Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Dua hari setelah pertengkaran hebat dan malam yang membinasakan itu, tubuhku akhirnya menyerah.
Suhu tubuhku melambung tinggi, membakar kulitku hingga terasa seperti dipanggang api, sementara di dalam dada aku menggigil hebat. Demam tinggi menggulung seluruh kesadaranku. Aku terbaring di atas ranjang king-size yang kini terasa seperti tempat tidur dari es dingin, asing, dan sepi.
Dokter pribadi keluarga Moretti sempat datang membawakanku obat dan cairan infus. Namun, rasa sakit terbesarku tidak bisa disembuhkan dengan jarum suntik atau pil-pil mahal. Rasa sakit itu berakar dari kelelahan jiwa yang teramat sangat. Tubuhku secara alami menolak untuk bangkit.
"Nona, minumlah air hangat ini sedikit saja," bisik Elena dengan mata yang sembap. Kepala pelayan itu terus setia duduk di samping ranjangku, memeras kain kompres dingin untuk diletakkan di dahiku.
Dengan bibir yang pecah-pecah dan kering, aku berbisik parau, "Gabriel... di mana dia?"
Aku membenci diriku sendiri karena pertanyaan itu. Di tengah keputusasaan ini, naluri manja dan gila dalam diriku masih mencari sosok pria yang telah menghancurkanku. Namun jawaban yang kutunggu tak kunjung datang dari mulut Elena.
Elena menunduk dalam-dalam. Jemarinya yang memegang kain kompres tampak gemetar. Ia memalingkan wajah, tak sanggup menatap mataku.
"Tuan... Tuan Gabriel sedang sibuk dengan urusan penting di sayap barat, Nona," jawab Elena dengan suara tercekik.
Sayap barat.
Kalimat singkat itu menghantam kesadaranku bagai pukulan godam yang telak. Dahiku yang panas mendadak terasa makin menyengat. Airmata yang sejak tadi mengering kembali menetes pelan menyusuri pelipisku.
Aku tahu persis apa arti "urusan penting" di sayap barat.
Gabriel Moretti adalah seorang pria yang digerakkan oleh dominasi dan hasrat yang tak terbatas. Pria itu biasa memuaskan dahaganya padaku setiap malam tanpa jeda. Dan kini, saat barang pajangan utamanya jatuh sakit, tak berdaya, dan tak mampu melayani kebuasannya, sang raja mafia tidak akan membiarkan hasratnya tertahan.
Ia kembali ke tempat di mana para wanita simpanannya berada. Ke tempat wanita-wanita bergaun indah yang selama ini hidup nyaman tanpa perlu merasakan kesakitan.
---
Malam harinya, penderitaanku mencapai puncaknya.
Suara gelak tawa dan denting gelas kristal sayup-sayup terdengar dari arah lorong yang menghubungkan puri utama dengan sayap barat. Suara-suara itu seolah-olah sengaja diterbangkan angin untuk menyiksa batinku. Gabriel tidak membatasi dirinya. Karena hasrat fisiknya tak terpenuhi denganku yang terbaring lemah, ia mengalihkan keliarannya pada wanita-wanita di sana.
Aku meremas seprai sutra di bawah tubuhku, memejamkan mata erat-erat saat membayangkan bagaimana tangan kasar yang biasanya mencengkeram rahangku kini menyentuh wanita lain. Bagaimana suara beratnya yang biasanya membisikkan kata-kata obsesif di telingaku kini ditujukan untuk orang lain.
Rasa hina yang kurasakan malam ini jauh lebih tajam daripada saat ia memaksaku di atas ranjang ini. Aku menyadari betapa murahnya diriku di mata Gabriel. Aku bukanlah satu-satunya; aku hanyalah pemuas utamanya yang paling nyaman. Saat aku rusak, ia dengan mudah berpaling ke mainan lainnya untuk meluapkan nafsu yang tak pernah terpuaskan.
"Nona Aurora..." Elena masuk membawakan mangkuk sup hangat, namun pandangannya dipenuhi duka yang amat sangat.
"Elena... lepaskan jarum infus ini," panggilku dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Nona, Anda masih sangat lemah"
"Lepaskan!" seruku dengan sisa tenaga yang kupunya.
