Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Mantan Pacar
Sampai di lantai tiga, Suzan dan Alma masuk ke ruang meeting di mana asisten tuan Anggara menunggu. Perlahan Alma membukakan pintu dan di ruangan berukuran lima kali tujuh meter yang terdapat meja panjang berukuran besar serta berjejer kursi di kanan kirinya duduklah seorang laki- laki yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Beb... Itu orangnya...?" bisik Alma.
"Iya kali..." bisik Suzan.
Iya, saking fokusnya dengan laptop yang ada di depannya, pria itu sampai tidak sadar akan kedatangan Suzan dan Alma.
"Selamat siang..." ucap Suzan akhirnya menyapa pria itu lebih dulu.
Dan pria itu menoleh ke arah belakang di mana Suzan dan Alma berdiri. Dan bukannya membalas ucapan Suzan, pria itu justru diam sambil menatap wajah Suzan. Begitu juga dengan Suzan yang tidak berbuat apapun lagi selain hanya diam terpaku menatap pria tersebut.
"Beb..." bisik Alma. Namun Suzan masih diam.
"Dia bukannya..." sambung Alma yang tentu saja tidak asing dengan pria yang ada di depannya.
"Selamat siang bu Suzan.." pria itu mengulurkan tangan mengajak Suzan berjabat tangan.
Kemudian bergantian menyalami Alma.
"Silahkan duduk..." pria itu mempersilahkan Suzan dan Alma duduk sambil menunjuk dua kursi yang bersebrangan dengan kursi yang dia duduki.
Dengan perasaan canggung Suzan pun duduk tepat di kursi yang berhadapan langsung dengan pria itu. Sedangkan Alma duduk di sebelah Suzan.
"Beb...itu kan..." bisik Alma.
Suzan melirik Alma memberikan kode agar Alma diam. Alma pun mengatupkan bibirnya.
"Sebelumnya saya minta maaf, karena tuan Anggara tidak bisa hadir, karena beliau ada urusan mendadak. Beliau harus pergi ke Singa Pura pagi ini..."ucap pria tersebut sambil menatap dingin Intan.
"Oh iya... Tidak apa- apa... Kebetulan tuan Hartanto juga berhalangan hadir, jadi saya yang mewakilkan..." jawab Suzan yang sebenarnya merasa canggung namun dia berusaha profesional.
Pria itu pun mengangguk.
"Tapi saya tidak menyangka kalau asisten tuan Anggara itu anda..." ucap Suzan.
Pria itu diam lalu mengarahkan pandangannya ke arah layar laptop. Iya, pria itu adalah seseorang yang pernah punya hubungan khusus dengan Suzan di masa lalu. Namanya Bintang. Bintang adalah kakak tingkat saat kuliah dulu, sekaligus mantan kekasih Suzan.
Mereka menjalin hubungan selama kurang lebih empat tahun. Dari sama- sama masih kuliah hingga mereka lulus dan kerja di perusahaan yang berbeda. Namun ada satu hal yang membuat hubungan mereka akhirnya kandas di tengah jalan.
Dulu almarhum papa Suzan yaitu pak Banu tidak suka jika sang putri terlalu lama berpacaran. Pak Banu menginginkan Suzan segera menikah karena dia tidak ingin putri semata wayangnya selalu pergi berduaan dengan laki- laki yang bukan mahramnya. Karena hal itu bisa menimbulkan fitnah. Selain itu pak Banu juga tidak mau jika Suzan dan Bintang terjerumus dalam perbuatan dosa zina jika terlalu lama berpacaran.
Namun setelah Suzan bicara pada Bintang mengenai permintaan sang papa yang memintanya segera menikah, Bintang merasa belum siap. Apa lagi saat itu Bintang belum punya pekerjaan tetap. Dia masih menjadi karyawan kontrak dan jika kontrak sudah selesai dia harus mencari pekerjaan lain yang tentu saja tidak mudah untuk dia dapatkan.
Sedangkan pada saat itu Suzan sudah kerja di perusahaan milik keluarga Hartanto sebagai karyawan tetap.
Bintang menolak untuk menikahi Suzan secepatnya, bukan karena dia tidak cinta pada Suzan, melainkan karena dia takut tidak bisa menghidupi Suzan dengan layak, sedangkan untuk mencukupi kehidupan sendiri saja masih pas- pasan. Apa lagi Bintang bukanlah anak orang kaya.
Ibunya Bintang hanya pedagang kecil di pasar. Sedangkan sang ayah sudah meninggal saat Bintang masih kuliah. Selain itu Bintang juga masih punya adik yang masih butuh biaya.
Bintang merasa tidak punya modal untuk menikahi Suzan. Dan dia takut tidak bisa memberikan kehidupan yang layak padanya. Walaupun pada saat itu Suzan tidak mempermasalahkan kondisi Bintang. Bagi Suzan dia akan berjuang dari nol bersama Bintang.
