Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17. Luka Itu Masih Terasa
Kini, setelah sembilan tahun berlalu, semua kenangan itu kembali terasa begitu nyata.
Kinanti memejamkan mata.
Tanpa disadarinya, air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
Ternyata, luka yang selama ini dia pikir sudah mampu dia tinggalkan masih tersimpan begitu dalam.
Dia bukan menangis karena ingin kembali.
Bukan pula karena menyesali keputusannya.
Dia menangis karena akhirnya menyadari betapa lama dirinya telah berusaha mempertahankan sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar diperjuangkan oleh orang yang sama.
Kinanti mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Dia kemudian menatap kamar tersebut untuk terakhir kalinya.
Di tempat inilah dia pernah menjadi seorang perempuan yang terus berharap dicintai oleh suaminya.
Di tempat ini pula dia pernah menangis sendirian, memeluk dirinya sendiri, dan meyakinkan hatinya bahwa semuanya akan menjadi lebih baik.
Kini, semua yang tersisa hanyalah kenangan.
Kenangan tentang seorang Kinanti yang pernah begitu sabar.
Seorang Kinanti yang pernah rela mengesampingkan perasaannya sendiri demi mempertahankan rumah tangga.
Seorang Kinanti yang selama bertahun-tahun terus menunggu Yudha berubah.
Dan hari ini, perempuan itu akhirnya memilih untuk berhenti menunggu.
Kinanti berhenti sejenak, menatap kamar tersebut untuk terakhir kalinya.
Kemudian dia menghela napas panjang. “Bismillah...”
Dengan hati yang masih terluka, Kinanti akhirnya melangkah pergi.
Di belakangnya, Yudha hanya bisa be
rdiri terpaku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar menyadari bahwa seseorang yang selama ini dia anggap akan selalu menunggunya ternyata telah memilih untuk pergi.
Dan kali ini, tidak ada tangisan, bujukan, hadiah, ataupun janji yang mampu membuat Kinanti kembali.
Yudha sebenarnya sangat ingin mengejar Kinanti. Namun, langkahnya terhenti. Ia tahu, sekeras apa pun dirinya memohon malam ini, Kinanti tetap akan pergi dan mempertahankan keputusan yang sudah dibuatnya.
Dari lantai dua, Yudha hanya mampu memandangi istrinya yang kini berdiri bersama kedua anak mereka. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi semuanya terasa terlambat.
Tangannya mengepal erat di balik tirai.
“Kinan, Mas tahu Mas sudah terlalu banyak melakukan kesalahan kepadamu. Mas juga tahu mungkin semua permintaan maaf Mas nggak akan cukup untuk menghapus luka yang sudah Mas berikan,” gumamnya dengan suara bergetar.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi Mas janji, Mas akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kamu kembali. Bukan karena Mas takut sendirian, tapi karena Mas baru sadar kalau selama ini kamu adalah rumah yang selalu Mas abaikan.”
Yudha menengadahkan wajahnya. Ia
memejamkan mata, lalu mengusap wajahnya yang mulai basah oleh air mata.
“Ya Allah...” bisiknya.
“Kalau masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya, berikanlah aku kesempatan itu. Kalau hati Kinan sudah terlalu terluka karena kesalahanku, maka kuatkanlah aku untuk memperbaikinya sedikit demi sedikit.”
Napasnya tercekat. “Ya Allah, aku nggak meminta Engkau memaksanya kembali kepadaku. Aku hanya memohon... lembutkan hatinya jika memang masih ada sedikit ruang untukku di dalam hatinya.”
Yudha kembali menatap Kinanti dari balik tirai.
“Dan kalau memang dia masih menjadi jodohku, tolong dekatkan kami kembali dengan cara yang baik. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku ingin menjadi suami yang seharusnya dia dapatkan sejak dulu.”
Sementara itu, di bawah, Kinanti sudah memeluk Naufal dan Naura. Ia berusaha tersenyum meskipun hatinya sendiri terasa remuk.
Ketika Naura dan Naufal menatap ke lantai dua, Kinanti tahu Yudha masih memperhatikan mereka.
“Kalau kalian kangen sama Papa, kalian boleh menginap di sini kapan pun kalian mau. Tapi malam ini kita pulang dulu, ya.”
Kedua anak itu mengangguk pasrah.
Dalam hati, mereka masih menyimpan harapan sederhana yaitu semoga suatu hari nanti Mama dan Papa kembali tinggal bersama seperti dahulu.
