata. Aku duduk tak jauh darinya, memastikan ia bernafas normal.

Damar dan Sully akhirnya datang bersamaan.

“Eh, ini tim kreatif pagi-pagi banget, tumben,” canda Damar ketika baru membuka pintu, melihat kami berkumpul.

Sully langsung melihat Shinta. “Kenapa dia? Sakit?”

Tanpa menunggu, Jefry langsung berdiri dari duduk, inilah saatnya.

“Pak, Bu. Gua mau ngomong dong,” katanya serius.

Nada suaranya membuat Damar berhenti tersenyum. Mereka duduk. Aku ikut mendekat. Hendra berdiri menyandar di dekat pintu.

“Kita mau minta pindah dari apartemen,” kata Jefry lugas.

Damar mengernyit. “Pindah? Kenapa?”

Sebelum menjawab, Jefry menoleh ke Shinta, lalu kembali ke mereka. “Shinta diserang. Kali ini makin parah.”

Sully langsung menegang. “Nah kan, apa gua bilang, Jef! Lo sih nggak mau dengerin gua.”

Mulai menanggapi dengan serius, Damar menyimak.

Dari sini Jefry melanjutkan, sekarang lebih emosional. “Iya, Pak. Gua awal mikir ya nggak akan segininya. Tapi ternyata parah banget, kasihan Shinta”

“Kita tadi subuh baru balik dari IGD, langsung ke sini,” lanjutnya.

Menyadari ini bukan masalah biasa, Sully terlihat panik. “IGD? Kenapa? Kok bisa?”

Suasana mendadak jadi tegang.

“Coba deh lo ceritain yang jelas dari awal,” pinta Damar.

Kami bertiga duduk di dalam mobil tanpa banyak bicara. Mesin menyala, dengan suasana yang dingin, ditambah hembusan angin dari ac mobil.

Aku duduk di kursi belakang, menatap kaca jendela memantulkan wajahku sendiri, pucat, mata cekung, seperti orang belum tidur semalaman.

“Sekretaris Damar bilang unit baru lagi dipesan,” kata Jefry, memecah keheningan sambil melihat handphone.

“Minta yang dekat restoran aja, Bang,” sahut Hendra.

Jefry sepakat, “Iya, gua udah bilang gitu juga.”

Aku tidak ingin menanggapi. Tanganku kembali memainkan gelang di pergelangan. Entah kenapa, semakin dekat ke Spring Town, perasaanku semakin tidak enak.

“Gas?” Hendra melirik lewat spion. “Nanti lo bantuin Bang Jef bawain barang-barang Shinta ya. Bawaan gua banyak soalnya.”

“Oke.”

Jawabku singkat karena fokus langsung teralihkan dengan getaran handphone dikantongku.

Delia menelepon.

Pantas saja ia menghubungi, aku lupa memberi kabar pagi ini kepadanya.

“Kok chat aku nggak dibales? Emangnya lagi ngapain?” tanyanya tegas bernada menginterogasi.

Tentu saja aku gelagapan, bingung mau menjawab apa.

Dengan terbata, “Nanti dulu ya, aku lagi mau pindah apartemen.”

Bukan menyudahi telepon, Delia justru semakin penasaran, bahkan mengomel.

“Pindah apartemen? Kenapa? Kok nggak ada ngomong-ngomong sama aku?!” ucapnya dengan nada meninggi.

Hendra kembali mengintip dari spion, aku bisa melihat raut wajah agak menyindir, tapi sudah terlalu lelah untuk bercanda.

“Nanti ya aku jelasin, sekarang aku udah mau sampe apartemen nih,” ujarku.

“Lho, memang kamu dari mana?” Delia masih bingung karena jam segini, aku justru sudah berada di luar apartemen.

Untung saja percakapan tidak berlangsung lama karena setelahnya Delia mau mengalah.

Panggilan berakhir.

Mobil berhenti di depan lobi apartemen Spring Town. Bangunan berdiri sama seperti sebelumnya, tinggi, kusam, dan terasa seperti ada yang selalu memperhatikan. Seakan tahu kami akan pergi.

Hendra tidak parkir ke dalam karena menganggap kami hanya akan mengambil barang-barang saja.

Begitu kami masuk, sosok Dayat sudah berdiri di dekat meja sekuriti. Wajahnya tegang, tatapan tajam ke arah Jefry. Orang yang hampir 24 jam berjaga sendirian di apartemen ini.

Aku menghampirinya, “Pagi, Kang.”

Dayat menoleh pelan, beralih menatapku.

“Kami mau pindah, Kang,” kataku. “Sekarang lagi mau ambil barang-barang.”

Dayat tak menjawab, tanpa memberi respon apapun. Ia bahkan juga tidak melarang.

Jefry ikut mendekat. “Nanti tim kita yang urus, kunci juga kita tinggal di dalam kayak sebelumnya.” Ia berbicara dengan nada ketus, seperti menganggap Dayat sebagai musuh.

Pria paruh baya itu tetap diam. Hanya matanya bergerak, menatap ke arah lift, lalu kembali ke wajahku.

“Kita ke atas dulu ya, Kang.”

Dayat akhirnya mengangguk. Membiarkan kami berjalan menuju lift, tapi baru beberapa langkah, ia mengucapkan satu kalimat peringatan.

“Hati-hati,” ucapnya datar.

“I-iya, Kang,” jawabku singkat. Pesan itu membuatku teringat bahwa kepindahan ini mungkin tak semudah yang kami bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!