Dan di sisi lain ayah Suzan memberikan pilihan pada Bintang untuk segera menikahinya atau memilih meninggalkan Suzan, karena pak Banu akan mencarikan pria yang mau menikahi putrinya secepatnya. Dan ternyata Bintang memilih mundur.
Tentu saja Suzan kecewa dengan keputusan Bintang saat itu. Namun Suzan juga tidak bisa memaksa. Suzan juga tidak bisa menentang keinginan sang ayah. Suzan paham apa yang diinginkan olah sang ayah. Orang tua yang baik tentu tidak akan mengijinkan anaknya untuk pacaran hingga bertahun- tahun lamanya, karena itu merupakan harga diri bagi orang tua.
Apa lagi di luar sana tidak sedikit orang tua yang harus kecewa melihat anaknya terjerumus ke dalam perbuatan dosa akibat pacaran, bahkan banyak juga yang sampai hamil di luar nikah. Tentu saja pak Banu tidak ingin hal itu terjadi pada Suzan . Walaupun Suzan sudah mengatakan pada sang ayah kalau dia dan Bintang tidak akan melakukan hal itu sebelum menikah.
Tapi tetap saja, pilihan pak Banu hanya ada dua, yaitu segera menikah atau putus.
Hanya berselang beberapa bulan setelah hubungan Suzan dan Bintang kandas, Suzan naik jabatan di kantornya. Dan enam bulan berikutnya Suzan yang terkenal sebagai karyawan cerdas dan jujur, diangkat menjadi orang kepercayaan tuan Hartanto. Dan tak lama kemudian tuan Hartanto menjodohkan Suzan dengan Bagas. Tentu saja hal itu disambut baik oleh pak Banu.
Suzan yang pada saat itu belum bisa sepenuhnya melupakan Bintang, berusaha untuk move on. Apa lagi sudah lebih dari enam bulan Bintang tidak ada kabar sama sekali bak ditelan bumi. Nomornya juga tidak aktif. Dan rumah orang tuanya pun sudah tidak ditempati lagi dan sudah menjadi milik orang lain.
Akhirnya Suzan menerima lamaran dari tuan Hartanto untuk menikah dengan Bagas. Apa lagi selama dia kerja di perusahaan keluarga Hartanto, Suzan tahu bahwa Bagas adalah pria yang baik. Mereka punya kecocokan satu sama lain yang akhirnya mengantarkan mereka pada pernikahan.
Namun hari ini siapa yang menyangka kalau Suzan akan dipertemukan lagi dengan mantan kekasihnya setelah bertahun- tahun tidak ada kabar.
"Baiklah... Kita mulai saja meetingnya..." ucap Bintang.
"Iya..." jawab Suzan lalu membuka laptopnya.
Mereka bertiga langsung memulai pembahasan untuk menjalin kerja sama. Walaupun mereka berdua punya cerita di masa lalu, namun semua itu sudah usai. Mereka harus tetap profesional untuk urusan pekerjaan.
"Bagaimana bu Suzan, anda setuju dengan kesepakan kita...?'' tanya Bintang setelah melewati berbagai pembahasan selama kurang lebih dua jam.
"Iya tentu saja pak Bintang..." jawab Suzan.
Suzan nampak diam beberapa saat, karena merasa sedang bicara dengan orang asing. Padahal dia sedang bicara dengan orang yang dulu sangat dekat dengannya. Jika dulu panggilan mereka adalah 'sayang', tapi hari ini berubah menjadi ' bu Suzan dan 'pak Bintang'.
Ironis memang, tapi itulah yang namanya takdir. Yang dulu dekat bisa jadi jauh dan yang dulunya jauh bisa jadi dekat. Karena manusia hanya bisa berencana sedangkan Alloh lah yang akan menentukan segalanya.
"Ada apa bu Suzan...? Apa ada yang ingin anda sampaikan...?'' tanya Bintang sambil menatap Suzan yang melamun.
Karena Suzan masih diam, Alma pun menyenggol lengan Suzan.
"Beb... " bisik Alma.
"Ah....i ..iya... Kenapa...?'' Suzan nampak kaget.
Bintang menghela nafas.
"Sepertinya anda kurang fokus... Atau kita sekalian makan siang saja di sini...?'' ujar Bintang.
"Oh... Tidak usah, saya harus segera kembali ke kantor..." jawab Suzan.
"Baiklah pak Bintang... Terima kasih atas kerjasamanya, dan untuk ke depannya nanti tinggal kabari saja..." Suzan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Bintang pun menyambut uluran tangan Suzan. Dan setelah itu Suzan dan Alma pamit untuk pergi lebih dulu.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Babbyyyyyyyyy... jangan pergi duluuuuuu.... Aku masih kangen sama kamuuuuu... Aku mau lagiiiii... Aku masih belum puasssss...." rengek Casandra yang tidak mau ditinggal oleh Bagas setelah mereka berdua melakukan aktifitas panas.
"Lain kali lagi ya, aku harus balik ke kantor, masih banyak kerjaan..." jawab Bagas sambil mengenakan kembali pakaiannya.