Naura bahkan mengacungkan jempolnya ke arah lantai dua.
Yudha yang melihatnya hanya mampu tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala.
“Papa mengandalkan kalian berdua,” ucapnya dari balik tirai. “Papa juga akan terus berdoa kepada Allah supaya hati Mama kalian diberikan ketenangan dan... kalau Allah mengizinkan, semoga suatu hari nanti Mama mau memberikan Papa kesempatan lagi.”
Setelah itu, Yudha menundukkan kepalanya. Air matanya jatuh tanpa mampu lagi ia tahan.
Ia tidak ingin anak-anaknya melihat betapa hancurnya dirinya malam ini.
Di halaman rumah, Kanaya membantu memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil Kinanti.
Namun sebelum Kinanti benar-benar pergi, Mang Dede dan Bibi Mina datang menghampiri.
Wajah keduanya tampak begitu sedih.
“Nyonya...” suara Mang Dede terdengar berat. “Apa benar keputusan ini sudah nggak bisa dirundingkan lagi?”
Kinanti terdiam.
Bibi Mina yang berdiri di samping Mang Dede ikut menyeka sudut matanya.
“Iya, Nyah. Kasihan Tuan Yudha kalau Nyonya nggak ada di rumah. Tuan masih sakit, masih dalam proses memulihkan ingatannya. Setidaknya tinggallah beberapa hari lagi.”
Mendengar ucapan itu, dada Kinanti semakin sesak. Ia tahu Bibi Mina dan Mang Dede bukan sekadar orang yang bekerja di rumah itu.
Selama bertahun-tahun, keduanya sudah memperlakukannya seperti anak sendiri.
Kinanti menggigit bibirnya agar air matanya tidak jatuh.
“Maafin Kinanti, Bi, Mang,” ucapnya lirih.
“Ini bukan karena Kinanti nggak menghargai kalian. Justru karena Kinanti sudah terlalu lama bertahan.”
Bibi Mina langsung menangis.
“Bibi cuma takut setelah Nyonya pergi, rumah ini nggak akan terasa seperti rumah lagi.”
Mang Dede mengangguk pelan. Matanya juga tampak merah.
“Kalian berdua itu sudah seperti anak-anak kami sendiri, Nyah. Kami nggak pernah ingin melihat kalian berpisah.”
Kinanti menundukkan wajahnya.
“Kinanti juga nggak pernah membayangkan akhirnya akan seperti ini.”
Ia mengusap air matanya, kemudian tersenyum tipis.
“Kalau selama ini Kinan ada salah sama Bibi dan Mang, Kinan minta maaf. Kinan juga titip Mas Yudha. Tolong jaga dia baik-baik.”
Bibi Mina mengangguk berkali-kali sambil menangis.
“Pasti, Nyah. Tapi... Bibi masih berharap suatu hari Nyonya pulang lagi ke rumah ini.”
Kinanti tidak sanggup menjawab.
Ia hanya memeluk Bibi Mina erat.
Mang Dede pun ikut menahan air matanya.
“Jangan khawatir, Nyah. Tuan akan kami jaga. Tapi kami juga akan terus mendoakan semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk Tuan dan Nyonya.”
Kinanti mengangguk dalam pelukan Bibi Mina. “Terima kasih, Bi... Mang.”
Setelah melepaskan pelukan, Kinanti masuk ke dalam mobil.
Bibi Mina dan Mang Dede tetap berdiri di halaman, memandangi mobil yang perlahan meninggalkan rumah.
Keduanya tidak langsung kembali ke dalam.
Mereka berdiri dalam diam, seolah masih
berharap mobil itu berhenti dan Kinanti turun kembali. Namun mobil tersebut semakin menjauh.
Bibi Mina mengusap air matanya.
“Semoga mereka nggak benar-benar berpisah, Mang.”
Mang Dede menghela napas panjang.
“Aamiin. Semoga Allah masih kasih mereka kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
Di lantai dua, Yudha masih berdiri di balik tirai. Ia melihat mobil Kinanti semakin jauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Kali ini, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berdoa. “Ya Allah... kalau masih ada jalan untuk kami, tunjukkan jalan itu. Aku nggak akan memaksa Kinan. Aku hanya akan berusaha menjadi pria yang pantas untuk mendapatkannya kembali.”
Air mata kembali mengalir di pipinya.
“Dan kalau suatu hari nanti dia kembali... aku janji, aku nggak akan menyia-nyiakannya lagi.”