NovelToon NovelToon
Manusia Vs Setan

Manusia Vs Setan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor
Popularitas:705
Nilai: 5
Nama Author: David Purnama

Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERSAMBUNG

Hari itu menjadi hari yang paling tidak diinginkan oleh siapapun untuk berkumpul di rumah.

Karena sebuah alasan yang sama sekali tidak pernah diharapkan.

Unang, Karyo dan Sabdo yang paling jauh pulang dari perantauan ke kampung dalam.

Kepada keluarga, tempat dan rumah mereka tinggal.

Tiga laki-laki bersaudara itu banyak diam ketika kembali bertemu setelah terakhir kali membicarakan rindu beberapa tahun yang lalu.

Hanya mata mereka yang bersuara.

Memancarkan warna bening ketulusan.

Sepenggal demi sepenggal kata keluar dari mulut yang tengah kaku.

Bibir yang kering dan lidah yang kelu.

Seorang pemuda kampung mendekati Unang.

"Makamnya sudah siap",

"Kalau begitu mari kita berangkat sekarang",

"Disegerakan lebih baik",

Unang menepuk pundak Sabdo yang masih terus mencium dan memeluk jasad yang sudah terbungkus harum di dalam kain kafan putih.

"Kita ke makam sekarang",

Karyo yang berbadan paling kekar, membopong tubuh bapak ke atas keranda mayat.

"Syukurlah",

"langit terang dan tidak panas",

Prawiro meninggal dunia.

"Alon-alon le... ",

"Sing apik... ",

Pesan Lentik yang tidak ikut ke tempat pemakaman.

Pagi itu almarhum bapak para penjaga dikebumikan.

Lantaran kematian Prawiro begitu mudah.

Tidak bangkit lagi setelah selesai memimpin sembahyang subuh di surau.

Tidak ada warga yang tidak turut berpartisipasi dalam prosesi pemandian jenazah, mengkafani, sholat jenazah dan menguburkan.

Prawiro akan dikenang sebagai salah satu tokoh desa yang penting. Tidak hanya sekedar sebagai bapak keturunan darah penjaga.

Melainkan juga sebagai sosok tetua yang sangat mengayomi, bijaksana dalam memimpin dan disegani masyarakat.

Tiga anak Prawiro masih tinggal di depan gundukan tanah kuburan bapaknya sedangkan orang-orang yang lain sudah bubar.

Mereka berdoa bersama-sama demi keselamatan dan pengampunan kepada bapak mereka di alam kubur dan di alam akhirat.

"Buka wasiat ini di depan makam bapakmu ketika sudah tidak ada orang",

Sebuah lipatan kertas surat wasiat yang diberikan kepada Unang oleh sang ibu.

Amanat terakhir kedua orang tua kepada ketiga jagoannya.

"Biar aku yang baca",

Sabdo memintanya.

"Kalian dengarkan baik-baik",

Isi tulisan surat wasiat itu begitu menyentuh kalbu Uang, Karyo dan Sabdo.

Kepulangan bapak mereka kepada sang pencipta bukanlah sebuah akhir dari tali saudara yang dikiranya akan semakin memisah jauh.

Tapi justru sebaliknya. Kematian Prawiro memberikan tugas dan tanggung jawab baru kepada anak-anaknya.

Poin yang terkandung di dalam surat wasiat itu menjelaskan tiga kewajiban yang harus ditunaikan.

Kepada masing-masing mereka.

Unang, Karyo dan Sabdo.

Sesudah upacara pemakaman ini berakhir.

Salah dua dari mereka harus lekas pergi meninggalkan kampung dalam. Untuk sebuah misi dan perjalanan.

Perpisahan

Unang akan kembali menghuni rumah lamanya di kampung dalam.

Tidak hanya sekedar berkunjung dan menginap. Tapi menetap di rumah candi.

Ia juga akan membawa anak dan istrinya untuk tinggal bersama di rumah masa kecil yang penuh kenangan.

Anak sulung itu yang akan menggantikan peran bapaknya yang sudah tiada.

Malam hari setelah Prawiro wafat.

Giliran Lentik, ibu dari ketiga putra yang sudah dewasa menyampaikan pamit.

"Mungkin ini adalah terakhir kalinya kalian melihat ibu",

"Jadilah manusia yang baik dimana pun kalian berada",

"Siapa pun kalian, jadilah orang yang berguna untuk sesama",

"Unang... ",

"Teruskan tugas bapak mu",

"Jadilah tangguh seperti para penjaga yang dulu-dulu",

"Karyo... ",

"Pergilah tanpa ragu-ragu",

"Ingat selalu pesan ibu nak",

"Jaga saudara-saudara mu",

"Sabdo... ",

"Kamu yang paling cerdas",

"Jangan sampai kepeleset",

"Bapak dan ibu selalu bangga kepadamu",

Kematian Prawiro mengakhiri salah satu kesepakatan perjanjian damai antara darah seorang penjaga dengan penghuni pemukiman hutan belantara.

Lentik tidak wajib lagi tinggal di kampung dalam.

Ia memilih pulang ke tempat asalnya di dalam hutan.

Demi melindungi putra-putrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!