"Aku janji aku akan menemui kamu lagi di apartemen..." sambung Bagas
"Kapan...?" tanya Casandra yang masih duduk di tempat tidur dan hanya selimut berwarna putih yang membalut tubuh polosnya.
"Nanti aku kabari ..." jawab Bagas sambil mengusap kepala Casandra setelah dia selesai mengenakan pakaiannya.
Casandra memanyunkan bibirnya.
"Aku pergi dulu ya..." Bagas lalu mencium kening Casandra dan segera pergi dari kamar hotel.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Oh ya ampun beb...kita nggak lagi mimpi kan....? Ini nyata kan beb...?'' ucap Alma setelah keluar dari ruang meeting.
Iya, tentu saja Suzan paham bahwa yang sedang Alma bicarakan itu adalah Bintang.
"Dia itu Bintang Mahardika, kakak tingkat kita waktu kuliah, cowok kamu kan beb...?'' tanya Alma.
Iya, tentu saja Alma tahu betul bagaimana hubungan Suzan dengan Bintang saat itu. Hingga mereka berdua putus, Alma tahu semuanya. Karena Alma sahabat Suzan dari mereka berdua masih duduk di bangku kuliah.
"Mantan, Alma...mantan... Aku ini mantan ya Bintang... Apa kamu lupa kalau aku ini sudah punya suami dan anak..." sahut Suzan sambil terus berjalan ke arah lift.
"Iya... Iya...maksud aku mantan... Tapi benar kan dia itu Bintang... Oh My God... Mimpi apa kamu semalam, kok bisa hari ini kamu ketemu sama dia...?'' ucap Alma.
Suzan hanya menghela nafas lalu masuk ke dalam lift.
"Beb..." ucap Alma.
"Apa sih ...?'' tanya Suzan.
"Kamu nggak gimana- gimana gitu ketemu sama mantan pacar...?'' tanya Alma.
"Gimana- gimana, gimana maksud kamu...?'' sahut Suzan.
"Oh ya ampun... "Alma memijit keningnya.
"Gimana perasaan kamu...?'' tanya Alma.
"Biasa aja...." jawab Suzan nampak cuek.
"Mas sih beb...? Kamu nggak merasa jantung kamu berdebar- debar gitu...?'' tanya Alma.
"Apaan sih kamu Alma, jangan ngaco deh..." jawab Suzan.
"Bukan begitu beb, aku tahu dulu kamu tuh cinta banget sama Bintang. Masa pas ketemu lagi kamu nggak merasakan apa- apa, kan aneh..." ucap Alma.
"Aku inget banget beb, kamu sampai sakit saat Bintang lebih memilih putus dari kamu dari pada menikahi kamu..." sambung Alma.
"Udah deh, nggak usah bahas itu lagi. Itu semua sudah masa lalu, nggak penting kita bahas lagi...." Suzan nampak kesal.
"Iya sih...sorry ya beb..." sahut Alma sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Suzan benar adanya.
"Eh tapi Bintang tambah cakep ya beb, kira- kira siapa perempuan yang beruntung yang diperistri sama dia...?" tanya Alma.
Suzan hanya melirik sekilas ke arah Alma kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pintu lift yang terbuka, yang artinya mereka sudah sampai di lantai dasar.
Mereka berdua pun keluar dari lift. Namun di saat bersamaan mereka kembali bertemu dengan Sonia yang juga baru saja keluar dari lift sebelah.
"Sonia..." ucap Suzan.
"Hai Suzan... Alma ketemu lagi kita ..." sahut Sonia dengan wajah berseri- seri.
"Kamu kenapa, kelihatan bahagia banget...?'' tanya Suzan.
"Yah... Namanya juga baru ketemu dengan pujaan hati, tentu saja bahagia...." jawab Sonia lagi- lagi dengan senyuman di bibirnya.
"Dah ya... Aku duluan..." ucap Sonia kemudian pergi terlebih dahulu menuju lobby utama karena taksi on line yang dia pesan sudah datang.
"Dia pasti abis ketemu sama sugar daddynya..." ucap Alma.
"Jangan sok tahu kamu..." sahut Suzan sambil berjalan ke arah lobby utama dan Alma mengikuti di belakang.
"Nih kamu ambil mobilnya..." Suzan memberikan kunci mobil pada Alma.
"Oke bos..." sahut Alma dengan sikap hormat bak pemimpin upacara.
Suzan tertawa geli melihat tingkah Alma. Namun tawa Suzan langsung pudar begitu matanya menangkap sesosok laki- laki yang baru saja keluar dari dalam lift, dan dengan langkah terburu- buru dia menuju ke tempat parkir melalui lobby timur.
"Mas Bagas..." ucap Suzan tanpa mengalihkan pandangannya dari pria yang begitu mirip dengannya.
"Itu beneran mas Bagas kan...? Ngapain dia ada di hotel ini...?'' gumam Suzan.
"Suzan..." tiba- tiba terdengar suara seseorang memanggil dari arah belakang.
Bersambung .....