Dengan tangan gemetar, aku menarik sendiri selang infus dari punggung tanganku. Darah segar menetes membasahi kain seprai putih, namun aku sama sekali tidak merasakan sakitnya. Rasa sakit di punggung tanganku kalah jauh dibanding kehampaan yang telah meremukkan dadaku hingga tak bersisa.
Aku memiringkan tubuh, meringkuk seperti bayi di atas ranjang yang luas ini, membiarkan dinginnya malam menelan tubuhku yang terbakar demam.
---
Pukul tiga pagi, pintu kamar utama akhirnya terbuka.
Aroma alkohol yang pekat, bau asap cerutu, dan jejak parfum wanita lain yang sangat asing langsung memenuhi udara kamar, menusuk indra penciumanku.
Langkah kaki Gabriel terdengar agak berat dan tak beraturan. Pria itu menyalakan lampu dinding yang remang-remang, lalu melangkah menuju tempat tidur. Jas hitamnya sudah dilepas, kemeja putihnya terbuka lebar di bagian dada dengan beberapa kancing yang terlepas begitu saja.
Ia berdiri di tepi ranjang, menatap tubuhku yang meringkuk kaku di bawah selimut.
"Kau belum tidur, Aurora?" suaranya serak, terbias oleh alkohol dan sisa-sisa pemenuhan hasrat yang baru saja ia selesaikan di sayap barat.
Aku tidak bergerak. Aku tetap memunggunginya, memejamkan mata rapat-rapat.
Gabriel berlutut di tepi ranjang. Tangannya yang hangat dan beraroma parfum asing terulur untuk menyentuh dahiku, berniat memeriksa suhuku. Namun sebelum jemarinya sempat menempel di kulitku, aku menggeser kepala dengan kasar, menolak sentuhannya.
Tangan Gabriel terhenti di udara. Matanya yang tajam dan dipengaruhi alkohol memicing berbahaya.
"Kau menolak sentuhanku lagi?" bisiknya rendah, suara ancaman itu kembali hadir.
Aku perlahan membalikkan badan, menatapnya dengan mata yang merah dan basah oleh air mata. Wajahku pucat pasi, bibirku membiru, namun tatapan mataku tidak lagi memancarkan ketakutan. Tatapan itu telah mati kosong, hampa, dan dingin seperti es.
"Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja memeluk wanita lain, Gabriel," ucapku pelan, namun setiap kata keluar dengan kejernihan yang menyayat.
Gabriel tertahu rendah—sebuah tawa gelap yang dipaksakan. Ia menyandarkan siku di tepi ranjang, menatapku dari dekat.
"Kau cemburu, *Cara mia*?" tanyanya sinis. "Kau yang menolakku. Kau yang terbaring lemah di sini dan tidak bisa memenuhi kewajibanmu sebagai milikku. Kau pikir aku akan berdiam diri menahan hasratku hanya karena kau sakit?"
"Aku tidak cemburu," balasku, suaranya terdengar sangat tenang hingga membuat tawa Gabriel terhenti seketika. "Aku hanya merasa jijik."
Kata *jijik* itu menyengat atmosfer kamar bagai sembilu. Rahang Gabriel mengeras keras seketika. Pria itu berdiri tegak, mengepalkan tangannya di samping tubuh, menatapku dengan aura pembunuh yang amat pekat.
"Kau milikku, Aurora!" bentaknya rendah, suaranya menggelegar di kamar yang hening. "Mau aku menyentuh seribu wanita di luar sana, kau tetap berada di bawah kendaliku! Kau yang ada di kamar utama ini!"
"Kalau begitu biarkan aku mati di kamar utama ini, Gabriel," jawabku tanpa memalingkan pandangan, menatap lurus ke dalam manik mata hitamnya yang menyala oleh amarah. "Karena mulai detik ini... tubuhku mungkin ada di sini, tapi kau tidak akan pernah bisa menyentuh jiwaku lagi."
Gabriel terpaku. Ia menatapku yang terbaring pasrah tanpa sedikit pun perlawanan fisik, hanya ada keputusasaan yang telah membeku menjadi keabadian. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ada kilatan goyah di dalam mata hitam sang Don Moretti sebuah kesadaran mengerikan bahwa ia mungkin telah berhasil mematahkan mainan favoritnya hingga tak dapat diperbaiki lagi.